Before I Found You

Before I Found You
BIFY 80



"Loh Ran kok nggak digandeng lagi?" ujar El menatap tangannya yang terlepas dari genggaman Rani.


"Dih!!! Udahan khilafnya. Ayok bang, anterin gue ke rumah!" ujar Rani dan mengambil helm yang tergantung di motor El.


"Ada ya pegangan selama itu lo bilang khilaf!" delik El sembari menaiki motor.


"Gue nggak salah kok! Maksudnya tadi kan mau narik lo, supaya bisa kabur dari tuh guru nyebelin!" ujar Rani dengan tampang tanpa dosa. Gadis itupun sudah duduk di belakang El.


"Sejak kapan khilaf kek gitu?" tanya El memutar kepalanya menghadap Rani.


"Ngga usah lebay deh bang. Orang lain aja sampai nyium anak gadis orang dibilang khilaf!" ujar Rani.


"Hah? Maksud lo?" ujar El panik. Ia masih ingat mencuri kesempatan saat Rani terlelap sebelumnya.


"Nggak usah ngegas!!! Itu kemarin gue lihat di FTV. Cowoknya bilang khilaf pas nyium jidat ceweknya yang lagi tidur, dikira ceweknya bakal denger!" ujar Rani santai.


Fiuhh ternyata nih gadis kecil bahas FTV. Batin El. Ia pun menghidupkan sepeda motornya dan berlalu meninggalkan sekolah Rani.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah Rani setelah perjalanan lambat yang mereka lalui. Bukan karena macet, akan tetapi karena ulah El yang selalu ingin memiliki banyak waktu dengan Rani. Terutama di atas motor seperti tadi, tangan munyil Rani akan memegang ujung jaketnya, sesekali ia merasakan bahu kanan Rani menghangatkan punggungnya dan membuat jiwa El berdesir.


"Ran, gue balik pulang dulu yah ganti baju," ujar El.


"Oo.. Oke, lo nggak capek bang?" tanya Rani.


"Ciee tadi gandengan sekarang udah perhatian," ledek El dengan kerlingan matanya.


Rani memutar bola matanya melihat tingkah El. Gadis itupun menyerahkan helm ke tangan El dan masuk ke dalam rumahnya tanpa berucap.


El tertawa melihat tingkah Rani, ia pun segera menuju rumahnya. Sebenarnya ia sangat lapar, karena tidak terbiasa dengan jajanan luar terpaksa ia harus menahan laparnya.


***


"Bund...El laper..." teriak El menuju dapur.


"Lo teriak-teriak aja kek di hutan El! Bunda lagi pergi," ujar Santun.


"Makanan ngga ada kak?" tanya El.


"Ada di kulkas. Panaskan di oven!" ujar Santun meninggalkan adiknya.


"Kak... Lo tau kan gue nggak bisa! Bantuin napa!" ujar El.


"Ceh!!! Deketin cewek aja lo bisa, ini cuman hal kecil nggak bisa!" delik Santun memanaskan makanan itu.


"Itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Terima kasih kakakku sayang," ujar El.


"Kalau ada maunya aja lo bilang sayang! Lenyap sudah tu es batu di hati!" tukas Santun menuangkan makanan ke piring untuk adiknya.


Begitulah keduanya, sesekali akan banyak bicara. Meskipun biasanya di rumah ini hanya ada keheningan.


Setelah makan El pun bersiap untuk ke rumah Rani. Lelaki itu berjalan sembari bersiul, ia tak menyangka bahwa sekarang dirinya kelewatan bucin. Parahnya ia bucin pada gadis kecil yang sangat jauh dari kriteria cewek idamannya. El ingin mendapatkan wanita yang feminim, lembut, dan muslimah sejati tentunya. Akan tetapi, sekarang hatinya harus tersangkut pada wanita tomboy dengan suara cempreng. Ia pun menggelengkan kepalanya.


"Kak gue pergi ya," ujar El.


"Kemana?" tanya Santun.


"Ngapel ke rumah camer," ujar El santai.


"Ceh!!! Masih SMA aja lo udah mikir nikah dek!" ujar Santun mencibir.


"Biarin. Daripada lo kak, mana berani tu cowok datang ke rumah!" ejek El.


Santun yamg mendengar ejekan adiknya itupun melempar sebelah sendal rumahnya pada El. El menangkap lemparan sendal dari sang kakak dan melempar ulang sendal tersebut ke ruang tamu. Lelaki itupun berlari keluar rumah.


***


"Sorry gue kelamaan, tadi habis perang sama singa!" ujar El mengambil posisi duduk di samping Rani.


"Singa???" ujar ketiga gadis itu berbarengan.


"Bercanda, maksudnya perang sama kakak." ujar El tersenyum.


"Sssttt Zi... Lo ngerasa ada yang aneh nggak?" bisik Keke pada Zia.


Mereka berdua semakin tercengang melihat Rani yang sudah menempelkan punggung tangannya di kening El. Rani juga membandingkan suhu jidat El dengan kepalanya sendiri.


