
Bertemu Kembali
Jumat ini El memutuskan untuk berkumpul dengan teman sepermainannya di rumah. El pun melajukan motornya ke mesjid tempat biasanya teman-temannya melaksanakan shalat Jumat.
Setelah memarkirkan motornya di pekarangan mesjid El mencari teman-temannya. Ternyata ia menemukan teman-temannya di tempat nongkrong yang baru, di sana dijual beraneka makanan lama yang mungkin merupakan makanannya pada saat zaman sekolah dasar dulu.
Di warung kecil yang berada setali dengan rumah pemiliknya, disediakan makanan berupa kerupuk mie, soto, lontong, lotek, bakso bakar sedangkan untuk minumannya terdapat banyak minuman rasa dan yang paling diminati yaitu es buah.
Es tersebut biasanya disebut sebagai es pisang cokelat. Namun, di warung ini disediakan beraneka ragam buah seperti apel, pepaya, bengkoang, pokat, naga.
Tampak seorang wanita paruh baya mengambilkan pesanan para pelanggannya dengan cekatan.
“Sebentar ya nak, mama ambilkan dulu punya temanmu,” tukas Rita pada anak kecil tersebut.
“Sini Rani bantu mah, mana yang belum?” tanya Rani pada mamanya.
“Itu Ran, pesanan abang-abangmu coba tanyain,” tunjuk Rita pada beberapa lelaki yang duduk di salah satu meja warung itu.
Rani pun tersenyum melihat gerombolan pria tersebut, karena ia sudah tidak asing dengan mereka. Geng lelaki tersebut adalah teman memainnya di rumah kontrakan yang lama, Rani sudah menganggap mereka seperti abang kandungnya, begitupun dengan mereka. Karena mereka sudah tau bagaimana sifat Rani dari kecil.
Rani di mata mereka adalah gadis tomboy yang senang bermain dengan mereka, baik itu bermain bola kaki, badminton, dan permainan khas di sana yaitu sambalakon (permaianan yang hampir sama dengan petak umpet tapi nanti akan ada sandal-sandal yang harus disusun)
“Mau pesan apa nih bang?” tanya Rani dengan senyumannya.
Para lelaki itu menatap Rani, mereka bahagia karena sudah lama tidak melihat adik kecilnya ini setelah keluarga Rani pindah rumah tiga tahun yang lalu.
Mereka rindu dengan adik kecilnya, tetapi apalah daya saat ini adik kecil meeka telah beralih remaja, membuat mereka tidak bisa lagi merangkul, mengelus puncak kepalanya, atau menjawil hidung mancung adiknya. Mereka juga sudah dianggap seperti anak oleh Rita, karena setiap sore mereka akan pergi ke rumah Rani untuk bermain dengan Rani dan kedua adik lelakinya.
“Kita bertemu lagi gadis kecil” batin El. Ia seakan terhipnotis saat melihat senyuman Rani yang seperti bulan sabit. Berbeda dengan pertemuan pertamanya, saat ini gadis itu tidak menggunakan hijab. Rambutnya yang hitam dan lurus ia biarkan terurai, dengan hiasan bando hello kitty di atasnya.
Kecantikan alaminya tetap terpancar walaupun hanya mengenakan kaus pendek bergambarkan hello kitty dan training hitam. Kulit gadis ini seputih susu, karena terik matahari membuat bola matanya yang cokelat tampak jelas.
“Wah adek abang makin cantik aja, udah lama nih kita nggak lihat lo setelah pindah Ran,” ucap Randi.
“He em, dulu aja rambut dibiarin awut-awutan. Kalau sore makai bedaknya masih belepotan,” tambah Tegar dengan tawa mengejek.
“Dia sekarang udah lebih kayak cewek yah, walaupun belum jadi cewek tulen. Hilang deh adik cewek gue yang kelakuannya lebih mirip cowok,” Randi memasang tampang mengibanya, sontak mendapat lemparan pena dari Rani.
Mereka semua pun tertawa melihat hal itu karena puas membully adik kecilnya ini.
