
Warna merah, kuning, dan jingga bercampur biru mewarnai awan-awan di langit saat ini.
“Rani... Ran.. Rani,” sorak tiga orang remaja di depan pintu rumah Rani.
“Kalian ini, bukannya baca salam, malah teriak-teriak,” ujar Rita kepada mereka.
“Hehe, kita nyariin Rani ma. Soalnya sekarang jadwal minta sumbangan ke rumah warga,” ucap Sari kepada mama Rani.
“Lah dalah, sekarang toh? Si Rani malah molor. Dari siang belum bangun sampe sekarang,” ucap Rita menepuk jidatnya.
“Kebiasaan tuh anak,” Iwing menggelengkan kepalanya.
“Yaudah bentar ya, mama bangunin dulu si putri tidur itu,”
“Siap ma. Makasih maa,”
***
Di kamar Rani,
“Ran, Ran.....di luar ada temen-temen kamu itu,” ucap Rita mengoyangkan badan anak gadis semata wayangnya itu.
“Bentar lagi ma, masih pusing ini,” ucap Rani memeluk erat gulingnya.
“Rani!!! Bangun!” auman singa betina pun keluar. Hehe dasar anak duraka kamu Ran, mama sendiri dibilang singa.
“Ya allah mama, sakit inih kuping aku,” ucap Rani yang langsung duduk dan mengusap-usap kupingnya.
Jangan salah, teriakan mamanya akan seperti itu ketika membangunkannya setiap hari dan akan membuat gendang telinga orang yang mendengar menjadi pekak. Mungkin si siput di telinga orang yang mendengar tersebut akan bersembunyi dibalik cangkangnya.
“Makanya bangun, kasian itu teman-teman kamu udah pegel di luar nungguin kamu,” ucap Rita yang beralih ke lemari baju anaknya dan mengeluarkan satu rok panjang, baju kaos lengan panjang, dan hijab senada dengan kaos tersebut.
Tidak kuat dengan omelan tersebut, Rani segera beralih ke kamar mandi. Eits jangan mengira kalau Rani bakal mandi, si gadis cantik ini hanya mencuci wajah dan menggosok gigi, tidak lupa berwudhu’.
“Sorry lama, tadi ketiduran,” ujar Rani dengan cengirannya pada tiga orang yang menunggunya.
“Tidak masalah putri tidur, pengawalmu ini hanya menunggu 20 menit,” ucap Iwing dengan nada sedikit mengejek.
“Udah-udah, nanti ditinggalin sama kakak-kakak dan abang-abang yang lain kita inih,” ucap Wulan untuk menghindari perdebatan lebih lanjut antara tuan putri dan sang pengawal tersebut.
Mereka berempat pun menuju ke mesjid dengan berjalan beriringan, bak gengster yang akan menghancurkan lawannya, para gadis berjalan dengan tomboynya, sedangkan sang lelaki satu-satunya di sana berjalan dengan anggunnya bak Miss Univers.
“Buruan Cawinggg....rempong banget sihh jadi cowok,’ ujar Sari memutar bola matanya jengah.
“Ihhh, sabar dong,” ucap Iwing.
Mereka pun bergegas masuk ke dalam mesjid. Terlihat di sana sudah berkumpul para remaja mesjid lainnya. Suasana menjadi hening seketika setelah kedatangan ke empat orang ini. Anggap aja malaikat lagi lewat.
El menatap gadis kecil di depannya yang menggunakan baju dan hijab berwanra mustard. Deg, jantungku berdebar saat ku di dekatmu jadi salah tingkah, nyanyi dikit.
Melihat sang ketua yang hanya diam dan terpana pada gadis kecil di depan mereka. Dasar pedofil, nggak sadar apa dia buat orang lain nunggu, keluh Dodo dalam hatinya.
“Nah, karena semuanya sudah berkumpul ayo kita mulai jalan, sesuai dengan pembagian kemarin,” ujar Dodo membuka suara.
“Oke, nanti kita berkumpul lagi pukul 15.30 WIB di mesjid,” El yang tersadar dari lamunannya.
Saat di perjalanan, Rani yang menghindari seseorang saat berjalan. Sedikit berlari, Rani pun menarik sarung Iwing dari belakang, membuat si pemilik sarung sedikit tercekik.
“Apalagi Markonahhh,” geram Iwing.
