Before I Found You

Before I Found You
BIFY 104



Lembaran baru dalam hidup Rani telah di buka. Siapa sangka bahwa saat ini ia sudah bertekad untuk berubah menjadi lebih baik dan merubah penampilannya.


“Ayo Rani, lo pasti bisa!!!” ujarnya menyemangati diri sendiri.


Rani pun bersiap dan merapikan penampilannya. Jilbab yang ia gunakan saat ini jauh lebih panjang dari jilbab yang ia gunakan saat masih SMP. Ia juga tak lagi menggulung lengan bajunya hingga seperempat tangan, tetapi lengan baju tersebut dibiarkan begitu saja menutupi tangan kecilnya hingga pergelangan tangan, di tambah dengan jam kecil yang dilingkarkan di sana. Setelah mematut penampilannya di cermin, Rani keluar dari kamar dan menuju meja makan.


“Pagi semuanya,” ujar Rani tersenyum.


“Wah anak mama cantik banget,” ujar Rita heboh menatap penampilan sang putri yang tampak berbeda dari biasanya.


“Iya dong mam. Anak mama mau berubah ini,” cengir Rani.


“Semangat ya sayang,” ujar Nugraha menyentuh puncak kepala Rani yang duduk di sebelah kanannya.


“Siap bos!!!” ujar Rani hormat pada sang papa.


“Kamu berangkat pakai apa Ran?” tanya Nugraha pada Rani.


“Nanti Rani naik angkot aja pa.” ujar Rani.


Rani bergegas menyelesaikan sarapannya dan menyalami tangan kedua orang tuanya. Gadis itu menggunakan sepatu kets putihnya dan berlarian menuju jalan besar agar bisa mendapatkan angkot segera mungkin.


Keberuntungan sedang berpihak kepada Rani karena baru saja ia sampai di jalan besar angkot sudah ada yang berhenti, sehingga gadis itu tak perlu menunggu lama lagi. Rani tersenyum pada supir angkot dan duduk dengan tenang. Ia juga menampilkan deretan gigi putih kelincinya pada semua penumpang angkot yang menatapnya.


“Aya neng, senyumnya itu loh. Berasa nurunin kehangatan di sini.” Ujar sang supir.


Para penumpang pun tersenyum dan mengangguki ucapan sang supir. Sementra Rani, hanya tersenyum dan sedikit merasa malu karena pujian yang ia dapatkan dari orang sekitarnya. Ia jadi ingat dengan ceramah yang sempat ia dengar belakangan bahwa senyum adalah sedekah yang paling ringan yang dapat kita lakukan.


«تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»


“Senyummu di depan saudaramu, adalah sedekah bagimu” (H.R. Tirmidzi no 1956).


Jarak yang di tempuh oleh Rani dari rumahnya ke sekolah menengah atas saat ini sama dengan jarak ke SMP nya dulu karena Rani bersekolah di samping SMP nya yaitu SMAN 1 Kota Batus yang merupakan SMA terfavorit di kota tersebut. Selama perjalanan banyak music yang di putar dalam angkot tersebut. Namun, lagu yang satu ini membuat Rani tersenyum sendiri.


~ Kangen Band: Ku Bersyukur Memiliki Kamu


Ku bersyukur memiliki kamu


Ku bahagia ada di sampingmu


Hati ini terasa tenang


Bila kau selalu bersama diriku


Ku terima kekurangan kamu


Kau terima kekurangan aku


Lengkapilah lembar jalanku


Untuk mengarungi di setiap langkahku


Dari dalam hati kau takkan terganti


Sampai nanti aku mati


Dari dalam hati kau takkan terganti


Ku cintai kau setulus hati


Ku sayangi kau sepenuh hati


Aku mohon kau tetap di sini


Menemani aku sampai akhir nanti


Kan ku jaga kau s'lama-lamanya


Sampai raga tak lagi bernyawa


Aku mohon kau tetap setia


Dari dalam hati kau takkan terganti


Sampai nanti aku mati


Dari dalam hati kau takkan terganti…


Ku cintai kau setulus hati


Ku sayangi kau sepenuh hati


Aku mohon kau tetap di sini


Menemani aku sampai akhir nanti


“Neng, udah sampe atuh.” Ujar sang ibu-ibu menoel bahu Rani.


Rani pun tersadar dari lagu yang membuat pikirannya hanyut tersebut.


“Ehh iyak buk, terima kasih buk,” ujar Rani tersipu malu karena sadar akan tingkah memalukannya.


