
Rani dan Keke hari ini berencana untuk menjenguk Zia di rumah sakit daerah. Setelah kejadian kemarin, Zia diperkirakan akan dirawat selama seminggu di sana.
Saat mereka masuk ke kamar inap Zia, gadis itu hanya sendiri di sana ditemani oleh gadgetnya. Tidak ada orang lain yang menemani sahabat mereka yang cantik itu. Zia yang kesal karena kedua sahabatnya dari kemarin meninggalkan dirinya sendirian di rumah sakit, memang benar ia ditemani sang mama. Namun, sang mama hanya berkutat di depan laptopnya.
"Ngapain kalian kesini?" dengus Zia.
"Yaudah kalau nggak boleh. Kita balik aja deh Ran," ujar Keke kembali ingin membuka pintu untuk keluar.
Rani yang tau kekesalan sahabatnya itu, segera menarik baju belakang Keke. Alhasil saat ini mereka sudah duduk manis di sisi kanan dan kiri Zia.
"Lo sih bandel amat. Udah dibilangin jangan jajan sembarangan, masih aja ngeyel! Belum lagi kegiatan lo full dari subuh sampe petang," ujar Keke dengan nada emosi. Dirinya kesal melihat tangan sahabatnya itu harus dipasangi infus.
"Kalau lo nggak mau gue jajan sembarangan. Masakin dong! Jangan cuman bisa marah-marah aja tanpa bukti perbuatan!" tukas Zia mensleding (memukul pelan) kepala sahabatnya itu.
"Dih ogah gue masakin orang yang kelaperan terus! Yang ada kuku-kuku cantik gue patah satu-satu karena masak tiap saat," ucap Keke.
"Yaudah kalau nggak bisa, jangan ngebacot!" tukas Zia.
Rani hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya, mereka memang sering cekcok. Akan tetapi, dalam hati keduanya sangat saling menyayangi layaknya saudara.
"Nih makan! Udah gue beliin tuh apel ekslusif dengan harga ekonomis," ujar Rani menyerahkan potongan apel kepada sahabatnya yang sedang sakit itu.
Keke yang ngiler dengan buah apel yang besar dan merah merona itu, segera mengarahkan tangannya ke piring potongan apel. Akan tetapi tangannya ditepis oleh Zia.
"Ini bagian gue! Kalau lo mau potong noh sendiri!" ucap Zia menarik piring potongan apel Rani ke atas pahanya. Seperti anak kecil yang tidak ingin berbagi.
"Ya Allah... Untung aja nih orang lagi sakit. Kalau sehat udah gue lakban tuh mulut. Pelit amat! Cuma minta sepotong pun tak dapat," ucap Keke kesal.
"Bodo! Rani kan motongin buat gue! Lagian yang lagi sakit disini kan gue. Jadi gue yang berhak manja-manja. Wleek!" ucap Zia memeletkan lidahnya ada Keke.
"Hufhh iya deh gue ngalah sama anak TK. Besok-besok kalau gue yang dirawat, tunggu pembalasan dari gue!" ujar Keke.
"Huss! Ngomong suka banget belepotan! Lo mau masuk rumah sakit? Ingat perkataan itu doa, sekarang makan aja tuh apel masing-masing! Jangan ribut, nanti semua pasien disini tambah sakit dengerin suara kalian," ujar Rani menengahi kedua sahabatnya.
"Oke mak," jawab keduanya serempak.
Ketiganya pun menikmati buah apel fuji tersebut sembari menonton TV. Kamar Zia memang kamar terbaik yang dipilihkan oleh sang mama. Namun, apalah arti kekayaan berlimpah tanpa perhatian orang tua.
Mereka tengah memutar kaset tom and jerry, membuat ketiganya tertawa lepas. Meskipun film itu sudah ditonton sedari sekolah dasar, film tersebut masih menjadi tontonan favorit bagi mereka.
Sungguh bahagia masa kanak-kanak dipenuhi dengan film kartun lucu. Berbeda dengan kehidupan anak sekolah dasar sekarang, hidup anak-anak yang ditemani oleh gadget dan sinetron azab dari pagi hingga petang. Tanpa mengenal lingkungan sosial, dan lebih banyak mengurung diri di kamar.
***
Pintu ruangan tersebut terbuka. El datang bersama Iwing, lelaki itu tidak membawa apa-apa. Namun, ditangan Iwing terdapat parsel buah yang lengkap.
"Hai," ujarnya menyapa Rani.
