
Siapa sangka bahwa air langit hari ini tidak mau berenti turun sedari sore. Arena perkemahan digenangi banyak air, alhasil para panitia menyarankan para siswa untuk menginap di salah satu sekolah dasar kosong yang ada di daerah ini.
"Gila.....Ya Allah Ran, kita balik pulang aja deh Ran...Kaga mau gue tidur di lantai kek gini!" pekik Kia.
Rani juga ternganga melihat kondisi sekolah yang akan dijadikan penginapan dadakan bagi mereka. Kelas kosong yang jendela-jendelanya pun sudah tak berbentuk, lantai yang kumuh, langit-langit yang sepertinya sudah dipenuhi oleh jaring-jaring spiderman.
"Untuk sementara kita semua harus menginap disini. Jangan ada yang protes, kecuali kalian mau tidur di tenda yang tergenang air." ujar ketua pelaksana.
Para guru hanya mendengar instruksi para panitia tersebut. Selang beberapa lama beberapa karpet berbulu tebal datang ke dalam kelas tersebut. Para siswa tampak bahagia karena mengira bahwa karpet-karpet tersebut akan menjadi alas tidur mereka. Namun kenyataan yang ada tidak sesuai acara reality show di tv saudara-saudara. Ternyata karpet-karpet tersebut hanya untuk para guru yang tidur di bagian kelas sebelah.
"What!!! Ini diskriminasi kok gini amat yah? Bukannya seharusnya utuh yang tua ngalah sama yang kecil. Ini apaan namanya?" ketus Abil menyindir sang guru yang kebetulan berada tepat di tepi pintu kelas tersebut.
Para siswa menjadi heboh dan komplain pada para panitia. Kalian ingin tahu bagaimana jawaban para guru yang ada di sana?
"Kami sudah tua dan tidak sekuat kalian lagi yang masih berjiwa muda. Saya dahulu saat seumuran kalian bahkan sering tidur di emperan toko karena satu dan lain hal atau ketinggalan kereta untuk pulang kampung," ujar kepala sekolah.
Para siswa menyoraki para guru tersebut. Apalah daya, sebagai siswa mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain berserah diri kepada yang di atas. Dengan terpaksa mereka tidur bak susunan sarden di lantai ubin yang dinginnya berkali lipat akibat suhu yang rendah karena hujan.
"Dasar si botak yang kagak punya perasaan!" tukas salah satu teman Rani yang masih sempat-sempatnya mengumpati kepala sekolahnya itu sebelum tidur.
Rani hanya menyimak beberapa siswa yang masih menggerutu bahkan berencana untuk menyantet kepala sekolah mereka saat nanti sampai di rumah.
Rani melirik ke sekitarnya, ia merasa kehilangan. Kemana sang pujaan hati yang tidak menampakkan diri sejak sore tadi. Apakah El meninggalkan dirinya sendirian di saat genting seperti ini? Begitulah pikiran gadis kecil itu.
Rani hanya menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di sana. Ia tidak ingin berbaring karena takut tertiban tangan atau kaki dari para manusia yang tidurnya bagaikan bermain sepak bola. Tiba-tiba bisa jadi keeper, kemudian berubah menjadi striker. Abil dan Kia beberapa kali menjerit karena mendapat serangan tiba-tiba dari beberapa teman mereka yang tidur di dekat mereka.
Saat sedang memperhatikan sekelilingnya, tiba-tiba bulu kuduk Rani merinding. Pandangannya terpusat pada bunyi yang berada di sudut ruangan. Udara dingin menyeruak dari jendela tanpa kaca tersebut. Derasnya air hujan diiringi suara angin semakin membuat Rani tegang.
Krekk krekk krekk
Rani memejamkan matanya, jantungnya berdebar kencang bagaikan lari maraton ketika dia mengambil nilai praktek olahraga dahulu ketika SMP. Keringat dingin sudah bercucuran di pelipis gadis kecil itu. Ia semakin was-was karena mendengar pintu kelas itu terbuka. Saat ini Rani tepat berada di sisi kiri pintu kelas tersebut. Ia pun memeluk erat Kia yang tidur disebelahnya sembari membaca semua ayat Al-Qur'an yang ia hapal.
Rani....
Rani....
Rani semakin panik bahkan kelabakan dalam bacaan ayatnya, kenapa hantu itu bisa tau namanya. Rani menggoyang-goyangkan badan Kia agar bangun. Akan tetapi, memang dasar temannya itu yang kalau tidur seperti orang mati membuat Rani kesal minta ampun. Gadis itu masih memeluk erat Kia, ia berharap tidak mendapatkan gangguan lagi. Rani sangat kesal dengan kedua sahabatnya itu dan mungkin besok pagi ia akan mencari di Mbah Google tempat untuk tukar tambah sahabat, barangkali ia bisa mendapatkan sahabat yang berguna di saat-saat genting seperti ini.
