
“Jelasin aja sih!!! Nanti juga gue paham, tinggal prakteknya.” Ucap Rani.
“Ohooo.... sini gue sebagai orang yang sudah memiliki pengalaman di bagian kepanitian selama 4 tahun. Ehemm...” belum sampai perkataan yang diucapkan oleh Keke.
“Kelamaan prolog lo Ke!” tukas Zia memukul lengan temannya itu.
“Ckckk, sabar Zubaeda....” omel Keke mengelus lengannya.
“Ayok dah Ke bagi tau kek mana caranya,” rengek Rani.
“Gini ya sahabatku. Kalau di bagian konsumsi, kita kan udah ngumpulin tuh makanan-makanan sumbangan dari warga plus yang dibeli-beli untuk juri. Nah pas hari H lo tinggal eksekusi dah tu makanan. Lo tarok deh itu ke wadah-wadah. Nanti lo suruh para anggota lo membagikan ke peserta, kalau untuk juri yah lo harus turun tangan langsung.” Ucap Keke menjelaskan panjang lebar.
“Bagiinnya nih gimana?Ngga mungkin kan ke semua orang yang datang?” tanya Rani.
“Ya nggak lah geblek!!! Kalau untuk penonton mah kasih sepiring-sepiring aja,” ucap Zia.
“Ooo begitu yah,” ujar Rani senang.
“Heem sayang,” ujar Keke dan Zia bersamaan.
“Kalau gitu mah gampang. Nanti malam kalian ke rumah gue aja yah?” ajak Rani.
“Really sorry honey. Malam inikan juga ada acara di mesjid komplek gue,” ujar Keke.
“Kalau lo Zi?” tanya Rani.
“Hehe, gue mau buber nanti sore!!!” ucap Zia cengengesan.
“Buber sama siapa lo? Kok gue ngga tau Zi,” ujar Keke.
“Emang gue harus lapor kegiatan gue ke lo gitu?” canda Zia kepada sahabatnya.
“Iyalah...Kalau buka bersama kan gue sama Rani bisa ikut,” keluh Keke.
“Siapa bilang buka bersama? Gue itu bilang buber alias buka berdua sama ayang beb,” ucap Zia dengan senyuman terlebarnya.
“Songong lu!!!” ujar Rani mencubit keras pipi temannya itu.
“Auww...apayo!!!” ujarnya melepaskan cubitan Rani.
“Rasain tuh! Sono lo ngebucin. Ingat dosa anda bakal dilipat gandakan pada bulan ini.” Ucap Keke.
“Kalau iri bilang bos! Ya lo ajak lah si Yudi balikan!” ucap Zia mengejek Keke.
“Tak habis pikir dengan kelakuan kalian!” ucap Rani yang kesal dengan kebucinan sahabatnya.
“Lo kira para cowok itu tikus untuk praktek biologi?” jengah Keke.
“Tau ah gelap. Mending kayak gue bahagia selalu,” ujar Rani bangga.
“Bahagia darimana? Yang ada lo nggak membuka hati, ngga bisa deh ngerasain dag dig dug pas disamperin doi!” ujar Keke bersekukuh dengan pendapatnya.
“Ya bagus dong! Gue terhindar dari penyakit jantung dini,” cibir Rani.
“Udahlah, hayati lelah!” Keke pun memilih untuk diam, ia kehabisan kata-kata untuk menang berdebat dari Rani.
“Hahahah......kalah dia. Gini yah sahabat-sahabatku, jodoh itu ngga usah dicari! Gue yakin kok nanti di masa depan kalau takdir, jodoh gue bakal datang sendiri,” ucap Rani serius.
“Ceh, iyadeh nona. Siapa tau nanti di masa depan bakal ada pangeran berkuda putih yang jemput elu!” ujar Zia.
“Aamiin....makasih doanya sayang,” ucap Rani merangkul kedua sahabatnya itu.
“Sekarang kita ngapain nih? Heran gue yang ngajar dikelas kita sering banget ngegantung kita!!” keluh Zia.
“Ya mau gimana lagi. Lo liat tuh, walaupun nih kelas ngga ada pengawasnya mereka semua pada adem ayem aja sama buku rumusnya.” Omel Keke.
“Kitanya aja yang salah masuk kelas. Wong lo berdua perusuh, kok bisa masuk ke kelas anak superior sih?” keluh Rani mentertawakan kedua temannya.
Mendengar ejekan Rani, Zia dan Keke pun mengapit leher Rani dengan rangkulan yang kuat. Begitulah mereka mengisi kekosongan di kelas. Tawa riang ketiga gadis ini sudah tidak terlalu dipermasalahkan oleh penghuni kelas lainnya. Toh mereka juga terhibur karena ulah gadis cantik ini.
“Ehemm, berisik!!! Kerjain tuh LKS” tegas Akbar.
“Ampun ketua,” ujar mereka serentak.
.
.
.
Like
Commend
Vote
Please....😊😊😊