Before I Found You

Before I Found You
BIFY 63



"Haduh.. Cah ayu, cantik-cantik kok nengger di pohon?" tanya seorang petani pada Rani.


"Hehe, Rani sedang menenangkan diri disini pak. Bapak lanjut aja kerjanya," cengir Rani yang membuat si bapak menggelengkan kepala.


Pagi ini Rani memang libur dan memilih untuk membawa buku pelajarannya ke pohon asam tempat dia dan sahabatnya nongkrong. Hembusan angin menyentuh kulit lembutnya dan menyegarkan otaknya yang mulai panas ketika menyelesaikan soal-soal pelajaran. Di pohon asam tersebut sekarang sudah ada papan sehingga lebih mirip rumah pohon ala kadarnya.


TO kemarin ia mendapatkan hasil yang memuaskan. Sejak kejadian pemaksaan yang dilakukan oleh El, kini dirinya terpaksa menggunakan hijab ketika belajar. Namun, saat santai sendirian seperti ini dirinya tetap menjadi Rani yang biasa.


"Ehem... adem ya kalau ada angin sepoi-sepoi," ujar seseorang yang sudah ada di samping Rani.


Rani yang tadinya fokus mengerjakan soal, tidak menyadari bahwa ada seseorang menaiki rumah pohon tersebut dan sudah berada disampingnya.


"Lo ? Kenapa lo bisa disini bang?" delik Rani. Dirinya menggeser tubuh menjauhi El.


"Dih! Pohon ini aja nggak pernah ngelarang gue kesini! Kenapa lo yang sewot!" ucap El menatap hamparan sawah.


"Yaudah minggirlah! Gue mau balik," ucap Rani ingin turun dari pohon tersebut. Namun, tangga untuk turun dari pohon tepat dibelakang El. Alhasil dirinya tidak bisa turun.


"Kenapa mau pulang?" tanya El menatap Rani.


"Udah sore!" jawab Rani, ia risih dengan tatapan yang diberikan oleh El.


"Dari tadi disini sendirian nggak nyadar tuh udah sore. Rambut indah ini juga dipertontonkan!" ucap El kembali menarik rambut Rani yang dikucir satu kebelakang.


Rani membulatkan matanya karena tingkah El. Ia tidak biasa berduaan dengan lelaki, meskipun selama ini dirinya tomboy tapi dia tak pernah dihadapkan dengan situasi ini.


Hembusan angin menerpa wajah keduanya, desiran lembut terasa di dada. Namun, hanya Rani yang bingung akan perasaannya terhadap sang guru privatnya ini.


"Terserah gue dong! And don't touch me!" ujar Rani memelintir tangan El.


"Arghh sakit Ran. Lepasin jari gue!" tukas El kesakitan karena jari telunjuknya diputar keras oleh Rani.


"Makanya, kalau jadi orang jangan semena-mena. Lo juga perlu inget kalau gue bukan cewek yang lemah!" ucap Rani menghempaskan kasar tangan El.


El pun mengelus tangannya sendiri yang seperti keseleo karena ulah Rani. Rani yang merasa sedikit bersalah karena tingkah kasarnya kembali menarik jari telunjuk El dan memutarnya ulang


Krakk


"Ya Allah pedihnya," ucap El melepaskan jarinya dari Rani. Ia heran karena jarinya tidak sesakit tadi.


"Ngga usah lebay! Gue udah ngembaliin ke posisi semula! Untung tuh jari masih baik-baik aja! Kalau lo masih ngulang nyentuh-nyentuh kek biasanya, gue patahin tuh tangan!" delik Rani, gadis itu pun kembali fokus pada soal yang ada di bukunya.


El hanya diam mendengar ancaman dari gadis kecilnya itu. Dirinya terpana melihat wajah Rani yang seakan berseri karena hembusan angin, rambut hitamnya meliuk-liuk mengikuti alur, bibir cerah seperti cherry itu berkomat-kamit kecil karena menghitung jawaban soal yang ada dibuku.


Ya Allah, jantung ini berdebar terlalu keras. Kemana hati gue yang selama ini dingin, gue bahkan nggak merasakan ini saat dengan Sifa. Jangan sampai suara ini terdengar oleh Rani, batin El.


"Lama-lama lo ngeliatin gue nanti kalau jadi suka gue nggak bisa tanggung jawab!" canda Rani, gadis itu pun tertawa melihat wajah El yang kini seperti orang tertangkap basah.


"Pede amat lu!" ujar El mengacak rambut Rani.


