
Rani pun menggelengkan kepala mengingat kejadian kala itu. Semenjak pertemuan terkahir tersebut membuat Rani menjadi was-was ketika bertemu dengan El KW.
Gadis kecil yang kini sudah beranjak dewasa itu pun mengambil barang-barang yang akan ia bawa ke *** nanti. Rani pun menganga karena ternyata tasnya tidak muat untuk membawa selimut kesayangannya. Alhasil gadis itu pun mengeluarkan barang-barang yang sekiranya tidak akan berguna ketika di sana nanti.
Usai mengemas barang-barangnya Rani pun menghempaskan badannya ke kasur. Ia menatap langit-langit kamar. Memejamkan mata sejenak dan kembali menendang-nendang kasurnya. Ia takut kalau nanti tiba-tiba El datang ke sekolahnya dan diketahui majelis guru. Rani pun mengambil handphonenya dan mengetikkan pesan pada El.
Abang, kepercayaan adalah pondasi hubungan. Lagian papa ngizinin Rani pergi kok. Jadi abang tenang aja. Soalnya di sana ada Abil sama Kia juga. Lup you my future.
Rani pun menggeleng-gelengkan kepalanya karena kata terakhir yang ia ketikkan tersebut. Akan tetapi, demi *** tak apalah sesekali menyatakan kata-kata alay bak layangan kepada lelaki es di seberang sana. Siapa tau dengan begitu, es yang akan siap-siap membatu karena rasa cemburu akut itu sedikit melting. Usai itu, Rani memejamkan matanya dan memasuki alam mimpi indahnya.
***
Pagi harinya Rani terbangun untuk melaksanakan kegiatan ibadah dan mengecek barang-barang yang akan dibawanya kembali.
Setelah bersiap gadis itupun menuju ruang makan. Di sana para keluarga cemaranya sudah berkumpul. Jauh-jauh hari Rani memang sudah meminta izin ke kedua orang tuanya dan diizinkan.
"Barangnya ngga ada ketinggalan lagi sayang?" tanya Nugraha.
"Kayaknya engga pa. Ma, boleh Rani bawa cemilan?" tanya Rani.
"Boleh dong. Ambil aja di warung, nanti kalau mama yang milihin kamu kompalin." ujar Rita.
Rani hanya nyengir kuda karena jawaban yang diberikan dari sang pelita kehidupannya itu. Gadis itupun kenghabiskan sarapannya dan menuju warung Rita. Ia mengambil beberapa snack ringan tang rasanya bisa mengganjal perutnya di kala lapar.
"Kak. Lo seriusan bawa tas dua buah? Nanti repot loh." ujar Habil memperhatikan tentengan Rani.
"Ya begimana lagi. Kalau ngga dua tas. Selimut dedek kaga muat." ujar Rani.
"What??? Lo bawa selimut tebal segala? Lo mau kemah loh kak. Bukan piknik anak TK." tukas Habil tak habis pikir dengan kakaknya tersebut.
"Bodo amat. Yang penting nanti di sana gue ngga kedinginan." ujar Rani dan memeletkan lidahnya pada sang adik.
"Kamu ke sekolah papa antar aja." ujar Nugraha. Sebenarnya dalam hati kecilnya ia tak tega melihat anak gadis satu-satunya itu berpanas-panasan dan tidur di alam terbuka selama 3 hari 2 malam.
"Siap bos. Ayo berangkat pa, ma anak cantikmu ini berangkat dulu ya. Mmuachh," ujar Rani.
"Lotion anti nyamuk udah kamu bawa?" ujar Rita.
"Ngga usah deh mah. Rani bawa autan saschet aja daripada handbody ribet kotaknya." ujar Rani.
"Nanti kalau autannya ngga mempan dan pulang-pulang badanmu bentol-bentol jangan salahin mama yah." ujar Rita mencubit lengan anaknya.
"Iya-iya. Ayo pa... Assalammualaikum mamaku sayang," ujar Rani menyalami mamanya dan mencium pipi keluarganya satu persatu.
Rani pun sudah berboncengan dengan sang papa. Sudah sangat lama dia tidak di antarkan oleh sang papa ke sekolah. Mungkin terakhir kali Rani diantarkan oleh sang papa ke sekolah saat ia duduk di kelas 1 SMP.
