Before I Found You

Before I Found You
BIFY 09



“Huhh, nggak kerasa bentar lagi kita kuliah, gue bakal rindu sama kalian disana,” ucap Alan merangkul kedua sahabatnya.


“Iya, nggak kerasa udah tiga hampir tiga tahun gue mengahabiskan waktu dengan kalian, sampai-sampai lupa buat mikirin pasangan saat perpisahan nanti,” Kevin menghembuskan nafasnya.


Alan pun menepuk-nepuk pundak sahabatnya yang tampak putus asa ini. ”Tenang Vin, nanti gue pinjamin salah satu bidadari gue buat lo, kalau mereka mau,” tukas Alan.


“Ogah gue sama bidadari lo yang udah tebel sama tepung itu, mending lo goreng,” sewot Kevin.


Ia mengingat bagaimana tipe-tipe gadis yang mendekati sahabatnya, rata-rata mereka berasal dari kelas IPS yang barangkali mengidap BDD atau Body Dysmorphic Disorder. Gadis-gadis tersebut sangat senang mematut diri di cermin, dan memperhatikah secara detail jerawatnya kemudian mereka tambal dengan make-up. Sehingga, saat dilihat dari dekat akan jelas tumpukan-tumpukan bedak yang tidak rata. Kevin bergidik nyeri membayangkan wajah-wajah tersebut kenapa mereka sangat terosebsi akan penampilannya. Sebagai seorang lelaki ia lebih menyukai wajah natural alias asli tanpa make-up cukup dengan bedak bayi saja, karena menurutnya segala yang berlebihan itu tidak baik apalagi kalau make-up yang berlebihan itu adalah petaka.


El hanya geleng-geleng kepala mendengarkan penuturan dua sahabatnya. Ia lebih memilih untuk melanjutkan menghapal rumus fisika dibandingkan mendengar ocehan unfaedah dari dua cumi kembar itu. Seperti yang dibahas pada episode sebelumnya, tiada hari tanpa perdebatan Kevin dan Alan. Entah apa alasan El bisa kebal bersahabat dengan mereka selama ini. Mungkin karena otak dua orang ini encer (Kevin yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang biologi Alan di bidang kimianya), kemudian wajah mereka berdua yang cukup memenuhi kriteria, serta kesungguhan mereka dalam menemukan solusi dan selalu mendampingi El di kala susah maupun senang, membuat El sulit melarikan diri dari dua orang yang notaben sahabatnya ini.


Saat kelas tiga ini memang mereka lebih banyak belajar mandiri karena guru-guru akan memberikan bank soal untuk dikerjakan setiap harinya, kemudian menyuruh para siswa untuk belajar otodidak dari buku ataupun berbagai sumber lain yang dapat mereka gunakan. Sekolah unggulan ini memang berbeda dari sekolah lain, karena murid-murid yang bersekolah di sana memang sudah memiliki kemampuan luar biasa. Oleh karena itulah, SMA 3 ini dikenal sebagai “Excellent School”, eitss artinya bukan sekolah yang ada dipikiran readers yaa... Sekolah ini dikenal sebagai sekolah luar biasa karena murid-murid dan alumninya yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa.


“El, kenapa udah beberapa minggu ini gue liat lo nggak dekat lagi sama Sifa?” tanya Sarah, teman kelas mereka yang duduk di deretan seberang.


Mendengar pertanyaan polos dari gadis ini membuat ketiga lelaki ini menoleh. Alan dan Kevin sudah mengode-ngode Sarah untuk tidak bertanya akan hal itu kepada sahabatnya ini, Alan dengan membentuk tanda silang berulang kali tanpa sepengetahuan El agar Sarah mengerti kode yang ia maksud. Naas, seperti yang mereka duga gadis ini memang sudah dari dasarnya nggak peka, mengode berapa kali pun ia tidak akan paham. Yup, keduanya langsung menyerah, mereka heran bukannya dalam kehidupan itu lelakilah yang lebih tidak peka dibandingkan wanita. Tapi kenapa itu tidak berlaku untuk gadis ini.