Rani pun keluar dari angkot dan membayarkan ongkos pada supir angkot tersebut. Ia pun berlarian ketika sadar bahwa gerbang sekolah hamper saja di tutup.


“Maaf pak, saya izin masuk,” ujar Rani menyempilkan badan rampingnya ke arah celah pintu pagar yang masih terbuka sedikit.


“Sekali ini aja yah neng. Besok-besok jangan telat lagi!” teriak sang satpam dan dibalas anggukan oleh Rani.


Rani pun kebingungan karena semua orang sudah berbaris rapi. Ia melihat para teman-temannya semasa SMP yang juga bersekolah di sana melambaikan tangan padanya. Rani pun berjalan kearah teman-teman yang ia kenal tersebut. Akan tetapi, belum jadi gadis itu sampai tangannya sudah di tarik oleh seseorang dan memposisikan Rani di barisan siswa yang ia yakini adalah untuk para siswa yang melanggar aturan.


“Lo telat. Jadi mesti nerima hadiah!” ujar suara lelaki.


Rani pun mendongak dan menatap wajah orang yang seenaknya menarik tangannya tadi.


Gila. Kenapa bisa mirip banget? Ujar Rani dalam hatinya. Mulut kecilnya juga sempat melongo karena melihat penampakan di hadapannya.


Sementara yang di tatap oleh Rani memasang tampang datarnya dan memukul kepala Rani menggunakan kertas rundown acara pembukaan MOS di SMAN 1 Kota Batus tersebut.


“Auhh. Kenapa seenaknya aja sih jadi senior?” tukas Rani pelan sembari memegangi kepalanya yang baru saja menerima kekerasan.


Lelaki yang di hadapannya hanya acuh dan kembali berjalan mengitari barisan para siswa baru di sekolah tersebut. Mata Rani masih mengekori lelaki tersebut, Rani masih penasaran dengan orang yang baru saja menggemparkan otak kecilnya. Dikarenakan lelaki tersebut sudah tak terlihat, Rani mulai memperhatikan penyambutan yang dilakukan oleh kepala sekolah.


Badan Rani memang sedang berada di lapangan tersebut. Begitupun dengan sorotan matanya yang lurus ke depan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa saat ini jiwa gadis kecil yang sudah beranjak dewasa itu sedang berkelana entah kemana.


Haihh…Sadar Raniii!!! Itu beda orang! Inget aja kata emak. Kalau setiap orang di dunia katanya punya kembaran wajah sebanyak 7 orang. Ujar Rani dalam hatinya dan memukul kecil kepalanya sendiri.


(Hayo Kira-kira cowok yang narik Rani mirip sama siapa?) :) :) :)


“Kamu pusing?” Tanya seseorang yang berbaris di samping kiri Rani.


“Emm, enggak!” tukas Rani pada lelaki tampan di sampingnya.


“Kalau pusing bilang aja. Nanti aku panggilkan kakak senior yang bertugas di bagian PMR. Oh ya, Namaku Abbiya Abqari (Berani, Genius Pintar), panggil aja Abbi,” ujar lelaki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.


“Makasih, Nama gue Rani,” ujar Rani menautkan kedua telapak tangannya di dada.


“Oh hai Rani, salam kenal.” Ujar Abbi tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tak tahu bahwa Rani adalah salah satu wanita yang enggan berjabat tangan dengan dirinya meskipun hanya sebatas salam perkenalan.


Rani mengangguk dan tersenyum tipis. Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Bisa-bisa ia akan kesulitan ketika di ajukan pertanyaan lain oleh sosok lelaki yang baru ia kenal tersebut.


Oh Tuhan…Apakah sekolah ini memang berisikan para lelaki yang diidamkan oleh Zia dan Keke? Untung keduanya tidak ada di sini! Atau mereka akan membuat kehebohan setiap saat melihat para mahkluk sempurna ciptaan-Mu itu. Ujar Rani dalam hatinya ketika membayangkan ekspresi kedua sahabatnya apabila bertemu lelaki dengan paras tampan.


.


.


.


Hai semuanya. Bagaimana yah kira-kira kehidupan yang akan Rani jalani selama di sekolah mengah atas yang tentunya akan menjadi lampu kuning bagi hubungan Rani dan El karena kehadiran dari berbagai pihak terutama stok cogan di sana? Apakah Rani tetap sama seperti SMP yang tak acuh dengan makhluk yang notaben lelaki? simak terus yah....


Para Readersku. Maafkan author yang baru kembali membuka laptop dan meupload episode terbaru dari BIFY. Insyaallah ke depannya author akan lebih rajin up. Hehe, doakan author yaa readers.