Before I Found You

Before I Found You
BIFY 82



"Baiklah kakak dan abang sekalian, kita sudah mendapatkan pasangan pertama. Apa yang akan dilakukan pada pasangan ini?" sorak MC 1.


"Suruh duet berdua...suruh joget...suruh adu gombalan!!!" ujar beberapa siswa.


"Kalian yakin mau denger suara gue?" ujar Rani menatap tajam pada juniornya.


"Heheh, terus apa dong kak?" tanya MC 2.


"Dihh kok nanya ke gue. Kalian yang bikin acara juga! Laksanakan planning kalian dong!" ujar Rani ketus.


Sementara perdebatan itu dilaksanakan. Ternyata El sudah lebih dulu mengambil posisi sebagai vokalis di tempat band perpisahan itu. Lelaki itu juga membawa gitar bersamanya.


"Baiklah, disini gue dan teman-teman gue bakal menghibur kalian semua. Mengingat hukuman dari kalian, maka gue akan mempersembahkan sebuah lagu bersama bidadari cantik sekolah kalian!" tunjuk El pada Rani.


Rani hanya memasang tampang cengo karena lelaki es nya sekarang ini berada di posisi yang tidak mungkin. Bukan lebih tepatnya mustahil bagi seorang Immanuel untuk bernyanyi.


"Suittttt....... Pwitttt.... Hajar bang, jangan kasih kendor..." sorak para siswa.


"Ayo kakak cantik, dampingi lelaki pujaannya!" ujar MC mendorong Rani ke arah El.


Rani pun melangkahkan kakinya mendekati El. Ia sangat kesal dengan heels yang ia gunakan saat ini, karena dengan menggunakan heels itu membuat langkahnya terasa lambat untuk menghampiri El yang berasa di sisi kanan panggung.


"Lo jangan aneh-aneh deh bang!" bisik Rani pada El karena saat ini ia sudah berdiri di samping lelaki itu.


"Lo cukup dengarkan dan catat tambahan poin usaha gue untuk bisa masuk ke sini," ujar El tersenyum. Lelaki itu pun menarik tangan Rani agar duduk di bangku sebelahnya.


"Mulai!" ujar El menghadap teman-temannya dan iringan musik pun mulai terdengar.


Sang pianis sudah menggerakkan jari-jari lentiknya di keyboardnya. El mulai mengeluarkan suara beratnya. Ia pun menatap Rani sesekali dan para penonton.


~ Iwan Fals : Kemesraan ini


Suatu hari di kala kita duduk di tepi pantai


Dan memandang ombak di lautan yang kian menepi


Burung camar terbang bermain di derunya air


Suara alam ini hangatkan jiwa kita


Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa tercurah saat itu


Mendengar lagu itupun seluruh siswa ikut bernyanyi. Lampu gedung dimatikan berganti dengan kerlap kerlip serta cahaya dari senter para siswa.


Kemesraan ini janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini ingin kukenang selalu


Hatiku damai, jiwaku tenteram di sampingmu


Hatiku damai, jiwaku tenteram bersamamu


Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa tercurah saat itu


Kemesraan ini janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini ingin kukenang selalu


Hatiku damai, jiwaku tenteram di sampingmu


Hatiku damai, jiwaku tenteram bersamamu


Janganlah cepat berlalu (jangan berlalu)


Kemesraan ini ('kan kukenang)


Ingin kukenang selalu


Pada saat ini seluruh siswa berangkulan. Bahkan ada yang menangis haru karena akan berpisah dengan para sahabatnya di sekolah. Bersamaan dengan putaran gambar-gambar ketika angkatan mereka baru pertama kali menginjakkan kaki di sekolah, saat masa orientasi siswa dulu, beberapa gambar ketika mereka diharuskan untuk mengikuti kemah bakti siswa bersama, dan bahkan ketika mereka mengeluh saat pengumuman waktu yang tak lama di sekolah lagi, dan terakhir saat mereka sedang mendiskusikan warna baju perpisahan yang dikenakan saat hari ini.


Melihat teman-temannya menangis Rani pun juga meneteskan air matanya. Ia pun ikut mengeluarkan suaranya yang sama sedikit terisak. Ia pun menatap El dan mengucapkan terima kasih pada lelaki itu. Karena nyanyiannya berhasil membangkitkan emosi teman-temannya termasuk dirinya sendiri.