"Nggak panas kok guys!" ujar Rani pada dua sahabatnya.


"Emangnya gue demam sampe dibilang panas!" ujar El menatap tajam ketiga gadis itu.


"Soalnyo lo aneh bang! Takut-takutnya kesmbet sesuatu as jalan kesini! Mmm...,tapi Bagus deh kalau kek gini. Hehe iya kan Zi?" ujar Rani.


"Sembarangan banget kalau ngomong!" ujar El menyentil jidat Rani pelan.


"Sakitnya jidat gue...Udahlah, mulai aja kita belajar biar cepet!" ujar Rani.


El pun mulai mengajari ketiga gadis itu. Sesekali ia mengusili Rani dengan menarik-narik bagian belakang hijab Rani. Karena rambut Rani tampak keluar main disana.


"Tangan lo kalau nggak berhenti gue patahin!" ujar Rani pelan.


"Siapa suruh rambut lo kecentilan, gue tarik aja sekalian!!" ujar El santai dan tersenyum.


"Huhhfft...Debat sama lo memang nggak bakal pernah bisa menang!" ujar Rani mendesis. Gadis itupun fokus mengerjakan soal-soal terbaru yang mereka peroleh ketika TO terakhir kemarin.


Mereka pun belajar seperti biasanya hingga pukul 20.00 WIB. Setelah itu, semuanya menuju rumah masing-masing. Sementara El masih betah berbicara dengan Rani, ia ingin menarik simpati dari gadis kecilnya itu.


"Tadi yang disekolah itu. Kenapa lo yang disuruh?" tanya El.


"Hadeuh bang, jangan bahas guru nyebelin itu deh. Lo tahu? Itu orang adalah tukang ojol psikopat yang gue bilang sebelumnya. Bayangin deh nasib gue pas ketemu dengannya dan dijadikan asisten labor fisika," keluh Rani dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Hoo...Ingat! Jangan terlalu dekat! Gue ngga mau lo deket saka cowok lain!!!" titah El.


"Pacar bukan, bokap bukan, keluarga bukan. Kenapa lo suka amat ngatur gue?" tanya Rani.


"Calon imam lo di masa depanlah!" ujar El ketus.


"Kegeeran banget jadi orang! Dasar posesif!!!" ucap Rani.


"Biarin! Lo udah jadi miliki gue semenjak perjanjian itu," ujar El tersenyum bahagia dan menganggukkan kepalanya.


"Hah??? Kenapa kesimpulannya begitu?" tanya Rani.


"Udah... Ngga usah dipikirin! Yang jelas jangan dekat-dekat sama cowok lain!" ujar El.


"Bodo amat! Gue dekat sama siapapun bukan urusan lo juga, urus aja diri masing-masing!" ucap Rani.


"Ceh coba aja kalau berani! Gue patahin tuh kaki mereka satu-satu!!!" ucap El tegas.


Rani pun merengek dan menghentakkan kakinya. Ia paling tidak suka hidupnya di atur oleh orang lain selain orang tuanya.


"Sana masuk rumah! Nanti lo diculik om-om lagi," ujar El mengusap kepala Rani.


"Tangan lo kebiasaan banget sih bang! Biarin deh diculik om-om tampan," ujar Rani ketus.


"Jangan ngehalu malam-malam neng! Masuk sana," ujar El menghidupkan sepeda motornya.


"Lo aja yang berangkat duluan!" ujar Rani.


"Ran, gue hari ini bakal ngomong. Gue bukanlah bukanlah anak sultan yang bisa ngasih gunung emas berlian buat lo, gue bukan pejabat yang suka nebar janji palsu, gue bukan superstar yang kaya dan terkenal. Eh tapi gue lumayan kaya sih, terus gue bukan lelaki romantis yang jago merayu..." ujar El panjang lebar dan menarik nafas panjang.


"Lo mau kutbah atau apa si? Panjang amat," ledek Rani.


"Gue itu....Emm, gue maunya lo siap jadi pendamping gue kelak. Maafin sifat gue yang keras kemarin, but it's just for you. Hehe, lo kan ngga mau pacaran. Jadi nggak salah kan gue ikat pakai janji?" tanya El menatap Rani yang belum mangap mendengar ucapan El.


"Ran... Lo denger kan?" ujar El menggoyangkan bahu Rani.


"Hah??? Gue.. gue ngga tau mesti jawab apa. Gue mau fokus belajar! Arghhhh, entahlah yang jelas kalau memang serius buktiin dengan kesungguhan lo yang bakal siap menunggu gue sampai waktunya!" ujar Rani yang juga panjang lebar.


"Makanya jangan dekat cowok lain! Gue kan mau buktiin usaha buat dapetin lo, satu lagi lo perlu ingat surat perjanjian kita pakai matrai 6000 lo!" ujar El tersenyum kecut.


"Dasar es! Baru aja berkata-kata puitis udah balik lagi ngancamin orang!" delik Rani kesal.


El hanya meringis mengingat kebiasaannya. Lelaki itupun pamit untuk pulang ke rumahnya.