“Dasar cewek nggak peka!” jengah Kevin melihat wanita itu masih menantikan jawaban dari pertanyaannya.


Sebelum pertengkaran berlanjut, El segera menjawab pertanyaan dari teman curhatnya ini. “Dia udah sama yang laen Sar,” El berusaha menjawab dengan santai.


“Whattt!!! Kok dia gitu sih, apa coba kekurangan lo?” Kaget Sarah, karena ia mengira El akan sukses mendapatkan gadis pujaan hatinya itu. El memang dekat dengan Sarah, perihal dirinya dan kegundahannya dalam mengungkapkan perasaannya selama ini ia ceritakan pada Sarah.


“Udah ahh anabel, nggak usah bahas-bahas mak lampir lagi ke El,” larang Alan, ia tidak ingin sahabatnya ini galau kembali.


“Lo yang diam kakek gayung! Gue nanya el bukan elo!” Sarah menyipitkan kedua matanya pada Alan.


“Ya nggak apa-apa kok Sar, kan cewek nggak cuman dia aja,” ucap El.


“Nah ini nih sahabat gue, otaknya udah bener lagi setelah beberapa minggu nggak kepakek,” Kevin memukul pelan lengan El.


“Oh, okedeh kalau gitu, asalkan lo nggak galau gue juga tenang,” ucap Sarah yang semakin mengecilkan suaranya.


“Gu gue nggak ngomong apa-apa kok, lo tuh udah tua makanya perlu pergi ke THT,” elak Sarah, ia beruntung karena keceplosannya tidak terdengar sempurna oleh kakek gayung tersebut.


Sarah mengalihkan perhatiannya ke buku dengan cepat. Ia pun termenung mendengar ucapan El barusan. Dalam hatinya, “El, gue udah lama di sisi lo kenapa sih hati lo tetap buat dia. Apa karena selama ini gue deket sama lo dengan alasan sahabat curhat. Gue tau semua kesukaan lo, gue juga menyediakan waktu gue yang sibuk hanya demi dengerin lo. Ntah kenapa, telinga gue nyaman denger suara lo, jantung gue berdetak lebih cepat pas lo senyum,”


“Eh Sar. Nantik lo pulang bareng gue aja,” ucap El, seketika Sarah sadar akan isi hatinya ia mengelengkan kepalanya cepat. Sarah menerima ajakan El dengan mengangguk, ia pun kembali memfokuskan matanya ke arah buku. Yah, cukup dengan begini gue bisa tetep sama lo. Itulah cara Sarah menguatkan dirinya selama ini.


“Ahh El, kok lo milih nganterin si anabel dibandingkan gue,” rengek Alan.


“Noh ada si Kevin, lo antar dia pin!” titah El pada sahabatnya satu lagi.


“OK Boss. Huhh, nyusain gue aja lo siAlan,” Kevin menjitak kening Alan.


“Sewot amat sih bang, lo kan juga jarang nganterin gue,” Alan mengelus keningnya.


“Udah jangan berantem mulu lu bedua!!! Inget umur, malu tuh sama anak TK,” lerai El pada dua sahabatnya.


“Lo nanti mau langsung pulang atau pegi makan dulu Sar?” tanya El pada teman perempuannya itu.


“Langsung pulang aja El, kan gue belum izin sama bunda,” jawab Sarah.


“Oh, okedeh gue juga dah lama nggak ketemu bunda,” El menampilkan senyumnya.


“Duh Ell.....senyum lo itu!!! Bikin jantung gue senam sendiri,” batin Sarah. Kalau ditanya kenapa semua perasaannya tidak diketahui oleh El, jawabannya simpel El tidak pernah memperhaikan salah tingkah Sarah saat bersamanya, dan menurut El hubungan mereka hanya sebatas persahabatan bukan yang lain.


Terima kasih udah baca novel ini...🤗🤗🤗


Mohon maaf apabila ada typo ataupun kesalahan kata. 😇


Bantu author dengan like, comment, dan vote novel ini yah...😊😊😊