
Tahun berganti tahun mereka lewati. Siapa sangka tingkat keposesifan El semakin meningkat mendekati akut.
"Ya Allah ya robb bang. Rani cuman mau pergi kemah doang. Itupun karena seluruh anak kelas 3 wajib buat ikut!!!" ujar Rani memijit pelipisnya karena sudah hampir setengah jam dia berdebat dengan El melalui sambungan telepon.
"Sekali enggak ya tetap enggak! Nanti abang yang bilang ke ketua osis kalau kamu ngga bisa ikut karena alergi panas" kekeh El di seberang sana.
Rani menghela nafas panjang dan terdiam sesaat. Oh my god....Sejak kapan ada alergi panas!!! Di mana-mana itu orang kena alergi dingin. Gue santet online juga nih si es batu. Gerutu Rani dalam hatinya.
"Jangan ngatain orang dalam hati. Katain aja langsung!" tukas El yang seakan mendengar umpatan Rani.
"Cih. Tuh abang nyadar sedang Rani kata-katain. Makanya, berhenti untuk posesif berlebihan! Orang ini seluruh siswa di wajibkan ikut. Abang mau aku ngga dilulusin SMA gara-gara ngga ngikutin aturan sekolah?" ancam gadis kecil itu.
"Abang tau ya....Banyak temenmu yang ngga ikut, yang penting ada alasannya!" cibir El.
"Bodo amat! Gedeg gue lama-lama. Belum juga jadi laki, ribetnya minta ampun!" tukas Rani dan memutuskan sambungan telepon.
Gadis itu pun menyiapkan perlengkapan untuk ia bawa besok. Rani memang sudah merencanakan dengan para sahabatnya agar ikut serta dalam kemah bakti siswa tersebut menjelang mereka mengikuti ujian akhir.
Siapa sangka waktu berlalu terlalu cepat. Baru saja kemarin dia merasakan bagaimana masa orientasi siswa. Kini gadis itu harus kembali berpisah dengan para sahabatnya yang baru saja ia temukan.
Ketika ia sedang beberes, sebuah notif pesan masuk ke dalam handphone nya.
Kamu lihat aja besok di sana apa yang bakal terjadi karena udah ngelawan abang.
Rani mengacak rambutnya kasar. Pesan dari El tersebut bukanlah main-main. Karena selama masa SMA ia sering di hantui oleh lelaki posesif tersebut. Kalau boleh memilih, mungkin saat ia tau bahwa sang ketua osis yang memang memiliki wajah duplikat El tersebut adalah sepupu El dari adik bunda. Rani akan memilih untuk pindah sekolah. Bagaimana tidak El KW alias Zikri tersebut selalu saja mengadu kepada El asli tentang apa yang dikerjakan oleh Rani di sekolah.
Kejadian yang paling berkesan di kepala Rani sampai membuat kepala gadis kecil itu sedikit oleng akibat sentruman listrik dari kedatangan El ke sekolahnya tahun lalu.
Flash back on
Saat itu, ketika Rani sedang mengikuti kegiatan ekskul tarinya. Ia dikejutkan oleh kedatangan anak laki-laki dari kelas sebelah yang menyatakan cintanya kepada Rani. Lelaki itu membawakan boneka beruang dengan tanda I LOVE YOU di perut beruang tersebut.
"Rani...Gue suka sama lo. Maukah lo jadi pacar gue?" ujar lelaki itu gugup dan tampak jelas keringat sudah membasahi pelipis lelaki itu.
Semua orang di kegiatan ekstrakurikuler tersebut menyoraki Rani. Mereka tidak menyangka bahwa lelaki yang merupakan salah satu most wanted di sekolah mereka menyatakan perasaanya kepada Rani. Gadis berhijab panjang dan terkenal dengan kejutek plus sifat cueknya di seantero sekolah.
"Uuu...So Sweet....Aku Rela gantiin Rani bang," ujar salah satu teman Rani.
Rani mendelik tajam temannya itu. Ia memperhatikan Gerald dari atas kepala sampai kaki. Ganteng emang putih, mancung, pinter, plus kaya. Tapi ya begimana, gue kan cewe setia yang ngga doyam selingkuh di saat pacarnya berjauhan. Batin Rani.
"Terima....Terima...Terima," begitulah sorakan para siswa dan siswi di kelas itu.
Rani berjalan menghampiri lelaki tampan di hadapannya. Ia ingin berkata bahwa dirinya tidak bisa menerima lelaki tersebut. Akan tetapi, belum jadi ia menjawab Zikri sudah lebih dahulu menarik pergelangan tangan gadis itu ke parkiran sekolah.