Saat sampai di gerbang sekolah Rani, ternyata sudah banyak para orang tua yang mengantarkan keberangkatan anak-anaknya. Bus-bus parawisata pun sudah berjejer di parkiran sekolah tersebut.
"Iya pa. Rani naik ke bus dulu ya pa. Papa hati-hati kerjanya," ujar Rani dan menyalami tangan Nugraha.
Nugraha pun melihat putrinya memasuki bus dan baru beranjak pergi meninggalkan sekolah Rani.
Di atas bus para teman Rani sudah heboh saat melihat kedatangan Rani. Mereka mempersilahkan Rani duduk di bangku kosong yang ada.
Rani duduk di dereten tengah. Saat sedang meletakkan tas di tempat tas yang ada di bus. Rani tidak sengaja menginjak kaki orang yang duduk di sebelahnya.
"Sakit beg*k!" ujar Zikri.
"Ngapain lo disini?" tukas Rani.
"Ngawasin calon bininya bang El." jawab Zikri santai.
"Au ah gelap. Gue mau pindah duduk aja!!!" kesal Rani.
Gadis ingin mengambil tasnya kembali. Akan tetapi, Zikri menarik tangan Rani agar gadis itu duduk dan belum jadi Rani beranjak untuk berdiri kembali pindah tempat duduk. Bus kelasnya itu sudah jalan.
"Awas aja tuh es batu. Lagian lo kenapa sih bang mau aja jadi satpam dadakan!" gerutu Rani.
"Gaji gue sebagai satpam lo lebih gede dibandingkan uang jajan yang dikasih bokap. Jadi gue senang menjalani profesi ini." ujar Zikri tersenyum devil.
"Cih! Mata duitan!!!" ujar Rani kesal dan memutar bola matanya. Gadis itu juga menyelipkan tas di antara mereka berdua untuk dijadikan pembatas.
"Tambah sempit tau! Taroh aja tuh tas di bawah." keluh Zikri.
"Bodo amat. Kalau ngga suka, sono pindah!" ketus Rani dan memasang earphone ke telinganya sembari memejamkan mata.
"Dasar cewe judes!" dengus Zikri.
Rani tersenyum tipis karena mendengar kekesalan dari mulut El KW yang selaku menghantuinya selama di masa putih abu-abu ini.
Rani pun melirik ke arah Zikri, ternyata lelaki di sampingnya ini melakukan hal yang sama dengan dirinya memasang earphone dan memejamkan mata.
Rani pun memilih untuk memutar lagu-lagu dengan nada lembut di handphone nya begitupun dengan shalawat dan murotal Al- Qur'an.
Untuk menuju tempat kemah. Mereka harus melakukan perjalanan selama 4 jam dari sekolah itupun kalau tidak macet. Lokasi kemah kali ini adalah kota P tepatnya di pinggiran kota yang terkenal masih asri dan memiliki sejuta pesona alam. Lokasi ini dijadikan tempat *** karena saat ini warga desa sedang membangun pengairan agar warga desa tak perlu lagi menuju sungai untuk mandi dan mencuci atau sebagainya. Sehingga kepala sekolah akan meminta kepada seluruh murid untuk membantu warga. Desa ini masih jauh dari kata modern dan untuk bersekolah anak-anak dari desa ini harus pergi ke pusat kota P yang berjarak kira-kira 2 jam an dari desa.
Rani terbangun karena merasa guncangan-guncangan saat perjalanan. Ia menatap sekeliling hamparan sawah di kiri dan kanan jalan yang mereka lewati. Pantas saya bus terguncang tidak berjalan mulus seperti di aspal. Karena mereka sudah memasuki desa H yang jalanannya masih tanah dan dipenuhi krikil.
Rani menghirup udara sebanyak-banyaknya karena ia merasakan kesejukan di sana. Meskipun belakang rumahnya juga sawah, udara di desa ini sungguh bersih tanpa polusi.
Ia menatap sekeliling dan ternyata teman-temannya sudah berfoto ria di belakang bus yang baru saja berhenti.