Before I Found You

Before I Found You
BIFY 14



“Hahaha, kalian sih pakai ngomong di kelas udah tau jam pelaran pak Syam si galak.” Keke yang mentertawakan kedua sahabatnya saat kelas selesai.


“Udah ah, nggak usah diinget lagi. Ran lo nggak bawa dagangan hari ini?” tanya Zia pada Rani.


“Nggak, tadi pagi gue telat. Trus pas liat dagangan mama belum ada sama sekali.” Jawab Rani dan diangguki oleh kedua sahabatnya.


“Okedeh karena gue sedang berbaik hati, hari ini gue traktir lo bedua,” saut Keke dengan senyum mengembang.


“Nggak ada angin, nggak ada hujan, badannya juga nggak panas. Kesambet apaan nih anak, tumbenan baik?” tanya Zia memegang dahi Keke.


“Oma kemarin ke rumah, gue dapat jajan tambahanlah,” bangga Keke.


“Haha, aku suka gratisan, ayok” Rani manrik kedua sahabatnya ke kantin.


Sesampainya di kantin mereka memesan nasi goreng dan nasi sup,“Zi, tu temen-temen curut kita di tempat latihan,” tunjuk Keke pada tiga lelaki yang sedang antri memesan soto.


“Miko, Adit, Ari. Sinih!” Teriak Zia bak toa menarik perhatian semua orang dikantin.


“Suara lo ****, ngapain juga manggil cocok-cowok tuh kesini hemm??” Rani menyubit punggung tangan Zia, Zia pun cengengesan dan mengusap punggung tangannya yang terasa sedikit perih akibat cubitan sahabatnya ini.


“Hy ladies, kita numpang makan, meja penuh semua,” ucap Miko kepada tiga gadis ini dan duduk di samping Rani. Kemudian, disusul oleh Adit diseblahnya lagi, dan Ari yang duduk disamping Keke.


“Tentu bolehlah, kita kan friend.” Ucap Keke dengan senyuman.


Miko pun melirik Rani dengan matanya dan melihat Rani mengangguki. Rani tidak bisa menolak karena memang meja dikantin sudah penuh. Ia hanya bergegas menyelsaikan makannya, canggung bertemu dengan lelaki sebelahnya ini, mengingat kondisi saat makan bakso kemarin.


“Pelan-pelan aja Ran, nantik lo keselek!” titah Zia heran kenapa temannya ini makan lebih ceapat dari biasanya, walaupun Rani biasanya juga makan dengan cepat. Namun, kali ini lebih cepat dari yang biasa.


“Alhamdulillah, selesai. Gue bayar duluan ya, abis itu langsung ke kelas lagi, bye” Rani beranjak dari meja dan meninggalkan kedua sahatnya dengan para lelaki tersebut.


Semua orang dimeja tersebut kaget dan melirik ke arah Rani yang sudah pergi menuju tempat pembayaran. “Kenapa tuh teman kalian bedua?” ucap Adit membuka suara.


“Nggak tau gue, kalau gitu kita udahan juga ya, sampai ketemu di tempat latihan sore nanti.” Saut Keke menarik tangan Zia yang masih meneguk minumnya. Kedua gadis ini pun segera membayar dan menuju kelas mereka.


***


Di kantin dua lelaki menatap tajam kepada Miko. Miko tau kedua sahabatnya ingin meminta penjelasan darinya, melihat kecanggungan antara dua manusia itu saat makan dan hanya hening, biasanya mereka berdualah yang paling banyak bicara diantara mereka berenam. Dua orang lelaki ini tau kalau Rani sedang menghindari temannya ini. Jangankan mereka, orang awam pasti juga tau kalau gadis itu seperti sedang melarikan diri karena tingkah yang ia lakukan.


“Memangnya apa yang kita lewatin pas waktu itu?” tanya Ari penasaran.


Miko pun menceritakan kejadian di kasir waktu itu, membuat kedua lelaki di dekatnya tertawa keras. Bagaimana tidak, mereka tidak menyangka, hanya dikarenakan ucapan si mbak-mbak kasir yang mengatakan Miko dan Rani pasangan, membuat sahabatnya ini terbang melayang ke awan, dan seketika dijatuhkan ke jurang paling dalam oleh kata-kata Rani yang secara tidak langsung menolak perasaan Miko. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya tepukan di pundak yang bisa menyemangati temannya yang sedang patah hati ini.


“Tapi, ngapain juga pakai ngehindarin gue? Gue kan belum ngungkapin langsung kok, apa salahnya gue suka sama dia dan memilih friendzone ini,” Tanya Miko dengan lirih.


“Salah lo cuman satu, lo nggak sabaran geblek,” tukas Ari memukul kepala temannya.


“Seharusnya kamu lebih sabar Ko, Rani itu memang nggak suka yang namanya pacaran. Kata anak cewek di kelas, Rani pernah dijadiin taruhan sama si Rido anak kelas 93.” Saut Adit, ia memang banyak dekat dengan wanita di kelasnya, karena dirinya pintar. Jadi para perempuan itu, selalu minta diajari pr olehnya.


Mendengar itu, sontak membuat Miko kaget. “Tapi tenang aja Ko, yang nerima cowok bre**sek itu bukan Rani kok,” tambah Adit. Miko pun kembali tenang, ia tidak senang gadis yang saat ini mengisi hatinya dipermainkan oleh orang lain.


***


Di kelas Sheijin


“Enak banget yah, ninggalin kita bedua, lagian kenapa juga lo pakai bayar makanan lo? Udah jelas gue mau traktir” omel Keke pada temannya yang sedang meletakkan kepalanya di mejanya. Keke pun duduk disamping sahabatnya ini.


“Aarghh, lupa lagi seharusnya gue makan gratisan. Gara-gara si Miko nih, Huhh,” Keluh Rani dan memukul pelan kepalanya.


“Kok Miko yang lo salahin Lelaaa?” Ucap Zia menarik pipi chubi temannya ini. Zia menarik kursi satu lagi untuk dia duduki.


“Ehmm.... gue belum cerita ke kalian yah?” melihat kedua temannya yang menggeleng Rani pun menceritakan peristiwa di tempat bakso kemarin.


“Ahaha, temen lo ini Zi, kelewatan nggak peka nya. Udah jelas dari awal dia lebih perhatian ke elo,” Keke terkekeh melihat tampang sahabatnya ini menceritakan kejadian itu.


“Temen kita!” saut Zia menoyor kepala Keke. “Ya jangan menghindar gitu dong Ran, inget bentar lagi kita ikut festival, harus kompak. Jangan gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga,” Ucap Zia dan diangguki oleh Rani.


“Lagian dia kan belum ngungkapin dengan jelas Ran, dia punya hak lah suka sama siapa aja. Selagi dia belum mengganggu apa salahnya kan?” tambah Keke dan kembali diangguki oleh Rani.


“Okeh, gue nggak ngehindar lagi. Uuu makasih sayang-sayangkuh,” Ucap Rani merangkul kedua sahabatnya.


“Udah sono Ke balik ke kursi lo, bentar lagi bel bunyi!” saut Zia. Mereka pun duduk manis dan mengeluarkan alat tulisnya.