
"Uwaa.... Zii... Nggak usah ikut nyokap lo yaa," rengek Keke.
"Hei nona. Lo kira sahabat lo yang cantik ini bakal ninggalin dunia ini?" delik Zia menghapus air mata Keke.
"Udah dong. Jangan pada mewek gini! Zi lo hati-hati disana ya.... Pas nyampe nomor pertama kali yang lo kabari itu gue!" ujar Rani.
"Siap boss! Kalian juga hati-hati di sini. Kalau kangen, kalian bisa nyusul gue kesana," ujar Zia tertawa.
"Lo yang bayarin ongkosnya pulang pergi ya?" ujar Keke yang sudah bisa mengendalikan tangisannya.
Sementara mama Zia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga gadis ini. Bagaimana pun mereka terpisah mereka akan tetap terikat satu sama lain bagaikan saudara kandung.
"Zia, ayo kita berangkat." ujar mama Zia.
Ketiga gadis itu pun berpelukan erat. Mungkin itu adalah pelukan terakhir mereka di masa remaja. Karena Zia baru akan benar-benar kembali ke Indonesia saat ia dewasa nanti.
"Pelukan lainnya bakal lewat online dong," ujar Rani berusaha menghibur kedua sahabatnya.
Tiga tahun mereka habiskan bersama menurut orang-orang itu hanyalah sebentar. Akan tetapi, bagi mereka waktu-waktu yang mereka lalui adalah suka-duka. Bertiga kemana-mana, bagaikan anak kembar tiga. Perilaku mereka pun saling melengkapi satu sama lain.
"Gih berangkat Zi..." ujar Rani dan perlahan sahabatnya itu berjalan mendekati sang mama dan menunggu keberangkatan pesawat mereka.
Saat pesawat itu benar-benar lepas landas. Barulah kedua gadis itu beranjak pergi meninggalkan bandara itu. Mereka memesan taksi dan menuju rumah Rani.
"Huffhh... Kita kurang satu anggota. Bentar lagi gue juga bakal ke kampung Ran." ujar Keke menghela nafas panjang.
"Sabar neng. Ini ujian," ujar Rani memejamkan matanya.
"Ran. Lo baek-baek di sini sendirian ya. Jangan lupain kita-kita..." ujar Keke.
"Hemm..." ujar Rani dengan mata yang sudah terpejam.
"Nih anak memang keterlaluan. Baru juga baring di kasur udah kek dikasih obat tidur aja, cepat amat molornya!" gerutu Keke.
Sementara Rani sudah sampai di alam mimpinya. Ia merasa bahwa dirinya sangat lelah karena ia juga merasa sedih atas kepergian Zia. Keke pun menyusul Rani menuju alam mimpinya.
***
Kedua gadis itu tertidur hingga sore hari. Mereka terbangun karena mendengar dering dari telfon Rani.
"Halo, assalammualaikum." ujar Rani dengan suara khas bangun tidur.
".........."
"Kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin sih?" ujar Rani kesal.
"........."
"Ya udahlah besok Rani antar abang ke bandara," ujar Rani.
"........"
"Ceh! Udahlah, nggak apa-apa...." ujar Rani dan ingin menutup sambungan telfon.
"....."
"Iya abang bawel. Rani siap-siap dulu," ujar Rani.
"......"
"Ya.... Assalammualaikum," ujar Rani dan menutup telfonnya.
"Ke gue mau pergi dulu sama bang El yah," ujar Rani pada Keke.
"Lo tega ninggalin gue sendiri?!" ujar Keke dengan tampang sedih.
"Nggak usah mewek. Gue pergi cuman ke mesjid doang!" delik Rani dan menyambar handuknya.
Gadis itu pun bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Usai memakai baju kaos lengan panjangnya dan menggunakan jilban sorong alakadarnya Rani berjalan menuju halaman mesjid.
"Nih," ujar El memberikan sebungkus tisu kecil pada Rani.
"Buat apa nih tisu?" tanya Rani heran dan menautkan alisnya.
"Ooh.. Makasih bang," ujar Rani dan mengantongi tisu seribuan itu.
