Before I Found You

Before I Found You
BIFY 71



Hai semua.....author kali ini ingin nyapa di awal. Author ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat para pembaca Setia 🥰🥰🥰


Semoga tidak bosan dengan cerita Rani dan El. Author akui alurnya memang lambat, akan tetapi ya nikmatin aja dulu masa cinta-cintaan anak SMP dan SMA siapa tau bisa nostalgia hehehe...


Oke...untuk episode ini bakal kerasa deh deh kalau ditambah dengan mutar lagu ngehits dari negara kita 😉😉😉


***


"Lo mau kemana dek?" tanya Santun yang melihat sang adik sudah stylish.


Sesuai dengan ucapan Santun kemarin bahwa apabila Rani sudah membesuk El, maka tubuh adiknya itu akan sembuh sendirinya. Mungkin perhatian yang diberikan oleh Rani bagaikan obat penawar segala penyakit yang ada dalam tubuh El.


"Kepo amat lu kak!" ujar El memainkan gantungan kunci motornya do telunjuk. Lelaki itu bersenandung kecil.


"Wah dasar adek durhakim lu!" ujar Santun memukul kepala sang adik.


"Gue mau ngajak Rani jalan. Bye-bye kakakku yang jones!" ucap El berlari keluar rumah.


Santun ingin mengejar sang adik yang selalu membuatnya kesal itu. Akan tetapi bunyi mesin motor telah menandakan bahwa El sudah berangkat.


"Awas lo pas pulang. Melayang nih perabotan rumah ke kepala lo yang secerdas Albert Einstein itu!!!" tukas Santun kesal.


***


Saat sampai di rumah Rani. El melihat gadis kecilnya sedang nangkring di atas pohon jambu yang ada di depan rumah Rani.


"Ya Allah Ran...Kenapa sih gue bisa suka sama cewek yang beginian!" ucap El keras.


"Dih!!! Emangnya gue kenapa?" tanya Rani sembari memakan buah jambu.


"Ya gitu. Nggak ada gambaran cewek sedikit pun!" tukas El.


"Diem lu bang! Nanti gue sumpahin sakit lagi mau lo?" delik Rani.


"Turun gih! Ayo kita belajar," ajak El.


"Nggak!!! Hari ini libur, sana lo balik pulang! Gue nggak mau dibilang murid nggak ada akhlak karena udah buat gurunya sampai sakit," ucap Rani yang memanjat pohon semakin tinggi.


"Gue udah sehat Maharanisya!" ucap El.


"Sana pulang ke rumah lo! Lagian anak-anak juga nggak ada yang datang," ucap Rani, gadis itupun berniat menjahili El dengan melempar sisa jambu yang telah ia gigit ke kepala El.


"Lo!!! Awas lo ya!" ujar El.


"Apa?? Wleek, mau bales gue? Coba aja tangkap!" ejek Rani dari atas pohon.


"Lo lihat nih babang El manjat!" ujar El.


Lelaki itu pun mengambil ancang-ancang ingin memanjat pohon. Akan tetapi ia lupa membuka sepatunya, alhasil pada pijakan pertama El gagal untuk naik.


"Hahaha...Dasar lemah! Manjat ini anda lo nggak bisa bang," ejek Rani kembali melempari El dengan jambu kecil.


"Auh...Sakit Ran! Awas lo ya," ujar El segera melepas sepatunya.


Ia ingin kembali memanjat pohon, di pijakan pertama ia berhasil hingga kebijakan ketiga ia tidak menemukan tempat meletakkan kaki yang pas alhasil dirinya pun jatuh ke tanah.


"Mampus tuh! Sakit bang?" tanya Rani cemas, ia melihat lelaki itu tergeletak di tanah.


El hanya diam, ia ingin balik mengerjai Rani.


"Woi bang! Bangun lo! Hei... Jangan mati di depan rumah gue! Nanti lo jadi pengganti si kunti yang penunggu pohon ini," ujar Rani melempari buah jambu kecil-kecil ke wajah El.


Melihat tak adanya pergerakan dari El, Rani pun memilih untuk turun ke bawah. Ia cemas bahwa lelaki itu benar-benar pingsan atau bisa jadi geger otak. Di tambah lagi ia baru sembuh dari sakitnya.


Rani turun dengan terburu-buru, membuat ia pun ikut terjatuh. Rani tak sengaja menginjak tulang kering El yang tergeletak membuat lelaki itu berteriak kesakitan.


"Aaarrghhh.... Kaki gue patah!" teriak El.


"So....sorry... Gue nggak sengaja! Eh tapi kok bisa bangun?" ujar Rani heran.


"Siapa juga yang pingsan!" ucap El yang masih meringis kesakitan sembari memegangi kakinya yang diinjak oleh Rani.


"Wahhh... Lo niat nipu gue ya bang? Awas lu yak!" tukas Rani kembali menginjak kaki El yang sebelahnya. Namun naas, Kaki Rani terpeleset.


Rani pun menimpa El yang masih duduk. Membuat mereka terbaring di tanah. Tatapan mata keduanya beradu. Mata cokelat milik Rani bertemu dengan mata hitam legam El.


