Before I Found You

Before I Found You
BIFY 81



Hari ini adalah hari pengukiran sejarah dan nostalgia selama bersekolah dengan seragam putih dongker ini.


"My God...Selama ini gue punya sahabat bidadari," ujar Keke menutup mulutnya yang tercengang karena penampilan Rani.


"Oke dah jelas kalau selama ini sikap tomboynya menutupi kecantikan alami dia!" ujar Zia.


"Apa sih kalian lebay banget!" delik Rani.


"Mereka memang benar sayang, kalau kamu itu cantik banget" ujar sang perias.


"Ahh tante bisa aja. Mereka juga cantik kok, malahan lebih heboh dari aku!" ujar Rani.


Zia dan Keke pun saling berangkulan. Keduanya memakai sepatu heels yang sama, mainan hijab yang sama, bahkan kalung yang sama. Sebenarnya mereka juga membelikan untuk Rani. Akan tetapi, sifat keras kepala Rani tidak bisa mereka kalahkan.


Apabila Keke dan Zia bertambah tinggi karena heels 15 cm yang mereka gunakan, Rani tetap mempesona dengan heels 7 cm nya. Ketiganya pun bersiap untuk pergi.


"Buruan, mang dadang udah nungguin!" ujar Keke.


Mereka pun memasuki mobil Keke. Mobil itupun melaju menuju sekolah. Hari ini adalah hari perpisahan mereka, semua guru dan seluruh warga sekolah menyaksikan rangkaian acara. Paginya akan ada acara formal dan seluruh murid kelas 3 akan ditemani oleh orang tuanya.


Kali ini mama Zia bersedia untuk datang. Meskipun setelah rangkaian acara formal dan berfoto sebentar wanita paruh baya itu kembali ke tempat kerjanya. Senyuman yang awalnya menghiasi wajah Zia menjadi luntur, tapi tidak bertahan lama karena ada Rita yang membuat ketiga gadis itu bahagia.


Setelah memanjakan ketiga putrinya itu. Rita pun pamit untuk pulang duluan.


"Mama balik duluan yah. Ngga mungkin kan mama ikutan acara anak muda!" kekeh Rita. Wanita paruh baya itu menaik turunkan alisnya pada gadis-gadis kecil dihadapannya.


"Haha, boleh aja kok mah. Siapa tau mama yang kepilih jadi gadis tercantik malam ini," ujar Keke menyauti gurauan Rita.


"Hadeuh... Kamu ya! Kamu mau papa di rumah uring-uringan? Sana masuk, nikmatilah masa-masa kalian bersama teman-teman," ujar Rita.


"Siap ma. Mama hati-hati di jalan, awas kalau nyangkut! Aku bilang ke papa!" ujar Rani menciumi tangan mamanya dan diikuti oleh kedua sahabatnya.


Rita pun tertawa dan meninggalkan ketiga gadis yang mengantarkannya sampai keluar gedung mewah itu.


Saat ini perpisahan diadakan di salah satu gedung pemerintah daerah Kota Batus, kemewahan gedung dan busana yang digunakan oleh siswa-siswi kelas 3 saat ini sangatlah cocok. Di mana warna biru langit dipadukan dengan putih sangat kontras dengan dekorasi gedung yang didominasi warna putih dengan bunga-bunga berwarna biru.


"Ayok kota selfie! Nanti fotonya gue cuci terus dipajang di kamar!" ajak Keke mengeluarkan handphone canggihnya.


"Satu.. Dua ... Tiga.. Cisss," ujar Keke memberi aba-aba.


Siapa sangka bahwa ada tiga laki-laki yang menyempil di belakang mereka dan membuat formasi Indah ketiga gadis itu berantakan.


"Kalian ini kenapa sih! Ngerusuh aja!" ujar Zia kesal dan menghempaskan tangan Ari yang ada di bahunya.


"Sesekali doang! Pelit amat sii? Lagian kan kita juga mau foto bareng bidadari sekolah!" ujar Ari memasang tampang memelas.


"Aduh udah!!! Jangan berantem, sekarang kita foto bareng-bareng. Yang cowok di depan tuh duduk!" ujar Keke.


"Eh dek tolong fotoin kita ya. Harus Bagus pokoknya!!" ujar Keke menarik salah satu adik kelasnya.


Junior itu hanya bisa mengangguk pasrah dan meletakkan makanan yang ia pegang. Dengan tampang memelasnya ia memfoto para seniornya yang sedang bahagia itu.


"Satu, dua, tiga... Lagi! Oke pas, lagi!" ujar sang junior bak fotografer profesional.


"OMG... Bagus banget!!! Lo jadi tukang foto aja besok pas udah gede, apa yah namanya fotografi!" ujar Keke kesenangan.