"Kita duduk di sana ya?" ujar El menunjuk bangku-bangku yang ada di pelataran mesjid tersebut.
Tempat di mana mereka berdua berfoto dengan surat nikahnya.. Hahaha, bukan surat nikah lebih tepatnya surat Cinta dengan gaya pemaksaan ala-ala El.
"Mau ngomong apa bang?" tanya Rani membuka suara.
"Abang besok udah ke UGM Ran..." ujar El lirih.
"Wahh...Berarti abang udah bener-bener di terima dong bang?" tanya Rani bahagia.
"Iya udah." ujar El singkat.
"Bagus dong kalau gitu. Keinginan lo bakal tercapai, selamat yaa...." ujar Rani tersenyum bahagia.
"Iya makasih." ujar El singkat lagi.
"Hei.... Dimana-mana itu kebanyakan orang kalau diterima di PTN wajahnya pasti semriwing. Ini wajah tetap aja dingin kek es batu!" ujar Rani memarahi El.
"Abang kan beda dari yang lain Ran. Kalau nggak beda, nggak mungkin kamu suka sama lelaki ini!" ujar El dengan nada kesal.
"Cih! Sifat kepekaannya masih melekat!" ujar Rani kesal.
"Rani.... Masa kamu nggak ada sedih-sedihnya abang bakal pergi besok?" ujar El yang akhirnya mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.
"Kenapa Rani mesti sedih abang..." ujar Rani dengan memasang selebar mungkin agar bayi besarnya tak lagi merengek.
Comel banget sih lihat wajah es batu yang merajuk, ujar Rani dalam hatinya dan cekikikan.
"Kan memang bener nggak ada sedih-sedihnya. Kita bakal terpisah jarak loh Ran..." ujar El bersidekap dada.
"Ya terus kenapa?" ujar Rani yang sudah mulai kehabisan kesabarannya.
"Berarti selama ini Rani nggak sayang sama abang?" ujar El sinis.
Oh Tuhan...Kenapa manusia es kalau meleleh jadi kek bayi gini... Ujar Rani mendelik matanya, batin Rani.
"Kenapa abang menyimpulkan begitu?" tanya Rani heran.
"Abisnya Rani nggak sedih. Kalau di film-film para ceweknya bakal mewek pas ditinggal cowoknya." ujar El.
Dasar es batu korban sinetron kapal terbang!!! umpat Rani dalam hatinya.
"Jangan mengumpat di dalam hati!" delik El dengan bibir yang masih manyun sembari tangannya mencabut bunga-bunga yang ada di taman kecil di belakang tempat mereka duduk saat ini.
"Hei abang es. Itu bunga salah apa? Kenapa dicabutin!" delik Rani kesal.
"Dih dia yang marah! Seharusnya abang yang marah!" ujar El semakin menundukkan kepalanya dan mencabuti bunga-bunga itu dengan kasar.
"Hayoyo... Cem mana tak nak marah! Banyak tingkah!" delik Rani kesal.
"Udahlah... Barangkali memang Rani nggak pernah serius sama abang. Makanya senang kalau abang pergi jauh," ujar El dan menendangi batu-batu yang ada di dekat kakinya.
"Ya Allah... Ya robbi... Tuan Immanuel Dirgantara, Rani itu nggak sedih karena memang abang perginya ngejar impian abang bukan pergi main-main. Jadi di mana letak salahnya?" ujar Rani lembut.
"Iya, abang pergi demi masa depan kita." ujar El menatap Rani intens.
Serah lo deh bang. Masa depan lo kek, masa depan kita kek. Intinya jangan merajuk lagi, delik Rani dalam hatinya.
"Iya demi masa depan pokoknya. Jadi abang harus semangat, yang paling penting itu di sana jangan selingkuh ya!" ujar Rani tersenyum hangat.
"Iya nggak mungkin bakal terjadi," ujar El bersungguh-sungguh.
"Ya udah. Sekarang Rani balikin nih tisu!" ujar Rani sembari memberikan tisu pada El.
"Kamu simpan aja untuk kenang-kenangan," ujar El.
Ceh kenang-kenangan terbaru ges dalam bentuk tisu seribuan. Ujar Rani dalam hatinya.