Rani memejamkan erat matanya, sungguh ia penasaran siapa yang memanggilnya namun tidak ingin sport jantung apabila menemukan wajah aneh ketika ia membuka mata indahnya tersebut.
Rasa dingin menyeruak di sekitar kaki Rani. Ia merasa ada yang mendekat ke arahnya dan hawanya sangat dingin bagaikan es. Rani menekuk kakinya ia tidak ingin kakinya di gapai oleh hantu tersebut.
Ran...
Psstt...
Mendengar namanya kembali dipanggil membuat Rani kesal. Kenapa harus dirinya yang di ganggu? Sementara di sana masih banyak siswa lainnya. Entah mendapat keberanian dari mana Rani dengan spontan mengeluarkan suara.
"Pergi Lo Sono! Gue bacain ayat kursi bisa-bisa lenyap lu! Jangan ganggu gue," tukas Rani pelan namun ketus.
Hawa dingin itu sepertinya saat ini sedang duduk di dekat kaki Rani. Rani juga terlonjak karena merasa badannya di timpuk oleh sesuatu yang hangat. Secara spontan gadis kecil itu membuka matanya, dibawah pantulan cahaya bulan ia dapat dengan jelas melihat siapa yang sedang duduk di bawah kakinya itu dan ternyata menyelimuti badannya dengan selimut tebal.
"Abang?" tanya Rani heran.
"Bukan, aku hantu yang akan selalu menghantuimu!" ujar El menahan tawanya.
"Hantu apaan?" omel Rani kesal. Ia sedikit menendang El karena kesal.
Rani mendudukkan badannya dan menekuk lututnya kembali. Ternyata ketakutan yang ia rasakan tadi tidak ada gunanya.
"Maaf ya udah buat kamu ketakutan sampai meluk Kia sekuat itu. Untung di sedang tidur, kalau sedang bangun mungkin dia udah mati karena pelukanmu itu." ujar El tersenyum.
Sebenarnya El ingin masuk ke kelas itu sedari tadi. Namun, apalah daya lelaki itu tidak ingin selimut hangat yang ia bawakan menjari rebutan para ciwi-ciwi tersebut. Alhasil ia menunggu semua orang tidur dan menghampiri sang pujaan hati.
"Nih anak memang mati kalau tidur. Abang lihat nih ya," ujar Rani memencet kuat hidung Kia. Tapi tidak mendapatkan respon apa-apa dari sahabatnya itu.
El tertawa kecil melihat ulah dari gadis kecilnya itu. Keduanya pun terhening, malaikat lewat guys...
"Kok Abang bisa kesini? Tadi kemana? Kok hawa badan Abang dingin amat?" ujar Rani melontarkan pertanyaan secara bertubi-tubi.
"Tanya itu satu-satu dong. Kalau ngomong itu pakai titik koma biar jelas, kalau kamu nanyanya beruntun kek gitu bisa-bisa Abang remedi karena ngga bisa jawab semua," ucap El.
Rani meringis, ia pun memasang senyum indahnya pada El.
"Yaudah jawab satu-satu." ucap Rani.
"Tadi Abang nyariin ini buat kamu," ujar El mengangkat selimut yang menjuntai ke arah kakinya.
"Kemana? Jauh ya? Sampai Abang dingin begini?" tanya Rani.
"Iya jauh. Makanya sekarang bagi Abang sedikit selimutnya." ujar El menarik selimut tebal itu dan menyelimuti kakinya.
Kedua sejoli itu duduk bersampingan dengan selimut hangat yang menyelimuti mereka berdua.
"Hadeh, berasa sedang main film Korea yah bang?" ujar Rani menggelengkan kepalanya karena kondisi mereka sekarang.
"Masih jauh ini mah. Kalau di drama Korea kayak kondisi sekarang mereka udah pelukan," imbuh El dengan suara yang semakin mengecil.
"Bukan muhrim!" tukas Rani membulatkan matanya.
"Iya-iya....Becanda doang Abang kok, tidur gih. Biar Abang jagain," ujar El.
"Memangnya Abang nggak capek?" tanya Rani menatap bola mata lelaki pujaan hatinya itu.
"Jagain kamu seumur hidup juga Abang sanggup. Masak gini doang udah bilang capek," tukas El menarik turunkan alisnya.
"Cah gendeng !!!" marah Rani, namun wajahnya memerah. Untung saja tidak ada lampu, jadi pipi merona ya tidak akan terlalu jelas.
.
.
.
.
AL: Selamat beraktifitas readers....
Tinggalin jejak (jempol, bunga, kopi, koin) yaa..hehehehe, ma aciwwww
Lope you all 💖💖💖💖💖