
Saat malam hari ketika menuju mesjid. Rani memang tidak shalat, ia dipaksa papanya ke mesjid setelah mendengar himbauan panitia setelah pelaksaan shalat witir tadi. Rani berpapasan dengan El. Datang darimana nih makhluk aneh, ucap Rani dalam hatinya.
Rani berjalan ke arah kiri, El ikut ke arah kiri. Saat ke kanan, El kembali mengikutinya. Nih makhluk mau apalagi coba? Ketus Rani dalam hatinya.
“Permisi, gue mau lewat,” ujar Rani karena El menghalangi jalannya.
El membalikkan badannya menghadap Rani,
“Nggak bisa. Gue mau minta maaf,” ujar El tetapi dengan nada datar.
“Dih minta maaf kok maksa!” ucap Rani.
Ketika ia akan melangkah El kembali menghalangi jalannya. Karena tidak sabaran dan kesal, Rani menginjak keras kaki El.
“Auhh, Jadi cewek kok galak amat!” keluh El, karena jempol kakinya terinjak keras oleh Rani.
“Biarin. Bukan urusan lo!” jawab Rani dan meninggalkan El di sana.
El pun mendecak kesal karena permintaan maafnya tidak diterima oleh Rani.
***
“Oke, gue mulai. Langsung aja ke bagian perlengkapan gimana?” tanya El menatap Rio.
“Aman El, tinggal nunjuk mc acara nanti. Palingan besok atau dua hari lagi peralatan udah pada nyampe,” jawab Rio.
“Oke, next. Kalau bagian undangan gimana sekretaris?” tanya El kepada Zaza dan Mimi.
“Aman tinggal tanda tangan lo sama stempel mesjid doang,” jawab Mimi dan diangguki oleh El.
“Oke, karena acara kita makin deket. Gue minta keseriusan dari kalian semua, supaya nanti nggak malu-maluin,” ucapnya menatap semua anggota.
Tatatapan nih cowok lama amat ke gue, gerutu Rani dalam hatinya. El yang masih terus menatapnya dibalas oleh Rani dengan menjulurkan lidahnya.
Melihat tingkah Rani itu, membuat El hampir saja tertawa. Dasar bocah, ujarnya dalam hati. El pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di sisi lain, Dodo memperhatikan tingkah sahabatnya ini. “Ehemmm, satu lagi ya, nggak ada cinlok cinlokan selama jadi panitia,” tukasnya menatap tajam kepada El.
Membuat El tersentak dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dirinya langsung menstabilkan kondisi yang membuatnya seakan kebakaran jenggot. Sementara yang lain belum paham kenapa tiba-tiba El dan Dodo saling melempar tatapan tajam.
“Baiklah jika tidak ada tambahan, kita tutup saja rapat kali ini. Bagi yang cewek hati-hati pulangnya. Kalau susah mintak antar aja nih sama para tukang ojek,” ujar Dodo melirik para sahabatnya.
“Cehh, temen sendiri dibilang tukang ojek,” omel Tegar dan memiting kepala Dodo.
Dodo pun melepaskan pitingan dari Tegar, dan menyentil keras kening temannnya. Setelah puas dia pun kembali fokus.
“Semuanya udah boleh keluar, kecuali lo El. Diem dulu disini!” ucap Dodo.
“Wah wah, jangan-jangan lo bedua yang cinlokan,” ujar Randi kepada dua lelaki yang duduk bersebelahan ini.
“Cih najis, gue nggak niat sama pedofil,” jawab Dodo bergidik ngeri.
“Lo kira gue mau sama playboy kayak lo!!” ujar El memukul keras belakang kepala Dodo.
“Udah ah, pada pulang lo semua!!” ucap Dodo mengusir.
Semuanya pun keluar dari mesjid. Rani yang sempat mendengar ucapan Dodo tadi tertawa, si cowok es itu pedofil ternyata. Pantesan nyebelin, ucapnya dalam hati mentertawakan El.
“Kenapa lo kak? Senyam-senyum sendiri,” tanya Habil.
“Kepo!!” ucap Rani kepada adiknya dan langsung merebahkan badannya ke kasur. Ia pun menuju mimpinya.
Di lain sisi, dua orang lelaki yang masih menetap di mesjid sedang berbincang sedikit serius.
“El, gue mau nanya ni yah,” ujar Dodo dengan tampang serius.
“Nggak usah makai tampang begituan. Ngeri gue liatnya,” ujar El.
“Temen sialan!!!” ujar Dodo menoyor kepala temannya itu.
“Yaudah mau nanya apa lo?” jawab El.
“Lo beneran suka sama si Rani?” ujar Dodo.
“Ckkk, sejak kapan lo kepo sama urusan hidup gue?” tanya El.
“Yah sejak lo ditinggalin Siva lah! Arrggh, gue serius ini,” ujar Dodo mengusap kasar wajahnya.
“Lah kan tetap nggak ada urusannya sama elo be**k!!” El menoyor kepala Dodo.
“Yah adalah,” jawabnya dan langsung mengatupkan bibirnya.
“Apa?” tanya El yang melihat ekspresi temannya itu.
“Gue nggak mau kalau Rani lo jadiin pelampiasan atas kegalauan semata,” ucap Dodo menatap temannya itu.
“Hadehh, iya-iya bawel. Ini udah kata peringatan yang ke sekian kalinya Geb*ek!! Tenang aja, gue nggak bakal gitu,” ucap El membuat sang teman menghela nafas lega.
"Lo harus ingat bro. Rani itu cewek yang ceria. Kalau lo sampe buat dia nangis...Gue sembelih lo pas Raya Kurban!!!” ucap Dodo memicingkan matanya.
“Hahah, iya-iya. Udah ah, ayok pulang. Gue ngantuk,” tukas El.
“Yaudah ayok. Lo anterin gue sampai lewat beringin yah,” pinta Dodo dengan mata memohon.
“Cehh, ngancam gue aja lo berani. Giliran lewat beringin, jiwa hello kitty lo pake!!!” ucap El memukul belakang kepala temannya itu.
“Kedua hal itu berbeda,” ucap Dodo nyengir.
“Buruan dah. Sama lo memang nggak bisa serius-seriusnya,” ucap El memiting kepala Dodo dengan sikunya dan menarik lelaki itu sampai ke parkiran mesjid.
Kedua lelaki itupun berlalu, El tetap menemani temannya yang penakut dengan hantu kuntilanak yang konon katanya ada di beringin itu, dan senang mengganggu para pemuda yang lewat di sana saat malam hari.
.
.
.
.
Terima kasih sudah meluangkan waktunya 🤗🤗🤗🤗