
"Kenapa sih Ran... uring-uringan terus?" tanya Keke.
"Gue kesel. Pokoknya kesel. Kemana tuh si es batu? Malah hilang ketelan bumi!" ujar Rani dengan emosi.
"Weittss... Santai, ngomongnya jangan pakai urat," ujar Zia menepuk ringan bahu Rani.
"Sekarang kan masa-masanya mereka ngurus berkas untuk ngampus Ran... Gue yakin kalau bang El nggak akan berpaling!" ujar Keke membuka pikiran Rani.
"Kalau masalah berpaling atau enggak, gue udah yakin kalau dia nggak akan berpaling!" tukas Rani pada dua sahabatnya dengan tampang tanpa dosa.
"Ceh!!! Songong amat lu!" delik Zia dan memukul lengan Rani.
"Ya kan memang kenyataannya begitu. Haha, nggaklah gue juga nggak yakin-yakin amat," cengir Rani.
"Memangnya dah berapa lama bang El nggak kasih kabar?" Tanya Keke mengubah posisi tidurnya menghadap Rani.
"Tiga hari!" ujar Rani dengan nada melengking.
"Oh Tuhan....Baru tiga hari doang?" delik Zia menatap Rani tajam.
"Biasanya dia sekali tiga jam nelfon gue! Ini udah tiga hari nggak berkabar," ujar Rani pelan.
"Gue baru tau kalau orang yang dulunya nolak mentah-mentah di doain jodoh. Sekarang malah BUCIN tingkat akut!" ujar Zia penuh penekanan.
"Bukan cuman nolak mentah-mentah Zi... Yang bener itu, dua insan yang kalau ketemu waktunya cuman dihabiskan untuk berdebat. Akurnya pas saat-saat tertentu aja! Lebihnya kek si Tom ketemu Spike," ujar Keke.
"Spike itu siapa?" tanya Rani dan Zia bersamaan.
"Yee... Masak nggak tau! Makanya kalau nonton itu jangan tokoh utamanya aja yang diingat! Tokoh lain itu juga bumbu pelengkap film," ujar Keke.
"Memangnya film apaan Ke yang nama tokohnya itu?" ujar Rani polos.
"Itu anjing garang di film Tom and Jerry. Hahaha, punya sahabat nggak pinter-pinter amat ternyata!" ujar Keke mentertawakan Rani dan Zia.
"Lo yang kelewatan Pinter!" delik Zia Dan melempar guling ke wajah Keke.
"Sahabat gue memang aneh!" ujar Rani.
"Gue kan memberitahu informasi baru. Letak salahnya di mana?" ujar Keke.
"Aihhh.. Udahlah, gue ngantuk. Gue tidur duluan!" ujar Rani Dan menarik selimut.
Zia pun mematikan lampu kamarnya. Memang benar, saat ini ketiga gadis itu menginap di rumah Zia. Karena seminggu lagi sahabatnya ini akan berlabuh ke Kota yang mengenang banyak sejarah Islam.
Awalnya mereka tak menyangka bahwa Zia akan pergi secepat itu. Namun, apalah daya karena mama Zia memang sudah mendapatkan tugas disana. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama selama seminggu full ini.
"Selamat tidur sahabat bar-barku," ujar Keke melihat kedua sahabatnya yang telah terlelap.
Di antara mereka bertiga. Keke memang paling lama loading saat menangkap sesuatu. Akan tetapi, dialah yang paling cengeng.
Keke tidak ingin membiarkan Zia pergi dari kota ini. Bahkan, ia menggunakan kekuasan keluarganya agar Zia diundang menjadi siswa salah satu SMA yang akan ia tempati. Namun, perbuatannya tidak mengubah apapun.
Tes
Tes
Tes
"Yah... Kenapa sih jatuhnya sekarang?" ujar Kek dengan nada paraunya dan air mata terus mengaliri pipi putihnya.
"Kenapa Ke?" tanya Zia melihat sahabatnya masih saja duduk.
Sebenarnya Rani juga sedang menangis di dalam selimut. Ia juga tersentuh karena suara Keke yang telah menangis itu. Akan tetapi, Rani tidak ingin kedua sahabatnya melihat air matanya. Rani tidak ingin menghalangi Zia karena memang sudah tugas sahabatnya itu untuk mendengarkan keinginan sang mama.
"Nggak ada, gue... gue sayang sama kalian...." ujar Keke dan menghamburkan dirinya memeluk erat kedua sahabatnya.
