Before I Found You

Before I Found You
BIFY 31



“Eh anak-anak kecil. Mari berkumpul, para emak-emak komplek udah sampai,” ajak Rani kepada Rani dan teman-temannya.


“Emm, bentar bang gue mau nanya. Ini nomor siapa bang?” tanya Rani kepada Randi.


“Hahahaha, kakak El maksud lo dek?? Kok manggil kakak ke dia sih?” tanya Randi menaik turunkan alis matanya.


“Cehh, dia lebih cocok dipanggil om es dibandingkan kakak,” Rani memutar bola matanya jengah dan masuk ke dalam mesjid. Randi pun tertawa karena pergerakan temannya itu tak terduga.


“Udah, kita masuk aja dulu ke mesjid. buat mastiin kalau itu dia,” pajak Randi.


Mereka berlima pun masuk ke mesjid. Saat semuanya masih belum memulai rapat Randi pun menggencarkan aksinya.


“Ehemm. Baiklah saudara-saudara sekalian. Siapakah pemilik nomor 082391xxx828 ?” ucap Randi sengaja membesarkan suaranya.


El yang melihat hp Rani di tangan Randi pun menundukkan kepalanya, ia sedikit malu kalau semua orang akan tau usaha PDKT yang ia lakukan. Pipi dan telinga putihnya juga sudah memerah.


“Nomor si El itu. Kenapa emang?” tanya Dodo.


Randi pun akan membuka suara untuk membeberkan isi pesan El kepada Rani tadi. Rani yang mengetahui keemberan dari Randi pun segera membuka suara.


“Nggak bang itu nomor bagus aja,” jawab Rani dan tersenyum.


“Ckk....Gagal rencana gue, jahat lo dek!” omel Randi.


Rani pun mendelik sebal kepada Randi, ia tau kalau sampai pesan itu dibeberkan bukan hanya si om es yang malu tetapi juga dirinya. Sementara itu, disisi lain El menghela nafasnya lega.


“Kita akhiri kerusuhan yang dibuat oleh Ranjay, sekarang ayo mulai bergerak ke titik minta sumbangan masing-masing!” ucap El mengalihkan pembicaraan.


“Yah, nggak seru lu El,” tukas Randi cemberut, tetapi tidak diacuhkan oleh el.


Mereka pun sudah berdiri dan bersiap-siap untuk berangkat meminta sumbangan. Seperti biasanya, El tak henti mengganggu Rani.


“Bang, gue gerah yah. Sana jauh-jauh!!!” ucap Rani mendorong lengan El agar lelaki itu tidak terlalu dekat dengannya.


Membuat gadis itu kesal adalah kebahagian baginya. “Haha, oke-oke gue jalan jauhan dikit,” ujar El.


Mereka pun berjalan, sedangkan Rani masih sibuk menggerutu di dalam hatinya. Saat sampai di suatu rumah, Rani pun masih melanjutkan kekesalannya karena es balok terus-terusan mendekatinya.


“Terima kasih pak,” saut Iwing.


Rani terus menggeser posisinya agar berjarak dengan El. Akan tetapi, El juga semakin asik menggeser posisinya.


“Arghhh,” ujar Rani, ia tergelincir ke dalam selokan. Handphonenya terbang, begitupun dengan sendalnya yang ikut terbang.


Kalau dibuatkan slow motion El saat ini sedang berusaha menangkap hp Rani bagaimana pemain basbol menangkap bola yang melambung tinggi.


Bukannya menyelamatkan gadis kecil yang mengisi hatinya, El lebih memilih untuk menagkap hp yang terbang itu. Rani yang kesakitan dan berusaha keluar dari selokan dibantu oleh Iwing, hanya cengo melihat El memberikan hp kepadanya.


“Untung hp lo nggak kenapa-kenapa dek,” ucapnya tersenyum dan menyerahkan hp Rani.


“What!!!! Lo lebih milih nyelamatin nih hp dari pada gue???” ucap Rani mendelik tajam El dan merampas hpnya.


“Yah, kan sayang nanti hp lo rusak dek. Kalau jatuh dari ketinggian lebih dari 1 meter,” jawab El kembali dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Rani yang masih berada di dalam papahan Iwing pun melepaskan tangan Iwing dari bahunya, “Dasar cowok es. Apes banget gue gara-gara lo!!! Minggir lo!!! jangan jalan deket-deket gue!!!” ujar Rani dengan nada marah.


Suara Rani yang sangat kesal itu mengundang perhatian banyak orang di sana. Rani yang saat ini benar-benar kesal ditambah rasa malu karena ia harus terjatuh ke selokan. Ditambah dengan tersangka yang membuat dirinya jatuh ke selokan lebih memilih hp nya dibandingkan dirinya yang berharga ini.


“Wah-wah KDRT apa ini?” tanya Randi menatap mereka bertiga.


“Tau ah, jengah gue, lama-lama sama temen lo bang!” ketus Rani dan memungut sendalnya yang ternyata juga putus.


