Before I Found You

Before I Found You
BIFY 16



Di rumah Rani


“Assallammualaikum,” ucap mereka bertiga.


“Waalaikumussalam, eh anak-anak gadis mama udah pulang. Pada capek yah? Ayok masuk dulu,” ujar mama Rita merangkul dua gadis di hadapannya.


“Mah, lupa yah anaknya yang mana.” Kesal Rani.


“Udah ah Ran, masuk aja. Sekali-kali doang lo jadi anak tiri.” Zia memeletkan lidahnya pada Rani.


“Hhuhh, ia deh gue ngalah.” Rani menyusun sepatu temannya yang berada tidak pada tempatnya.


“Langsung ke kamar Rani aja ya Ke, Zi. Mama mau manasin makanan dulu. Soalnya kami udah makan tadi,” ucap mama Rita pada dua gadis ini. Kedua gadis itupun menuju kamar Rani dan mengehempaskan tubuhnya ke kasur Rani.


“Gimana tadi penampilannya sayang?” tanya papa Rani yang melihat anak gadisnya yang cantik ini.


“Kita menang dong pa, jadi pertunjukan terbaik,” ucap Rani bangga.


“Bagus-bagus, yaudah ajak tuh teman-teman kamu makan. Mereka nginap disinikan? udah malam soalnya,” tanya papa Rani. Kemudian diangguki oleh Rani.


“Yaudah, papa berangkat kerja dulu,” Ujar Nugraha mengelus puncak kepala anaknya.


“Iya pah, hati-hati dijalan ya pa. Jangan ngebut bawak motornya,” jawab Rani kemudian menyalami tangan papanya. Mama Rani pun menyalami tangan suaminya.


***


Di kamar Rani


“Eh eh eh, ganti baju, cuci kaki, cuci muka dulu. Jangan buat kasur gue nggak steril. Nih pakai baju tidur gue. Rani melemparkan baju ke wajah kedua temannya.


“Gue nurut aja, nggak ada tenaga buat debat,” Keke mengganti bajunya di depan kedua sahabatnya. Mereka memang sudah biasa begitu, jadi wajar saja. Usai mengganti baju, mereka bergantian ke mar mandi untuk membersihkan badan. Mereka memang tidak mandi karena sudah malam dan dingin. Setelah itu. Mereka menuju meja makan. Jangan heran kalau mereka makan lagi, walaupun sudah makan banyak tadi sore. Alasannya ada di episode sebelumnya, heheh.


“Kamu cantik deh Ran di make up ini kayak tadi,” tutur Rita pada anak gadisnya. Ia memang menemani ketiga gadis ini makan.


Belum sempat Rani menjawab, kedua adiknya yang baru pulang dari mesjid ikut nimbrung di meja makan. Mereka tidak makan, hanya duduk saja.


“Wah kak, ngapain lo bawak nih mak lampir ke rumah?” tutur Habil melirik Zia di sebelahnya.


“Sialan lo dek, gue temen kakak lo yang paling manis gini lo katain mak lampir,” Zia mencubit lengan Habil.


“Hahah, udah-udah sanaa kalian berdua siap-siap tidur! besok kan sekolah. Hari ini, kakak-kakak kalian ini menginap di rumah kita.” Ucap Rita kepada dua anak lelakinya.


“Hehe, kita nggak boleh lama-lama lihat kakak cantik yah mah?” tutur Ihsyan. Adik Rani yang satu ini memang sangat dekat dengan Keke. Menurut Ihsyan, akan lebih baik kalau kakaknya itu Keke karena lemah lembut. Tidak seperti kakaknya yang sangat galak dan sering memerintah bang Habil dan dirinya. Si Ihsyan belum tau, gimana Keke sama adik-adik ceweknya kalau di rumah. Keke sayang ke Ihsyan karena ia tidak memeliki adik lelaki. Ibaratnya Keke dan Rani itu berkebalikan. Semua adik Keke itu perempuan, sedangkan Rani semua adiknya laki-laki. Jadi hal yang wajar kalau Keke perhatian ke adik lelaki Rani yang menggemaskan ini.


“Udah, sana! Anak kecil harus tidur cepet,” Rani menatap kedua adiknya. Mereka pun langsung ngacir kekamarna.


“Tadi mama lihat kok penampilan kalian sebentar, bagus banget. Anak-anak gadis mama udah pada gede semua,” Saut Rita pada tiga gadis ini.


“Heheh, mama liat kita tampil mah? Uwah mama ter the best,” ujar Keke merangkul Rita.


“Iya dong, masak anak-anak mama tampil mama nggak liat. Uang mah bisa dicari, kesempatan untuk liat kalian tampil kan jarang-jarang,” Rita mengelus kepala ketiga gadis ini bergantian.


“Mah, kita jadi anak mama aja deh,” tutur Zia mengeratkan pelukannya pada Rita.


