Before I Found You

Before I Found You
BIFY 39



“Mending kepedean. Dibandingkan kejam!!!” tukas El menyindir Rani.


Rani berhenti sebentar dan memeletkan lidahnya pada El. “Siapa suruh jadi penguntit. Bweekkk,” ujar Rani. Puas melihat amarah El, Rani pun kembali berlari meninggalkan lelaki tersebut.


“Dasar cewek tengil,” omel El. Tanpa ia sadari ia kembali tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu. El pun melangkahkan kakinya menuju mesjid.


***


Malam harinya setelah melaksanakan shalat tarawih. Para panitia mengadakan rapat terakhir sebelum esok hari mereka akan benar-benar menghadapi the real situation.


“Oke, dikarenakan waktu lomba kita akan diadakan besok. Kita cek semua persiapan,” ujar El.


“Bagian perlengkapan aman El,” ujar Tegar.


“Oke, bagian kestari?” tanya El.


“Aman bosku,” jawab Rismi.


“Oke, bagian konsumsi gimana?” ujar El menatap Rani.


“Emm...Bagian konsumsi aman bang,” ujar Rani.


“Bagus nih, kalau konsumsi aman. Jangan lupain konsumsi buat panitia ya Ran,” ujar Tegar.


“Makanan aja isi otak lo ndut!!!” ucap Alan menoyor kepala Tegar.


“Oke udah semua ya. Gue harap besok pas acara lancar semua, dan mohon kerjasamanya.” Ujar El.


“Siap pak ketua,” ujar para lelaki.


“Apakah ada tambahan?” tanya El.


Rani pun mengacungkan tangannya, “Emm kak, sebenarnya gue bingung harus ngapain,” ujar Rani menatap El dan segera menundukkan pandangan matanya.


“Itumah aman Ran. Tenang aja, kita bantuin kok,” ujar Mimi.


“Makasi kak,” ucap Rani tersenyum.


“Haduduh, luluh hati abang liat senyummu itu dek,” ujar Randi kepada Rani.


“Cehh, ngebucin mulu lo Ranjau!!!” tukas Zaza menatap tajam kepada Randi.


“Udah-udah. Kalau ngga ada tambahan lainnya kita tutup rapat ini. Semangat!!!” ucap El dan diangguki oleh semua anggotanya.


***


Esoknya di sekolah Rani memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti sebagai ketua bagian konsumsi.


“Ngelamun aja lo markonah,” tukas Zia mengagetkan Rani.


“Ckck, temen si*lan,” tukas Rani memicingkan matanya kepada Zia.


“Siapa suruh lo ngelamun, kesambet nyaho lo!” ujar Keke menyentil dahi Rani.


“Cehh...sok-sok an merangkai masa depan dia Ke. Masih SMP udah mikir nanti kerja apaan!!!” omel Zia mencubit gemas pipi rani.


“Sakit Ziaa...Bukan kerjaan masa depan. Tapi kerjaan nanti malam,” keluh Rani mengelus pipinya.


“Wah...wah...wah. Mulai nggak bener nih anak,” tukas Keke memolototi Rani.


“Hadeh...pusing gue punya sahabat iq nya cuman 125,” tukas Rani menyentil kening kedua temannya.


“Gini-gini kita sahabat lo ya Ran. Temen yang nemani lo pas sedih, suka, senang!!!” keluh Keke.


“Sini deh, gue lurusin agar otak lo berdua nggak kemana-mana!” ujar Rani mengajak kedua sahabatnya itu untuk duduk berdampingan dengannya.


“Lo juga sih, sok-sok an mikirin kerjaan,” tukas Zia memiting kepala Rani.


“Nih ya...., Zubaeda, Zulekha maksud dedek itu. Kerjaan nanti malam pas acara panitia, gue bingung nanti gue harus apa sebagai koor konsumsi,” keluh Rani menyenderkan kepalanya ke bahu Keke.


“Heleh, mikir itu toh. Bikin orang pusing aja lo Ran,” keluh Zia.


“Ya...kan kalian yang langsung nyolot,” ujar Rani membela dirinya.


“Jadi gue harus ngapain ini?” ucap Rani.


“Tinggal bagiin makanan ke peserta sama juri apa susahnya sih Maharani....?” jengah Keke memukul pelan lengan sahabatnya itu.


“Yakali gue muter-muter di depan peserta pas lagi lomba,” ucap Rani memicingkan matanya kepada Keke.


“Gini nih kalau punya teman kepintaran. Hal-hal yang mode beginian ngga bakal nyangkut tuh diotaknya yang penuh dengan rumus!” ejek Zia.


“Makanya jelasin yang jelas, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya!!!” dengus Rani menatap kedua sahabatnya.


“Cehh dikira proklamasi!!!” decak Zia yang melihat cengiran dari sahabatnya itu.


.


.


.


.


.


Hai para readers......Ada yang kangen sama author? 🥰🥰🥰


Hmm..kalau ngga ada yg komen, berarti pada ngga kangen nih. It's okey yang penting author nulis lagi, Ehehe....


Terima kasih udah berkunjung ke novel author yang masih ngga konsisten ini...😅😅😅


Salam hangat dari author, jangan lupa like nya yaa 😉😉😉