
Hari ini pertama kita berdua terpisah jarak jauh. Siapa sangka hati ini sedikit tersentuh dengan tingkah manismu belakangan ini. Apakah perilaku itu akan bertahan hingga saat kita bertemu lagi nanti? Disini aku akan memegang janjimu. ~ Maharanisya
"Kamu baik-baik di sini." ujar El mengusap kilas kepala Rani.
"Hem," jawab Rani singkat.
"Hah! Inilah penyebab aku benci bandara," ujar El menghela nafas.
"Kenapa?" tanya Rani mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu.
Mata cokelat itu seperti bersinar. Tatapan inilah yang membuat orang lain yang menatapnya jatuh dan luluh seketika.
"Bandara adalah tempat yang memisahkan banyak orang dengan orang yang mereka sayangi!" ujar El membenarkan hijab Rani yang sedikit berantakan karena ulahnya tadi.
"Ceh! Lebay amat sih bang," ujar Rani mencibir El.
"Maharanisya Nugraha. Don't you want to say something to me?" ujar El tegas.
"Nothing!" ujar Rani singkat.
"Hufhtt.... Oke, abang yang bakal ngomong hal penting. Berjanjilah akan menungguku apapun yang terjadi!" ujar El menarik tangan Rani.
"Dih enak aja. Kalau semisalnya di sana abang dapat cewek yang lebih cantik, Rani mesti harus nunggu juga gitu?" delik Rani.
El mengangguk dan tertawa lirih. Ia hanya ingin melihat wajah Rani yang menggemaskan saat kesal.
"Enak aja!!! Ogah banget kalau seandainya begitu!" ujar Rani mengerucutkan bibirnya dan gadis kecil itu memukulkan tas kecilnya kepada lelaki yang ada di hadapannya.
"Aduh! Sakit Ran... Abang ngga bakal kek gitu! Makanya kita berdua saling menepati janji. Janji?" ujar El mengarahkan jari kelingkingnya pada Rani.
"Janji," ujar Rani tersenyum.
Ini adalah tautan janji kelingking mereka yang kedua. Apakah seperti yang dikatakan kebanyakan orang bahwa janji kelingking itu akan benar-benar terjaga. Entahlah, Rani tidak ingin terlalu memusingkan itu.
"Keluarga abang mana?" tanya Rani.
"Mereka sibuk semua, makanya abang sangat bersyukur kamu mau menemani!" ujar El dan kembali mengusap gemas Puncak kepala Rani.
"Hehe, Abang kan selama ini udah berkorban banyak untuk Rani. Sekarang giliran Rani," ujar Rani tersenyum.
Senyuman itu, tatapan itu, kemarahan sesaat itu. Sungguh semuanya sangat ingin El masukkan ke dalam memori otaknya agar bisa di putar ulang saat dirinya terlelap nanti di sana. Mereka memang hanya terpisah pulau. Akan tetapi, mengingat perkuliahannya nanti tidak akan semudah orang-orang biasa. Bisa saja ia akan menjadi jarang pulang kampung.
"Hei! Kesambet jin bandara nanti loh! Ngelamun aja sih bang," ujar Rani memukul lengan El.
"Rani...I love you," ujar El dengan nada kecil.
"Hahahaha...Hadeh, ini mah udah kelewatan so sweet sebelum saatnya!" ujar Rani mentertawakan El yang malu-malu.
Siapa sangka respon dari Rani itu membuat telinganya terasa panas. Kedua telinga lelaki itu memerah dan bahkan pipinya juga menghangat dan ia kehabisan kata-kata.
"Siapa suruh kamu pakai jampi-jampi ke abang?" ujar El terbata.
"Apa?" ujar Rani dengan nada tinggi. Ia mendelik tajam pada El.
"Iyalah pakai jampi-jampi. Kalau nggak, mana mungkin abang bisa sesuka ini sama wanita dan merasa bodoh!" ujar El menaik turunkan alisnya saat menatap Rani.
"Ceh! Dikiranya gue cewek apaan?" desis Rani memalingkan wajahnya dari El.
"Lepasin nih jampi-jampinya. Supaya pas di sana abang bisa melihat cewek lain yang cantik-cantik, ppftt" ujar El menahan tawanya.
"Dodoli dodoli pret! Udah lepas noh!" delik Rani semakin mencebikkan bibirnya.
"Hahaha...Abang cuman bercanda doang!" ujar El menarik wajah Rani agar menatapnya.
"Apa?!" ujar Rani masih kesal.
"I love you more..." ucap El.
Siapa sangka lelaki itu telah memasangkan sebuah cincin di jari manis Rani. Sontak membuat Rani kaget karena merasa ada sesuatu di jarinya.
"Ini?" ujar Rani menarik tangannya yang saat ini sudah tersematkan cincin perak dengan permata kecil di tengahnya.