Hatiku damai, jiwaku tenteram di sampingmu


Hatiku damai, jiwaku tenteram bersamamu


Hoo-oo


Bersamamu


Lampu gedung pun kembali dihidupkan bersamaan dengan lirik terakhir lagu tersebut. Terlihat jelas mata para siswi yang masih basah. Ada juga yang mascaranya luntur karena tidak tahan air. Melihat hal itupun kembali membuat mereka tertawa, dan menyumbangkan tisu yang dimiliki untuk para gadis tersebut.


MC dan beberapa panitia pun tak kuasa melihat air mata dari para senior mereka yang terkadang memarahi ketika mereka salah, menjahili mereka saat melewati kelas para senior tersebut, bahkan ada yang terlibat perasaan dengan para seniornya itu.


"Uwahhh...It's so amazing!!! Pembukaan game pertama kita sangat menggugah emosi. Baiklah kakak dan abang yang masih pandang-pandangan, boleh kembali ke tempat duduknya." ujar sang MC mempersilahkan Rani kembali ke tempat duduk.


Begitu pun dengan El yang sudah mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya yang kebetulan mengisi acara di perpisahan Rani.


Rani menatap kedua sahabatnya yang masih berangkulan, Zia dan Keke bahkan mengacuhkan lelaki yang ada disisi mereka. Keduanya berpelukan erat dengan kepala yang sama-sama menunduk.


Rani pun masih menghapus ingusnya yang masih menyumbat pernafasannya. Ia juga menegakkan kepalanya ke atas agar tak lagi menangis. Gadis itu mengibaskan tangannya ke mata agar tak lagi panas. Ia mendekati kedua sahabatnya,


"Huwaa...Rani...Gue nggak mau SMA!!!" ujar Keke merengek, ia menarik Rani dan ketiganya pun kembali berpelukan erat.


Tidak hanya mereka. Hampir seluruh gadis disana berpelukan dan menangis bersama teman dekat mereka. Bukan bermaksud untuk berkelompok-kelompok, akan tetapi masing-masing kita sudah memilih mereka yang cocok dengan kita untuk dijadikan sahabat dan berbagi duka suka dan cita dengan mereka.


Melihat hal itu pun sang MC membuat gurauan agar suasana sedih itu tidak berlanjut.


"Ya abang-abangnya juga boleh berpelukan. Kalau gengsi meluk temennya, boleh meluk tembok-tembok gedung ini! Haha," ujar sang MC 2 yang mendapatkan tatapan horor dari para siswa lelaki kelas 3 tersebut.


Para siswa wanita pun tertawa dan mulai


melepaskan rangkulan mereka. Semuanya sudah kembali menghadap ke depan untuk menyaksikan ulah berikutnya yang akan direncanakan oleh para junior tersebut.


"Oke, itu hanya intermezzo sesaat. Teman saya hebat dalam melawak kakak-kakak, jadi kalau sedih suruh aja dia ngelawak! Ehem...Duhai kakak-kakakku tercinta, kita sudahi air mata dan marino rangkai senyuman terindahmu pada malam ini dengan game-game selanjutnya." ujar sang MC 1.


Kedua MC lelaki tersebut memang ahli dalam menguasai audiensnya. Mereka memberikan yang terbaik untuk seniornya.


Game demi game pun dilaksanakan dengan keseruan yang lebih lagi. Semua siswa memberikan apresasi pada keahlian para panitia perpisahan tersebut.


"Lo hutang penjelasan ke gue! Kenapa bisa sampai disini?" delik Rani pada El.


"Gue ikut temen-temen gue lah!" ujar El santai.


"Iihhhh bang El!!! Gue serius!" ujar Rani mencubit punggung tangan El.


"Gue juga serius kan? Nih buktinya, gue nambah poin usaha untuk mendapatkan hati lo!" ujar El menatap Rani dan menahan tawanya saat menatap Rani.


"Apa? Kenapa lo ketawa?" ujar Rani mendelik El.


"Ini kenapa bisa nempel?" ujar El mengambil sisa tisu yang ada di hidung Rani tanpa rasa jijik.


"Aihh...Jatuh harga diri gue! Kenapa harus lo yang ngambil, gue kan bisa sendiri!" ujar Rani dan merebut kaca yang di pegang oleh Keke.


"Seharusnya lo senang Ran bang El ada disini. Gue sama Keke kan ada mereka berdua, nggak mungkin lo jomblo kan?" ujar Zia mentertawakan Rani.


"Dengerin tuh!" ujar El menyentil jidat Rani.


"Arghhh...Selalu saja gue yang salah!" ujar Rani.


Terima kasih udah mampir....


Di episode kali ini author jadi flash back waktu perpisahan SMP.. auto mewek lagi, uwah semoga teman-temanku ada yang membaca novel ini. Kangen kalian semua, 🥺🥺🥺