
"Ya kak Afan!!! Kalau yang lagi nelfon denger suara lo, kelar hidup gue!" cicit Rani.
"Wah gadis kecil gue udah digebet orang lain?" ujar Afan menatap Rani.
Akan tetapi, Rani memilih untuk mengambil handphonenya yang ada di genggaman Afan.
"Hahaha, Kak Afan patah hati!" ujar Keke tertawa.
Sementara Yoan hanya terdiam mendengar hal itu. Dia pun memilih untuk keluar dari sungai dan mengambil jaket Afan untuk mengeringkan kameranya yang ikut tercebur ke dalam sungai tadi.
"Hari ini gue umumkan sebagai hari patah hati penggemar Maharanisya." ujar Zia dengan gaya suara hakim di pengadilan.
Kedua sahabat Rani itu memang paket komplit di bidang menjahili orang lain. Omongan mereka akan menjadi hujan batu di hati beberapa orang, sakitnya nyelekit kek di tusuk pakai tusuk gigi.
"Diem!!!" delik Rani dan membuat kedua orang itu mengehentikan tawanya.
Waktu sudah hampir petang membuat mereka semua memutuskan untuk kembali pulang. Hanya ada keheningan di sepanjang perjalanan, karena memang tidak ada yang ingin membuka suaranya.
Saat sampai di rumah, ketiga gadis itu membersihkan diri dan tak lupa saling memberikan pijitan satu sama lain. Karena kaki mereka kebas akibat perjalanan panjang yang dilakukan. Namun, perjalanan itu adalah perjalan terbaik mereka semasa SMP. Tidak hanya itu, rasa lelah, lapar, haus, dan keluhan lainnya seakan menguap setelah melihat pemandangan nan indah dan elok di atas bukit tersebut.
"Huahh... Gue nggak mau lagi pergi ngebolang kek gini!" rengek Keke.
"Awas aja kalau kita ngadain trip lagi lo minta ikut!" delik Zia.
"Udah jangan berantem lagi! Lama-lama nanti gue kurung juga kalian di luar! Buruan tidur! Perjalanan kita masih banyak esok hari!" tukas Rani dan menarik selimut menutupi seluruh badannya.
***
Keesokan harinya para gadis kecil itu memilih untuk pergi jalan-jalan ke mall yang ada di tengah-tengah Kota Batus.
"Pucuk di cinta, bidadari pun tiba!" ujar seorang lelaki pada ketiga gadis yang sedang asik memainkan game di time zone yang ada di mall itu.
Mendengar suara yang tak asik sontak membuat Rani menghentikan gerakannya. Ia melihat Alan yang sedang nyengir kuda, dan ternyata di balik punggung lelaki itu ada sang pujaan hati dan juga seorang lelaki lagi yang tak Rani kenal.
"Udah puas ngeliuk-liuk kek ularnya?!" ujar El santai namun dengan wajah menakutkan.
Jiwa posesifnya kumat lagi! Ayo Rani keluarkan jurus agar tidak terjadi pertengkaran, batin Rani.
"Hehe bang El. Gue sama mereka bukan meliuk-liuk kek ular. Tapi lagi nyamain sama yang ada di layar itu tuh. Sekarang udah kelar, kita makan bareng yuk?" ujar Rani dan menatap kedua sahabatnya meminta pertolongan.
"Iya bang, gue laper banget!" ujar Zia.
"Tapi kan kita barusan udah mak.." ucapan Keke terpotong karena bekapan tangan Rani di mulutnya.
"Maksud Keke kita barusan udah makan cemilan. Tapi laper lagi kan Ke?" ujar Rani menatap tajam sahabatnya dan Keke pun mengangguk pasrah.
Mereka pun berjalan menuju salah satu restoran yang ada di sana. Biayanya mahal? Rani sudah menabung dari pemberitahuan bahwa Zia akan pergi jauh. Jadi dia tidak cemas dengan makanan kemahalan lagi.
Sesampainya di sana para pengunjung restoran menatap kepada 3 pasangan muda-mudi yang baru saja masuk ke dalam restoran itu. Namun tidak membuat langkah mereka surut El, Alan, dan Kevin memberikan ekspresi datar dan cool mereka. Sementara Rani dan kedua sahabatnya tetap tampil mempesona dengan senyuman mereka.
Para muda-mudi ini pun memilih untuk duduk di area dalam restoran agar tidak melihat keramaian di mall itu.
"Kalian mau pesan apa?" tanya El.
"Terserah. Kami ngikut aja," jawab Rani cepat.
Kedua sahabat Rani hanya memberikan delikan tajam pada Rani. Sejujurnya mereka ingin memesan makanan yang bervariasi. Akan tetapi, ada benarnya juga dengan ucapan Rani lebih baik menjawab terserah di bandingkan selera makan besar mereka membuat dua lelaki tampan di sebelah El ilfeel.