Rani mencebikkan bibirnya karena rambutnya jadi lebih berantakan bahkan seperti singa, "Aishh udah dibilangin jangan sentuh-sentuh gue! Nggak muhrim!" ujar Rani.


"Sama murid sendiri juga!" bela El.


Rani menyipitkan matanya pada El, ia pun menyodorkan soal yang tidak bisa ia selesaikan pada El.


"Ajarin yang ini, gue nggak ngerti!" ucap Rani.


"Dih giliran butuh aja melunak kek squishy!" cibir El. Namun dirinya tetap mengajarkan Rani.


"Bang, lo dengar sesuatu ngga?" tanya Rani.


"Dengar apa?" ujar El gagap.


"Bunyi Dug dug dug... Haa ada dalam badan lo bang! Denger tuh," ujar Rani mendekatkan telinganya ke arah dada El dan menunjuk dada bidang itu menggunakan buku latihannya.


El pun memundurkan badannya, "Geser! Bukan muhrim!" elak El mendorong jidat Rani menggunakan pulpen yang ada di di tangannya.


"Huhh... Lo kayaknya harus periksa bang! Siapa tau lo kena penyakit jantung turunan," ujar Rani menatap El dengan wajah kasihan.


"Gue itu bukan punya penyakit jantung! Tapi bunyi jantung ini beraksi karena lo udah..." El menggantungkan kalimatnya.


"Lah kok gara-gara gue! Memangnya gue salah apa?" heran Rani.


"Ya gara-gara lo lah! Jantung gue bereaksi karena otak lo nggak bisa ngerjain soal segampang ini!" ujar El berbohong.


Haduh nih anak kelewatan polos! Udah jelas jantung gue ini mendadak senam karena dia terlalu dekat! Lo juga salah jantung! Bunyi pakai nggak liat sikon! Maen senam aja tanpa musik, omel El dalam hatinya.


"Dih masih aja nyalahin otak gue. Kena sakit jantung beneran nyahok lo!" ujar Rani ketus.


"Doa itu yang baek-baek! Nggak baik nyumpahin calon imam," ujar El dengan suara yang semakin mengecil. Ia tak sadar bisa keceplosan seperti itu.


Akhir dari perkataan El terswbut masib terdengar jelas oleh Rani, "Hadeh omesnya mulai kambuh. Gue mau balik pulang deh! Geser lu!" ucap Rani mendorong bahu El dan segera turun dari rumah pohon tersebut. Bahkan Rani hanya melompat ke bawah tanpa menuruni tangga dengan benar.


"Heh! Siapa suruh lo kabur?" ucap El mengejar Rani.


"Ngapain lo ngintilin gue?" ucap Rani mempercepat langkahnya.


"Gue mau ngantarin lo pulanglah!" ucap El serius.


"Nggak usah! Gue bisa balik sendiri!" tukas Rani.


"Yaudah kalau gitu gue mau jajan di warung mama lo!" ucap El.


Baru saja Rani ingin protes dengan menghadap ke belakang tapi masih melangkah, El sudah menarik lengan Rani sehingga tak ada jarak diantara mereka. El menarik Rani karena tepat di pijakan kaki saat ini ada lubang di pematang sawah tersebut. Apabila dibiarkan Rani akan masuk ke dalam lubang tersebut, yang mungkin saja di dalamnya adalah sarang ular sawah.


Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing karena mata mereka bertatapan. Aneh memang di usia yang sangat muda merasakan getaran cinta, apakah memang ini yang disebut cinta monyet atau ini yang kebanyakan orang sebut sebagai cinta pertama. Entahlah, yang jelas keduanya merasakan detakan jantung masing-masing dan adanya terpaan angin yang masuk hingga ke relung hati, terkesan seperti ada yang menggelitiki tetapi tidak diketahui penyebabnya.


"Ehem," ujar El yang tersadar lebih dulu.


Rani yang mendengar deheman tersebut segera melepaskan dirinya dari El, "Ngapain lo narik gue?" ujar Rani menatap ke bawah, ia pun melihat lubang tersebut.


"Udah tau kan?" tanya El.


"Hemm...makasih," ucap Rani canggung, ia sadar bahwa El tadi itu hanya ingin membantunya agar tidak tertimpa masalah.


"Makanya jalan itu lihat ke depan jangan ke belakang!" titah El. Rani yang malu pun mempercepat langkahnya.


.


.


.


Terima kasihhh udah mampir.... 🥰🥰🥰