Before I Found You

Before I Found You
BIFY 79



Setelah kejadian minggu lalu, Rani dan El sudah bersikap seperti biasanya. Rani sekarang juga tidak membangkang ketika disuruh menggunakan hijab.


Hari ini Rani dan kedua sahabatnya sedang mengikuti rapat seluruh siswa kelas 3. Mereka membahas rancangan busana yang akan digunakan dalam acara perpisahan sekolah yang akan diadakan 1 minggu sebelum UN.


"Gue mau warna putih," ujar Rani mengeluarkan suaranya.


"Kalau warna putih terlalu gampang kotor Ran," jawab salah seorang siswa lelaki


"Oh iyaya... Ngga lucu juga kalau kita dandan cantik-cantik tapi punya pasangan yang bajunya kotor karena masih belepotan pas makan," ujar Keke.


Riuh tawa pun memenuhi ruangan itu. Lama memutuskan hal tersebut membuat Rani bosan. Gadis kecil itupun melihat keluar, saat menatap keluar kelas ia melihat Yoan melambaikan tangannya seperti memanggil seseorang. Rani pun menatap sekelilingnya apakah Yoan memang sedang memanggil seseorang. Akan tetapi, gadis itu tidak menemukan orang yang bertatap dengan Yoan.


Rani pun kembali menatap gurunya, ia berpikir bahwa gurunya itu sedang bermain pantomim sendiri dan berkaca lewat jendela. Rani pun mengacuhkan gurunya itu.


Sementara Yoan yang sedari tadi panas-panasan di luar kelas memanggil muridnya menjadi kesal sendiri. Ia pun mengetok pintu ruangan kelas tempat para siswa itu rapat.


"Ehem, saya permisi. Maaf mengganggu rapat kalian, saya ingin memanggil asisten labor. Maharanisya, ikuti saya!" titah Yoan.


"Sebentar pak, emm...Boleh kami meminta saran warna apa yang cocok untuk busana perpisahan kami nanti?" ujar salah seorang siswa perempuan. Ia sengaja ingin mencoba berbicara dengan guru tampan itu.


"Warna biru mungkin. Kalian bisa memberikan campuran warna putih disana," ujar Yoan.


"Wah...Bapak memang the best! Terima kasih pak, silahkan dibawa asistennya." ujar Keke mendorong bahu Rani.


Sementara Rani menatap horor pada teman-temannya itu. Ia pun melangkahkan kakinya dengan malas untuk mengikuti guru kejamnya itu.


"Kenapa bapak manggil saya?" tanya Rani ketika sampai di ruangan Yoan.


"Kamu nanti ada acara!" tanya Yoan.


"Hah? Acara memangnya acara apaan pak?" tanya Rani bingung.


"Maharanisya, saya disini bertanya. Apakah nanti kamu ada acara?" tanya Yoan menatap tajam pada Rani.


"Ooh... Enggak pak, saya ngga ada kegiatan lagi. Habis ini saya mau pulang setelah rapat," ujar Rani santai.


"Bagus kalau gitu. Kamu bantuin saya periksa lembar jawaban adik-adik kelasmu!" ujar Yoan meletakkan setumpuk lembar jawaban PH di hadapan Rani.


Arghhh tau gini gue bilang aja ada acara!!! batin Rani kesal.


"Kamu ikhlas kan bantuin saya?" tanya Yoan.


"Ikhlas ngga ikhlas mah saya juga ngga ada pilihan!" delik Rani kesal. Gadis itupun mengecek lembar demi lembar hasil PH yang dikerjakan oleh adik kelasnya berdasarkan kunci jawaban yang diberikan oleh Yoan.


Rani pun menggelengkan kepalanya melihat jawaban yang dituliskan oleh para angkatan bawahnya itu. Setiap lembar jawaban wanita, akan ada beberapa yang menuliskan kekagumannya pada Yoan, Rani juga sempat terkikik geli melihat salah satu tulisan ungkapan Cinta di lembar terakhir adik kelasnya itu.


"Kenapa?" tanya Yoan. Justru karena Yoan bertanya Rani tidak bisa lagi menahan tawanya. Gadis kecil itupun tertawa lepas, bahkan sampai mengeluarkan air mata karena berusaha menahan tawanya sedari tadi.


Yoan semakin heran melihat tingkah Rani yang kecut, gembira, menggelengkan kepalanya, dan tertawa seperti sekarang.


"Hahahaha....Pfftt... Aduh pak, saya sulit mengungkapkan perasaan saya saat ini. Mending bapak baca sendiri, nih!" ujar Rani menyerahkan lembar jawaban itu pada Yoan.


