Before I Found You

Before I Found You
BIFY 85



"Lo dah nyampe rumah kan Ran?" ujar Zia dari seberang telefon.


"Heem...Udah, ini gue lagi bersihin make up sialan! Gimana sih Zi caranya? Dari tadi gue lap pakai tisu tambah meleber yang ada!" gerutu Rani.


"Hahaha... Masak make up lo umpatin segala. Makanya bersihin tuh make up pakai tisu basah! Tapi kalau mau cepet lo bersihin pakai air anget!" ujar Zia mentertawakan Rani.


"Ya gue kan nggak suka beginian. Waktu tampil juga make up nya gampang di hapus. Ini sudah berjam di depan cermin belum juga kelar," ujar Rani dengan nada tinggi.


"Yaudah lo pakai aja air anget!" ujar Zia tak kalah emosi.


"Kok lo jadi nyolot?" tukas Rani.


"Lo duluan yang nyolot!" ujar Zia.


"Lo!" ujar Rani.


"Lo!" Zia.


"Aih udah deh! Lo kenapa nelfon gue?" ujar Rani.


"Hampir juga lupa! Gue mau curhat...Setelah pulang dari perpisahan gue jadi mewek terus, huaa gue mau kabur aja dari rumah!" ujar Zia dengan suara terisak.


"Eh...Kenapa jadi cengeng gini sih! Ingat Ziaku sayangku sahabatku yang manis, kita cuman berpisah jarak. Bukan pisah alam! Jadi nggak usah lebay!" ujar Rani.


Sebenarnya dalam hati gadis ini juga sama dengan sahabatnya, ia juga tak sanggup berpisah dengan mereka. Baru kali ini, Rani menemukan sahabat yang benar-benar bisa ia anggap saudara. Akan tetapi, ia tidak ingin egois. Sahabatnya juga memiliki impian dan kehidupan masing-masing.


"Gue kan nggak bisa pisah sama kalian... Bentar gue sambungin ke Keke sekalian." ujar Zia.


"Halo... Kalian ini kenapa sih? Gue mau tidur nih!" ujar Keke mengamuk.


"Santai aja ngomongnya! Seharusnya kita bersyukur karena masih ingat bahwa lo itu sahabat kita," tukas Zia.


"Hahaha, kalau ketemu aja kalian kek Tom and Jerry. Nanti moment ini pasti gue rindukan," ujar Rani.


"Huaa... Rani.... Gue jadi mewek kan... Arghhh," tukas Keke.


"Gue cuman pesan satu hal. Jangan pernah lupain gue!" ujar Rani lirih.


"Yang ada kata-kata itu buat lo Ran. Lo kan gampang dapat kenalan baru!" tukas Zia.


"Ceh. Gue lagi yang kena!" desis Rani dan tersenyum.


"Gue nggak mau tau ya. Nanti kita wajib video call setiap 1 kali seminggu! Atau setiap malam mingguan," titah Keke.


"Dih!!! Kayak kalian ngapelin pacar aja satu kali seminggu!" delik Rani.


"Bukan kita yang ngapelin! Tapi diapelin!" tukas Zia.


"Jangan berantem iiihhh... Keputusan gue udah bulat. Gue maunya gitu titik nggak pakai koma nggak bisa nego!" ujar Keke dengan suara manjanya.


"Gue setuju sama Keke," ujar Zia.


"Oke deh tiap malam minggu kita kontekan! Tapi jangan salahin gue kalau nanti para pacar kalian ngamuk, karena malam mingguannya terhalangi oleh seorang wanita yang bernama Maharanisya," ujar Rani.


"Kalau cowok gue komplain. Nanti tinggal gue putusin, it's easy for me!" ujar Zia dengan nada sombongnya.


"Kalau gue mah sama. Tinggal cari cowok baru yang nerima gue apa adanya bukan ada apanya!!" jawab Keke.


"Hahaha...Sip, nih telefon udah gue rekam ya! Awas aja nanti kalian banyak alasan pas ditagih!" ujar Rani.


"Hmm... Gue bakal kangen banget pas nanti udah nggak di Indonesia," ujar Zia dengan nada serak.


"Hei... Jangan ada lagi tangis malam ini! Waktu kita masih ada sampai menerima tanda kelulusan! Jadi let's enjoy our time!" ujar Keke.


"Dia jadi bijak kalau sebelum tidur Zi," ejek Rani Dan tertawa. Zia pun ikut tertawa karena ucapan bijak Keke.


