
Hari demi hari rasa ini semakin meningkat untuknya, ingin menjaganya lebih dekat dan tak ingin dirinya menjadi pusat perhatian bagi lelaki lain ~ El
"Bang! Kok lo tega amat sih? Soal-soal yang gue kerjain itu kesulitannya lebih tinggi dibandingkan Zia dan Keke..," omel Rani, dia sudah sangat berpikir keras demi menyelesaikan soal latihan yang diberikan oleh El.
"Terima aja sih Ran. Lagian memang otak lo itu perlu di asah dengan soal yang sulitnya tingkat dewa. Hahaha..," ujar Keke yang diacungi jempol oleh Zia.
Rani yang kesal hanya merutuki kedua sahabatnya yang menjadi mengesalkan ketika mereka belajar. Bagaimana tidak, terkadang kedua sahabatnya ini dengan sengaja meninggalkan Rani berduaan dengan El di ruang tamu. Sedangkan, mereka berdua asik-asikan di ruang keluarga dengan menghidupkan tv. Kenapa bisa seperti itu?
Jawabannya adalah El selalu memberikan soal-soal yang menurut Rani begitu mudah untuk dikerjakan. Selain itu, El juga selalu menunjukkan apa saja ketika kedua sahabatnya ini kesulitan dalam mengerjakan soal.
Sangat berbeda dengan dirinya, apabila tidak bisa mengerjakan satu soal, maka dengan senang hati El akan mengajarkan namun dirinya harus mendapatkan 1 soal tambahan untuk setiap pertanyaan yang diajukan.
"Cih, jadi guru kok pilih kasih!" desis Rani pelan tetapi masih terdengar oleh El.
"Kalau mau jadi pinter itu yah harus nurut sama guru! Jangan mendesis apalagi merutuki guru dalam hati," ledek El.
"Huhh...Pinter darimana? Yang ada itu otak gue korslet ngerjain nih soal yang susah semua!" omel Rani.
Ketika ia melihat El, lelaki menyebalkan itu seperti tidak peduli dengan kekesalannya. Rani mendelik sebal pada El. Akhirnya ia kembali fokus pada tumpukan soal yang ada di hadapannya.
El pun tersenyum melihat wajah kesal dari gadis kecilnya itu. Gue memang sengaja memberikan lo soal yang lebih sulit dibandingkan kedua sahabat lo. Supaya gue lebih puas menatap wajah lucu lo yang sedang kesal. Namun, tetap mengerjakan soal-soal yang gue berikan bahkan tanpa bertanya, batin El.
Rani yang merasa diperhatikan oleh El, menatap El dengan tajam dan membalikkan buku soalnya dengan kasar. Kenapa lagi pakai acara liatin gue terus-terusan? Rani pun berusaha untuk tidak menatap ke arah El. Namun, akhirnya gadis itu merasa kesal karena tatapan El membuat dirinya tidak fokus.
Keke yang melihat tatapan antara El dan Rani berinisiatif untuk menjahili kedua orang tersebut, "Inikah cinta? Oh inikah cinta.. Na na na na...Aukhh sakit beg*k!" ujar Keke yang mendapatkan pukulan keras di pahanya dari Zia.
"Ehem, udah jangan lirik-lirikan. Ingat! Disini masih ada kaum yang pasangannya tidak berada disini saat ini," tegur Zia.
Rani memelototkan mata bulatnya itu kepada dua sahabatnya dan mendelik El, "Itu mata dijaga ya bapak guru yang terhormat. Gue jadi nggak fokus nih lo liatin terus bang!" tukas Rani.
"Dih kepedean amat! Gue cuman lagi mikir, kenapa gue bisa punya murid yang keras kepala banget kayak lo!" elak El.
"Hufftt...Seharusnya itu gue yang nanya, sejak kapan seorang guru pilih kasih dalam memberikan tugas?" jawab Rani dengan kesal.
"Eh markonah! Dimana-mana sekarang itu banyak kok guru pilih kasih, tapi kalau Bang El mah beda. Dia itu pilih kasih karena su.." belum jadi Keke melanjutkan ucapannya Zia sudah menyumpal mulut sahabatnya itu menggunakan bakwan.
"Kenapa lo sumpal tuh mulut si Keke? Su...Apaan?" heran Rani.
"Su...sudah kewajibannya sebagai seorang guru. Jadi Bang El, harus memberikan soal sesuai kapasitas muridnya masing-masing. Bener kan bang?" ujar Zia dan diangguki oleh El.
