Before I Found You

Before I Found You
BIFY 47



Malam ini adalah hari terakhir perlombaan bertepatan pada tanggal 28 Juli. Entah karena apa, hari ini El melirik ke arah konsumsi. Ia sangat ingin memandang wajah gadis kecilnya yang sedang sibuk disana.


“Hoam. Ngantuk gue,” ujar Rani. Ia pun duduk sembari memeluk lututnya, dan akhirnya menuju alam mimpi.


El yang melihat itu pun mendekati Rani. Ia kembali memasangkan kain sarungnya untuk menyelimuti Rani. Seulas senyum tampak jelas dari wajah lelaki ini, ia senang memperhatikan wajah rani yang semakin cantik saat tertidur.


“Dasar gadis bodoh! Bisa tidur dengan posisi bagaimanapun,” El pun sedikit mengelus puncak kepala Rani yang ditutupi oleh hijab.


“Bro!” ujar Dodo.


Suara Dodo membuat El kaget dan segera mengangkat tangannya. Ia takut ketahuan menyentuh Rani. El menatap tajam kepada Dodo, dan meletakkan telunjuk di mulutnya meminta Dodo agar tidak berisik.


“Ngga baik berduaan dimari apalagi dalam mesjid. Kita keluar aja ngumpul sama anak-anak yang lain,” bisik Dodo pada El.


El pun mengangguk dan ikut dengan Dodo keluar.


Saat pukul 02.30 pagi Rani terbangun dari tidurnya, saat melihat keluar ternyata panitia yang lain sudah melakukan bersih-bersih karena acara sudah selesai.


“Ehem....Putri tidur udah bangun?” ujar El yang menatap Rani.


“Sorry bang, tadi gue ketiduran,” ujar Rani dan melirik sapu yang sedang digenggam oleh El.


”Emm sini gue aja yang nyapu bang,” ujar Rani mengulurkan tangannya.


El pun melihat wajah berseri gadis kecilnya itu. “Yaudah nih.Sapu yang bersih!” ujar El.


Rani pun mulai menyapu dan membersihkan area mesjid bersama dengan panitia yang lain. Selang beberapa lama area mesjid pun telah bersih. Dikarenakan hari ini adalah hari terakhir perlombaan sekaligus tugas terakhir sebagai panitia ramadhan, mereka memutuskan untuk sahur bersama.


Seperti sebelumnya nasib Rani yang tidak beruntung kembali menghampiri. “Ckk, ikan lagi!” keluh Rani dengan suara pelan.


El yang sudah tau bahwa lauk makanan tersebut tidak disukai oleh gadis kecilnya tersebut menggantinya dengan lauk yang ada pada nasi bungkusnya.


“Emm, makasih bang.” Ujar Rani menatap El dengan senyumnya. Ternyata si es baik plus perhatian, batin Rani.


“Hem,” jawab El melanjutkan makannya.


Usai makan sahur Rani duduk di pintu mesjid dan menatap langit yang penuh dengan bintang dan bulan yang bulat sempurna. Matanya berbinar dan keasikan memperhatikan keindahan subuh itu sendirinya.


El pun berdiri menghampiri Rani dan mendudukkan badannya di sisi pintu lainnya. Ia menatap ke langit dan gadis kecilnya yang tampak bahagia itu.


“Ehem. Ran,” ujar El.


“Ha. Sejak kapan lo disitu?” tanya Rani.


“Sejak tadi. Makanya jangan ngelamun” ujar El lembut.


“Lo lihat deh bang. Langit subuh yang sungguh indah, banyak bintangnya” ujar Rani dan tersenyum.


“Iya indah,” jawab El.


“Lo tumbenan kesini bang?” tanya Rani.


"Ya mau aja," ujar El.


"Eh itu bintangnya paling terang, emm Bintang timur kali ya namanya," ucap Rani tanan menoleh pada El.


"Itu Bintang Utara Rani....," ujar El menatap Rani.


"Hehe, salah ternyata" cengir Rani, membuat El menggelengkan kepalanya.


“Gue mau nanya sesuatu ke lo,” ujar El.


“Nanya apaan bang?” tanya Rani.


“Lo punya pacar?” tanya El.


“Hah? Pacar?” ucap Rani membulatkan matanya pada El.


“Iya pacar. Masak lo ngga tau apa itu pacar?” ujar El.


“Ya taulah. Nggak, gue ngga mau pacaran.” Ucap Rani.


