
~MODUS ALA EL
“Saya sebagai ketua panitia pada Bulan Ramadhan kali ini ingin mengenal seluruh anggota terlebih dahulu, teman-teman semua bisa memperkenalkan diri dan mengisi biodata diri di dalam buku ini terlebih dahulu. Tambahannya yaitu nomor telepon, untuk mempermudah menghubungi ketika ada rapat ke depannya,” tutur panjang sang lelaki.
Lelaki tersebut masih menatap Rani sembari berbicara. Duar...duar dor. Nih jantung kenapa sih kayak gunung meletus saat menatap mata gadis kecil itu, apalagi senyuman manisnya. Ah gue mulai nggak normal nih, atau memang pesonanya dan wajah polosnya itu yang buat hati gue bergejolak begini saat menatapnya yah. Lirih El dalam hatinya.
“Lah El, kok tumbenan pakai nomor hp segala?” tanya Tegar kepada temannya ini.
“Yah pelajaran dari tahun kemarin, gue rasa perlu ada nomor handphone untuk mempermudah menyamakan jadwal,” tutur El, ia masih saja memperhatikan gadis kecil yang mengenakan mukenah putih tersebut.
Oh Tuhan apakah ini bidadari dunia yang Engkau turunkan untuk menutupi kegundahanku?. Tanya El dalam hatinya.
Asik dengan pikiran sendiri ia tersadar saat ada bisikan dari kirinya.
“Udah puas lo liatin adek gue, mau lo gue gorok! Laksanakan tugas lo dulu dong bro. Nanti gue bantuin dah,” ucap Randi kepada El.
El pun kembali berbisik kepada Randi, “Barusan gue denger bisikan setan,” ucap El yang membuat temannya ini melotot padanya tetapi tidak dipedulikan oleh El.
“Baiklah kita mulai ya perkenalannya dari saya searah jarum jam. Nama Saya Immanuel, bisa dipanggil El, kelas 3 SMA,” ucap El.
Perkenalan itu pun berlangsung, hingga sampailah di giliran Rani.
“Emm, assalammualaikum wr,wb. Perkenalkan nama saya Maharanisya, bisa dipanggil Rani. Kelas 3 SMP, ” ucap Rani dengan sedikit gugup.
“Apakah ada yang ingin ditanyakan kepada Rani?” ujar El.
“Ehem, saya mewakili teman yang sebenarnya kepo. Kamu udah punya pacar belum Ran?” ujar Randi pada Rani.
Pertanyaan ini sukses membuat semua orang yang ada di sana tertawa, termasuk pengurus mesjid.
Rani membelalakkan matanya pada Randi, kesal karena abang yang dianggapnya akan membantunya selama jadi panitia justru menyulitkannya. Ia memicingkan matanya pada Randi seakan menyiratkan awas lo bang pulang dari sini gue diemin.
Randi yang melihat tatapan Rani itupun nyengir kuda. Rani pun kembali ke keadaan normalnya agar orang lain tak mengetahui kekesalannya. Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tuh Bro. Lo liat sendiri kan,” ujar Tegar menepuk bahu El. Membuat semua orang kembali tertawa melihat hal itu.
Rani menjadi malu karena baru awal pertama kali dia ingin bersosialisasi, justru kejadian inilah yang ia dapatkan. Sungguh malu saat ditanyakan hal tersebut di depan orang banyak bagi Rani. Wajah putihnya pun merah menahan rasa malu yang ia rasakan. Telinganya pun ikut memerah dan memanas akibat mendengar tawa orang-orang tersebut.
“Haha, baiklah karena pembahasan inti sudah selesai, saatnya pembahasan anak muda. Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu. El lanjutkan ya, dan pastikan anak-anak gadis ini aman pulangnya, saya pamit wassalammualaikum” saut sang pengurus mesjid dan meninggalkan mereka semua.
“Baik pak, terima kasih sudah meluangkan waktunya pak,” ujar El.
Mereka semua pun menjawab salam dari pengurus. Kemudian, beralih ke penyusunan jadwal yang akan menjadi MC setiap malamnya sebelum ustad datang, dan memperkirakan tanggal-tanggal yang mungkin untuk mengadakan acara menyambut hari turunnya Al-Quran.
Pukul 12.00 WIB rapat pada malam hari itupun berakhir. Rani pun menarik sarung di leher Iwing agar temannya ini mengantarnya pulang.
“Lo harus nganter gue pulang,” titah Rani.
“Iya Rani.....lepasin dulu! Gue kecekek,” ucap Iwing yang memegangi sarung yang ditarik Rani tersebut agar tidak mencekik lehernya.
