
"Ran, lo mau nya gue kuliah di mana?" tanya El.
"Lah kok nanya ke gue bang. Cita-cita lo apa?" ujar Rani.
"Gue ngga punya cita-cita. Yang gue tau dari kecil, kalau gue mesti gantiin ayah." ujar El dengan nada rendah.
"Kenapa harus kek gitu?" tanya Rani.
"Karena gue penerus usaha." ujar El menghela nafas panjang.
"Yaudah kalau gitu jalani aja! Lo pasti bisa bang, hehe" ujar Rani tersenyum.
Bagaimana caranya gue bisa menjalani semuanya tanpa senyuman tulus itu? batin El menatap Rani.
"Jangan kelamaan ngeliatnya nanti suka!" ujar Rani.
"Bukan suka lagi tapi udah cinta," ujar El mencubit hidung Rani.
"Hei anda ya! Berulang kali saya katakan Dont touch me!!!" ujar Rani melepaskan tangan El dan menatap tajam pada lelaki itu.
"Gue nggak tau. Salahin nih tangan!" ujar El menunjuk tangannya yang memegang hidung Rani.
"Cih! Buat terus alasan sesuka lo! Sekali lagi lo kek gitu, tangan cantik lo bakal gue patahin!" ujar Rani dengan nada mengancam.
"Haha, siapa suruh wajah penuh amarah itu gemesin?" ujar El kembali menarik hidung Rani.
"Arghh... mami, anakmu digangguin pedofil..." rengek Rani.
Saat gadis ini sedang merengek, ia merasakan sesuatu yang panas di bawah sana. Tanpa aba-aba Rani segera berlarian menuju kamar mandi di cafe tersebut setelah menanyakan letaknya pada pelayan.
"Arghh... Kenapa mesti sekarang sihh!!!" ujar Rani frustasi melihat noda merah pada **********.
Gadis itu mengintip keluar pintu kamar mandi. Dan glek, matanya dan mata El bertatapan. Gadis itu segera menutup kembali pintu kamar mandi tersebut.
Sementara El yang merasa heran kenapa Rani berlarian secepat itu menuju kamar mandi membuat dirinya ingin segera menghampiri gadis kecilnya itu. Apalagi saat tadi mata mereka beradu pandang, ada sedikit kecemasan di wajah Rani.
El pun melangkahkan kakinya mendekati kamar mandi di sana. Ia mengetok pintu tersebut untuk memastikan gadis kecilnya baik-baik saja.
"Ran... Kenapa?" tanya El.
Rani di dalam sana hanya diam. Gadis kecil itu menggigit ujung kuku jempolnya, ia tak bisa berpikir bagaimana caranya ia bisa mendapatkan benda persegi panjang itu sementara saat ini rok sekolahnya sudah bercorak merah.
"Rani...Buka pintunya!" ujar El.
"Gue nggak kenapa-napa. Lo balik aja ke meja bang!" teriak Rani dari dalam sana.
"Buka pintunya! Kalau ada masalah itu cerita! Ayo buka pintunya, atau lo mau gue yang dobrak pintu ini!" ancam El.
"Hei jangan aneh-aneh! Ini cafe orang bukan punya lo!" delik Rani kesal.
"Bodo amat! Buka atau gue dobrak!" ujar El.
Rani yang tak ingin terlibat permasalahan baru di kondisinya yang seperti sekarang ini memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Gue bilang nggak kenapa-napa. Masih aja bawel!" delik Rani.
"Kalau ngga kenapa-napa. Kenapa mesti lama di dalam sana!" delik El.
Oh tuhan... lihatlah mata tajamnya yang bagaikan pedang itu. Argh, sudahlah. Gue memang nggak ada pilihan lain. Toh cuman dia yang bisa jadi penolong gue saat ini. Batin Rani.
"Gue butuh roti cewek bang," ujar Rani menunduk. Seumur-umur baru kali ini ia mengatakan hal itu pada lelaki.
"Kalau mau roti kenapa ke kamar mandi? Wah otak lo geser yah setelah ujian tadi?" ujar El menahan tawanya.
