
“Ohoo, emak gue udah nyampai. Tumbenan tuh wajah cantik di tekuk?” tanya Zia kepada sahabatnya yang baru datang.
“Gue mimpi aneh Zi. Sebenarnya mau dilupain tapi kepikiran terus,” keluh Rani.
“Mimpi apaan sih, sampai buat otak cerdas lo nggak berfungsi dengan benar,” tanya Zia menatap sahabatnya itu.
“Mimpi dikejar ular. Anehnya si ular bisa ngomong,” ujar Rani.
“Omo omo omo, lu mimpi dikejer ular Ran?” tanya Keke dengan suara cemprengnya yang baru saja meletakkan tas nya di atas meja.
“Berisik!!!” tukas Zia.
“Iya Ke, ularnya kekeh banget ngejar gue.” Jawab Rani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin bagian-bagian otaknya sedikit tergeser setelah mimpi tersebut.
“Yah, setau gue ya Ran. Kata emak-emak kompleks, kalau kita mimpi dikejar ular artinya ada orang yang lagi suka sama lo,” ujar Keke.
“Hahaha, kebiasaan ngegosip bareng ibuk-ibuk kompleks ni anak. Mana ada kek gitu sih ngartiin mimpi,” Zia memicingkan matanya kepada Keke
“Ya gue kan cuman bilang apa yang gue denger Zi,” Keke mengerucutkan bibirnya.
“Hahaha....Udahlah Ran, nggak usah ditanggepin. Mimpi itu cuman bunga tidur,” ujar Zia.
“Okelah, gue juga udah rada mendingan,” ucap Rani dan mengeluarkan bukunya.
“Sipp, mari fokus belajar,” ucap Zia.
Ketiga gadis itupun fokus mendengarkan guru yang hari ini memberikan materi pendidikan agama islam.
***
Sepulang sekolah, Rani dan kedua sahabatnya masih betah di kelas. Karena di luar matahari sangat terik menampilkan senyumnya.
“Kok panas banget sih, kapan nih kita pulang?” tanya Keke yang sudah mulai resah dan ingin cepat-cepat pulang.
“Kita tunggu sebentar lagi deh Ke. Gue nggak mau nih kulit gosong,” tukas Zia.
“Ran, nantik malam kita ke rumah lo ya,” ujar Keke.
“Ngapain???” tanya Rani heran.
“Yah cuman mau tarawihan di sana,” jawab Zia.
“Hoo, okeh. Lu berdua mau bukber langsung di rumah gue atau gimana?” tanya Rani.
“Enggak Ran, nanti gue buka puasa di rumah dulu. Kalau lo Ke?” tanya Zia kepada Keke.
“Gue juga buka di rumah lah,” ujar Keke yang beralih melihat cuaca di luar kelas.
“Pulang yuk? Udah agak mendingan ini,” tukas Keke.
“Emm, iya udah agak lindung. Ayo berangkat,” ucap Rani dan merapikan tasnya.
“Jum, kita berangkat,” ucap keduanya merapikan barang-barang mereka di atas meja.
Mereka pun keluar dari kelas, dan memegang buku di kepalanya.
***
Saat malam harinya, para krucil rusuh sudah datang ke rumah Rani.
“Assalammualaikum mamaku sayang,” ucap Zia merangkul rita yang sedang duduk di teras rumah menunggu adzan isya.
“Eh, kok para gadis cantik kesini malam-malam begini?” tanya Rita.
“Kita mau tarawih bareng Rani mah,” jawab Keke menunjukkan deretan gigi putihnya.
“Oh yaudah, si Rani masih di kamar. Mama duluan ke mesjid ya. Kalian langsung masuk aja,” ujar Rita.
“Oke mah, hati-hati mah,” ucap Zia.
Kedua gadis itupun pergi menemui Rani.
“Uwahh, ngagetin aja lo bedua,” omel Rani karena dua makhluk itu berada tepat di depan kamarnya tanpa bersuara.
“Hahaahaha, dia kira kita hantu Zi,” Keke mentertawakan temannya.
“Udah ah, ayok keburu iqomah nanti,” ucap Rani menarik kedua temannya keluar rumah dan mengunci pintu rumahnya.
Saat sampai di mesjid, mereka mengulang kembali mengambil air wudhu. Saat akan memasuki masjid mereka berpapasan dengan Iwing.
“Hoi, orang india,” ujar Zia dengan suara lelaki untuk mengagetkan teman lelaki Rani itu.
“Sialan, copot jantung gue,” ujar Iwing dan memutar bola matanya jengah.
“Haahaha, masih inget gue kan?” tanya Keke kepada Iwing.
“Wah keterlaluan nih cowok india,” ucap zia ingin memukul lengan Iwing.
“Eits, gue udah wudhu. Bukan muhrim,” ujar Iwing memeletkan lidahnya dan bergegas memasuki mesjid.