“Loh loh, kan kalian udah jadi anak mamah. Kenapa jadi pada sedih gini sih, hmm?” Rita melihat wajah murung kedua gadis di rangkulannya. Ia pun melirik ke arah putri yang duduk di hadapannya. Rani pun mengode mamanya. Rita pun sadar kalau perhatian yang ia berikan membuat kedua gadis ini terharu.


“Rebut terus emak gue, tapi cuman untuk hari ini aja gue bolehin!” tutur Rani untuk menghilangkan sasana sedih di hati sahabatnya.


“He em mah, atau waktu itu ketukar di RS mah,” Tambah Zia yang melepaskan pelukannya dari Rita.


“Haha, kalian ada-ada aja. Rani itu anak mama kok, lihat tuh wajah cantiknya kan nurun dari mama semua,” bangga Rita. “Udah ah, sekarang habisin makan kalian!” ujar Rita yang melihat makanan di piring gadis-gadis ini masih setengah lagi.


“Makanya jangan mewek mulu, gue aja udah kelar makan.” Tutur Rani mentertawakan kedua sahabatnya.


“Yee, makan lo abis duluan kan karena cemburu liat mama lebih perhatian ke kita berdua dari tadi,” Ucap Zia.


“Iya-iya, gue cemburu. Puas kalian?” ucap Rani pura-pura kesal.


“Mama heran sama kalian, sahabatan tapi kalau ngomong kayak tom and jerry aja terus,” Rita menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga gadisnya. Umur saja yang akan memasuki dewasa, tapi tingkah masih sama seperti anak kecil.


“Justru karna itu persahabatan kita lebih bewarna mah,” ujar Keke dengan senyumannya.


“Okedeh kalau gitu, mama udah ngantuk. Kalian juga harus segera tidur yah, capekkan seharian full?” ucapan Rita pun diangguki oleh ketiga gadis ini.


“Ran, nanti cuci piring maknya sekalian ya,” tambah Rita melihat anak gadisnya, sebelum ia beranjak meninggalkan meja makan.


“Siap mah, selamat malam mamaku sayang,” Rita pun meningalkan ketia gadis ini. “Kalain cuci tuh piring masing-masing, awas kalau nggak. Nggak boleh nginap di rumah gue lagi!” Rani mengancam kedua temannya ini.


“Yah tamu kok di suruh-suruh sih,” keluh Keke.


“Sapa suruh mau jadi anak emak gue, wlekk:p” ucap Rani meninggalkan kedua temannya. Ia mencuci piring makannya dan berwudhu, kemudian melaksanakan kewajibannya di kamar.


Kedua sahabat Rani pun menyelesaikan titah dari sahabatnya tadi. Kemudian melaksanakan shalat isya. Usai melakukan semuanya, mereka segera menghempaskan badannya kepada badan munyil sahabatnya yang telah dibaluti selimut.


“Auw, sakit. Nggak nyadar apah, kalian itu berat woi.” Kesal Rani.


“Lo tidurnya cepet amat sih Ran? Ayok ngobrol dulu. Isi perut belum turun juga.” Ucap Zia.


“Mau lo kena diabet Ran? Ayok bangunn,” Keke mengguncang badan Rani.


“Ini nih derita gue kalau bawak lo bedua. Tidur gue ke ganggu,” Rani pun bangun dari tidurnya dan duduk menyandar ke kepala tempat tidur.


“Hehe, anak penurut,” ucap Keke mengelus rambut Rani yang halus.


“Rambut lo kok bisa lurus berkilau gini sih Ran?” tanya Zia ikut memainkan rambut panjang Rani.


“Pakai shampo sunsilk lah, sesuai sama iklannya.” Ujar Rani dan menirukan gaya ala-ala pemeran iklan shampo tersebut. “Beda kan, sama rambut kalian yang kayak mie, ahahaha” Rani mentertawakan rambut kedua sahabanya. Padahal Rambut Zia dan Keke itu ikal bukan kriting kayak mie.


“Nyesel gue nanya,” Zia mengerucutkan bibirnya


“Kayaknya prinsip dia tuh, tiada hari tanpa menghina kita bedua Zi,” Keke menarik kuat rambut Rani, kemudia beranjak meninggalkan tempat tidur.


“Awas lo Ke, sini rambut mie lo gue gunting!” Rani melempar guling ke arah Keke, dan terjadilah adegan lempar-lempar banal di kamar Rani.


“Para gadis, ini udah pukul 10 malam loh, jangan pada ribut. Nanti tidur adik-adik kalian ke ganggu,” Suara teguran Rita terdengar jelas di kamar Rani. Karena kamar kedua orang tua Rani tepat disebelah kamarnya.


Ketiga gadis yang mendapatkan teguran itupun segera tidur dengan rapi. Kasur Rani memang pas untuk mereka bertiga, karena ukurannya yang king size. Merekapun segera memejamkan mata dan masuk ke dunia mimpi masing-masing, karena badannya cukup lelah seharian ini.


Haiii semua....Terima kasih udah baca novel ini. Maaf banyak typo bertebaran😁


Like, comment, and like ya 😇😇😇