
Hari demi hari, detik demi detik mereka lalui dengan belajar dan belajar. Meskipun lelah setelah sekolah sore. Malamnya setelah Magrib El akan tetap mengajarkan ketiga gadis ini. Bukan hanya mereka bertiga, akan tetapi saat ini para murid El sudah menjadi sepuluh orang.
Rani merasa segan dengan El karena lelaki itu harus kelelahan mengajari teman-temannya.
"Bang, lo kan sekolah juga. Sekarang lo juga lagi banyak persiapan ujian kan? Emm...Jangan dipaksain deh untuk ngajar tuh anak-anak!" ucap Rani saat mengantar El ke teras depan rumahnya.
Seluruh teman Rani sudah beberapa menit sebelumnya. Mereka memang manusia-manusia yang sangat dan tidak sangat berperasaan. Udah numpang belajar gratis, makan gratis, dan apa yang Rani dapatkan yaitu tumpukan sampah cemilan di area ruang tamu rumahnya. Rani sering dimarahi oleh sang ratu rumah. Alhasil El lah yang membantu dirinya membersihkan ruang tamu yang menjadi kandang b*bi setelah kepergian teman-temannya itu.
"Enggak apa-apa kok. Lagian gue seneng bisa sama lo setiap hari," ujar El hangat.
"Dih! Gini nih kalau menghadapi es batu yang udah mencair. Kerjaannya buat lelehan dimana-mana!" ejek Rani.
"Tapi lo seneng juga kan? Pipinya aja nggak nolak. Tuh buktinya memerah," gurau El.
"Mana ada! Isshh... Yang jelas gue nggak mau ya kalau nanti lo sampai sakit. Itu bukan salah gue!" tukas Rani.
"Ciee perhatian ke gue..." ujar El.
"Perhatian pala lo peyang! Perihatin yang ada. Kalau lo sampai is dead, kan bahaya!" ujar Rani memukul keras helm El.
"Sakit Ran! Lo mah belum apa-apa udh KDRT mulu! Lihat nih tangan habis kena cubitan pedes dari lo tadi!" ucap El memperlihatkan tangan putihnya yang ada beberapa jejak merah bahkan membiru akibat cubitan Rani.
"Ya Allah. Ini beneran karena cubitan gue bang?" tanya Rani menangkap tangan El. Dia pun reflex meniup luka-luka itu.
"Tadi aja sok nggak perhatian! Sekarang tanpa sadarnya udah narik-narik aja, ingat belum halal!" ledek El.
Rani yang mendengar hal itupun segera menghempaskan tangan El, sehingga tangan lelaki itu terpental ke tangki motor.
"Sorry bang sumpah nggak sengaja!" ujar Rani merasa bersalah.
"Lo harus tanggung jawab pokoknya!" ujar El.
"Kok pakai tanggung jawab segala? Lagian tuh motor nggak baret kok! Itupun juga kena tangan lo sendiri bukan gue," ucap Rani tak terima.
"Ya tanggung jawablah! Tangan gue rasa mau patah gini!" ujar El.
"Halah alasan lo doang itumah!" tukas Rani tak terima.
"Gue aduin mama lo ya? Mam..." belum jadi El melanjutkan teriakannya Rani sudah membungkam mulut lelaki itu.
"Nggak usah teriak-teriak lo! Yaudah, gue mesti apa buat tanggung jawab?" ujar Rani kesal.
"Gampang kok, temenin gue makan bakso di depan sana! Gue masih laper meskipun sudah diisi penuh oleh masakan nyokap lo," ujar El.
"Gila! Mana bisa gue keluar malam!" ujar Rani menatap tajam pada El.
"Itu urusan gue," ujar El tersenyum dan turun dari motornya, ia pun kembali masuk ke rumah Rani.
"Loh El kok balik lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya Rita.
"Enggak kok ma. Ini mah, El boleh nggak ma makan bakso di depan sama Rani. Soalnya tadi si Rani ngedumel bakso terus," ujar El.
"Kapan gue...Auhh.. Iya mah. Emm itu maksud Rani kapan lagi Rani nyoba itu bakso yang baru bukak, bolehkan ma?" ujar Rani kesakitan karena kakinya diinjak oleh El.
"Kamu ini, yaudah sana pergi. Ingat jangan kemaleman pulangnya!" titah Rita.
"OMG...Mama nggak lagi demam kan?" tanya Rani memegangi jidat sang mama.
"Enggaklah! Lihat nih, mama sehat-sehat aja. Sana gih! Masalah papamu nanti mama yang urus!" ujar Rita mengedipkan matanya pada El.
"Ya Allah ternyata aku dijual oleh ibuku sendiri!" ucap Rani meratapi kelakuan sang mama.
El yang tidak ingin membuang kesempatan pub segera menarik kerah baju Rani seperti anak kucing.
***
Kedua sejoli itu sudah sampai di tempat bakso alakadar yang ada di sana. Awalnya El ragu untuk makan di sana, sejujurnya ini adalah pengalaman pertama baginya untuk makan di warung kecil seperti saat ini. Biasanya ia akan pergi ke cafe atau restoran mewah. Akan tetapi, karena tidak ingin imagenya hancur di hadapan Rani. Lelaki itu masuk seperti sudah langganan makan di sana.
"Bang baksonya dua porsi ya! Dua ratus perak banyakin baksonya," ujar El memasang senyum pepsodent selebar ember.
"Dasar es batu gobl*k! Tahun 2021 lo masih minta bakso 200 perak mana dapat!" ujar Rani memukul kepala El bagian belakang.