“Sshh” desis Rani saat kaki dan sikunya harus terluka karena masuk ke dalam selokan.


Untung selokan tersebut sedang kering dan bersih. Bayangkan kalau selokan itu kotor dan berair. Entah bagaimana kondisinya saat ini.


“Ada yang jatuh ya nak? Cuci aja dulu lukanya,” saut bapak pemilik rumah kepada Rani dan menunjukkan kran air di samping rumahnya kepada Rani.


“Terima kasih pak,” ucap Rani dengan lemah karena kehabisan tenaga untuk menjawab.


Rani pun menyingsingkan lengan bajunya dan melihat luka yang ada di sikunya. Ternyata lecet akibat gesekan dari tembok selokan itu membuat Siku Rani memar dan berdarah.


“Wing, bantuin,” rengek Rani.


“Biar gue yang bantuin,” tawar El kepada Rani.


“Nggak usah!!! Yang ada gue apes lagi deket lo!” sarkas Rani.


“Sini gue yang bantuin!” ucap El yang juga tidak tega melihat gadis itu kesakitan karena dirinya.


“Nggak. Wing!!! Lo mau gue pecat jadi sahabat??” melirik sebal sahabatnya yang belum juga membantunya.


Iwing pun segera membantu Rani dengan memegang hpnya dan mengarahkan air kran ke luka Rani secara perlahan. Setelah membersihkan lukanya, Rani pun mencoba untuk berjalan. Akan tetapi, karena sendal yang ia pakai putus dan kakinya sedikit perih mungkin keseleo, membuatnya kesulitan untuk berjalan.


El yang melihat gadisnya kesulitan berjalan pun melepas sendalnya dan meletakkan di depan gadis kecilnya itu.


“Pakai!!!” titah El kepada Rani.


“Ogahh!!!” jawab Rani dengan ketus.


“Gue bilang pakai! Gue nggak mau anggota gue kesulitan. Nanti apa kata orang-orang,” titah El memegang lengan Rani yang masih terus berjalan.


“Shhh, sakit *****!!” ucap Rani memejamkan matanya karena lukanya tertekan oleh El, ia pun menghempaskan tangan El dan kembali berjalan.


“Sorry gue nggak sengaja,” ucap EL melemah dan melepas cengkramannya.


“Lo sebenarnya mau apa sih bang? Arghh. Bodoamat lah... Gue juga nggak peduli!” jawab Rani menatap tajam kepada El.


Melihat perdebatan itu, membuat Iwing membuka suaranya.


“Pakai aja sih Ran, sendalnya bang El. Kaki lo juga keseleo kan?” saran Iwing kepadanya.


“Gue jatuh juga gara-gara dia yah Wing,” dengus Rani kepada temannya itu.


Karena tak ingin perdebatan semakin panjang, El pun berjongkok di depan Rani dan melepaskan sendal yang Rani pakai. Kemudian meletakkan sendalnya di depan Rani. Sendal Rani ia ambil dan pegang tinggi-tinggi.


“Lo mau apa? Kembaliin sendal gue es batuuuu!!!!” omel Rani dan berusaha meraih sendalnya yang berada di tangan El.


“Nggak!!” ketus El dan jalan mendahului Rani tanpa sendal.


“Balikin bang El!!!” teriak Rani, Ia pun memakai sendal El dan berjalan cepat mengejar El. Walaupun kakinya masih sakit.


Pertengkaran dua orang ini menjadi pusat perhatian bagi teman-temannya.


“Wihh, lo udah bangunin singa betina El,” tukas Tegar dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.


El tidak mengacuhkan Rani, ia berbalik dan menyampaikan bahwa karena ada anggota yang terluka jadi kegiatan minta sumbangan dilanjutkan besok.


"Ceh, padahal yang luka cuman si Rani," ujar Dodo mendelik ketuanya sebal.


Mau tak mau mereka pun kembali ke mesjid, dan memanggil panitia lain untuk menyudahi kegiatan sore ini.


.


.


.


.


Haaiiiiiii ara readerss....Terima kasih udah baca novel ini 💖💖💖💖💖


Author: author mau ngeluarin kata2 bentar boleh yah???😋😋


Rani. : Keluarin aja thor, gue tadi mah udah puas marah-marahin si es batu.


Author: Diem lu Ran!!Gue nanya reader bukan tokoh novel. Serius nih nggak ada komentar buat cerita author?


Rani : Okelah, mending kan gue jawab, daripada lo dianggurin kayak biasa 😝.


Author : Puas lo ngetawain gue? Para readersku apakahceritanya kurang seru jadi nggak pantas dapat nilai ataupun vote dari kalian semua?? 😭😭😭


Rani : Nah kan, author mewek gegara kalian nggak tanggepin omongan receh dari dia ituh. Makanya, Kasih author jempol dan komentar yaa... Supaya hidup gue nggak kelar sampai disini 😘😘😘🤗🤗🤗