
"Ma.... Bagus nggak bajunya?" tanya Rani pada Rita.
"Bagus banget Ran. Cocok buatmu, kapan belinya?" tanya Rita.
"Dikasih bang El," bisik Rani ada Rita.
"Ehem... Rani, coba kamu duduk bentar di sini." ujar Nugraha menepuk sisi yang kosong antara dirinya Dan sang istri.
"Ada apa pa?" Tanya Rani.
"Kamu tiga hari lagi masuk SMA kan?" tanya Nugraha.
"Iya, terus?" tanya Rani.
"Kamu udah gede berarti. Jadi papa inginnya rambut indah kamu ini nggak diperlihatkan lagi ke lelaki yang bukan muhrimmu." ujar Nugraha dengan selembut mungkin, sembari mengelus kepala Rani begitupun dengan Rita mengelus punggung tangan anak gadis satu-satunya di keluarga mereka ini.
"Hehe, memang bener-bener buat papa masuk neraka ya pah? Kalau Rani masih buka aurat. Rani kan udah gede." cengir Rani.
"Kamu ini. Ya jelaslah bakal narik papamu! Secara kamu masih tanggung jawab papamu sampai menikah nanti." gemas Rita Dan menarik hidung anak gadisnya.
Nugraha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua perempuan yang telah mengalihkan dunianya dan yang akan IA pertanggung jawabkan di akhirat kelak.
"Hehe, canda doang mom...Iya papaku sayang, Rani juga udah lama berpikir akan hal ini." ujar Rani sumringah dan memeluk kedua orang tuanya.
"Udah besar tapi masih manja!" ejek seseorang dari balik pintu.
"Sirik amat lo dek!" ujar Rani melihat Habil yang baru saja pulang bermain dengan Ihsyan.
Kedua bocah itu menenteng kresek hitam dan berlarian ke dapur.
"Kalian bawa apa?" tanya Rita.
"Bawa belut kak, enak nih kalau di goreng." ujar Ihsyan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Ngapain kalian bawa tuh anak uler!!! Mah, Rani nggak mau masakin. Mama aja," ujar Rani bergidik ngeri.
"Hihh... Papa aja yang masak pah! Mama nggak berani," ujar Rita memberikan respon yang sama seperti Rani.
"Iya-iya papa yang masak. Kalian berdua cuci bersih dulu itu di belalang. Potong kecil-kecil sekalian," titah Nugraha.
"Siap bos!!!" ujar keduanya serentak.
"Maa.... Kita makan apa dong?" tanya Ranu memelas.
"Kalian berdua ini. Belut itu proteinnya tinggi, enak lagi!" ujar Nugraha.
"Geli pa lihatnya. Udah kek anak uler!" ujar Rani.
"Kita makan mie rebus aja deh Ran." ujar Rita.
"Boleh deh ma," ucap Rani.
"Ada makanan dengan protein tinggi malah lebih milih makan makanan tanpa gizi!" ledek Habil.
"Dahlah. Aku malas debat," ujar Rani dan beralih menuju kamarnya.
***
Esok harinya Rani mulai mengeluarkan seluruh baju yang ia miliki dari lemari. Gadis itu memilah mana yang panjang dan pendek.
"Ini pink, ini putih. Bagus, cucok." ujar Rani memadukan warna-warna baju tersebut dengan bawahan yang cocok.
Rani pun menyusun kembali pakaian-pakaian tersebut di bagian menggantung baju.
Ia pun tersenyum dan mengambil handpohonenya. Ia menghubungi Keke, sampai saat ini mereka masih belum bisa menghubungi Zia. Barangkali sahabat mereka yang satunya itu masih sibuk membereskan tempat tinggal barunya.
"Haloha..." ujar Keke dengan suara tinggi.
"Lo mau buat gue budeg yaa!!!" tukas Rani.
"Hahaha. Ya enggaklah sahabatku yang cantik. Eh Ran, matiin dulu. Kita alihkan jadi panggilan video aja." ujar Keke dan mematikan sambungan telfonnya.
Panggilan video pun masuk ke dalam handphone Rani. Keke melambaikan tangannya pada Rani.
"Wait... si Zia lagi online. Gue tambahin," ujar Keke.
"Hallo semua... Ada tak yang kangen dengan Zia???" ujar Zia heboh.
"Kangen banget..." ujar Keke.
"Nih gue ajak tour Turki via vicall," ujar Zia mengarahkan kamera handphonenya ke sekeliling tempat tinggalnya.
"Subbahanallah...Cantik banget Zi..." ujar Rani terpesona.
