Before I Found You

Before I Found You
BIFY 35



Akhirnya pekerjaan mereka pun selesai, Rani memilih untuk berdiri menyandar ke salah satu tiang teras mesjid dan menghadap jalanan. Sedangkan Iwing, Sari, dan Wulan duduk lesehan di teras mesjid tersebut. Mereka semua menatap anak-anak yang sedang bermain bola di halaman mesjid. Tiba-tiba ada yang memukul pelan bahu Rani dari belakang. Saat ia akan menoleh,


“Awas lo yah Vandee!!!!” ujar El mengejar Vande sekeliling mesjid.


“Lah tu orang kenapa kek tom and jerry?” tanya Rani menghadap teman-temannya.


“Gue aja kaget ada angin kencang dar arah belakang, eh ternyata pas liat si bang El udah ngejar bang Vande,” jawab Wulan.


“Wah Ran, lo nggak nyadar mereka kejar-kejaran gara-gara Vande mukul bahu lo?” jawab Sari.


“Err, bukannya elo Wing yang mukul bahu gue?” tanya Rani. Ia memang mengira yang memukul bahunya adalah Iwing. Karena hanya dia lelaki luar yang sering digandeng Rani.


Semua yang di sana pun tertawa saat melihat Vande dilempari dengan sandal oleh El. Vande pun cekikan karena El terus saja mengejarnya. Saat berhasil mendapatkan Vande. El pun memiting kepala Vande di ketiaknya keras, membuat Vande tambah cekikan dan sedikit terbatuk.


“Ranii, tolongin gue,” ujar Vande.


“Cehh, tolongin aja diri lo sendiri,” ujar Rani tak peduli dengan lelaki yang disiksa habis-habisan oleh El.


“Hehh, Minta maaf nggak lu sama Rani! Main pegang-pegang anak gadis orang!” ucap El dengan nafas yang sama sesaknya dengan Vande.


“Santai Bro. Iya-iya. Rani maafin abang yah,” teriak Vande dan memukul lengan El agar temannya ini melepaskan pitingannya.


“Nggak ada maaf buat lo bang!” tukas Rani memutar bola matanya jengah.


El pun melepaskan pitingan dari kepala Vande. Ia berjalan melewati Rani. Saat pas di samping Rani ia berhenti dan berkata dengan suara yang mungkin hanya terdengar oleh Rani, “ Jadi cewek itu, jangan biarin lelaki bukan mahram menyentuhmu!” tukas El menatap tajam ke arah Rani dan kembali berjalan melewati Rani.


“Cehh, emangnya lo siapa ngatur-ngatur hidup gue,” gerutu Rani setelah El melewatinya.


Rani pun membalikkan badannya dan melihat ekspresi El yang bertambah dingin. Itu cowok kenapa sih?? marah-marah nggak jelas ke gue. Toh dia juga bukan siapa-siapa gue, omel Rani dalam hatinya.


“Wah wah Ran, Lo ada hubungan apa sama Bang El?” tanya Iwing yang melihat temannya itu menatap El.


“Sarap lo!!! Mana mungkin gue ada hubungan sama devil es,” gerutu Rani.


“Iya nih Ran, seumur-umur. Baru kali ini gue liat ekspresi bang El semarah itu,” ucap Wulan.


“Mana gue tau! Memang tampang tuh cowok yang udah ngebatu es dari dulu. Ngga hubungannya sama gue!” ucap Rani mendudukkan badannya di samping Iwing.


Jawaban Rani itu membuat ketiga temannya menggelengkan kepala. “Dah ahh, balik pulang yuk? Capek gue,” ucap Rani yang masih bingung dan kesal dengan perbuatan El hari ini.


Mereka pun meninggalkan mesjid. Sebelumnya mereka telah izin ke kakak-kakak panitia yang lain, karena memang tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan lagi. Rani dan teman-temannya pun diizinkan pulang. Saat melewati jendela arah depan, Rani merasa ada yang menatap tajam ke arahnya. Akan tetapi, ia tidak mencari tatapan itu. Justru berlari menuju rumahnya.


Ternyata yang menatap tajam Rani sedari tadi adalah El, ia berdiri di jendela arah dalam mesjid. Lo itu cewek yang baik. Apalagi tu bahu, gue nggak mau orang lain nyentuh lo. Gue ingin lo jadi milik gue kelak dengan keadaan bersih tanpa jejak dari cowok lain, ucap El dalam hatinya. Terkesan lebay memang, tapi begitulah El. Ia juga bingung kenapa ia menjadi posesif pada orang yang tidak ada hubungan dengan dirinya.


***


Saat di kamar Rani uring-uringan, ia teringat perkataan El tadi. Apa iya gue jadi cewek terlalu gampangan? Itulah ia pikirkan. Arggh, bodolah, toh bang Vande tadi cuman ngagetin, nggak mungkin ada niatan lain. Rani berusaha menstabilkan pikirannya.


“Apa mah?” tanya Rani.


“Kesini dulu, bantuin mama ngiris bawang ini,” ujar Rita.


Kedua orang ini memang suka teriak-teriak, jadi tak heran penduduk di rumah ini sudah kebal karena suara Rani dan mamanya. Rani pun menghampiri sang mama di dapur.


“Banyak banget mah, buat apa aja nih?” tanya Rani yang melihat sekantong bawang merah,.


“Udah iris aja,” jawab sang mama.


Memotong atau mengiris bawang adalah hal lain yang sangat-sangat ampuh untuk menyalurkan kesedihan.


“Ku menangis....Hu hu huu,” ujar Rani sambil terisak dan mengelap air matanya dengan lengan baju kaosnya.


“Dasar pecemburu,” tukas sang mama.


“Siapa juga yang pecemburu? Orang yang akan dicemburuin aja nggak ada,” ucap Rani yang masih saja mewek karena bawang.


“Lah itu, yang ganteng kemarin?” tanya sang mama.


“Ishh, nggak ah! Itu cowok nyebelin,” tukas Rani. Rani pun menceritalkan semua kegiatannya di mesjid tadi kepada sang mama.


“Hahaha....Ternyata si kasep posesif pisan?” ujar Sang mama tertawa.


“Ihh, mama. Jangan ketawa dong!” omel Rani.


“Iya-iya, tapi ada benarnya yang dia omongin. Kamu udah gede, bukan anak-anak lagi. Jadi, harus bisa jaga diri,” ucap sang mama serius.


Rani pun mengangguk, ada benarnya juga yang mama bilang. Bagus dong tuh cowok es udah ngehajar Vande yang semena-mena, ucap Rani dalam hati.


“Ngapain kamu bengong? Lanjutin lagi ngiris bawangnya. Kita mau buat kacang tojin,” ujar sang mama.


Kacang tojin adalah salah satu makanan di Hari Raya Idul Fitri bagi masyarakat Sumatera Barat. Kacang ini, adalah kacang yang dalam proses pembuatannya, di rendam terlebih dahulu dengan air panas. Agar kulitnya terkelupas, Kemudian, digoreng hingga kuning keemasan, tak lupa diberi bumbu berupa garam. Kemudian ditaburi bawang merah, bawang putih, bawang saledri goreng


“Hehe...Ini yang aku suka,” cengir Rani seperti suara Mail ketika belajar matematika.


.


.


.


Terima kasih sudah mampir...😊😊😊🤗