"Woi bang. Lepasin....Lu siapa sih? Usil banget sama hidup gue selama di SMA" ketus Rani dan mencoba untuk melepaskan pergelangan tangannya dari lelaki itu.
"Astaghfirullah Ya Allah...berikanlah hamba perlindungan. Lo kenapa sih bang? Kita ngga kenal, sekarang lo nyulik gue?!" ujar Rani dengan emosi yang meluap-luap.
Amarah Rani tidak berpengaruh pada Zikri. Justru lelaki itu memasang earphone di telinganya, perilaku lelaki yang sedang mengemudi itu memang sangat menyebalkan bagi Rani. Rani pun mengepalkan tangannya dan melepaskan earphone dari telinga lelaki tersebut.
Zikri menghentikan mobilnya mendadak di pinggir jalan tersebut. Membuat kepala Rani terbentur ke dasboard mobil. Gadis itu meringis kesakitan memegangi keningnya.
"Berisik aja loh! Kalau ngga demi mobil sport keluaran terbaru gue juga ngga mau repot-repot jadi pawang lo di sekolah! Sekarang duduk diem dan tunggu aja nanti. Pakai tuh sabuk pengaman!" titah lelaki itu dengan nada dingin dan menatap Rani tajam.
Jiwa bar-bar Rani seketika menciut. Melihat singa betina yang sudah jinak membuat Zikri memutuskan untuk melakukan mobilnya kembali.
Rani hanya memandangi jalan-jalan yang ia lewati. Jaga-jaga kalau ternyata El KW ingin membuang ya di pinggiran jalan nanti. Akhirnya mobil pun berhenti di salah satu cafe terkenal yang ada di Kota Batus tersebut. Rani hanya melirik ke arah Zikri yang memainkan ponselnya seperti sedang mengabari seseorang.
"Ayok turun," ujar Zikri.
"Nggak. Gue ngga pernah masuk ke cafe, lagian ngapain lo ngajak gue kesini?" ujar Rani curiga dan memegang sabuk pengaman dengan erat.
"Dasar cewe nething!!! Buruan turun, bang El udah nungguin lo di dalam." ujar Zikri dan keluar dari mobil duluan.
"Hah? Bang El? itu maksudnya diri dia sendiri atau begimana?" ujar Rani bermonolog. Gadis itu pun turun dari mobil.
Rani mengikuti langkah Zikri yang membawanya masuk ke cafe elite tersebut. Baru saja dia masuk sudah banyak mata yang tertuju padanya. Bagaimana tidak, dia menggunakan seragama SMA dan berjilbab akan tetapi memasuki cafe di sore hari hanya berdua dengan seorang lelaki.
"Oh tuhan Maharanisya. Jalan lo udah kek siput tau nggak!" delik Zikri dan kembali menarik tangan Rani sampai ke salah satu meja di sana.
Di sana sudah ada sang pujaan hati dengan wajah masamnya. Rani bingung karena tidak tau harus berbuat apa. Matanya berbinar melihat El yang sudah sekian lama tak pulang, bahkan ketila lebaran kemarin ia tidak pulamg karena disibukkan oleh aktivitas kuliahnya. Jantung Rani berdebar, aliran darahnya se akan berdesir.
"Ehem...Itu tangan gandengan aja kek truk!" lirik El ke tangan Rani yang masih digenggam Zikri.
"Yaelah bang, sama adek sendiri cemburuan! Lo itu seharusnya bersyukur adek lo yang ganteng ini mau jadi pawang cewe lo di sekolahan. Barusan aja ada yang nyatain cinta ke dia. Kalau di itung-itung udah hampir setengah jumlah cowo di sekolahan nyatain ada rasa ke cewe lo yang bar-bar ini." tukas Zikri panjang kali lebar dan duduk di samping El.
Rani membulatkan matanya. Adek? Berarti si El KW adiknya bang El. Rani juga tak habis pikir dengan lontaran kata dengan panjang kali lebar yang di ucapkan oleh El KW tersebut. Setengah, itu berlebihan. Seperempat mungkin ia. Ujar Rani dalam hatinya mengingat-ingat jumlah lelaki yang menyatakan perasaan pada dirinya selama dua tahun belakangan.
"Duduk Ran, Lo pindah sono jauh-jauh!" ujar El kepada Rani dan mendorong Zikri ke meja seberang.
"Cih. Habis manis sepah di buang! Yang penting bayaran gue jangan lupa!!!" ujar Zikri dan melenggangkan kakinya menuju meja yang berjauhan dari El dan Rani
"Ehem pantes yah keasikan sama curahan hati cowo lain ternyata sampai-sampai ngga inget abang," ejek El.
Rani masih terpaku mendengar ucapan lelaki pujannya itu.
"Abang kok ngga ngabarin kalau pulang?" tanya Rani.