"Fotografer og*b!!!" delik Rani dan Zia bersamaa. Sedangkan Keke yang disoraki menjadi malu, semua yang ada disana pun mentertawakan Keke.


"Kakak cantik kok. Jadi nggak apa kalau salah ucap," ujar junior yang memfoto mereka.


"Asik udah digodain brondong dia!" ejek Zia, dan membuat Keke menundukkan wajahnya.


Sementara sang junior tadi sudah kabur entah kemana setelah mengucapkan kata-kata manis pada Keke.


"Ingat cowok lo!!!" ujar Zia memukul pelan kepala sahabatnya.


***


"Baiklah kakak dan abang sekalian. Di malam yang dingin ini, saya sebagai MC akan mengadakan sebuah permainan yang menarik. Sebelum memulai permainan, saya ingin agar bangku kiri dan kanan kakak abang sekalian dikosongkan terlebih dahulu!" ujar sang MC.


"Wah...Baru di acara ini gue diatur junior!" sorak salah satu siswa kelas 3.


"Hehe, bukan maksud adikmu ini mengatur kakak cantik. Akan tetapi untuk membuat memori baru yang tak terlupakan," ujar sang MC satunya lagi memasang tampang termanisnya.


"Kakak-kakak diminta untuk mengisi bangku terlebih dahulu." ujar sang MC.


"Baiklah karena ladies first! Apakah seluruh ladies sudah duduk?" ujar sang MC menatap sekelilingnya.


Ternyata seluruh siswi kelas 3 sudah duduk sesuai aturan yang diberikan. Dan tiba-tiba lampu gedung dimatikan. Diiringi dengan musik romantis, awalnya seluruh siswi berteriak. Alan tetapi suara MC mencoba untuk menenangkan keributan yang ada.


"Tenang kakak dan abang sekalian! Semuanya harap tenang, baiklah diharapkan kepada abang-abang untuk mengambil posisi duduk dengan perasaan. Hati-hati jangan sampai menabrak!" ujar sang MC.


Saat ini suasana sudah tak terlalu gelap karena sudah ada sedikit pencahayaan dari lampion berwarna biru yang diterbangkan satu persatu oleh panitia.


Dirasa tidak ada lagi orang yang berdiri, para panitia sudah menghidupkan lampu gedung.


Degg


Rani kaget melihat sosok lelaki di sebelah kirinya. Kenapa dia bisa disini? batin Rani.


"Kenapa tampang lo begitu?" ujar El berbisik karena suara musik sudah memenuhi ruangan itu.


Rani pun menggeleng. Ia menatap lurus ke depan.


"Baiklah kakak abang sekalian. Karena sudah ada pasangannya di samping, jangan dianggurin! Hehe, kita mulai ke gamenya." ujar MC 1


"Oke. Disini kami akan memberikan penjelasan mengenai gamenya. Pertama kami akan menghidupkan musik, dan akan member hentikan nya secara acak diikuti lampu sorot. Bagi pasangan yang terpilih oleh sorotan lampu di harapkan untuk maju ke depan!" ujar MC 2


"Are you ready??? Lets enjoy this game!" ujar mereka bersamaan.


Musik modern pun diputarkan dengan semaraknya. Semua orang mengikuti sorotan lampu yang berubah tak beraturan.


"Kita hitung mundur! Tiga... Dua... Satu!!!" ujar MC 1.


"Ooo amazing. Bisa dilihat bahwa lampunya berhenti ditengah." ujar MC 2 dan membuat semua orang menatap pada orang yang terkena sorotan lampu itu.


Mampus!!! Batin Rani. Gadis itupun berpindah tempat duduk ke sisi kanannya yang seharusnya dikosongkan.


"Eitss... Kakak cantik dan sang abang yang disebelah sana jangan curang. Ayo ayo maju ke depan," ujar MC 1.


Maju


Maju


Maju


Suara riuh mewarnai gedung itu. Rani menutup wajahnya menggunakan kipas kertas yang ia bawa tadi.


"Yeay...Sahabat gue ayo dong maju!!!" teriak Keke.


Rani menatap tajam pada MC dan beralih pada kedua temannya yang ikut menyoraki dirinya. Terakhir Rani pun menatap lelaki yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Apes mulu hidup gue kalau sama lo bang!" delik Rani.


"Bukan apes! Tapi ini takdir kita, ayo maju!" ujar El mengulurkan tangannya.


Cieeeeeeee......


Sorak semua orang. Membuat Rani semakin malu dan segera meraih tangan El. Ia ingin segera menyelesaikan game abal-abal yang diciptakan oleh para junior yang nggak ada akhlak tersebut.