“Tungguin, lo jalan sama gue,” rengek Rani.
Mereka berdua pun berjalan beriringan. Iwing juga mendengarkan lagu sepanjang jalan, membuat mereka bernyanyi bersama. Yah cempreng memang, tapi suka-suka mereka, toh yang kalau nggak mau denger yah tinggal tutup telinga.
Rani dan Iwing pun terkejud terheran-heran, kenapa abang yang di tengah mereka ini mengganggu ketenangan mereka berdua.
“Emm, kita jalan bareng, sambil jalan bisa cerita-cerita tentang kalian,” ujar El dengan gaya songongnya, eh gaya cool maksudnya.
Rani yang memang kesal dengan orang ini, ingin melemparkan sang lelaki di sebelahnya ini ke sungai amazon. Entah kenapa lelaki tersebut terus berusaha berjalan dengannya sedari tadi. Ini laki dari tadi ngapain sih, ngintilin mulu. Gue depak juga nih lama-lama, ucap Rani dalam hatinya.
“Emm, yaudah Wing, lo jalan bedua aja sama Bang El. Gue mau jalan sama Kak Desi aja,” ucap Rani dengan nada yang dibuat sedikit meninggi.
“Sono pegi,” ucap El yang masih asik menyanyikan lagu yang ia putar dari handphonenya tersebut.
“Eh, Rani...jangan pergi dong. Abang masih mau nanya,” ucap El.
“Nanya apaan bang?” tanya Rani bingung.
“Kamu punya kembaran ya?” tanya El.
“Mana ada si Markonah punya kembaran bang, kalau ada dua di dunia bisa-bisa seluruh lelaki akan menjadi gila,” jawab El.
“Haha, berarti kamu anak pertama ya?” tanya El dengan tawa garingnya.
“Iya bang,” saut Rani singkat, padat, jelas.
“Hmm, abang kira kamu ada kembaran. Soalnya teman abang ada yang mirip sama kamu,” ucap El menatap Rani dengan rentetan gigi putihnya.
Nih cowok kesambet apaan sih, kemarin-kemarin aja dingin kayak es. Sekarang kadar ngomongnya udah meningkat. Heran Rani. Rani yang tidak mau ambil pusing berhenti dan memilih untuk berjalan di sebelah kanan Iwing.
“Loh kok kamu pindah,” tanya El.
“Takut ketabrak bang,” ujar Rani kesal.
“Ohh,” ujar El juga berpindah kesebelah Rani, jadilah gadis cantik ini di tengah dua lelaki yang aneh.
Rani yang mulai geram karena sedari tadi merasa risih, ia pun tak tahan untuk mengeluarkan suaranya. “Bang, mending lo jalan sama yang lain deh,” ucap Rani sedikit membulatkan bola matanya.
Bukannya marah, El justru menahan tawanya karena melihat wajah kesal gadis kecilnya itu. “Ya terserah gue dong mau jalan di mana,” ucap El yang ingin memancing emosi Rani.
Rani pun mengalah dan berjalan mundur ke belakang, ia tidak menghiraukan lelaki yang terus mengintili jalannya tersebut. Rani pun memutuskan untuk jalan sendiri, langkah salah yang ia ambil justru membuatnya semakin terjerumus ke dekat lelaki mengesalkan tersebut.
El selalu mengimbangi langkah kaki kecil Rani yang berusaha berjalan cepat, ia menampilkan senyumnya dan merentangkan kedua tangannya menarik sarung yang bertengger di lehernya. Seakan bahagia bisa berjalan berdua dengan sang gadis kecil, rentetan gigi yang tampak itu tak kunjung berhenti.
“Bang El, kok nggak jalan sama Noni sihh,” ucap Noni dengan manjanya.
El hanya melirik kilas ke belakang, dan kembali memasang wajah datarnya.
“Sono lo bang, jalan sama cewek lo. Nanti gue dikira PHO lagi,” ujar Rani.
“Sapa juga yang sama dia. I’m single,” ucap el dengan gaya kegantengannya.
Rani memutar bola matanya karena jengah dengan tingkah lelaki tua di depannya ini. Untung wajah lo ganteng, kalau nggak udah gue ceburin tuh wajah songong ke sawah, ucap Rani kesal.
Like
Commend
Vote
and
Terima kasihhhh banyakkk udah baca novelkuu