“Sialan,” tukas Zia.
“Ayok buruan masuk, nanti kita dapat bagian paling belakang,” ujar Rani meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Takut ketinggalan, mereka pun memasuki mesjid dan melaksanakan shalat isya. Setelah melaksanakan ibadah, seperti biasa di mesjid ini akan ada ceramah yang disampaikan oleh ustad. Pada kesempatan inilah Rani dan teman-temannya wisata kuliner di sekitaran mesjid. Mereka memutuskan untuk memakan bakso.
“Tambah seporsi lagi ya bang,” ujar Rani kepada tukang bakso.
“Itu perut atau karet sih Ran?” keluh Keke yang membuat Rani terkekeh.
“Hahah, abisnya kalian lama sih.Yah, gue juga lagi ngidam,” jawab Rani yang membuat kedua temannya geleng kepala.
“Dasar ****! Nanti orang lain bilang yang enggak-enggak,” omel Zia.
“Yah kan arti ngidam itu kepingin banget, harus dipenuhi dengan segera. Nggak salah dong gue,” ucap Rani menghentikan makannya sejenak dan memeletkan lidahnya pada Zia.
“Untung lo sahabat gue Ran. Kalau nggak udah gue lempar lo,” tukas Keke juga ikut mengomeli Rani.
“Hei tiga rusuh,” sapa Iwing.
“Dah dah, ayok masuk mesjid,” ucap Rani yang membuat Iwing menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.
“Jahat!!!” ucap Iwing dengan suara melengking.
“Heheh, duduk di samping gue aja cowok India,” ajak Keke dan Iwing pun duduk di sebelahnya.
“Makasih cantik,” ucapnjya mengedipkan mata kepada Keke.
“Sari sama wulan mana Wing? Kok nggak keliatan?” tanya Rani.
“Nggak kenal gue sama yang ngomong,” ucap Iwing memutar bola matanya dan membuat Rani mendengus kesal.
“Lo yang mulai duluan sih. Mereka berdua lagi janjian bulanan,” jawab Iwing dan diangguki oleh Rani.
Akhirnya mereka pun menemani Iwing makan sambil bersenda gurau. Tiba-tiba gerombolan geng pemuda yang biasa baru sampai ke mesjid.
“Bukannya masuk mesjid, malah ketawa-ketawa disini. Ran, kenalin abang sama temenmu yang mukenah hijau itu dong,” ucap Rani dengan nada cool.
“Tanya aja sendiri bang,” jawab Rani sambil menyerahkan mangkok baksonya.
“Kuy cabut,” ajak Rani kepada teman-temannya.
“Lah kok pergi Ran? Abang kan belum kenalan sama si cantik,” keluh Randi seperti anak kecil.
“Bang Randi mau bayarin 4 bakso lagi?” tanya Rani dan membuat Randi menggeleng cepat.
Rani dan kedua sahabatnya pun tertawa,
“Sing sabar yah bang,” ucap Iwing dengan tampang mengiba melihat kondisi Rani. Semua yang di sana kembali tertawa, tapi kemudian seseorang memesankan bakso 11 porsi.
“Bang baksonya 11 porsi. Delapan buat kita 4 lagi kasih ke anak-anak ini,” ucapnya kepada tukang bakso.
“Hahh, nggak usah kita udah kenyang. Satu lagi, kita bukan anak-anak ya!!!” ketus Rani karena 4 anak-anak yang dimaksud oleh El adalah mereka.
“Err, nggak usah bang, kita udah kenyang,” jawab Keke sedikit gugup. Sedangkan Zia merasakan hawa panas disampingnya.
“Hahah, lo emang temen terbaik El. Tau aja gue butuh pdkt.” Cengir Randi.
“Yah Ran kan sayang baksonya,” tukas Iwing.
Rani pun menginjak kaki sahabatnya ini,
"Kalau lo mau yaudah makan aja bareng abang-abang itu kita mah duluan,” tukas Rani dengan suara kecil yang hanya dapat di dengar oleh Iwing.
“Kita beneran udah kenyang bang. Makasih banyak, kita pamit ya bang,” jawab Rani lagi.
Tanpa menanggapi yang Rani katakan, "Delapan porsi aja bang,” ucap El kepada tukang bakso.
Dasar cowok es, ngomong ketus amat. Gue kan jawabnya baik-baik, batin Rani. Ia pun berlalu meninggalkan semua orang. Teman-teman Rani pun pergi mengikuti Rani.
“Bro, gue rasa lo udah bikin adek gue kesal El,” tuka Tegar menepuk pundak El.
El menurunkan tangan Tegar dari bahunya. “Bukan urusan lo!” ucapnya kesal membuat teman-temannya tertawa.
vote ya readerss......
like jugaaa
💞💞💞💞💞💞