Before I Found You

Before I Found You
BIFY 62



Hari ini Rani dan kedua sahabatnya sedang menikmati makanan mereka di kantin sekolah.


"Kita gabung ya," ucap Ari.


"Hai udah lama nggak jumpa," ucap Keke tersenyum pada tiga lelaki yang sudah duduk bersama mereka di meja tersebut.


"Ya begitulah, ditambah lagi kita nggak ada latihan," ujar Adit.


"Heem... Sekarang memang nggak ada jadwal lagi Ko?" tanya Zia dengan mulutnya yang penuh oleh mie.


"Makan itu dihabisin dulu!" omel Rani ada Zia.


Miko hanya menatap wajah Rani, ia sedikit rindu dengan gadis dihadapannya ini. Dirinya pun sadar saat Ari menyikut lengannya untuk menjawab pertanyaan dari Zia.


"A... em iya, sampai selesai TO mungkin pelatih bakal ngajarin kita lagi," ucap Miko.


Rani pun mengangguk dan mereka pun melanjutkan makannya. Banyak hal yang mereka bicarakan hingga jam istirahat usai.


"Oh ya Ran, gimana kalau kita belajar bareng buat persiapan TO. Itung-itung kita dengan otak pas-pasan ini bisa jadi pinteran dikitlah karena belajar dari ahli yang berasal dari kelas unggul," ucap Ari.


Miko menatap kepada temannya itu, Ari pun tersenyum. Miko pun mengerti maksud dari temannya itu. Mereka bertiga pun menatap penuh harap kepada tiga gadis itu.


"Boleh banget! Bagaimana kalau sore ini sepulang sekolah kita bareng-bareng ke rumah Rani," ucap Keke.


Rani mendelik sebal pada sahabatnya yang satu ini, Keke selalu mengacaukan hari-harinya yang sudah penuh planning hingga sore.


"Wah.. boleh nih Ran?" ujar Miko menatap penuh harap.


"Em... boleh deh," ujar Rani pasrah, dirinya mengalah karena mendapatkan cubitan kecil dari Zia yang seakan mengkode bahwa tidak baik menolak ajakan mereka terus menerus.


***


Sepulang sekolah keenam remaja itu sudah keluar dari gerbang, Ari mengajak Keke untuk ikut dengannya karena dia membawa motor, begitupun dengan Adit yang mengajak Keke. Miko pun menggaruk tengkuknya ia juga ingin mengajak Rani. Namun, belum jadi ia berucap seorang lelaki dengan seragam. putih abu-abu sudah menarik lengan baju Rani.


"Lepasin!" titah Rani.


"Lo siapa narik-narik temen gue?" tanya Miko menatap El.


El hanya melirik kilas pada Miko, ia berucap ada Rani "Lo nggak boleh naik motor bareng bocah ini. Punya SIM juga belum, sok-sokan mau ngajak orang lain berboncengan! Nanti yang ada lo masuk RS atau ditilang polisi!" delik El.


"Gue bisa bawa motor yah bang! Jangan mentang-mentang lo punya SIM seenaknya aja memerintah temen gue! Emangnya lo siapa?" ucap Miko marah.


Miko juga tau bahwa dirinya menyalahi aturan. Namun, ayahnya sendiri yang notaben polisi tidak melarangnya mengendarai motor. Apalagi ketika dirinya sudah terlambat datang ke sekolah. Ayahnya akan membiarkannya membawa motor ke sekolah.


"Gue pacar Rani! Rani pulang bareng gue!" tukas El menarik lengan baju Rani menjauhi Miko.


"Ya! Sejak kapan gue jadi pacar lo! Dia bohong Mik, lo bantuin gue nyegah dia!" pinta Rani.


Miko pun menarik lengan baju Rani yang satunya. Seperti di film-film Rani berada di tengah kedua lelaki tersebut, bedanya adalah bukan tangan yang menjadi rebutan tapi lengan baju gadis itu.


Kedua lelaki tersebut masih saja memberikan tatapan peperangan. Melihat hal itu, Rani pun segera mengambil langkah seribu meninggalkan kedua lelaki itu.


