Before I Found You

Before I Found You
BIFY 38



“Hehehe...puas banget habis ngerjain dia,” ujar Rani rebahan di atas kasur kesayangannya.


Di lain sisi, El masih berjalan untuk menuju motornya yang ia parkir di dekat sekolahan Rani tadi. Wajahnya yang ganteng ditekuk bak mendapat kerugian puluhan juta.


“Itu wajah kenapa bro? Tadi aman adem ayem aja pas nguntit,” ejek Arlan.


Alan memang menumpang dengan El saat pulang sekolah tadi. Akan tetapi, sahabatnya ini bagaikan kucing bertemu ikan saat melihat Rani dan kedua temannya yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Alhasil, dirinya ditinggal di warung sate depan sekolahan Rani.


“Berisik lu!!!” tukas El dan duduk di samping Alan.


“Cehh, habis kena apes pasti!!! Makanya gue jadi sasaran,” ucap alan melanjutkan makan satenya yang entah sudah berapa porsi sedari tadi.


El yang kesal dan lapar pun mencomot makanan Alan dan menceritakan semua yang terjadi pada dirinya saat mengikuti gadis kecilnya tadi.


“Buahahahaha....itu azab!” ujar Alan yang mentertawakan nasib El.


“Uhukkk, bang*at. Keselek gue ini Elll!!!” teriak Alan segera meminum air di depannya.


“Itu azab buat lo yang berani ngetawain gue!” ujar El santai.


Alan masih meminum air sebanyak-banyaknya. Karena sate yang dimasukkan oleh El ke dalam mulutnya itu telah ditambahkan banyak boncabe. El sedikit terhibur karena kejahilannya kepada sahabatnya ini.


“Awas lu!!! Lo gue END!!!” ujar alan ala-ala cewek.


“Uluh-uluh tayang, nanti gue bayarin semua yang lo makan,” bujuk El.


“Geli gue dengernya!” Alan bergidik ngeri karena tingkah sahabatnya ini.


“Maklum buk, temen saya ini ngambekan kayak cewek,” ujar El kepada penjual sate dan mengedipkan sebelah matanya pada Alan. Membuat ibu tukang sate hanya menggelengkan kepalanya.


“Ngga ada kok buk. Cuman temen saya ini aja yang geblek! Ngintilin cewek ampe dimari,” ucap Alan.


“Kalau fans Rani mah udah terlalu banyak den. Orang Amerika aja pernah nyari dia kesini,” ujar ibu penjual sate tersebut.


“Wah El, saingan lu udah ampe tingkat Internasional nih El,” ujar Alan menepuk bahu sahabatnya.


“Tapi ini beneran buk?” tanya Alan.


“Ya beneran. Sampai satu sekolah heboh karena kedatangan dua turis ke sekolah yang nyariin Rani,” ucap Ibu itu bercerita.


“Hahaha, ngga apa-apalah ya buk. Tampang sahabat saya ini ngga kalah kok sama tampang Harry Poter,” ucap Alan yang disikut oleh El.


“Nyerocos mulu lo siAlan! Makasih infonya ya buk,” ujar El dan mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar makanan yang ludes oleh sahabatnya sedari tadi.


“Iya den. Jangan pantang menyerah!” ucap ibu itu tersenyum.


Setelah mendapatkan kembalian. Mereka pun menuju motor El. Moge itupun membawa kedua orang itu ke rumah masing-masing.


***


Di rumah El,


“Huhh, ni rumah sepi amat kek kuburan,” ujar El menuju kamarnya.


El pun membersihkan badannya, dan teringat dengan kejadiannya siang ini. Ia menggelengkan kepala dan sedikit mengukir senyum di bibirnya. “Unik” itulah yang terucap olehnya. Karena energinya cukup terkuras, El pun merebahkan badannya dan terlelap. Baru saja akan benar-benar tertidur handphone El berdering,


“Ya Allah, kenapa hidup gue ngga bisa tenang,” keluhnya yang membuat kedua orang di seberang sana tertawa.


“Apes banget sih hidup lo El. Gue cuman mau ngingetin. Bentar lagi asar, jangan lupa kita harus ngumpul!” titah Dodo yang membuat El duduk dan mengusap wajahnya.


“Batalin aja!!!” tukasnya


“Loh ngga bisa gitu dong El,” Dodo yang bersiap mengomeli sahabatnya ini.


“Suka-suka gue lah. Gue Ketuanya! Lan, tu mulut lama-lama gue segel!!!” tukas El. Ia tau kejadian yang ia alami saat ini telah tersebar di grup mereka.


“Hahaha, sans bro! Berbagi itu indah, apalagi buat orang bahagia,” jawab Alan.


“Bodo ah, gue matiin dulu!” ucap El dan mematikan telepon tersebut.


Awalnya biasa kau lewat didepanku


Tak kusangka kini ternyata


Aku langsung jadi suka


Detak jantungku berdegup kencang


Saat kau ada disampingklu


Aku harus bagaimana


Bisakahku milikimu


Bisakah kau cinta aku


Karna cuman kamu yang bisa


Buatku hampir gila


Detak jantungku berdegup kencang


Saat kau ada disampingku


Aku harus bagaimana


Bisakahku milikimu


Bisakah kau cinta aku


Karna Cuma kamu yang bisa


Buatku hampir gila


Tak ada yang gantikanmu


Disetiap hembus nafasku


Coba kau sedikit mengerti


I just wanna love you baby...


*Devano-Bisakah


Mendengarkan lagu ini membuat El tertawa sendiri. Apa iya ya gue suka sama bocah ingusan kayak si Rani? Ujarnya pada diri sendiri. Karena waktu asar telah masuk, El pun bergegas untuk menuju mesjid, sekalian melakukan shalat berjamaah.


Saat akan memasuki mesjid, ia melihat gadis kecilnya menggunakan mukenah berwarna putih dan ikut bergabung dengan ibu-ibu yang juga akan melaksanakan shalat asar berjamaah. Dia melebihi ekspektasi gue, ujar El.


Gadis yang El lihat adalah Rani. Entah kenapa Rani yang biasanya malas ke mesjid, karena yang biasanya melaksanakan shalat berjamaah di mesjid hanya ibu-ibu dan nenek-nenek tua. Kalaupun ada yang muda, mungkin hanya kebetulan. Satu hal lagi yang membuat Rani kurang nyaman melaksanakan ibadah di mesjid ini karena kebiasaan sang ibu-ibu apalagi kalau bukan bergosip. Dulu keluarga Rani selalu diwajibkan ke mesjid oleh sang papa, tapi sekarang hanya yang lelakilah yang diutamakan ke mesjid.


“Akhhh setan!” kaget Rani mengelus dadanya. Ia terkejut karena saat keluar mesjid, ada seseorang yang tiba-tiba muncul dari salah satu tiang di teras mesjid itu.


“Mana ada setan seganteng gue,” omel lelaki itu.


“Cehh, kepedean!!!” desis Rani yang terdengar oleh El. Rani ingin segera kabur dari lelaki ini, karena ia tau lelaki ini akan balas dendam atas kejadian hari ini.


.


.


.


Terima kasih udah mampir ^^


Jangan lupa tinggalin jejaknya yaa readers 💗💗💗