Keke masih ingin memperjelas ucapannya yang sebenarnya mendapatkan cubitan dari Zia, "Lo itu diem! Biarin cinta mereka tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu," bisik Zia dan diangguki oleh Keke.
"Kenapa lo berdua bisik-bisik?" delik Rani kepada dua sahabatnya.
"Kepo amat lu! Kerjain tuh soal. Supaya cepat kelar dan kita bisa main," jawab Zia.
Rani pun menghentakkan kakinya mendengar ucapan para sahabatnya itu. El yang melihat itupun hampir saja melepaskan tawanya, akan tetapi ia kembali mengontrol dirinya.
"Apa lo liat-liat? Mau gue colok tuh mata pakek pena!" ancam Rani melihat El menahan tawanya.
"Itu ucapannya di jaga ya duhai gadis kecil...," ujar El membesarkan matanya.
"Gadis kecil apaan? Gue udah remaja yah. Lo tuh bang yang ketuaan! Wlekk!" ucap Rani.
"Yaa!!! Stop! Puyeng gue lama-lama dengerin lo sama Bang El kek tom and jerry terus. Lanjutin tuh soal Ran! Udah hampir jam 6 inih!" omel Zia.
Rani dan El pun menghentikan perdebatan mereka. Dalam hati El, saat ini dirinya merasa bahagia karena menghabiskan banyak waktu dengan gadis kecilnya. Dirinya pun merasa bingung, kenapa perasaannya bisa sebesar ini? Dirinya bahkan rela mengiringi Rani ketika akan berangkat sekolah dan pulang sekolah. Ia bahkan akan memberikan tatapan tajam pada lelaki yang berani menatap atau menggoda gadis kecilnya itu. Bahkan ia memarahi teman-temannya yang berusaha bercanda dengan Rani ketika mereka berbelanja di warung mama Rani.
***
Di hari jumat tersebut, seperti biasa sebelum mesjid penuh El dan teman-temannya akan berbelanja di warung mama Rani. Namun, hari ini berbeda karena hanya Rani yang berjualan. Rita sedang pergi ke rumah orang tuanya, dan meminta Rani agar tetap membuka warung mereka.
"Ran.. Emak lo mana?" tanya Randi.
"Ngapain lo nanyain emak gue bang?" heran Rani.
"Mau ngelamar lah," canda Randi.
"Dasar abang sableng! Lo mau dibantai sama papa?" ujar Rani tertawa.
"Kenapa gue dibantai?" tanya Randi.
"Ya iyalah beg*k! Lo terang terangan mau ngelamar binik nya!" ujar Dodo memukul kepala sahabatnya itu.
"Dih...Bukanlah! Gue mau izin ngelamar anaknya. Hahaha," ujar Randi yang mendapatkan delikan dari Rani.
"Wahh...Kehabisan obat nih temen gue!" ucap Tegar.
"Hooh bang. Si bang Randi dipulangin aja lagi ke RSJ!" ujar Rani yang ikut mentertawakan Randi.
Melihat hal itu, membuat El tidak nyaman akan gurauan sahabatnya yang padahal ia sadar bahwa itu hanyalah guyonan semata. Dikarenakan kesal El tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan warung tersebut.
"Kenapa tuh si es batu bang?" tanya Rani ketika ia menyerahkan pesanan abang-abangnya tersebut ke meja mereka El meninggalkan meja tersebut.
"Kepanasan mungkin Ran!" ujar Dodo tertawa, dan Rani hanya beroriah saja.
El yang meninggalkan tempat tersebut segera menuju mesjid. Tak lama kemudian, para sahabatnya sudah duduk disampingnya.
"Wah Do.. Teman kita kek nya bakal jadi pedofil!" canda Tegar.
"Heem... Tapi gue kalau ceweknya kek Rani mah juga mau," jawab Alan.
"Diem nggak lo pada! Berhenti deh ngerayu Rani terus. Kalian kan tau gimana perasaan gue!" ujar El kesal.
"Iya deh iya... Lagian kita itu udah nganggap Rani itu adek. Jadi awas aja kalau lo cuman jadiin dia pelampiasan, gue gibeng lo!" ucap Randi serius.
Flash back off
Mengingat hal itu membuat El semakin menjadi protektif kepada Rani. Ia tidak ingin kecolongan untuk kedua kalinya, sehingga ia mengikat Rani dengan perjanjian yang dilatar belakangi taruhan tersebut.
.
.
.
Terima kasih udah mampir....Berikan:
- Penilaian
- Vote
- Like
- Komen
%>_<%🥰🥰🥰