"Mana bisa? Di kebudayaan kita nggak ada beginian loh," ujar Rani.
"Biarin! Yang penting kamu harus makai ini terus pas keluar rumah, abang juga pakai nih lihat!" ujar El menunjukkan jari manisnya pada Rani.
"Beh... Udah di ikat aja padahal belum dapat restu orang tua!" ujar Rani.
"Ini sementara, nggak tau nanti." ujar El tersenyum.
"Iyain aja deh biar cepet! Terima kasih ya..." ujar Rani dan mengembangkan senyumnya kembali.
"Sama-sama. Rani tau satu hal?" ujar El.
"Apa?" tanya Rani.
"Kamu manis seperti ini. Jangan di ubah lagi," ujar El bersamaan dengan panggilan dari keberangkatan pesawat El.
Rani masih merenungkan ucapan El. Akan tetapi, badannya menjadi tegang seketika karena mendapatkan pelukan dari lelaki yang telah memasuki hatinya belakangan ini. Rani hanya terdiam dalam pelukan El.
Dag
Dig
Dug
Suara jantung mereka berdua saling berdentuman. Kehangatan menjalar di badan mereka, apakah rasa cinta mereka berdua memang benar-benar sudah berada dalam satu frekuensi. El tak ingin nantinya ia semakin sulit melepaskan gadis kecilnya itu, ia pun mengurai pelukan mereka.
"Sekali saja, nanti lagi kalau udah halal." ujar El dan kemudian berlari memasuki ruang tunggunya.
Rani masih menstabilkan kondisi jantungnya yang mungkin saja berhenti seketika akibat terlalu berdentuman keras. Matanya mengikuti arah punggung bidang itu yang sudah memasuki ruangan.
"Gue bakal menunggu. Semoga janji lo memang janji sebenarnya bang," ujar Rani dan membalikkan badannya.
"Rani! Tunggu," teriak El.
Lelaki itu menyerahkan sebuah paper bag pada Rani.
"Kelupaan tadi. Di pakai yah! Nanti kirimin fotonya. Abang berangkat dulu. Jaga agamamu, jaga dirimu, jaga hatimu, dan jaga matamu!" ujar El.
Rani mengangguk. Ia pun tersenyum sekali lagi. Ia berharap senyumannya ini akan mampu membuat lelaki es nya itu bertahan dari godaan yang banyak di luaran sana.
"Abang juga," ucapnya.
El pun membalikkan badannya kembali ke tempat ia tadi. Satpam di sana sudah menatapnya dengan tajam. Akan tetapi, siapa yang bisa melarang seorang Immanuel.
Rani kembali menatap punggung itu, hingga hilang di balik pintu geser tersebut. Kemudian, Rani menatap cincin yang diberikan oleh El. Manis itulah perwakilan dari benda yang melingkar di jari manisnya itu. Rani juga menatap paper bag yang di berikan oleh El tadi. Ia memilih untuk membuka setiba di rumah saja.
Gadis kecil itu pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari bandara tersebut. Ia tersadar saat baru saja berada di luar bandara bahwa dirinya tidak izin kepada sang mama saat pergi tadi.
"Mampus gue! Pasti emak udah ngamuk di rumah." ujar Rani cemas dan berlarian meninggalkan bandara.
"Maaf nona. Biarkan saya antar anda pulang," ujar lelaki tua yang membukakan pintu mobilnya untuk Rani.
"Ehmmm... Bapak sepertinya salah orang. Saya bukan nona pak," ujar Rani menggaruk hijab yang ia kenakan.
"Saya di minta oleh nak El agar mengantarkan nona pulang." ujar lelaki tua itu membungkukkan badannya.
"Hoo.. Bapak kenal sama abang El. Nggak apa pak, nggak usah repot-repot. Rani bisa kok naik angkot, Hehe... Ranu permisi dulu pak," ujar Rani sopan dan menundukkan badannya.
"Tapi nona... Nanti nak El marah ke saya," ujar lelaki itu dengan wajah cemas.
"Hah. Dasar si es batu! Orang tua juga diancam ternyata!" desis Rani. Ia bicara sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh lelaki tua yang di ancam oleh kekasihnya itu.
"Ayo deh pak. Maaf Rani merepotkan ya pak," ujar Rani sopan dan memasuki mobil bagian depan. Ia tidak ingin membiarkan lelaki tua itu sendirian di depan dan yang ada nantinya Rani benar-benar seperti seorang nona kaya Raya yang sombong di ftv.
"Baik nona," ujar lelaki itu tersenyum dan menutup pintu bagian belakang tersebut.
Beruntungnya anda nyonya. Karena gadis kecil incaran tuan muda sangat baik. Batin lelaki itu.