
Sudah seminggu lebih Rani dan Keke bolak-balik dari rumah, sekolah, dan ke rumah sakit. Mereka tidak ingin Zia kesepian yang mungkin dapat mempengaruhi proses penyembuhannya. Sebenarnya mereka ingin menginap di sana. Akan tetapi, apalah daya bahwa peraturan di rumah sakit daerah itu yang hanya mengizinkan satu orang keluarga yang menemani pasien di malam hari.
"Mam, nanti Rani ke RS lagi yah. Bye-bye mamaku sayang," ujar Rani mencium pipi Rita dan ingin berlari keluar rumah
"Heh, dapet banget yah gaya orang luar. Bukannya ngucapin salam dan menyalami orang tua, malah nemplok pipi doang! Mau mama kutuk jadi emas?" omel Rita.
Rani yang tadinya berada di ambang pintu balik kembali dan menyalami sang mama, "Assalamualaikum mama cantik, di mana-mana anak durhaka dikutuk jadi batu mam, bukan emas!" ujar Rani.
Sang mama pun menarik kuping Rani, "Kalau emas bisa dijual sedangkan batu enggak! Sana berangkat, jangan lari-lari nanti kesandung kan repot," ujar Rita.
Rani pun meringis memegangi kupingnya yang masih terasa panas meskipun berada di balik hijabnya. Gadis itupun keluar rumah dan kembali berlarian, ia hanya memiliki 10 menit untuk kesekolah. Sedangkan hingga saat ini gadis itu belum mendapatkan ojol.
Rani pun berlarian menuju jalanan besar. Saat ia berlari ternyata ada seekor anjing yang mengejarnya, anjing itu adalah anjing golden retriever. Rani semakin histeris karena anjing tersebut terus saja menggonggong, menyebabkan dirinya terjatuh di pinggir jalan tersebut.
Meskipun Rani sudah tidak berlari, anjing tersebut masih mendekatinya, Rani pun kembali berlari, dan memanjat pohon rambutan yang ada di tepian jalan tersebut. Rani berusaha mengusir anjing dari atas pohon tersebut, bukannya pergi anjing tersebut justru duduk tepat di bawah pohon tersebut.
"Anjing baik, gue mau ke sekolah. Lo balik pulang yah! Nanti dicariin mama loh," ujar Rani berdialog dengan anjing tersebut.
"Guk... guk... guk...," suara anjing tersebut seperti suara anjing yang ingin bermain, anjing itupun memutar-mutarkan badannya di atas rumput.
"Ya Allah, emang kelewatan sifat hambamu yang satu ini," ujar Rani menatap tajam ke arah anjing di bawahnya itu.
"Lo mau main?" tanya Rani.
Anjing itu menatap Rani dengan mata mengibanya. Rani pun memberanikan diri untuk turun dari pohon tersebut. Dengan lutut yang tergores dan telapak tangan berdarah, dirinya melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan 07.30 artinya ia sudah terlambat.
"Nih gue kasih susu. Jangan ikutin gue lagi!" ujar Rani membukakan susu kotak yang ia miliki. Anjing tersebut meminum susu tersebut.
Rani berjalan tertatih menuju rumahnya, sesekali ia meringis karena lututnya nyilu dan kedua telapak tangannya terasa perih.
Saat sampai di rumah, ia disambut oleh omelan sang mama karena khawatir dengan kondisi Rani yang penuh luka.
"Ini semua gara-gara doa mama tadi pagi nih. Rani jadi kena apesnya karena nggak sopan sama orang tua," ujar Rani meringis karena Rita sedang mengolesi obat merah pada telapak tangan Rani.
"Haduh sayang, maafin doa jelek mamamu ini. Mana lagi yang luka?" ujar Rita.
"Di lutut ma...Kek nya robek dah tu lutut, rok Rani aja sobek," ucap Rani.
"Sini mama obatin!" Rita pun mengobati anaknya dengan sesekali meniup luka itu ketika Rani meringis.
"Yaudah sana istirahat, biar mama yang ngizinin kamu ke sekolah. Sekalian mama juga mau belanja," ucap Rita.
"Oke ma. Mama hati-hati perginya," ucap Rani menyalami sang mama.
Rani pun masuk ke dalam kamar dan mengganti bajunya. Ia pun mengabari Zia bahwa dirinya tidak bisa ke rumah sakit karena sedang sakit karena ulah seekor anjing. Ia pun mengabari Keke untuk pergi menemani Zia, sedangkan dirinya sendiri tidak apa-apa karena hanya mengalami luka-luka kecil.
Sementara itu, Rita sudah bersiap untuk berbelanja. Saat keluar rumah ia melihat El yang sedang lewat di depan rumahnya.
"Eh nak El kok nggak sekolah?" tanya Rita.
"Emm El besok mau ikut olimpiade terakhir ma. Jadi hari ini kebetulan libur," ucap El ramah sembari menyalami Rita.
"Wah kebetulan yah. Boleh mama minta tolong?" ucap Rita.
"Minta tolong apa ma? Kalau El bisa bantu bakal El lakuin," ucap El.
