Before I Found You

Before I Found You
BIFY 105



Setelah pembukaan dan serangkaian acara sambutan lainnya, para siswa baru masih saja harus berada di tengah lapangan sekolah favorit tersebut. Mereka akan mendengarkan rangkaian acara yang akan mereka lakukan selama masa orientasi sekolah. Tentunya kegiatan itu akan di damping oleh para senior yang menjadi panitia MOS selama periode itu.


“Hai teman-teman semua. Udah capek?” ujar sang MC perempuan yang berada di panggung lapangan.


“Capek kak….” ucap para mahasiswa tersebut dengan riuh.


“Oke, kalau udah capek. Kalian udah boleh duduk lesehan di bawah. Harus tetap semangat! Karena kegiatan kita akan full seharian ini.” ujar sang MC.


“Makasih kak…” ujar para siswa baru lagi dan secara serentak mengemper di lapangan sekolah yang ditumbuhi rumput hijau tersebut.


“Baiklah teman-teman sekalian. Kami semua mengucapkan selamat dating di sekolah penuh warna dan merupakan sekolah terfavorit di Kota Batus ini. Kalian adalah orang-orang terpilih karena bisa memasuki SMA ini. Ayo berikan tepukan meriah untuk apreasiasi kemampuan diri kalian sendiri,” ujar sang MC satunya lagi.


Suara riuh tepuk tangan dan senyuman pun menghiasi suasana lapangan tersebut. Sementara gadis kecil yang tadinya berada di tempat orang yang terlambat dan melanggar aturan asik mengipas wajahnya dengan telapak tangan. Rani sedikit risih karena panasnya mentari saat ini sangat menyengat baginya.


“Yeay…Sekarang aku akan membagi kalian dalam beberapa kelompok secara acak melalui formulir nama dari pihak sekolah ini. Dengarkan baik-baik nama teman-teman ya! Kelompok pertama…..” sang MC membagi para siswa baru tersebut dalam 15 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 9 orang siswa.


Para siswa baru tersebut hanyut dalam mendengarkan suara MC. Mereka pun mencari letak barisan kelompok mereka yang telah di atur oleh panitia MOS tersebut. Nama kelompok para siswa baru menggunakan nama-nama pahlawan nasional di Indonesia yaitu Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Soetomo, Tuanku Imam Bonjol, Sutan Syahrir, Moh. Yamin, Ki Hajar Dewantara, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, A.H Nasution, Syafrudin Prawiranegara, R.A Kartini, Pattimura, Pangeran Dipenogoro, Tan Malaka.


Sementara bagi mereka yang terlambat masih mendapatkan kutbah singkat dari beberapa panitia. Untuk hari ini, mereka masih dimaafkan tapi tidak akan ada lagi maaf apabila diulang kembali. Usai memberikan ceramah singkat tersebut para panitia baru membolehkan siswa yang terlambat mencri kelompok mereka. Rani pun berjalan gontai mencari barisan yang di depannya terdapat plang kayu bertuliskan nama pahlawan Tuanku Imam Bonjol. Gadis itu pun menuju barisan paling belakang, ia masih belum bisa mendapatkan orang yang tepat untuk dijadikannya teman. Rani hanya tersenyum ketika orang-orang di sekelompoknya menyapa dirinya.


“Nah. Karena sudah berbaris sesuai dengan kelompok masing-masing. Silahkan berkenalan selama 10 menit sesama anggota kelompok,” ujar sang MC.


Anggota kelompok Rani pun saling berkenalan. Rani masih memperhatikan wajah masing-masing anggota kelompoknya. Rani membulatkan matanya saat tersadar bahwa di dalam kelompoknya hanya ada 3 orang wanita termasuk dirinya sendiri.


“Teman-teman. Kalau yang ini tadi aku kenalan. Nama dia Rani,” ujar Abbi yang ternyata juga sekelompok dengan Rani.


“Wah kamu cantik banget. Omo omo…Kulit kamu putih banget, silau pas bertubrukan dengan sinar matahari Lembutya, kamu pakai skincare apa? Nanti aku juga minta beliin ke daddy,” ujar salah seorang gadis yang berkulit kuning langsat sembari menarik pergelangan tangan Rani dan mengamatinya.