Teruntuk bapak Yoan, saya siswi yang selalu mengikuti bapak setelah jam pelajaran berakhir hingga bapak menutup pintu ruangan. Saya adalah pengagum setia bapak. Saya berandai jika kelak dewasa, semoga kita berjodoh. Saya membutuhkan keberanian yang besar untuk menuliskan ini, tapi saya yakin. Sesuia dengan rumus fisika bahwa semakin besar usaha yang diberikan maka akan semakin besar energi yang didapatkan. Berarti semakin besar usaha saya mendekati, semakin besar energi cinta yang nantinya mungkin menggetarkan hati bapak. Tolong beri nilai Bagus untuk penggemarmu ini ya pak


Salam hangat dari saya 😉


Yoan yang membaca itupun membuat rahangnya mengeras sekaligus wajahnya memerah. Ada apa dengan anak kecil sekarang, kenapa bisa mereka terang-terangan mengungkapkan perasaannya ada sang guru.


Rani yang melihat ekspresi Yoan pun menjadi semakin tertawa. Ia puas dengan tingkah adik kelasnya itu. Rani sangat kenal dengan adik kelasnya yang terkenal centil itu. Bahkan dulu gadis itu pernah memarahi Rani karena merasa bahwa pacarnya selalu memperhatikan Rani ketika melewati kelas mereka.


"Diam!!!" tukas Yoan memasang ekspresi datar. Rani pun menghentikan tawanya, namun sesekali ia masih terkekeh karena mengingat bentukan adik kelasnya itu. Adik kelasnya itu berbadan besar, dengan kulit putih. Meskipun ia sadar bahwa badannya besar, bukannya menutupi aset berharganya. Malahan adik kelasnya itu sengaja menggunakan hijab pas pasan dan ketika tidak ada guru. Ia akan menaikkan hijabnya ke atas, membuat penampakan badan bongsor itu tambah jelas. Bukannya malu, ia malah berkata bahwa badannya bahenol ketika dicaci oleh Keke.


"Bapak sih. Makanya, kalau ngajar jangan suka tebar pesona!" ujar Rani mengusap sisa air di tepi matanya.


"Kapan saya tebar pesona hemm?" ujar Yoan menatap Rani horor.


"Hehe, canda deng. Jangan dianggap serius pak, oh iya ini udah kelar pak. Saya pamit dulu ya," ujar Rani mengambil ancang-ancang untuk pergi.


"Sebentar, saya juga mau pulang. Kita ke gerbang bersama," ujar Yoan.


Rani pun mengangguk. Siapa sangka, ternyata tujuan Yoan mengajaknya berjalan bersama sampai gerbang karena Rani harus membawakan lembar-lembar jawaban lain yang lebih banyak dibandingkan tadi. Sementara sang guru yang tidak memiliki perasaan itu berjalan dengan santainya sambil mengecek sesuatu di iPad.


"Awas aja kalau nilai gue ngga dapet A setelah perjuangan yang besar ini," ujar Rani dengan suara pelan.


"Kalau ngelakuin sesuatu itu harus ikhlas!" ujar Yoan berbalik sekilas menatap Rani yang berjalan di belakangnya.


Rani hanya memutar bola matanya mendengar ucapan sang guru. Ia rasanya juga ingin mengayunkan tangannya untuk memberikan tinjuan keras pada guru menyebalkan dihadapannya itu tapi hanya angan-angan belaka.


"Ran, udah kelar? Ayok kita pulang." ujar El.


"Lo disini bang?" tanya Rani membulatkan matanya. Ia tidak menyangka bahwa di jam segini El masih menunggunya.


"Iya, gue nungguin lo. Kita mau belajar hari ini kan?" tanya El.


Rani ingin menjawab ucapan El akan tetapi gurunya terlebih dahulu mengeluarkan suara.


"Rani selesaikan dulu tugasmu baru pacaran!" titah Yoan.


"Siapa yang pacaran sih pak Jo!" delik Rani kesal.


"Yaudah letakkan itu di mobil saya sebelah sana!" ujar Yoan.


"Nggak mau itu kejauhan. Tugas saya cuman sampai di sekolah, itu udah diluar gerbang. Nih buat bapak!" ujar Rani.


Gadis itu dengan entengnya menyerahkan seluruh lembaran itu ke tangan Yoan dan menarik tangan El untuk meninggalkan sang guru.


El pun tersenyum, karena ini pertama kali bagi Rani menggandeng tangannya. Sementara Yoan hanya diam terpaku melihat keberanian muridnya itu.