Before I Found You

Before I Found You
BIFY 50



Sudah sebulan sejak kejadian itu, Rani pun segera mengetahui siapa yang sering mengiriminya pesan. Pesan tersebut ternyata dari El.


Hari demi hari El selalu mencoba untuk menarik hati Rani. Mulai dari mengawal Rani ke sekolah, mengiringi Rani saat ke mesjid untuk shalat magrib, memata-matai Rani saat ke pasar. Tidak hanya sampai disitu, lelaki es tersebut berani untuk pergi ke rumah Rani saat Idul Fitri. Melalui perilaku dan keseriusan ucapan lelaki itu, orang tua Rani mengizinkan dirinya untuk berteman dengan Rani. Lelaki itu bagaikan bucin yang baru menemukan gadis impiannya.


Seperti saat ini Rani yang baru saja keluar dari sekolahnya. Ia melihat seorang lelaki yang sudah mangkal di depan gerbang dengan mogenya. El tersenyum pada Rani, tetapi Rani tidak mengindahkan lelaki itu dia memilih untuk berjalan dengan teman-temannya hingga ke pasar.


"Ya Allah Ran, tega amat lo sama babang ganteng," ujar Keke.


"Kok gue yang kejam? Salah gue dimana coba?" heran Rani karena tidak terima dianggap kejam oleh sahabatnya.


"Gimana ngga tega Maharani!!!! Lo udah buat anak orang jadi satpam 12 jam tanpa gaji," ujar Zia.


"Ceh!!! Belain aja tuh laki! Segini doang ya harga persahabatan kita," tukas Rani merajuk.


Rani mempercepat langkahnya karena ia ingin meninggalkan kedua sahabatnya itu yang selalu menyalahkan Rani atas perbuatan lelaki itu.


"Arghhh... " Rani terjatuh karena kakinya tidak sengaja masuk ke dalam selokan kecil di pinggir jalan itu.


"Ya ampun Ran.... Ngapain duduk disitu?" tanya Keke segera membantu Rani untuk berdiri.


"Heran gue punya temen kok lemot kek gini!" delik Rani menatap Keke.


Beruntung Rani terpeleset ke selokan kering sehingga dirinya tidak terlalu malu. Saat ketiga gadis ini sedang membersihkan rok Rani yang terkena debu jalan.


"Ada yang luka?" suara cemas seseorang.


"Ya Allah. Lo ngga kapok-kapoknya nguntit gue yah bang!" pekik Rani.


Rani sangat kesal dengan lelaki yang ada dihadapannya ini. Ranu mengingat kekesalan pertamanya pada El karena telah membuat dirinya masuk selokan. Entah kenapa nasibnya selalu berujung ke dalam selokan saat ada lelaki itu didekatnya.


"Ada yang sakit ngga?" tanya El


Rani menggeleng dan mengajak temannya untuk pergi. Kaki Rani yang keseleo membuat gadis ini berjalan pelan. Ia tidak ingin berlama-lama berada dengan lelaki yang telah menguntitnya selama ini.


"Kaki lo sakit. Jadi lo pulang bareng gue!" titah El menarik Rani menuju motornya.


"Ih lepasin!!!!" ujar Rani berusaha melepaskan cengkraman El di pergelangan tangannya.


El tidak menghiraukan kedua sahabat Rani. Ia hanya melihat kilas kepada dua gadis itu.


"Hmm... antar dengan selamat sampai rumahnya ya bang! Awas kalau sahabat gue kenapa-napa!!!" ujar Zia dan menarik tangan Keke untuk meninggalkan Rani.


"Wah... lo gila ya Zi?? Ninggalin gue sama penguntit!" ujar Rani ia masih meneriaki kedua sahabatnya yang pergi meninggalkannya seorang diri.


El tidak menghiraukan Rani. Lelaki itupun menaiki motornya tanpa melepas tangan Rani.


"Naik!!!" ujar El.


Rani pun akhirnya mengalah dan menaiki motor besar itu dengan duduk menyamping.


"Pegangan!!" tegas El lagi.


"Ngga usah modus lo bang!" jengah Rani.


El pun tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Rani dari spion motornya. Dasar gadis bodoh! Jalan aja ngga bisa bener sampai masuk selokan. Masih sok sok an galak, batin El. Ia pun melajukan motornya dengan pelan.


Perjalanan mereka yang pelan membuat Ranu menggerutu, sekarang gue sedang naik motor atau naik delman sih? Lama banget!!! .


"Kita bukan lagi tamasya ya bang! Jangan kelamaan lo nikmatin angin. Masak motor keren gini, jalannya selamban delman!" sindir Rani.


"Enak aja!!! Badan lo itu berat. Makanya motor gue jadi lamban!" canda El.


"Ihhh.....Lo bilang gue gendut gitu! Makanya motor lo ngga bisa dipercepat? Yaudah gue turun disini aja!!!" amuk Rani, ia pun memukul helm yang digunakan oleh El dengan keras.


"Auhhh... sakit Rani!" marah El. Padahal dalam hatinya bahagia melihat wajah menggemaskan dari gadis kecilnya itu.


Saat melewati lampu merah, kedua remaja ini kembali diam tanpa bersuara. Rani masih bingung kenapa polisi yang duduk di pos polisi di simpang tersebut menunjuk mereka.


"Ngapain tuh polisi ngeliatin gue?" ujar Rani pelan tapi masih terdengar oleh El.


El pun melihat ke arah pos polisi. Ia melihat tangan salah seorang polisi seperti memanggilnya untuk menepi ke arah pos tersebut. Ahh sial, gue lupa si Rani kan ngga makai helm, batin El.