"Yaudah mulai besok kita buat planning beberapa saat ke depan. Setelah UN kita juga bisa pergi liburan bareng," ujar Zia.


"Oke siap. Sekarang udah larut, sebaiknya kita istirahat! Badan gue juga udah remuk semua, apalagi nih kaki. Pegel gegara heels sialan itu!" omel Rani.


"Make up lo udah bersih Ran?" Tanya Zia.


"Heh Lelaa....!!!!! Bersihin wajah lo sekarang! Lo mau melihara jerawat?" ujar Keke berteriak.


"Ya Allah Ke... Lo mau buat gue jadi tuli! Teriak sekencang itu!" ujar Rani mengusap kupingnya yang panas akibat teriakan Keke.


"Bodo amat! Bersihin wajah lo sekarang!" titah Keke.


"Arghh... Iya deh mak, gue bersihin nih!" ujar Rani kesal dan menuju dapur.


Gadis kecil itu mencari air panas dalam termos akan tetapi tidak ia temukan. Akhirnya Rani menghidupkan kompor gas dan memasak air secukupnya. Tidak hanya itu, kekesalan gadis itu dilampiaskan pada panci dan mangkok yang ada di sana.


"Wah Ke... Lo udah buat barang-barang tak berdosa kena amukan singa ngantuk!" ujar Zia.


"Gue masih denger yaa...Lanjutin aja ngegibahnya!" ujar Rani yang memang sengaja meloudspeakerkan panggilan dari kedua sahabatnya itu.


"Biar aja lo denger Ran. Gue juga nggak suka marah-marah tapi ini demi kebaikan lo juga!" ujar Keke.


"Ceh!" delik Rani.


"Dengerin tuh Ran nasehat emak!" ujar Zia.


"Iya-iya... Ini lagi dibersihin!" ujar Rani.


Zia dan Keke pun tertawa bersamaan.


"Bahagia amat tuh mulut ngetawain gue! Hati-hati nanti kemasukan nyamuk!" ujar Rani yang membersihkan maskara di matanya.


"Sinis amat kek orang PMS!" ujar Zia.


"Ran... Tadi gimana pengalaman malam pertama lo sama bang El?" tanya Keke.


"OMG Keke.... Mereka itu boncengan, bukan malam pertama!" kesal Zia pada sahabat mereka yang memiliki mulut asal nyeplos.


"Hehe, ya kan maksud gue malam pertama boncengan Zi.. Lo sih motong ucapan gue yang belum kelar!" cengir Keke.


"Ada aja alasannya!" desis Rani.


"Udahlah Ran. Gimana-gimananya dia juga sahabat kita!" ujar Zia dan tertawa lepas.


"Iya deh iya... Aku mah apa atuh!" ujar Keke.


"Udah nih woi! Gue udah ngantuk. Mari kita akhiri pembicaraan unfaedah ini!" delik Rani.


"Udah bersih tuh wajah?" tanya Keke.


"Udah Keke...Perlu gue kirim fotonya!" jawab Rani dengan penuh penekanan.


"Perlu! Gue butuh bukti bukan omongan!" ujar Keke menahan tawanya.


Cekrek


"Lihat tuh wajah cantik gue! Anggap aja itu penghantar menuju mimpi indah! Puas kalian," ujar Rani mengirimkan foto wajah tak bersahabatnya ke grup mereka bertiga.


"Puas banget malahan! Ya kan Zi?" ujar Keke.


"Heem. Jadi gue bisa kirim ini ke bang El. Itung-itung bayaran les privat kita selama ini," ujar Zia dan ia pun tertawa lepas bersama Keke.


"Eitsss... Awas kalian ya! Jangan dikirim dong. Gue kan ngga makai hijab!" ujar Rani kesal.


"Heleh... Biasanya juga nggak pakai!" ejek Keke.


"Bener-bener berubah sahabat gue setelah ketemu calon imamnya. Dengan begini gue udah ikhlas ngelepasin lo pada bang El. Ahahahaha...." ujar Zia.


"Huh.... Pokoknya gue nggak mau ya kalau sampai si es batu ada foto ini.Seandainya dia tahu... Gue mutilasi kalian pakai gergaji!" ancam Rani.


"Widih... Sadis!" ujar Zia dan Keke bersamaan.


"Bodo amat. Gue tidur duluan, bye!" ujar Rani dan mengakhiri panggilan telepon tersebut.