
Pulang sekolah ini Rani dan kedua sahabatnya mencari nama mereka di selebaran yang ditempel di mading sekolah. Mereka pun lompat-lompat kegirangan karena menemukan namanya diantara 24 orang yang lulus seleksi ilmu bela diri tersebut.
“Yes, kita bertiga bakal menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya,” bahagia Keke memeluk Rani dan Zia.
“Yah, mau gimana lagi. Sebenernya gue bosan seharian cuman liat wajah kalian berdua. Pagi ketemu kalian, di kelas bareng kalian, ke kantin kalian lagi, ishoma jugak bareng kalian, nah sekarang latihan pun bareng kalian,” ujar Zia pura-pura bosan dengan kedua temannya.
“Yaudah kalau nggak mau, sono lo main sama yang lain, biar gue sama Keke,” membalas candaan temannya dengan menyipitkan mata.
“Hahah, gurau je...Yang ada gue seneng bareng kalian terus, kalau bisa mah gue tidur juga bareng kalian,” ucap Zia merayu temannya dan menaik turunkan kedua alisnya.
“Ogah gue tidur bareng lo Zi, yang ada gue lo depak dari kasur,” teriak Keke dengan wajah polosnya.
Zia pun mengerucutkan bibirnya, kenapa dia harus punya teman yang suka mengubar aib tidurnya di tempat umum ini. Dia memang mengakui bahwa saat dirinya tidak akan pernah damai dengan posisi yang sama, apabila saat malam hari posisinya lurus dengan wajar, saat proses tidurnya ia akan bergerak seperti cacing kepanansan, dan menendang apapun yang menghalangi kakinya. Itu diluar kesadarannya yah, harap maklum.
“Lagian rumah gue juga nggak muat nampung kalian bedua, trus mama bakal sayang sama kalian dibandingkan gue,” keluh Rani.
Apabila dua biang onar ini kerumahnya mereka akan dimasakkan makanan kesukaannya, disuguhkan minuman dingin, dibuatkan cemilan. Ntah apa yang merasuki mamanya, ia merasa jadi ditirikan padahal disana dirinya lah yang berstatus anak kandung.
“Hahah, iri dia Ke, secara mama Rita lebih sayang kita dibandingkan anaknya,” Zia tau penyebab keluhan temannya itu.
“Nggak ya, mama gue paling sayang sama gue, dia cuman kasian aja sama kalian yang kayak anak kucing terlantar di got, jadi kasih sayangnya dibagi pas kalian ke rumah gue,” Rani membela dirinya karena tidak ingin ditertawakan oleh kedua sahabatnya.
“Setan lo Ran, tampang cantik-cantik kayak kita lo bilang anak kucing terlantar di got!” Keke memukul punggung Rani. Zia pun menggelitiki pinggang Rani.
“Erhmmm...hai gadis-gadis cantik,” suara seorang laki-laki, membuat ketiga gadis yang sedang baku hantam ini menoleh.
“Kenalin gue Miko, anak baru disekolah ini dan yang jadi pasangan latihan lo,” Miko menjulurkan tangannya pada Rani.
“Oh, Hai gue Rani.” Rani memasang senyum manisnya dan tidak menjabat tangan Miko.
Miko pun salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia lupa cara berkenalan di daerah tersebut berbeda dengan cara berkenalan di kota asalnya.
“Oh ya kenalin juga ini temen-temen gue,” Rani yang mengerti akan suasana canggung itu berusaha mencari pengalihan.
“Hai Mikoo, kenalin gue Keke yang paling cantik diantara mereka,” riang Keke, dan mendapatkan cubitan di lengannya dari Rani. Ia pun mengaduh kesakitan.
“Maaf ya Ko, dia memang punya penyakit centil saat di depan cowok ganteng. Gue Zia sahabat Rani,” ujar Zia.
Rani yang melihat tingkah kedua temannya yang 13 14 alias sama aja, yang satu muji dirinya cantik, yang lain godain cowok dengan bilang cowok itu ganteng. Ingin rasanya tidak mengakui dua orang ini adalah sahabatnya, apalah daya tangan tak sampai.
