Before I Found You

Before I Found You
BIFY 42



Selamat membaca Dan semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, and komentarnya yaa readers 😉


.


.


.


.


“Gimana Ran? Aman?” tanya Desi kepada Rani.


“Aman kak,” ujar Rani.


“Kamu minta aja anak-anak konsumsi yang lain untuk membawa makanan ini ke depan,” ujar Desi.


“Oke siap kak,” ujar Rani.


Desi pun membantu Rani memotong kue bolu yang dibawakan oleh ibu-ibu mesjid. Warga sekitar sangat mendukung kegiatan di bulan Ramadhan ini. Selang beberapa lama, kedua gadis ini dikejutkan oleh kedatangan seseorang.


“Ran, abang minta ini ya? Laper,” ujar Randi.


“Ngga boleh! Sono lu, beli makanan sendiri.” Ujar Desi.


“Pelit amat Des. Satu seorang aja kok,” keluh Alan.


“Ngga ada tuh Ran. Mereka mana cukup makan satu,” Desi menatap tajam kedua lelaki itu.


“Hehe, sabar ya bang. Nanti deh kalau acara udah kelar, gue kasih sisanya.” Ujar Rani.


“Oke deh, dapat sisa juga lumayan.” Ucap Randi pura-pura terzolimi.


Mendengar itu Rani, Desi, dan anak konsumsi lainnya tertawa. Mereka pun kembali melakukan tugas masing-masing. Acara pada malam itu berjalan lancar, banyak peserta yang datang dari dalam dan luar daerah. Dimulai dengan kata sambutan oleh kepala daerah, pengurus mesjid, dan ketua pelaksana tentunya.


“Ran, kamu maju ke depan ya. Kasih ini teh untuk bapak-bapak yang datang diujung sana.” Tukas Zila.


“Em.....harus Rani kak? Malu,” ucap Rani yang takut untuk mengunjungi bapak-bapak yang duduk di bagian depan.


“Iya sayang. Soalnya kamu kan koornya, gih sana! Ngga apa-apa kok, itu juga papanya si El,” ujar Zia.


What? Itu bapak beda banget sama anaknya, tapi sama-sama berwibawa sih, batin Rani. Rani pun memberanikan diri untuk memberikan minuman yang telah disediakan kepada kumpulan bapak-bapak tersebut.


“Terima kasih nak,” ujar Dirgantara.


“Sama-sama pak,” ujar Rani tersenyum.


Saat rani akan kembali ke posisinya, banyak para peserta yang melirik kepadanya.


“Kak, kak....kita juga peserta tapi belum dapat makanan,” ujar seorang lelaki.


“Ohh, sebentar ya,” ucap Rani kembali tersenyum.


"Minumnya juga sekalian ya kak," ujar laki-laki lainnya Yang diangguki oleh Rani dan kembali tersenyum.


“Haduh kak, senyumnya itu lo. Bikin kita jadi semangat untuk ikut lomba,” tambah seorang lelaki. Rani hanya tersenyum kikuk dan menuju tempat konsumsi.


“Makanya jangan senyum terus!” ujar seseorang di belakang Rani.


“Astagfirullah,” Rani kaget karena tiba-tiba El berada di belakangnya.


“Bukan urusan lo bang!” tukas Rani.


“Cehh, dasar bocah tengil! Ngga usah keluar lagi deh, biar anak-anak yang menghidangkan makanan ke depan,” tutur El.


“Loh kan ini tugas gue bang,” ujar Rani tak terima dengan titah lelaki ini.


“Nurut aja kenapa sih Ran? Ini demi kebaikan kamu juga,” ujar El.


“Iya-iya, emang sih ngga enak tuh orang-orang ngeliatin gue terus. Lo juga keluar deh bang! Nanti cewek lo komplain lagi ke gue!” ucap Rani mendorong El agar pergi dari tempat persediaan konsumsi itu.


“Ckk, iya. Inget ngga usah keluar!” titah El membulatkan bola matanya pada Rani.


“Iya bawel!!!” ujar Rani, ia pun kembali menyusun makanan baru ke dalam wadah.


Selang beberapa lama, Rani pun tersadar. Dasar b*gok!!! Ngapain lu nurut aja sama si es batu? Omel Rani pada dirinya sendiri.


“Arghhh, bodolah!!! Itu juga untung di gue,” ucap Rani menyemangati dirinya.


Acara yang masih berlanjut, kini sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Rani sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang melanda dirinya. Ia mendudukkan badannya, dan melihat para anggotanya yang merupakan adik-adik yang masih duduk di sekolah dasar sudah terlelap dengan nyenyak di tempat konsumsi itu. Tempat ini memang sangat nyaman, dan tertutup sehingga tidak akan tampak dari dalam mesjid. Akan tetapi akan tampak dari jendela bagian belakang mesjid.


Rani pun akhirnya terlelap dengan menekukkan kakinya dan merangkul lututnya. Gadis ini pun menuju alam mimpinya, suara pelaksanaan acara sudah tak terdengar olehnya.


El yang kebetulan lewat di belakang mesjid, melihat gadis kecil itu terlelap diantara anak-anak kecil di sana. Dasar cewek ceroboh! Bisa-bisanya dia tidur di tempat ramai begini, omel El dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk masuk menemui gadis kecilnya itu.


“Rani...” tak ada sautan El pun memperhatikan wajah gadis kecilnya yang sedang terlelap itu.


Tak tega untuk membangunkan, El pun menyelimuti punggung Rani menggunakan kain sarungnya, ia juga menyelimuti anggota konsumsi lainnya menggunakan kain sarung mesjid. Rani yang memang kedinginan sedari tadi mengeratkan kain sarung yang diberikan oleh El itu ke badannya. Melihat itu El pun tersenyum dan pergi meninggalkan Rani.


Selang beberapa lama, acara pun diberhentikan karena sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB. Pemenang lomba akan disampaikan besoknya setelah babak final. Usai menutup acara, semua orang telah kembali ke rumah masing-masing,kecuali para panitia.


“Wuih gila.....Adek gua cakep banget yak pas tidur?” ujar Tegar kepada Randi.


“Heem, difoto aja kali yah? Buat kenang-kenangan. Kapan lagi lihat bidadari tidur,” ujar Randi melihat wajah Rani yang sangat nyaman dengan tidurnya.


“Mau apa lo?” suara El mengangetkan kedua temannya itu.


“Eheh...Yang punyanya datang Gar. Gue masih sayang sama nyawa,” cengir Randi dan memasukkan kembali handphonenya.


“Awas lu kalau berani ganggu dia!” tegas El.


“Becanda El, suer dah!” ucap Tegar menunjukkan dua jari membentuk piss kepada El.


Suara keributan itupun membuat Rani terbangun. Ia membuka matanya yang masih sulit menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Ia pun melihat tiga lelaki berdiri tak jauh darinya, ia pun sedikit menyipitkan matanya untuk memastikan siapa yang telah membuat keributan dan mengganggu mimpi indahnya.


Saat ia akan bersuara, Rani merasa aneh karena ada kain yang membaluti tubuhnya. Sarung siapa nih? Batin Rani. Ia pun melipat sarung itu, dan berjalan melewati ketiga lelaki itu.


Rani ingin mencuci wajahnya, ia masih sangat mengantuk. Perilaku Rani pun membuat ketiga lelaki itu melongo. Ckk, dengan santainya dia berjalan tanpa sepatah kata, ujar El menatap punggung gadis itu.