“Kenapa? Gue liat temen-temen lo yang kemarin pada punya pasangan.” Ucap el.


“Suka suka gue lah. Kalau ada pacar yang ada nanti hidup gue ngga tenang,” ucap Rani sambil tertawa.


“Gue serius!” ucap El memasang tampang datarnya.


“Hayo bang. Lo pingin tau aja atau penasaran?” ucap Rani menaik turunkan alisnya.


“Jawab aja kenapa sih Ran?” ucap El memelas.


“Hadeh. Ngga cocok tuh wajah lo makai tampang begituan,” ucap Rani mengejek El.


“Gue nanya serius Rani....” ulang El menatap tajam ke Rani.


“Hehehe, iya deh bang. Becanda gue,” Rani mengacungkan dua jari tanda “piss” pada El.


“Gue ngga mau pacaran bang. Gue ngga mau disakitin, lagian gue juga mau namatin sekolah dulu!” ucap Rani yang masih asik memperhatikan taburan bintang di langit.


"Serius lo ngga bakal pacaran sampai sekolah lo kelar?" ujar El menatap Rani penuh harap.


"Ya iyalah," ujar Rani menatap El dengan serius.


“Gue mau nantang lo,” ujar El.


“Nantang gimana?” heran Rani.


“Kalau empat tahun dari sekarang lo atau pun gue ngga boleh ada yang pacaran?” ucapEl.


“Lah kan elo bilang ngga mau pacaran.Yah gue cuman nantangin, membuktikan kata-kata lo tadi,” ujar El.


“Ceh! Gue ditantangin. Okey lo liat aja empat tahun dari sekarang!” ujar Rani santai, karena memang dirinya tidak menginginkan kamus pacaran merusak hari-harinya.


“Janji?” ujar El.


“Janji...” ucap Rani mengarahkan kelingkingnya ke El.


El menautkan alisnya karena ia bingung untuk apa Rani mengarahkan kelingkingnya. “Buat apa jari kecil lo ditunjukin ke gue?” tanya El.


Sontak Rani memukul jidatnya sendiri. “Gue kira lo cerdas bang. Ternyata geblek juga,” tukas Rani.


“Gue memang cerdas kok IQ gue 139,” bangga El.


“Percuma IQ lo tinggi kalau janji kelingking aja ngga tau, huu” ketus Rani.


Rani pun menarik tangan El dan menautkan jari kelingking mereka. “Nah, kalau gini baru cara membuat janji yang baik dan benar,” ucap Rani.


El pun tersenyum melihat tingkah gadisnya itu, memang dirinya tidak tau akan perjanjian yang harus menautkan kelingking antara dua orang yang berjanji.


Rani mentertawakan tampang El yang tampak seperti orang linglung dan senyum-senyum sendiri. Tawa Rani mengundang perhatian panitia lainnya, begitu pula dengan El yang sadar bahwa dirinya sedang ditertawakan oleh Rani. Tawa dua sejoli ini menjadi terhenti ketika tiba-tiba mic mesjid memutar lagu Wali-Mari Sholawatan


Daripada kita pacaran


Lebih baik kita sholawatan


Dari pada kita berduaan


Nanti bakal di hasut setan


Awas jangan dekat-dekatan


Kita kan belum ada ikatan


Daripada dekat-dekatan


Mending kita sholawatan


Sholatullah salamullah


‘ala Thoha Rasulillah


Sholatullah salamullah,


‘ala Yasin Habibillah


Tawasalna bibismillah


Wa bilhadi Rasulillah


Wa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri Ya Allah


Bukan aku tak suka padamu


Bukan aku tak mau denganmu


Tapi aku mau liat dulu


Setebal apa imanmu


Sudahlah engkau lupakan


Anggap saja kita ta’arufan


Sudahlah jangan kaupikiran


Mending Kita sholawatan


Sholatullah salamullah


‘ala Thoha Rasulillah


Sholatullah salamullah,


‘ala Yasin Habibillah


Tawasalna bibismillah


Wa bilhadi Rasulillah


Wa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri Ya Allah


Temen-temen si*alan gue sedang negosiasi masih sempat aja ngerusak suasana, batin El. Sementara itu, Rani yang mendengar musik tersebut menjadi malu karena sadar bahwa dirinya dan El hanya berdua di tepi pintu mesjid tersebut. Ia pun segera berdiri dan meninggalkan El.


.


.


.


.


Terima kasih udah mampir ☆☆☆♥


💗 Have a nice day 💗