"Pesan aja yang kalian mau. Karena gue paling malas sama kata-kata andalan wanita itu!" ujar El sinis menatap Rani.
Apalagi salah hamba kali ini Ya Allah, ujar Rani dalam hatinya.
"Gimana liburan kalian kemarin?" tanya El to the point.
"Menyenangkan kok kak," jawab Rani dan memasang senyum lebarnya.
"Jaringan di sana memang buruk kak," jawab Zia.
Kedua lelaki yang duduk di sebelah El hanya terdiam mendengarkan percakapan itu. Alan yang sudah tak tahan dengan rasa keponya mulai membuka suara.
"Ehem, nama gue Alan. Dan ini sahabat gue Kevin," ujar Alan mengulurkan tangannya. Ia tak sadar bahwa El sedang menghunuskan pedang lewat tatapan matanya ada Alan.
Sementara Kevin dan Zia hanya memperhatikan gerak-gerik sahabat mereka masing-masing.
"Wah nama abang unik. Nama gue Keke, ini sahabat gue Zia," jawab Keke antusias.
"Kemarin kalian memangnya liburan kemana?" tanya Alan.
"Kita ke air terjun tujuh tingkat bang. Pemandangannya bagus banget!" ujar Keke.
"Wah itu kan susah jalan ke atasnya. Memangnya kalian bertiga nggak apa meskipun yang pergi cewek semua?" ujar Alan.
"Jalanannya memang susah bang. Beuhhh, kaki gue aja semaleman mesti makai koyo biar nyerinya reda." jawab Keke.
"Mau gue ajak ke tukang pijit?" tanya Alan.
"Hehehe, nggak usah deh bang." jawab Keke singkat.
Kali ini yang menjadi penonton tanpa bayaran adalah Rani, El, Kevin, dan Zia. Mereka baru sadar bahwa ternyata masing-masing dari mereka memiliki teman yang sangat ekspresif meskipun baru bertemu.
"Jadi kemarin kalian benar-benar bertiga aja yang pergi? Tanpa pengawasan lelaki?" ujar Alan antusias.
"Hmmm nggak sih bang, Kemarin kita ketemu kak Afan sama pak Jo di sana jadi barengan ke atas," ujar Keke dengan lumrah tanpa merasa bersalah.
Ya Allah kejujuran sahabat hamba membawa petaka bagiku, batin Rani.
Zia yang mendengar ucapan sahabatnya menginjak keras kaki Keke. Ia tidak ingin sahabatnya membuat bendera perang berkibar.
"Auhhh...Sakit Zia!" rengek Keke dan mencubit lengan Zia.
"Berarti kemarin kalian di temani dua lelaki?" tanya El dengan penuh penekanan sembari menatap Rani.
Glek
Rani kesusahan menelan air yang baru saja ia minum. Mata El sungguh mengunci pandangannya, dan seketika hawa sekitar menjadi dingin.
"Iya kak. Dan kemarin itu Rani hampir jatoh! Untung aja ada pak Jo yang bantuin nangkep," ujar Keke.
Bolehkah gue berharap untuk hari ini agar mulut Keke terkunci seketika atau suaranya tiba-tiba menghilang agar tak terjadi apa-apa dengan Rani? batin Zia yang pusing karena ucapan Keke.
"Lo hampir jatuh Ran?" tanya El.
"Iya aku jatuh. Nggak boleh panggil gue lo lagi katanya," cicit Rani dan menatap El singkat kemudian menunduk.
"Bodoamat!!! Saat ini gue lagi kesel! Kenapa nggak ngabari gue? Besok-besok nggak usah ke sana lagi!" ujar El dengan nada tinggi.
"Kemarin itu handphone Rani..." Keke ingin menjawab lagi akan tetapi Zia menyumpal mulut Keke menggunakan daging panggang yang hanya dibelah dua itu.
"Diem lu Markonah! Lo mau di amuk Rani?" bisik Zia kepada Keke. Akhirnya Keke pasrah dan menghabiskan potongan daging yang memenuhi mulutnya.
"Jaringan di sana kan jelek bang! Jadi wajar kalau mati tiba-tiba," bela Zia.
Ceh! Menarik juga nih anak. Membela sahabat satunya nya dan menindas sahabatnya yang ember. batin Kevin
"Ya udah kalau gitu. Kalian pulangnya bareng curut ini dulu. Gue ada perlu sama Rani," ujar El langsung berdiri dan menatap Rani.
Melihat tatapan El, Rani hanya pasrah tanpa pilihan. Gadis itu menatap kedua sahabatnya. Keke mengucapkan kata maaf sembari menarik kedua kupingnya. Sementara Zia, memberikan ucapan semangat. Kenapa kedua manusia itu bertolak belakang? Rani pun berjalan lesu mengikuti El.