
Matahari sudah beranjak jauh dari tempat terbitnya. Akan tetapi Rani dan Zia masih berada dalam alam mimpi mereka hingga suara amukan dari Keke mengganggu gendang telinga mereka.
Keke sengaja membuka lebar tirai jendela agar kedua sahabatnya segera bangun. Karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Berarti waktu mereka tinggal setengah jam sebelum bel sekolah berbunyi dan gerbang sekolah dikunci.
"Ya Allah berikanlah hidayah-Mu kepada dua sahabatku ini," ujar Zia menarik selimut yang menyelimuti kedua sahabatnya.
"Hoam...Ribut amat sih Ke!!! Memangnya sekarang jam berapa?" tanya Rani.
"Tiga puluh menit lagi!" titah Keke berteriak di telinga Zia.
"What???" Keduanya pun ngacir ke kamar mandi.
"Kok lo ikutan masuk sih Zi?" tanya Rani melirik Zia yang membututinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Elah Ran... Gue nggak bakal ngintip! Sono mandi aja! Gue cuman bebersih doang, ngga perlu mandi," ujar Zia menggosok gigi di depan kaca yang ada disana.
"Dih! Ke sekolah kok ngga mandi. Percuma aja tuh wajah doang yang cantik!" tukas Rani mengejek sahabatnya itu.
"Di saat genting seperti ini kita harus memanfaatkan mahakarya dari pencipta parfum!" ujar Zia tertawa.
"Kenapa memangnya?" ucap Rani.
"Iya dong! Secara kita harus ngucapin terimakasih karena dengan parfum yang ia ciptakan bisa menghilangkan bau tak sedap sedari bangun tidur!" ujar Zia.
"Suka-suka lo deh Zi! Awas lo ngintip!" ujar Rani.
"Heh! Jangan ngerumpi kalian di dalam sana! Buruan!!!" terdengar jelas teriakan dari sahabatnya itu.
"Buruan deh Ran!" ujar Zia.
Rani pun akhirnya menurut dan memulai ritual mandi kilatnya. Siram 2 kali, beri sabun sekeliling, siram lagi, cuci muka, gosok gigi. Mungkin ritual mandi ini sangat cocok dilakukan oleh anak kosan yang sedang berhemat air ketika mati lampu.
Usai bersiap mereka pun bergegas untuk mencari angkot karena tidak mungkin bisa mendapatkan tiga ojol sekaligus.
***
Sesampainya di sekolah, ketiganya harus menerima nasib buruk.
"Yah, gerbangnya udah tutup!" ujar Keke, ia pun mendelik sebal kepada dua sahabatnya yang hanya cengar-cengir.
"Pssttt...Kalian di sana! Ayo ikut kita," bisik dua orang lelaki yang terdengar oleh ketiga gadis itu.
Ternyata di sana sudah ada Adit dan Ari. Mereka berada di sela sempit pembatas antara SMP dan SMA 1 Kota Batus. Rani, Keke, dan Zia pun mengikuti para lelaki itu.
"Lewat dari sini kita bisa langsung nyampai di kantin!" ujar Ari.
Rani dan kedua sahabatnya itupun melongo melihat gang sempit itu yang hanya pas-pasan untuk satu badan orang lewat.
"Kenapa kalian bisa tau kalau ini jalannya?" tanya Rani.
"Dikasih tau senior yang se tim bola sam kita. Soalnya kalau sore gerbang sekolah sering tutup," ujar Ari.
"Nanti kalau ketahuan guru gimana? Haduh di gantung di tiang bendera nih gue sama bokap!" ujar Keke.
"Tenang, nggak mungkin ada guru. Sekarang kan sedang upacara," ujar Adit.
"Terus kita nanti ke lapangan gimana? Nantikan bakal ada absen pagi," ujar Zia.
"Tinggal bilang aja habis dari kamar mandi. Gampang kan?" ujar Ari.
Ketiga gadis itu pun mengangguk. Mereka pun sudah sampai di kantin sekolah. Dan menitipkan tasnya di kantin. Mereka secara bergantian menuju lapangan, karena ketika upacara kantin sekolah ini tepat berada di seberang barisan paling belakang.
"Darimana kamu Ran?" tegus Pak Ucup.
Mampus gue...Ya Allah maafkan hamba-Mu yang harus berbohong ini, batin Rani "Emm...Dari kamar mandi pak," ujar Rani, guru itupun mengangguk dan meninggalkan Rani. Rani pun mengelus dadanya dan menuju barisan kelasnya.
"Untung gue nggak ketahuan," bisik Rani kepada Keke yang berbaris di depannya.
"Tadi Pak Ucup lewat, fiuhh... Hari masih pagi, lah catatan dosa gue di malaikat Atid udah ada satu!" ucap Rani.
"Besok-besok gue nggak mau lagi telat kek tadi," ujar Zia yang berada di samping Rani.
"Heleh, padahal mandi juga enggak masih aja lamaan lo dari si Rani!" ujar Keke.