Rani hanya menanggapi dengan senyuman pepsodentnya. Ia pun menatap Abbi agar lelaki itu membantu dirinya lepas dari gadis yang sepertinya maniak kecantikan itu. Abbi yang melihat wajah memelas Rani melepaskan tangan Abila yang masih mengamati Rani.


“Hei bocil. Bisa-bisa Rani risih kalau di detektifin!” ujar Abbi menatap Abila.


“Hehe. Maaf ya…Habisnya kamu cantik banget, kenalin nama aku Abila, panggil aja Abil. Aku kembarannya si Abbi.” cengir gadis kecil itu menampilkan deretan gigi munyilnya.


“Santai aja, namaku Maharanisya. Kamu bisa panggil Rani.” ujar Rani menerima uluran tangan Abil.


“Nah, kalau yang ini namanya Kia. Kenalin tuh Ki!” ujar Abil sedikit mendorong teman yang sedari tadi menunduk ke bawah.


“Hai. Namaku Adzkiya, panggil aja Kia.” ujar Kia malu-malu.


“Hai namaku Rani. Satu lagi, wajah aku di sini bukan di rumput. Kita semua kan teman, jadi harus saling kenal lebih banyak.” ujar Rani tersenyum hangat dan menggenggam tangan Kia.


“Hahha, dia emang begitu Ran.” ucap Abil tertawa dan menepuk-nepuk bahu Kia.


Gadis pemalu itu pun menatap wajah Rani. Dan mulai memberanikan dirinya untuk berucap banyak dengan gadis humble yang ada di depannya. Biasanya tidak aka nada gadis cantik yang mau berteman dengan dirinya.


“Ternyata bener kata Abil tadi. Kamu cantik sekali Rani,” cicitnya dan membenarkan letak kacamata bulatnya.


“Semua perempuan itu cantik. Semoga ke depannya kita bisa se kelas,” ujar Rani tersenyum.


Kedua gadis itu pun mengangguk setuju. Rani dan teman-temannya itu pun berkenalan dengan anggota kelompok lainnya. Rani lega karena ternyata ia menemukan orang-orang baik dan humoris di hari pertama sekolahnya. Sehingga, ia tidak terlalu canggung di sana.


“Oke. Udah kenalan semua?” tanya sang MC.


“Udah kak…” sorak para siswa baru.


Para panitia MOS itu pun membagikan rundown kepada para siswa baru tersebut. Sembari menunggu giliran mendapatkan brosur yang di bagikan, para siswa baru di buat terperangah oleh penampilan dari ekskul seni yang ada di SMAN 1 Batus tersebut.


Setelah penampilan ekskul itu para siswa baru kembali heboh menatap para pemain alat music yang ada di depan mereka. Ternyata memang benar isi dari SMA favorit ini adalah orang-orang yang terpilih dan dengan plus ketampanan serta kecantikan dari para muridnya seperti yang sekarang ini ada di depan mereka.


“Nah, itu sedikit hiburan untuk kalian. Sekarang kita mulai acara pertama di mana akan di buka oleh ketua OSIS SMA kita. Kepada Kak Immanuel Zikri di silahkan.” Ujar sang MC.


Mata Rani kembali membulat karena mendengar nama yang selalu menghiasi hatinya akhir-akhir ini. Dan ternyata di podium tersebut sudah berdiri seorang lelaki yang tadi pagi sudah membuatnya terkejut. Bentuk wajahnya, hidungnya, ekspresinya hampir semuanya benar-benar menyerupai bang El yang selama ini ia kenal. Rani pun semakin menelisik lelaki yang sedang berbicara di depan seluruh siswa tersebut.


Oh ada bedanya, rambutnya beda, dan dia menggunakan kacamata. Batin Rani tersenyum.


“Perkenalkan nama saya Immanuel Zikri. Kalian bisa memanggil saya kak Zikri. Saya sebagai perwakilan anggota OSIS kembali mengucapkan selamat kepada kalian semua. Semoga kegiatan MOS ini berkesan bagi teman-teman semua. Ingat, selama saya memimpin OSIS saya tidak ingin kegiatan MOS ini di jadikan ajang pembalasan! Semoga kegiatan ke depannya di beri kelancaran oleh Allah SWT. Aamiin.” Ujarnya singkat, padat, dan jelas serta sorotan matanya memang menciutkan nyali para senior yang tadinya selalu tersenyum remeh pada siswa baru.