Miko hanya menahan tertawa melihat keunikan dua teman Rani ini. “ Oh ya kalian dari kelas mana?” Tanya Miko.
“Kita kelas Sheijin,” ucap Keke dengan antusias. Memang nih anak perlu diobati kecentilannya.
Miko mengernyitkan dahinya, ia tidak tau kalau ada nama kelas sheijin di sekolah ini.
“Lo kelas berapa?” tanya Zia.
“Oh, gue dikelas paling ujung 91.” Saut Miko. “Mmm... mulai besok kita latihan kan, semoga kita jadi patner yang baik Ran,” tambah Miko dan memasang senyum pepsodent pada Rani, tetapi malah dua curut itu yang mengibas-ngibas wajah mereka dengan tangan karena pesona Miko.
“Heheh, OK ko, fighting!!!” saut Rani dengan gerakan tangan semangatnya.
“Yaudah, gue cabut duluan yah, see you tomorrow all,” Miko kembali tersenyum menampakkan lesung pipit di kedua pipinya dan berlalu meninggalkan ketiga gadis tersebut.
“Ohh God, nikmat mana lagi yang engkau dustakan,” lirih Zia yang masih menatap punggu Miko yang menjauh.
“Sering-sering dapat asupan cowok ganteng kayak gini mah, gue bakal rajin pergi latihan silat,” tambah Keke yang meletakkan tangannya di kedua pipinya yang bersemu mera.
“Ya tuhan..... kenapa hamba-Mu ini memliki teman yang jomblo akut, nggak ada jaga-jaga imagenya jadi cewek. Tolong berikan mereka petunjuk Ya Allah” Keluh Rani dengan menadah kedua telapak tangannya.
“Tolong kirimkan kami pasangan yang seganteng Miko Ya Allah,” saut Keke yang ikut menadah kedua tangannya, dan diaminkan oleh Zia.
Rani menoleh ke kedua temannya dan menggemplak kepala mereka. “Masih kecil aja mikir pasang-pasangan, apasih untungnyanya punya pasangan?” ucap Rani dengan kedua tangannya di pinggang.
“Kegunaan pasangan, Satu, untuk pamer. Dua, untuk tukang ojek. Tiga, untuk bayarin makan. Sambung Zi,” ucap Keke seakan membacakan UUD 1945.
“Empat, untuk diajak jalan. Lima, untuk menghindarkan dari laki-laki zolim.Terakhir, untuk dijadiin sasaran empuk kalau emosi. Ahahaha” Zia tertawa mengingat kegunaan pasangan berdasarkan prinsip dirinya dan Keke.
“Malang mat dah nasib cowok kalian nantik,” Rani menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka guna pasangan oleh kedua temannya hanya merugikan pihak lelaki.
“Ya nggak apa-apa dong Ran, kan masih tahap main-main, kalau untuk tahap serius mah ntar, kalau gue udah umur 25 an,” Saut Keke.
“He em, kan PDKT an dulu, habis itu kalau nyambung baru Pacaran, kalau sesuai lagi baru diajak ke pelaminan, HA HA HA” tukas Zia sambil menirukan tertawa mak lampir dan menepuk-nepuk pundak Rani.
Rani hanya bergidik ngeri mendengar ucapan kedua temannya, untung dia bukan lelaki. Andai saja di sana ada lelaki yang mendengar tuturan dua gadis ini dijamin 1000 % mereka tidak akan berani mendekati Keke dan Zia, kecuali memang berniat menaklukkan hati kedua gadis ini.
“Udah ah, takut gue denger ocehan mak lampir dari tadi. Pulang yuk, dah sore ini” ajak Rani untuk menghentikan pemikiran kedua temannya untuk menindas kaum adam.
Zia dan Keke pun kembali tertawa dan mengeluarkan sedikit air di ujung matanya karena pemikiran hebat mereka apabila kelak memiliki pasangan, uhh pasti bahagia bisa menjadi ratu. Mereka pun mengikuti Rani yang sudah jalan terlebih dahulu keluar gerbang sekolah.
**Like 👍
Comment ~
Vote 👌
Terima Kasih udah baca novel ini, semoga mendapatkan kesenangan dari cerita author😁**