"Itu... emm... Kamu tolong temani Rani di rumah ya? Tadi anak itu habis di kejar anjing terus jatuh di aspal, sekarang tangannya luka. Takutnya kesulitan mau ngapain-ngapain, mama pergi ke pasar sebentar terus ke sekolah Rani. Kamu mau kan?" ucap Rita.
"Yaudah kamu masuk aja yah. Mama berangkat dulu," ucap Rita.
El pun mengangguk dan menuju rumah Rani. Lelaki itu melihat bahwa pintu rumah terbuka lebar, ia pun membaca salam dan masuk ke rumah tersebut. Ia duduk di ruang tamu, saat sedang menatap ruang keluarga. Dirinya menemukan gadis kecilnya tidur di kasur santai yang ada di sana, gadis itu tidur terlentang dan tampak banyak hansaplast di telapak tangan siku dan lututnya.
El mendekati Rani, ia pun melihat gadis kecilnya yang tidur dengan lelap. Ia menepikan rambut-rambut halus Rani yang menutupi wajah cantik itu, tanpa ia sadari bibirnya sudah menempel di kening gadis kecil itu.
"Cepat sembuh gadis kecilku," ucapnya pelan.
Apa yang lo lakuin sih El! Sadar... Belum boleh! batin El, ia pun segera beranjak saat Rani mengeliatkan badannya.
Rani yang tadinya terlelap merasakan kecupan di jidatnya, namun ia mengira itu hanya mimpi. Ia pun membuka matanya, karena mendengar langkah cepat seseorang menjauhi dirinya. Rani pun mendudukkan badannya, meregangkan ototnya yang nyeri semua. Saat menghadap ruang tamu ia melihat El yang sedang bermain handphone. Rani pun kaget bukan main, kenapa lelaki itu bisa ada dirumahnya?
"Emm.. Ngapain lo disini bang?" tanya Rani menghampiri El perlahan.
"Disuruh nyokap lo buat jagain anak TK yang habis dikejar anjing," ucap El tanpa mengalihkan matanya dari layar handphone.
"Enak aja gue dibilang anak TK! Lo tu yang ketuaan!" ucap Rani kesal.
Ia pun meninggalkan El, dirinya sangat haus dan ingin mengambil air minum dalam lemari es. Apalah daya tangannya sangat sakit, membuka lemari es saja ia meringis.
El yang melihat itu pun membukakan lemari es untuk Rani. "Lo mau apa?" tanya El.
"Mau minum, lo kalau mau ambil aja bang!" ucap Rani meraih botol air mineral yang selalu ia simpan di lemari es.
El pun mengambil botol lainnya, karena ia butuh air untuk meredakan ledakan jantungnya sedari melihat Rani tidur dan malu dengan perbuatannya yang sempat-sempatnya mencari kesempatan dalam kesempitan, apalagi saat gadis kecil itu tidur.
Rani pun menghidupkan televisi untuk menghindari keheningan di atas rumah. Ia sadar bahwa saat ini hanya mereka berdua yang ada dalam rumah. Rani tidak pernah menghadapi situasi yang seperti ini, ia juga merasa gugup ketika jantungnya berpacu saat melihat El tadi.
Rani berusaha membuka botol air mineralnya, akan tetapi ia tidak bisa. Gadis itu mengarahkan tutup botol itu ke giginya dan menggigit tutup botol tersebut sampai terbuka.
"Cih! Disini masih ada manusia, lelaki pula. Nggak ada jaga-jaga image sedikit pun," ujar El menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rani.
"Bodo amat dengan image! Gue haus," ucap Rani meminum airnya.
Keduanya pun hening tanpa pembicaraan, hanya suara ftv yang menghiasi ruangan itu.
Sial banget hidup gue hari ini! Kenapa pula filmnya film cinta-cintaan, batin Rani melihat adegan seorang lelaki mengecup kepala wanitanya yang sedang di rawat di rumah sakit. Ia pun melirik El, ternyata lelaki itu masih fokua dengan handphonenya. Fiuhh, untuk si es batu nggak lihat, ucap Rani mengelus dada. Ia pun mengganti siaran televisi tersebut.
"Makanya kalau masih kecil itu nonton di channel anak aja! Supaya nggak ngeliat film untuk orang gede," tukas El menatap Rani.
"Dih... Gue udah gede kali! Suka-suka gue mau nonton apa aja!" ucap Rani, ia pun menonton channel si bocah kembar seiras itu biasa yang selalu memakai baju kuning dan biru.
El menggelengkan kepalanya, baru saja gadis itu komplain mengatakan bahwa ia sudah besar. Justru sekarang tontonannya adalah film yang memang untuk anak kecil.
Rani tertawa lepas melihat adegan di film tersebut. El pun merasakan kebahagiaan di dalam hatinya ketika melihat gadis kecilnya tertawa, diam-diam El memotret Rani menggunakan kamera handphonenya, foto Rani tersebut ia jadikan latar chat whatsappnya.
.
.
.
Terima kasih udah mampir 🥰🥰🥰