"Kalau gue tau kepergian ini buat lo sesedih sekarang. Gue rela kok kabur dari rumah! Gue...gue nggak suka sahabat gue nangis..." ujar Zia yang juga sudah terisak.
"Sendirinya lo juga nangis sahabat b*go!" tukas Zia mencubit pipi Rani gemas.
"Ngga ada gue nangis!" elak Rani.
"Maharanisya Nugraha... Percuma lo bohong!" delik Keke.
"Hufhhh... Udahlah, pada tidur lo berdua! Besok kita akan menghabiskan waktu bertiga seharian penuh!" ujar Rani dan kembali menutup wajahnya dengan selimut.
Zia mengkode Keke untuk memeluk Rani yang berada di tengah mereka.
Happ
"Kami berdua sayang lo Ran...." ujar keduanya.
"Iya gue juga sayang kalian. Tapi meluknya jangan begini juga! Engap gue lama-lama!" ujar Rani tanpa membuka selimutnya.
"Biarin aja! Gue nggak mungkin bisa meluk lo kek gini lagi pas jauh di sana!" ujar Zia.
"Bisa kok Zi peluk online!" ujar Rani tertawa.
"Gue juga nggak mungkin meluk lo seerat ini nantinya. Karena pasti lo di SMA bakal ketemu temen baru!" ujar Keke.
"Memangnya gue tipe orang yang begitu? Kacang lupa sarangnya?" tanya Rani.
"Lupa kulitnya Rani. Lo mah sesukanya aja ganti-ganti pepatah!" delik Zia.
"Intinya kan sama juga. Lagian gue yang ngomong!" ujar Rani tertawa.
Kali ini Rani lah yang mendapatkan serangan guling dari kedua sahabatnya. Ketiga gadis itu tertawa, mereka benar-benar ingin melepaskan kebahagiaan seperti biasanya yang entah kapan akan terulang lagi.
"Hosh...hosh... Udah ah, gue capek!" ujar Rani merebahkan badannya di kasur.
"Heem, gue juga!" ujar Zia menimpukkan kepalanya ke perut Rani
Keke pun melakukan hal yang sama. Ia meletakkan kepalanya ke paha Rani.
"Enak banget yah Ke? Dapet bantal se empuk ini." ujar Zia melirik Keke.
"Heem Zi... Udah ayo tidur sebelum bantalnya ngamuk!" ujar Keke.
"Untuk malam ini kalian bebas. Selagi gue berbaik hati!" ujar Rani.
Ketiganya pun memejamkan mata. Baru sesaat keheningan di kamar itu terkalahkan oleh suara dering handphone Rani. Sontak membuat Rani berdiri dan melupakan kedua sahabatnya yang tadi tidur di atas badan Rani.
"Auhh...Gini amat punya sahabat!" delik Keke memegangi kepala belakangnya yang tiba-tiba jatuh ke kasur tanpa bantal.
"Kalah saing kita sama doi Ke!" ejek Zia.
"Really sorry..." bisik Rani pada keduanya.
Rani pun menuju kamar mandi Zia untuk mengangkat telpon tersebut. Akan tetapi saat melihat layar handphonenya, dia heran karena nomor yang menelfonnya adalah nomor tak dikenal. Awalnya dia mengira El lah yang menelfon. Karena ragu-ragu, akhirnya Rani membiarkan telfon tersebut. Ia kembali menuju kasur Zia.
"Bentar amat Ran?" tanya Keke dengan kening berkerut. Karena belum sampai 5 menit sahabatnya itu mengangkat telfon.
"Nomor nggak di kenal ternyata! Bukan doi!" ujar Rani lesu dan merangkak ke tempat tidur. Ia menghempaskan badannya dengan kasar.
"Yahaha... Kena prank! Uluh-uluh...Kacian amat sahabatku ini!" ujar Keke menoel-noel pipi Rani.
"Kenapa nggak di angkat aja Ran? Siapa tau itu memang doi," ujar Zia.
"Enggak ah males banget gue. Siapa tau itu orang iseng!" ujar Rani dan memilih untuk memejamkan matanya.
Sementara di seberang sana. El sedang uring-uringan karena Rani tidak mengangkat telfon darinya. Ia tidak sadar bahwa dia menelfon dengan nomor publiknya bukan nomor khusus untuk keluarga dan orang terdekatnya.
"Huhh... Udahlah besok aja lagi!" ujarnya dan memilih untuk tidur.