
Rani berjalan menuju rumahnya dengan menendang-nendang bebatuan kecil yang menghalangi jalannya.
"Auh.... batunya nyangkut!" ringis Rani melirik jempolnya yang memerah karena menendang batu kecil yang sebagian sudah menempel di tanah.
Ia pun jongkok dan menatap batu kecil di tanah itu. Ternyata disana sedang banyak semut hitam yang saling bersalaman. Dirinya merasa bersalah karena telah menjadi tersangka atas terbunuhnya lima ekor semut, "Ya Allah..innalillahi, Maaf yaa semut, gue ngga sengaja..." ujarnya sedih menatap mayat semut tersebut.
Rani melanjutkan pembicaraannya, "Maafin gue ya keluarga semut yang ditinggalkan. Lagian kalian juga yang salah jadi semut kok milih jalanan di dekat jalan raya kek gini. Keinjek kan jadinya! Heh ratu semut, mendingan kalian ngungsi ke tempat yang aman jangan disini. Nih sementara gue lindungin pakai ini," ujar Rani. Ia pun menaruh lebih banyak batu kecil di sisi lintasan perjalanan semut itu agar orang yang lain tidak melakukan hal yang sama seperti dirinya.
El yang memperhatikan Rani tertawa kecil. Ia tidak menyangka gadis kecil itu sangat lucu saat sendiri. Dasar gadis *****.
Rani pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Baru sampai di depan rumah ia sudah mendapatkan tatapan tajam dari sang Adang (paman yang tertua dalam bahasa Minang).
"Lamak yo... habis main bola mode Habil samo Ihsyan," ujar lelaki itu dengan senyum devil.
"Ehehe... ada Adang. Adang baru datang?" cengir Rani sembari menurunkan celana hawainya agar melewati lutut.
"Ondeh piak.... Alah barakali dikatoan jan pakai celana pendek mode laki-laki!" ujar sang Adang menarik kuping Rani ke dalam rumah.
"Auhh.. sakit dang sakit.... Rani janji deh besok-besok ngga lagi makai yang ini" bujuk Rani berusaha melepaskan jeweran dari Adangnya.
"Uni si Rani ko bia awak baok pulang ke kampuang. Bia jadi padusi yang elok!" ujar Yurizal kepada Rita.
"Bawa aja... Ikhlas uni mah si Rani dibawa. Sampai sekarang belum nampak hilalnya dia berperilaku kek cewek," tutur Rita menatap Rani sengit.
"Arghhhh....Mama kok gitu sihh, Rani aduin ke papa nih. Kalau anak kesayangannya bakal diasingkan ke Padang," ujar Rani mengerucutkan bibirnya.
"Biarin... lagian dengar tuh kata Adang kamu, jangan lagi pakai celana pendek kamu tu udah gede. Apalagi sampai ikutan main bola terus kek cowok!"
"Bawa kesini semua celana kamu yang pendek!" titah Yur dengan suara menggelegar.
"Ehem!! Udah selesai? Mana celana-celana yang mau Adang gunting?" ujarnya tersenyum memainkan gunting kain tersebut. Rani yang kaget segera menduduki kasurnya.
"Ahahaha... udah dang tuh dilemari semuanya!" ujar Rani memaksakan senyumnya, ia khawatir kalau Adangnya melihatnya ketika menyembunyikan pakaian kesayangannya.
Yurizal pun berjalan menuju lemari dan menggunting satu persatu celana hawai yang ada disana. Kemudian ia menatap Rani dengan senyuman horornya.
"Geser sedikit! Adang juga mau duduk!" Yur pun duduk di sebelah Rani dan memberikan ceramahnya. Rani yang grogi pun berusaha menutupi ketakutannya dan sesekali menghapus keringat di dahinya.
"Kamu tau kenapa Adang larang pakai celana pendek?" Yur bertanya pada Rani dengan lembut.
"Ehehe... ya tau dang. Tapi yah gimana lagi, Rani ngga suka make rok...Rok itu ribet, ngga bisa dipakai lari, main bola, manjat pohon asam, main kelereng, terus Rani juga ngga bisa lagi tuh manjat pagar belakang kalau mau kabur pergi main. Upss," ujar Rani yang tersadar kalau sudah membongkar rahasianya sendiri. Bulu kuduknya merinding karena hawa dingin menyerang kamar itu secara tiba-tiba.
"Oo.. gitu ya sayang? Tadi Adang dengar ngga bisa manjat pohon asam, ngga bisa manjat pagar belakang untuk kabur?" tanya Yur sembari menarik celana yang disembunyikan Rani tadi. Ternyata masih mencuat keluar dari kasur.
Tamat sudah riwayat lo Ran. Ujar Rani dalam hati dan menatap sedih karena melihat celana kesayangan dan baju kesayangannya menjadi serpihan kain tak berbentuk.
.
.
.
.
Terima kasih udah mampir... 🥰🥰