“Huhh, inget aja lo pada sama masa lalu gue. Jadi mau pesan apa nih bang?” Rani tidak semangat apabila sudah menyangkut masa lalunya itu.
Bagaimanapun kesalnya pada gerombolan ini. Rani tetap tidak bisa marah pada mereka, karena ia menyayangi mereka seperti saudara.
“Udah udah, gue laper nih. Gue mau kerupuk mienya 2 Ran, es pisangnya 1, es ubi 1, tape 1.” Jawab Tegar memesan makanan sesuai menu yang ditempel di warung tersebut.
"Tetep aja kalau urusan makan lo paling cepet ya bg, haha... kalau yang lain mau pesan apa?" ucap Rani.
Rani baru sadar kalau ada orang baru di perkumpulan abang-abangnya. Padahal udah lama si El itu disana Ran dari lo kecil pulak, cuman author maunya kalian bertemu sekarang 😋
“Kalau lo bang? Mau pesan apa?” tanya Rani, dan hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh El.
“OK, bentar yak, gue ambilin dulu,” Rani bergegas mengambilkan pesanan tersebut.
Rani pun mengantarkan pesanan tadi ke meja abang-abangnya itu.
“Ran, lo sekolah di mana sekarang?” tanya Dodo pada Rani.
“SMP 1 bang,” jawab Rani.
“Hebat lo Ran. Memang sih nggak heran, dari kecil aja lo memang udah pinter dari kita-kita,” jawab Tegar sambil tertawa mengingat bagaimana Rani mengajarkan mereka matematika saat sekolah dasar, padahal mereka sudah kelas 6 sd sementara Rani kelas 3 sd.
“Haha...biasa aja kok bang, kan memang otak lo semua cuman main bang, atau nggak rebutin pacar orang,” ucap Rani.
Mereka pun tertawa bersama, seketika pengurus mesjid sudah bersuara menandakan bahwa para lelaki yang akan melaksanakan shalat jumat menuju mesjid.
“Udahan deh, mending sekarang kalian semua pergi shalat. Pengen gue abang-abang gue juga ngerasain masuk surga,” gurau Rani.
“Adek duraka lo, lo kira kita banyak dosa?" ucap Randi yang melototkan matanya pada Rani.
"Yaudah kita cabut. Gar bayar noh sama Mama Rita,” tukas Dodo dan dibalas senyum pepsodent oleh Rani.
“Kalau pas makan aja gue di pantengin dibilang nanti lo tambah gendutlah, susah jalanlah, asam urat lo kambuhlah. Eh nyatanya, giliran bayar aja gue yang disuruh maju paling depan. Sungguh terlalu,” omel Tegar yang membuat teman-temannya kembali tertawa.
El yang sedari tadi diam memperhatikan Rani. Ia merasakan gejolak yang aneh di hatinya melihat Rani dekat dengan teman-temannya itu.
Ia sungguh penasaran dengan Rani, sejak kapan gadis kecilnya ini tinggal di sana. Kenapa ia tidak pernah melihat gadis kecil ini, atau selama ini dirinya menganggap bahwa hanya Sifalah wanita tercantik di dunia ini. Lamunan El dikagetkan oleh Dodo yang merangkulnya.
“Buru dah El!!! Lo mau shalat di teras mesjid? Kalau gue mah ogah!” tukas Dodo.
Ia tidak ingin shalat di teras mesjid. Karena apabila datang terlambat mesjid bagian dalam sudah di penuhi oleh jamaah jumat. Resiko yang harus dihadapi oleh mereka yang shalat di luar adalah teriknya sinar mentari siang yang membuat keramik mesjid itu memanas. Otomatis akan menciptakan sensasi sedap nikmat pada kaki telanjang.
El pun mengikuti Dodo. Ia sesekali melirik ke belakang untuk melihat Rani yang masih membereskan meja tempat mereka duduk tadi.
.
.
.
Vote, comment, and like yaa.....Thank you sooo muchhh 😇😇😇