"Kenapa memangnya?" bingung El. Ia pernah mendengar nyanyian anak kecil yang seperti itu ketika memesan bakso. Dirinya pun hanya menirukan itu, karena ia tidak tau bagaimana cara yang benar.
"Lo mau bayar tuh bakso pakai recehan?" tanya Rani.
Rani dan si tukang bakso menepuk jidat mereka karena ucapan langka yang di ucapkan oleh El.
"Hadeh... Makanya. Kalau nggak tau gimana caranya jangan sok tau! Sana lo duduk duluan! Biar gue yang pesan baksonya," ujar Rani mendorong punggung El ke arah meja dan kursi yang kosong.
Bersyukur tempat ini sedang sepi, jadi tingkah dan ucapan memalukan yang di sampaikan oleh El tadi tidak membuat dirinya menjadi topeng monyet dadakan yang akan membuat seluruh orang tertawa melihat kepolosan sang sultan es batu.
"Banyakin baksonya Ran. Rugi loh kalau dikit! Soalnya kita bayar pakai perak asli!" ujar El.
Rani hanya menggelengkan kepalanya melihat sang ahli olimpiade ternyata hanya memiliki otak udang saat di dunia luar.
***
"Nih baksonya! Habisin, ingat kasih bumbu dulu biar mantap!" ujar Rani yang mulai memasukkan micin dan antek-anteknya ke dalam bakso.
"Ran...Emm gue," ujar El ingin mengatakan sesuatu.
"Apa?" tanya Rani.
Akan tetapi karena gengsi El yang tinggi ia melakukan apa yang diambil oleh Rani agar kuah baksonya tidak bening lagi.
"Ya Allah nak... Lo anak siapa sih bang! Gitu aja belepotan semua!!!" omel Rani melihat El telah mencampurkan banyak saos ke dalam mangkok baksonya.
"Gue nggak ngerti. Ini pertama kalinya pakai bumbu beginian, biasanya bunda yang ngambilin pas di resto," ujar El menunduk.
"Cih ngambek kek anak TK habis dimarahin emaknya!!! Makanya kalau nggak tau itu bilang! Susah amat sih itu mulut bilang kata TOLONG!" delik Rani kesal.
Rani pun meminta bakso baru kepada tukang bakso dan memasukkan bumbu-bumbu sesuai seleranya.
"Nih makan! Awas kalau kena baju!" ancam Rani dengan memberikan tatapan setajam pedang pada El.
"Iya... Makasih," ucap El dan menikmati makanannya.
"Enak kan? Atau kurang pedes?" tanya Rani.
"Enggak kok, ini udah pas. Besok-besok tiap malam kita makan ini aja Ran," ujar El senang memakan makanan hangat berkuah itu.
"Ogah gue makan bakso tiap hari. Nanti yang ada perut gue bolong gegara micin!" tukas Rani, namun El tidak mendengarkan ocehan Rani. Lelaki itu asik menikmati baksonya, bahkan ia meminta satu porsi lagi. El juga menyuruh Rani memasukkan bumbu-bumbu bakso itu kembali.
"Lo itu doyan atau setan di badan lo kelaperan sih bang?" ujar Rani heran melihat El yang sedang mengusap perutnya, di depan lelaki itu ada 3 mangkok bakso yang sudah bersih mengkilap tanpa sisa.
"Enak loh Ran. Nggak sia-sia gue bayar pakai perak," ujar El.
"Aihh...Suka-suka lo aja deh bang! Mana uang lo 50 ribu!" ujar Rani menadahkan tangannya pada El.
"Buat apa?" tanya El.
"Buat bayar nih bakso lah! Lo kira buat bayar parkir!" delik Rani.
"Kok 50 ribu sih Ran. Bayarnya harus perak! Lo nggak boleh pelit amat jadi orang, nanti kuburannya sempit!" ujar El.
"Heh tuan El yang terhormat. Bayar bakso 200 perak itu artinya 200 rupiah alias uang koin 100 dua buah. Lagu itu udah tahun tahun jahiliah, pas masa-masa semuany murah. Jadi bukan perak yang hasil tambang! Paham tuan yang sangat cerdasss???" ujar Rani memberikan senyuman mengerikan pada El.
El yang mendengar itu pun menjadi malu. Ia merasa kepintarannya tidak berguna karena mendengarkan nyanyian yang ada di radio kesukaan sang oma dulu. Ia pun menatap Rani yang masih saja kesal.
"Tapi kok cuman bayar 50 ribu Ran? Kita udah makan 5 mangkok loh..." ujar El.
"Gue cuman makan satu! Empatnya lagi masuk ke perut lo tuh! Bayarnya memang 50 ribu soalnya semangkok cuman rp 10.000" ujar Rani.
El pun melongo mendengar ucapan Rani. Makan sekenyang ini, ia hanya membayar 10 ribu. Apa kabar dengan uangnya yang melayang selama ini hanya untuk dessert restoran yang isinya hanya seonggok kue tipis dan beberapa buah cherry.
Rani tidak ingin memberikan penjelasan lebih pada lelaki di hadapannya. Namun, saat akan membayar ke tukang bakso. Rani dengan sengaja mengatupkan kedua rahang El yang membuat mulutnya masih sedikit terbuka mendengar ucapan Rani.
Keduanya kembali ke rumah Rani, El pun pamit kepada Rita. Kemudian ia pulang ke rumahnya.
.
.
.
Terima kasih udah mampir. ..😆😆😆