“Sari Wulan hati-hati yah,” ujar Rani.
Mereka yang sedang asik berempat di pintu mesjid mendapatkan deheman dari seseorang. Membuat mereka menoleh ke arah suara tersebut.
“Adik-adik pulangnya kemana?” ujar El.
“Kalau kita berdua ke cimonai bareng kakak-kakak dan abang-bang yang lain bang, kalau Rani sama Iwing ke rumah Rani dulu disebelah,” ujar Sari.
“Oh gitu yaudah hati-hati. Kamu Iwing kan, ayok kita ngantar Rani. Nanti kamu pulang sama saya,” tutur El.
“Ayok dah bang, saya juga takut pulang sendiri abis nganter Rani,” ucap Iwing, sedangkan Rani hanya terdiam mendengarkan pembicaraan kedua lelaki tersebut.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan, dengan Iwing di tengah. Rani yang memang kedinginan segera meminta kain sarung milik Iwing.
“Gue juga kedinginan Ran,” keluh Iwing pada sahabatnya yang sifat manjanya kumat ini.
“Kamu kedinginan, ini pakai kain sarung saya aja,” ucap El yang mendengar Rani dan Iwing berbicara.
“Hehe, nggak usah bang, cuman dingin dikit. Bentar lagi juga sampai,” ucap Rani. Ia pun menginjak kaki Iwing, membuat temannya itu mengaduh kesakitan.
“Ehmm... udah sampai nih bang, gue duluan ya. Makasih udah nganterin. Hehe,” ujar Rani dan langsung berlari ke arah rumahnya tanpa menoleh ke arah dua lelaki tersebut.
“Iya Rani, gue mah apa atuh ditinggalin aja langsung” ujar Iwing. Tetapi tidak diacuhkan oleh Rani.
“Maafin temen gue yak bang, dia memang kelewatan nyebelin kadang-kadang, tapi yah gimana lagi dia temen kesayangan gue. Hehe,” ujar Iwing menjelaskan kondisi yang mungkin memuat orang disebelahnya ini bingung.
“Santai aja, oh ya rumah lu dimana dek?” tanya El.
“Arah bawah bang,” ucap Iwing.
Sepanjang perjalanan pun mereka membahas banyak hal mulai dari hobi, asal sekolah, dan ujung-ujungnya mengenai Rani. El sangat penasaran dengan sifat gadis manisnya itu. Modus pertamanya tadi dengan meminta nomor telepon semua anggota panitia, padahal sasarannya cuman nomor Rani. Berlanjut ke sebentar ini, alasan pingin memastikan anggota aman, padahal mah modusnya pingin liat Rani lebih lama.
***
Sesampainya di rumah
“Ah sial, gadis ini bikin gue penasaran setengah mati,” keluh El membanting tubuhnya ke tempat tidurnya.
Di grup chat pemuda cool pun telah banyak pesan yang masuk.
*Randi : Oi El, modus mulu lo. Ngaku deh sama kita-kita!
Tegar : Wah-wah gila anak SMP mau diembat juga.
Dodo : Adek gua itumah bro, awas lo macam-macam ! (dengan stiker pisau)
Alan : Orangnya mana nich?
Randi : P
Randi : P
Randi : P
Randi : P
Randi : El
Randi : El
Randi : El
Randi : Oi El.
Alan : Wah awas lu El. Kalau tu anak cantik lo jadiin pelampiasan karena Siva!
Tegar : Apa Lan? Pelampiasan?
Randi : Waah...wah, bener-bener lu El. Ngajak betumbuk kalau sampai gitu ke adek gue!
El : Apaan sih, berisik tau nggak ! Sono pada tidur lo pada. Jangan urusin urusan gue!!!
Dodo : Yah bro lo bilang gitu setelaah sekian lama kita berteman dari zaman orok, sialan lu!
Alan : Ih babang El tega, aku benci. Benci. Benci
Randi : Njirr, jijay gue baca chat lu siAlan.
Tegar : Bubar-bubar besok dah dibahas lagi babang udah ngantuk nih.
El : Sono pada tidur lo, nanti nggak puasa alasannya nggak sahur.
Dodo : Sans Bro, santai...kita memang tak sekuat elu imannya. Tapi kita nggak pedofil yah
Randi : ****** lo, ahahah El yang cool seorang pedofil.
El : Bodo amat. Nggak peduli gue.
Alan : Insyaflah wahai manusia, jika dirimu ternoda.
Tegar : Njay, jangan lagi lo nyanyi siAlan.
Keributan dalam grup itupun hening seketika. El kembali ke dalam pikirannya, ia sangat menantikan hari esok datang secepatnya*.