"Hahaha...bye-bye gue tunggu di rumah ya," ujar Rani melambaikan tangannya kepada dua lelaki yang masih menatap satu sama lain. Rani menyuruh tukang ojol agar mempercepat laju kendaraannya agar tidak dikejar oleh dua orang yang sedang perang tatapan mata tersebut.


"Ini semua gara-gara lo! Dasar bocah!" El menyalahkan Miko karena gadis kecilnya sudah kabur dari sana.


Miko hanya mengedikkan bahunya tak peduli dengan ucapan El dan menuju motornya di parkiran.


El pun juga menuju motornya dan menuju rumah Rani. Miko mengiringi El dari belakang karena ia tidak tahu rumah Rani, sedangkan El merasa bingung kenapa bocah ingusan tersebut mengikuti dirinya. Ia pun memilih untuk diam, mungkin Miko memang sejalan dengan arahnya.


Saat mereka semua sampai di rumah Rani. Rita kaget karena Rani membawa terlalu banyak teman, bisa dipastikan bahwa ruang tamu mereka tidak akan muat menampung para remaja tersebut. Alhasil Rita menyarankan mereka semua untuk belajar di taman belakang yang dekat dengan kandang si mbek.


Tapi tenang, taman tersebut sudah dirawat oleh Rita dengan sebaik mungkin sehingga taman tersebut asri dipenuhi bunga dan pohon rindang. Sedangkan kandang si mbek diletakkan paling pinggir, jadi mereka semua bisa duduk lesehan dengan mengembangkan tikar.


Rani pun pamit kepada teman-temannya untuk ganti baju terlebih dahulu. Zia dan Keke pun ikut ke kamar Rani untuk mengganti baju mereka.


***


"Eh Rani.... Kemarin perjanjiannya kita harus makai hijab! Nanti bang El marah lagi," tukas Keke.


"Bodo amat! Gue udah terbiasa kek gini, kalau kalian mau makai hijab ya pakai aja," ucap Rani mengenakan kaos panjang warna hijau dan celana jogger panjangnya warna krem. Rambut gadis itu terurai dan dihiasi dengan bando berwarna krem senada dengan celananya.


Zia dan Keke hanya bisa geleng kepala melihat tingkah sahabat mereka tersebut. Ketiga gadis ini pun menuju taman belakang.


Empat pasang mata para lelaki yang ada di sana seperti terpana karena waktu mereka seakan berhenti ketika memandangi para gadis di hadapannya tersebut. El yang sadar bahwa Rani tidak menggunakan hijab segera menutupi rambut indah Rani dengan jaket yang ia gunakan saat ke sekolah.


Rani ingin protes, namun El sudah lebih dulu menindasnya dengan ucapan, "Aturan tetap aturan! Pergi pakai hijab lo sekarang!!!" titah El. Ia sungguh tidak ingin berbagi pemandangan indah yang dihasilkan oleh gadis kecilnya pada lelaki lain.


"Nggak mau!" ucap Rani.


"Cara halus nggak bisa. Maka jangan salahkan gue pakai cara ini!" ujar El menutup seluruh kepala Rani dengan jaketnya dan kedua lengan jaket itu pun diikat sehingga rambut indah Rani tertutupi sempurna begitupun leher putih gadis itu.


Semua orang yang ada di sana heran karena keposesifan El terhadap Rani. Mereka ingin membuka suara, namun El sudah menitahkan semuanya mengeluarkan buku pelajaran mereka. Semuanya pun tunduk dengan patuh karena suara El begitu tegas, membuat mereka tidak memiliki nyali untuk berkomentar. Di lain sisi, Miko memiliki banyak pertanyaan perihal hubungan antara Rani dengan lelaki yang mengaku pacar Rani kepadanya saat di sekolah tadi.


Rani yang tidak leluasa menggunakan hijab jaket made in El, gadis itu pun kembali masuk ke dalam rumah dan menggunakan hijabnya.


Semua orang pun melanjutkan pelajaran masing-masing. Setelah itu baru memperkenalkan diri pada El. Karena suasana begitu canggung tanpa perkenalan saat di awal pelajaran tadi.


.


.


.


Terima kasih atas waktunya.. 🥰🥰


Mohon like, komen, dan vote dari readers semua 💞