"Ehem.. Yang sakit disini nih bang, bukan yang disana!" ujar Iwing mengejek El yang dari awal membuka pintu matanya sudah terarah pada Rani.
El hanya mendelik tajam pada Iwing, ia pun menghampiri Zia dan mendoakan agar Zia cepat sembuh.
"Dih, jenguk orang sakit tapi nggak bawa apa-apa. Padahal semua barang yang melekat di badannya branded!" tukas Rani.
"Siapa bilang gue nggak bawa apa-apa? Tuh parsel gue yang beliin!" ujar El.
"Gue udah berkontribusi kok Ran, bawain nih parsel dari tempat membeli sampai dimari." ucap Iwing yang mendapatkan pukulan di kepala belakangnya oleh Keke.
"Cowok kok modal tenaga doang!" tukas Keke.
Disaat mereka sedang berdebat, pintu ruangan itu kembali terbuka. Dibalik pintu itu masuklah titisan dari dewa Yunani. Iwing yang melihat cowok bening mengalahkan kilapan panci baru emaknya di rumah sampai lupa menutup mulutnya yang tercengang.
"Akhirnya Aa gue dateng. Masuk sini Kak Afan gabung sama kita," ucap Keke.
"Hai semua...Gue kesini mau nengokin Zia," ujar Afan sembari meletakkan buket bunga tulip putih di meja yang ada di samping kasur Zia.
"Terima kasih udah sempetin jenguk Zia kak." ucap Rani tersenyum.
El yang melihat gadis kecilnya tersenyum pada lelaki lain merasa hawa di ruangan itu semakin panas.
"Auh...au.. Ran kok gue nyium bau gosong ya?" ucap Iwing mengejek El.
"Bau gosong apaan?" tanya Zia penasaran.
Iwing pun menunjuk dada El, Zia dan Keke pun tertawa kecil melihat cara lelaki bertulang lunak itu mengejek El.
Sementara Rani tidak mendengarkan ucapan sahabatnya, karena sedari El datang sudah tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan. Ditambah dengan kedatangan Afan yang membuat pandangan El tidak luput dari dirinya.
"Kenalin nih. Namanya Kak Afan, kakak ini seorang dokter. Cocok jadi panutan, soalnya di umur Kak Afan yang masih 25 tahun, dia udah jadi dokter spesialis syaraf." ucap Keke memperkenalkan Afan seperti seorang moderator acara.
"Ooo...Pantesan sedari pintu dibuka hatiku sudah tertuju padamu Aa ganteng," ucap Iwing sembari mengeringkan matanya pada Afan.
Afan yang melihat itu sedikit bergidik ngeri, Ia menatap Rani dan kedua sahabatnya tertawa lepas.
"Becandaan lo nggak lucu Wing. Malah buat Kak Afan ngeri! Kembali model cowok tulen deh," ucap Zia.
"Siap komandan!" tukas Iwing dengan gaya tegap.
"Hahahaha, kalau tau bakal ketemu orang-orang se asik kalian. Mungkin udah dari lama gue mau nurutin keinginan nenek untuk pindah kesini," ucap Afan menghapus sisa air mata karena tertawa melihat tingkah anak remaja di ruangan itu.
El yang merasa dirinya di acuhkan berusaha untuk tetap sabar dan dengan gaya coolnya sendiri.
"Emm, tapi kalau yang ini nggak mungkin seumuran dengan kalian kan?" tanya Afan melihat El yang hanya memasang tampang dingin pada dirinya sedari masuk ruangan.
"Kalau ini guru privat kita kak. Kak El juga hebat, dia ngajarin kita seluruh ilmu yang ia tahu. Jadi pas ujian yang berkaitan dengan hitung-hitungan kita bertiga nggak kesusahan lagi," jawab Zia.
Afan pun mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan El. El yang tidak ingin Rani mengira bahwa dirinya sangat kesal dengan lelaki tua di hadapannya ini, menyambut uluran tangan dari Afan.
Sengatan listrik dari sorotan mata El membuat Afan tersentak, ia tidak menyangka bahwa anak di hadapannya bisa memberikan tatapan setajam itu padanya.
Keduanya pun melepas jabatan tangan, mereka pun mendengarkan saran-saran yang diberikan oleh Afan agar tidak mengunjungi rumah sakit karena kesalahan yang dilakukan oleh diri sendiri, seperti asam lambung, anemia, tipes, vertigo. Itu semua bisa dihindari apabila menjalani pola hidup yang sehat.
.
.
.
Terima kasih udah mampir... 🥰🥰