"Ishhhhh... Bukan roti itu! Maksud gue itu pembalut Immanuel!!!" ujar Rani setengah berteriak, sontak beberapa mata menatap ke arah mereka.
"Intinya gue butuh itu! Tapi nggak tau gimana cara belinya," ujar Rani dan memutar badannya agar El melihat motif merah di rok dongkernya itu.
"Yaudah tunggu dulu disini!" ujar El dan meninggalkan Rani yang diam mematung.
Rani menatap punggung tegap lelaki itu yang sudah beralih keluar cafe.
"Uhhh... Teganya! Masak gue ditinggal sendirian di sini!" rengek Rani.
Gadis itupun menutup keras pintu kamar mandi. Ia mondar mandir bagai setrikaan di dalam sana.
Tok
Tok
Tok
"Pakai ada orang segala lagi!" keluh Rani dan membuka pintu kamar mandi.
"Nih, pakai ini semua. Buruan!" ujar El menyerahkan kantong plastik kepada Rani.
"Ini untuk gue bang?" tanya Rani setelah memastikan isi kantong plastik tersebut.
"Bukan! Buat mbak kasir depan noh! Udah jelas buat dia, masih aja nanya! Buruan ganti sana!" delik El kesal.
"Hehe... Terima kasih banyak," cengir Rani dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.
Pembalut, sabun, minyak angin...What!!! Benda inih? Cukup sudah, bagaimana bisa dia tau semua ini? batin Rani.
Gadis kecil itu tidak ingin membuang waktu lebih lama di dalam ruang lembab tersebut. Ia memakai pembalut yang diberikan oleh El. Setelah itu ia mengusap perutnya menggunakan minyak angin.
"Hah, hangat..." ujar Rani tersenyum dan membuka pintu kamar mandi.
"Udah?" tanya El di samping pintu.
"Astagfirullah bang! Lo mau bikin gue jantungan apa?" delik Rani mengusap dadanya. Ia sungguh kaget mendengar suara El.
Tanpa menjawab pertanyaan Rani. El lebih memilih untuk melingkarkan jaket miliknya di pinggang ramping Rani. Lagi dan lagi tindakan yang dilakukan oleh El membuat jantung Rani lari maraton.
"Dah kelar! Nih tas lo. Ayo pulang!" ajak El menggenggam tangan Rani.
"Bentar dulu!" ujar Rani memasukkan kantong plastik tadi ke dalam tasnya.
Setelah selesai mereka berdua berjalan beriringan keluar cafe. El pun menghidupkan mesin motornya dan pergi menuju arah rumah Rani.
***
"Sekali lagi makasih banget bang. Tapi kok lo bisa tau semuanya?" tanya Rani.
"Itu udah makanan tiap bulan kalau kakak di rumah. Kecuali yang satu itu, tadi cuman kepikiran aja." ujar El tetap fokus pada jalan di hadapannya.
"Hmm... Ternyata karena itu," ujar Rani mengangguk paham.
Tidak ada perbincangan lanjut di antara keduanya. El yang saat ini berusaha melupakan kejadian tadi saat di minimarket. Ia menanyakan benda segitiga itu pada ibu pemilik minimarket.
Bukan karena malu, akan tetapi ia merasa kesal dengan yang dituduhkan oleh sang ibu-ibu tersebut. Mereka mengatakan percuma ganteng tapi belok. Andai saja tidak mengingat gadis kecilnya sangat membutuhkan barang di tangannya saat ini. Mungkin El sudah membeli minimarket tersebut dan mengusir ibu-ibu di sana.
"Kenapa lo diem aja bang?" tanya Rani yang merasa heran karena El yang biasanya banyak bicara kini hanya diam dan menggelengkan kepalanya sesekali.
"Nggak kenapa-napa. Tuh bentar lagi nyampe!" ujar El.
Benar saja, saat ini mereka sudah berada di depan rumah Rani. El melepaskan helm di kepala Rani dan menatap lama wajah gadis kecilnya.
"Ehemm...Ingat belum boleh tatap lama-lama!" ujar seseorang membuat kedua sejoli itu menoleh.