"Hei, kita itu baru bisa tidur nyenyak semalam. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian bulan purnama lo kembali ke habitat! Jadi pas kita tidur nggak harus jadi bola ataupun mendengar dengkuran keras lo!" ucap Zia mencubit pelan lengan Keke.
"Dih!!! Kapan gue ngorok? Secara gue kalau tidur kayak bayi lucu!" bela Keke.
"Bayi lucu dari Hongkong! Bayi ngamuk yang ada," tukas Rani.
"Sssttt! Perhatiin omongan Kepsek di depan!" ujar seorang anggota OSIS.
Ketiganya pun bungkam tak melanjutkan perdebatan mereka. Kini mereka fokus menghadap lurus ke depan, mendengarkan apa yang di ucapkan oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan itu alias papanya Keke.
"Seluruh murid boleh meninggalkan lapangan kecuali murid kelas 3!" ucapnya.
Seluruh siswa pun bubar kecuali kelas tiga. Banyak di antara mereka yang mengeluh capek dan panas.
"Bapak tau kalian lelah. Oleh karena itu, kalian bapak izinkan mengemper di lantai karena banyak pengumuman yang akan di sampaikan," ucapnya.
"Pengumuman pertama, waktu yang kalian miliki di sekolah ini tidak akan lama lagi hanya tinggal 2 bulan," ujar wakil kepala sekolah.
"Kenapa pak?" sorak salah seorang murid kelas 3.
"Karena setelah 2 bulan kalian akan melaksanakan ujian nasional," ucap wakil kepala sekolah.
Seluruh murid kelas 3 itupun menjadi rusuh. Mereka menyoraki keputusan itu, ada yang bertanya kenapa cepat sekali dan pertanyaan lainnya.
"Kalian tidak bisa komplain karena ini sudah menjadi keputusan dari pemerintahan pusat. Kalau komplain silahkan demo ke gedung DPR!" jawab wakil kepala sekolah tersenyum.
"Selanjutnya, kabar buruk untuk kita semua termasuk untuk kami para guru. karena harus segera mengirimkan nilai praktek, nilai TO 2, dan nilai TO 3 kalian. Oleh karena itu, selama 3 minggu ke depan kalian akan melaksanakan ujian-ujian tersebut. Untuk jadwalnya nanti akan di tempelkan di mading sekolah. Selain itu, karena kalian sudah detik-detik darah penghabisan semasa SMP. Mulai dari minggu ini, seluruh kegiatan sekolah tidak mengizinkan lain siswa kelas 3 untuk mengikutinya!" ucap wakil kepala sekolah.
"Yah pak....Kok ekstrakulikuler kita semua dihentikan tiba-tiba?" tanya seorang murid.
"Kalian harus fokus belajar! Mulai besok akan di adakan jam pelajaran sore. Jangan lupa untuk membawa bekal dari rumah!" jawab wakil kepala sekolah.
"Baiklah, sekian pengumuman untuk kalian. Silahkan masuk ke kelas masing-masing dan fokuslah untuk belajar! Semoga kalian semua bisa mengharumkan nama sekolah dengan prestasi yang di raih nanti!" ucapnya.
Para siswa pun bubar dan menuju kelas masing-masing. Sementara Rani, Keke, dan Zia menuju kantin untuk mengambil tas mereka.
"Loh! Kenapa tas kalian ada di kantin?" ujar Bu Pik.
Ketiga gadis ini pun menelan ludah kasar. Kenapa mereka harus bertemu dengan guru sejarah yang killer ini. Mereka memang tidak pernah belajar dengan guru itu. Akan tetapi, kekilleran dari dosen ini sudah menjadi perbincangan hangat publik saat di kantin.
"Kita...Kita...Emmm tadi pas nyampe di sekolah langsung ke kantin bu. Soalnya saya belum makan," ujar Rani kembali berbohong.
"Memangnya rumah kamu di mana? Kenapa nggak sarapan sebelum sekolah?" tanya guru itu.
"Rumah saya jauh dari sini bu. Kebetulan kedua sahabat saya juga menginap di rumah, makanya kami nggak sempat sarapan bu," ujar Rani
"Yaudah sana masuk kelas! Awas kalau kalian keliaran di saat jam pelajaran!" ujar guru tersebut sembari menggoyang-goyangkan penggaris kayu papan tulis yang ada di tangannya.
"Enggak kok bu, kami pamit dulu bu..." ucap Rani menyalami guru tersebut dan melarikan diri menuju kelasnya.
Mereka pun sudah berada di kelasnya tercinta. Beruntung guru mata pelajaran pertama belum sampai di kelas, sehingga mereka tidak akan mendapatkan sidang yang kedua kalinya dari guru.
"Gila...Udah bertambah lagi dosa gue!" ucap Rani kesal.
"Hehe, mau gimana lagi Ran. Tiba-tiba aja bibir gue kayak ada perekat, makanya nggak bisa jawab pertanyaan ibuk itu!" cengir Zia.
Rani hanya mendengus kesal kepada kedua sahabatnya. Kepalanya saat ini sudah sangat penuh pertama telat ke sekolah, membohongi Pak Ucup, ditambah dengan ucapan pengumuman tadi, berakhir dengan sidang dari guru killer.