Detakan jantung keduanya berdentuman. Sedetik dua detik mereka masih bertatapan. Rambut Rani yang terurai berterbangan mengenai pipi El karena tiupan angin sore. Musik dari handphone Rani pun terdengar karena sedari tadi tadi Rani menggunakan headset untuk mendengarkan lagu di atas pohon jambu.


~ Andmesh : Kumau Dia


Kuharap semua ini bukan sekedar harapan


Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan


Biarkan kumenjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya


Jadi saksi cinta kepadanya


Tak main-main hatiku


Apapun rintangannya kuingin bersama dia


Kumau dia tak mau yang lain


Kumau dia walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Biarkan kumenjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya


Jadi saksi cinta kepadanya


Tak main-main hatiku


Apapun rintangannya kuingin bersama dia


Kumau dia tak mau yang lain


Kumau dia walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Bukan ku memaksa oh Tuhan


Tapi ku cinta dia


Kumau dia


Ku mau dia


Dan hanyalah dia


Ku mau dia tak mau yang lain


Kumau dia walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Bukan ku memaksa oh Tuhan


Tapi ku cinta dia


Ku mau dia


Hanyalah dia


Ku cinta dia


Ketika lagu itu berhenti. Keduanya baru tersadar. Rani pun segera bangkit ia pun merapikan rambutnya yang berantakan. Sementara El berusaha untuk berdiri, akan tetapi kakinya terasa sangat perih ketika akan digerakkan. Melihat hal itu pun, Rani segera mengulurkan tangannya untuk membantu El berdiri.


El pun meringis kesakitan, Rani pun merangkulkan tangan El ke bahunya. Ia pun membawa El untuk duduk di bangku yang ada di dekat pohon jambu itu. Kemudian ia memegangi kaki El yang tadi terinjak oleh dirinya, dan memijat kaki itu perlahan.


"Makanya, kalau mau ngerjain orang lain itu kira-kira dulu. Sekarang lo rasainkan akibatnya!" ucap Rani.


"Dih. Badan lo tu yang keberatan! Tulang kaki gue rasanya mau patah," ucap El masih meringis.


Mendengar kalau dirinya berat. Membuat Rani menekan keras kaki El yang sakit, sehingga lelaki itu pun kembali berteriak.


"Lo aja yang lemah jadi cowok! Badan gue yang imut ini aja lo nggak bisa mapahnya!" ucap Rani.


"Ceh!!! Pede amat nih orang!" ucap El.


"Argh... Sabar Rani....Sabar... Kalau ngomong sama orang tua itu harus sabar, " ucap Rani mengelus dadanya.


"Lo bilang gue tua?" ujar El.


"Iyalah. Lo itu tua, pertama manjat pohon nggak bisa, kedua lo nggak bisa nahan beban badan gue, ketiga nih buktinya jalan aja mesti di papah dulu!" ujar Rani ketus.


Melihat kemarahan Rani justru membuat El tertawa, komat-kamit yang tampak dari bibir gadis kecilnya itu terlihat lucu.


"Hahahaha... Terus aja lo ngomel kek nenek-nenek!" ejek El.


"Ketawa aja lo terus! Dasar kakek tua!" ucap Rani.


"Nenek!" ejek El.


"Iiihhhhhh... Ngeselin amat sih lo bang!" ucap Rani mencubiti lengan El.


El justru menghindari badannya dari cubitan Rani. Ia tertawa melihat tingkah kekanakan dari gadis kecil di hadapannya. Mungkin inilah yang dirasakan ketika menjalani hubungan dengan orang yang usianya lebih kecil, karena dapat membuat tingkah kita tak jauh berbeda dari dirinya.


"Rani.... El... Udah bercandanya, suara kalian kedengeran sampai ke dalam rumah!" teriak Rita.


"Gara-gara lo gue dimarahin emak!" ucap Rani menatap tajam pada El.


"Lo juga yang salah!" ucap El.


"Lo!!!!" ucap Rani menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam rumah.


El pun menyusuli Rani dengan langkah perlahan. Kakinya masih terasa sedikit perih. Saat di dalam rumah keduanya pun belajar.


***


"Besok gue udah ujian praktek bang. Jadi kita break aja belajarnya dulu! Lagian lo juga butuh perhatiin diri lo sendiri. Jangan ngurusin nilai kita doang!" titah Rani


"Gue meskipun nggak belajar mati-matian bakal tetap juara kok!" ucap El membanggakan dirinya.


"Cih jiwa narsisnya kumat lagi!" ucap Ran pelan.


"Lo bilang apa barusan?" tanya El.


"Ngedumel aja. Nggak penting juga, sono lo balik pulang. Hati-hati ya," ujar Rani melambaikan tangannya pada El yang saat ini sudah duduk di atas motor besarnya.


"Salim dulu!" ujar El menggoyang-goyangkan telapak tangannya pada Rani.


"Dih...Lo kira lo bokap gue?! Nggak ada salim-saliman!" ujar Rani memutar badannya ingin kembali masuk ke dalam rumah.


El pun memasang tampang kecutnya. Ia merasa kepintarannya menurun semenjak bertemu dengan Rani. Ia selalu ingi bersama gadis kecil itu setiap saat, seperti saat ini ia masih menunggu Rani menutup pintu rumahnya baru El melajukan motornya untuk pulang.


.


.


.


Terima kasih udah mampir 🥰🥰🥰