"Iya... Seandainya bisa gue udah ngajak kalian tinggal di sini. Mana orangnya cakep-cakep." ujar Zia.
"Ya gitu. Jika mencermati dari fisik dan penampilan, pantasnya orang Turki kan orang bule yang tinggal berbatasan dengan benua Eropa, seharusnya sudah sangat fasih berbahasa Inggris. Nyatanya, 95 % orang Turki dikabarkan tidak bisa berbahasa Inggris. Fenomena ini merata di semua kalangan orang Turki. Mulai dari pedagang, petugas keamanan, pegawai bandara, bahkan mahasiswa pun kebingungan jika diajak bicara Inggris. Ya begitulah jadi pemandu wisata disini juga susah kalau cuman ngandelin bahasa inggris."
"Ya kalau gitu lo ikut les dong Zi." ujar Rani.
"Udah kok. Beberapa kata udah hapal luar kepala," ujar Zia tersenyum devil.
"Lihat kamus atau gunain google translate maksud lo?" delik Keke karena senyuman penuh makna dari sahabatnya.
"Sembarangan aja kalau ngomong! Nih contohnya merhaba artinya halo," ujar Zia menganggukkan kepalanya.
"Paling lo tau itu doang kan? Hahaha," ledek Keke.
"Sahabat sial*n!!!" delik Zia.
"Aihhhh... Kalian ini udah jauhan masih aja ngajak gelut!" amuk Rani.
"Ran. Sang pujaan hati lo udah berangkat ya?" tanya Zia.
"Hemm... Dedek galau nih," ujar Rani mengerucutkan bibirnya.
"Udah sabar aja. Nanti kalau jodoh nggak bakal kemana kok!" ujar Keke sembari memasukkan potongan apel ke mulutnya.
"Wah enak banget tuh buah apel. Baru lo petik yah Ke?" ujar Rani melupakan kesedihannya seketika.
"Iya ngambil dari kebun nenek. Nanti pas gue balik, gue bawain ke rumah lo." ujar Keke.
"Enaknya yang deketan... Apalah daya daku sendiri di sini." ledek Zia.
"Memangnya nyokap lo kemana Zi?" tanya Rani.
"Kerjalah kemana lagi. Gue besok udah masuk sekolah. Doakan sahabat kalian ini yah. Kali aja nemu cogan," ujar Zia mendramatisir.
"Cogan aja isi kepala lo!" delik Rani.
"Hahaha. Lo kek baru kenal Zia aja Ran. Gue juga mau minta doaain yang begitu sih. Hehe," cengir Keke.
"Allah.... Kenapa kepala kedua sahabat hamba isinya tak jauh dari lelaki!" ujar Rani gemas.
Zia dan Keke hanya tertawa bersamaan karena melihat mimik wajah Rani.
Panggilan lain juga masuk ke handphone Rani. Rani pun melihat ternyata El lah yang menelfonnya.
"Gaiss... Bentar, calon Imam nelfon. Gue tutup dulu ya?" tanya Rani.
"Cih. Sedarinya dia sendiri yang pangling gegara si babang." ujar Zia memutar bola matanya.
"Heem Zi. Gegara si babang, kita berdua terpinggirkan." ujar Keke mendelik Rani.
"Hehe, jangan begitu atuh. Nanti kecantikannya pada ilang gegara ngomel-ngomel." cengir Rani karena melihat kemarahan di wajah kedua sahabatnya.
"Ya udah sono aja tuh telfon si babang! Kita berdua aja kangen-kangenannya Zi." ujar Keke.
"Uluh-uluh. Nggak jadi kok, sahabat gue nomor satu urusan telpon-telponan." ujar Rani memamerkan deretan gigi putihnya.
"Bodo amat!!!" ujar Keke dan Zia berbarengan.
"Wkwkw... Kalian makin kompak aja." rayu Rani.
"Lo telfon aja tuh si babang Ran. Nanti daripada dia selingkuh," ujar Keke luluh.
"Iya Ran kita cuman bercanda kok. Gih telfon," ujar Zia.
"Hah? Beneran nih?" tanya Rani memastikan.
"Hemmmm," ujar keduanya serentak.
"Okey... Babay, assalammualaikum." ujar Rani girang dan mematikan vicall daru kedua sahabatnya.
.
.
.
.
Hai semuaaa..... author kangen... maafin author yaa baru up lagi.
author juga minta maaf mungkin ceritanya masih kurang berkesan.. hehe
Terima kasih semuanyaa 🥰🥰🥰