Rani hanya tersenyum geli mendengar ancaman lelaki di hadapannya. Ia jadi teringat dengan lelaki yang memang selalu tegas di hadapan orang lain dan akan berubah menjadi anak kucing saat bersama dirinya.


“Pssttt…Ran, kok kamu senyam-senyum? Kakak itu ganteng banget yah?” Tanya Abil.


“Ha??? Enggaklah. Aku keinget seseorang aja.” ujar Rani pada temannya tersebut.


“Siapa?” tanya Abil penasaran.


“Kepo ya…Hehe, udah dengerin aja tuh yang di depan.” ujar Rani mencubit pelan lengan temannya itu.


“Uhhh…Iya-iya.” ucap Abil cemberut.


Rani justru terkekeh melihat mulut manyun temannya itu. Ia pun melirik Kia yang berbaris di belakang Abil. Ternyata teman barunya itu fokus menatap apa yang sedang di sampaikan di depan. Rani pun kembali menatap ke depan dan mendengarkan instruksi yang di berikan panitia. Kini mereka akan mengikuti para pembimbing kelompok untuk memulai kegiatan pertama. Siapa sangka bahwa ternyata kelompok mereka langsung di damping oleh ketua OSIS dan seorang temannya.


"Kalian ikut kami. Kita akan ke posko 9 dulu." ujar Zikri. Rani dan kelompoknya pun mengikuti para senior tersebut.


Saat sampai di sana, mereka diberikan beberapa utas tali dan sebuah bola. Seluruh anggota kelompok di harapkan bisa bekerja sama agar bola tersebut bisa berada di tengah-tengah tali dan ujung dari tali-tali tersebut di pegang oleh seluruh anggota kelompok kecuali satu orang yang nantinya akan menjawab makna dari games tersebut. Teman-teman kelompok Rani, meminta Rani yang menjadi orang tersebut. Mereka pun mencobakan segala cara agar bola tersebut bisa berada di untaian tali yang telah mereka rangkai. Beberapa kali gagal. Akan tetapi, semangat yang mereka miliki membuat akhir yang sempurna dari games tersebut.


"Baiklah, jadi siapa nama kamu?" tanya Zikri kepada Rani.


"Maharanisya bang, eh Kak." ujar Rani.


"Oke Maharanisya. Jadi makna apa saja yang kamu dapat dari games ini?" tanya Zikri.


"Paling utama adalah nalar dalam memecahkan masalah dilihat dari bagaimana tadi kami menyusun tali agar masing-masing anggota dapat memegang ujung tali, kemudian pentingnya kerja sama dan kekompakan ketika membuat tali tegang agar bola dapat berada tepat di tengah tali tanpa terjatuh, serta jangan pantang menyerah karena kalau terlalu cepat menyerah akan mematahkan semangat dan tidak akan bisa mencapai keberhasilan seperti barusan." ujar Rani.


Ketua OSIS itu tersenyum tipis mendengar jawaban Rani. Akan tetapi, senyum yang ia tampilkan hanya sekejap. Tidak semua orang dapat melihat senyuman ketua OSIS yang super duper cuek itu.


"Jawaban kamu sempurna banget sih dek. Aku jadi gemes," ujar salah seorang panitia wanita di posko tersebut.


Teman-teman Rani pun memberikan tepuk tangan untuk mereka semua. Mereka pun menuju posko selanjutnya. Kegiatan itu berlangsung hingga waktu istirahat siang. Para siswa baru dibolehkan untuk jajan di luar sekolah yang penting mereka kembali tepat pukul 13.00 WIB. semua siswa pergi meninggalkan lapangan dan mulai berpencar, ada yang ke kantin sekolah, keluar sekolah menuju tempat makan yang ada di depan sekolah, dan ada yang menuju mushola sekolah untuk shalat.


Rani pun menuju mushola untuk melaksanakan shalat zuhur. Saat akan selesai shalat gadis itu menyempatkan diri untuk melihat handphonenya. Ternyata memang benar ada banyak pesan dari El. Gadis itu tersenyum membaca EL tersebut.


Semangat ya MOS pertamanya.


Ingat yah, mesti jaga hati!!!


Abang sayang kamu gadis kecilku


Abang punya mata-mata di sana. Jadi awas aja kalau deket sama cowo lain!