Before I Found You

Before I Found You
BIFY 61



Hampir setiap hari bertemu denganmu menimbulkan kesan keseriusanmu ~ Rani


"Ran, lo kalau lagi belajar kenapa nggak mau makai hijab sih?" tanya El di sela mengajarnya.


"Gue di rumah aja kok. Ngapain harus makai hijab?" tukas Rani tak peduli dan melanjutkan pengerjaan soalnya.


"Tapi kan sekarang ada gue!" ucap El menekankan kata-katanya.


"Serah gue dong bang. Lagian tuh si Keke ama Zia juga nggak makai kok!" tunjuk Rani pada dua sahabatnya.


"Ehem... Okay, kalian bertiga mulai hari ini gue putuskan. Disaat belajar, kalian harus menggunakan hijab!" ucap El.


"Yah bang, kepanasan dong. Mana otak gue udah panas, mesti makai hijab lagi!" keluh Zia.


"Kalau kalian nggak mau, gue nggak mau lagi ngajarin kalian!" ancam El.


"Baguslah kalau gitu gue bisa tentram menjalani hari-hari tanpa lo!" ucap Rani.


"Emmm... Kita ikutin aja deh aturan bang El! Kalian nggak ingat minggu depan mesti TO," ucap Keke.


Dengusan kecil pun keluar dari bibir munyil Rani. Ckk.. ada aja aturan yang dibuat si es batu, dumel Rani dalam hatinya.


Saat mereka semua sedang mengerjakan soal, Rani yang duduknya pas dibawah El kaget karena tiba-tiba El menarik ikatan rambutnya. Sehingga rambut gadis kecil itu terurai.


Rani menatap tajam pada El dan ingin protes. Namun, El sudah lebih dulu berbisik kepadanya.


"Mata gue nggak bisa terjaga karena melihat leher putih lo! Lo mau gue mikir yang enggak-enggak?" tanya El.


"Mikir yang enggak-enggak maksud lo apaan bang?" bingung Rani. Ia menatap ke arah pandangan El, ternyata lelaki itu menatap intens ke arah lehernya.


Rani bergidik ngeri mendengar ucapan lelaki tersebut dan berpindah tempat duduk ke arah yang tidak dapat dijangkau oleh El.


El hanya tersenyum melihat kepolosan gadis kecilnya tersebut. El kembali menatap Rani, gadis kecilnya itu menjadi tambah manis ketika rambutnya terurai. Hufhhh... Entah sejak kapan gue jadi pedofil kayak gini? tanya El pada dirinya sendiri.


***


Flashback on


Hari ini hari minggu. Namun kedua sahabat Rani memaksa untuk belajar, alhasil Rani menuruti keinginan kedua sahabatnya tersebut. El sendiri bagaikan jelangkung yang tiba-tiba sudah berada di depan rumahnya. Ternyata lelaki itu dihubungi oleh Keke, dan meluangkan waktunya untuk mengajar para gadis tersebut di rumah Rani.


"Kok lo udah nyampe aja sih bang?" tanya Rani membuka pintu rumahnya dan menyuruh El duduk di warung. Ia tidak ingin sang papa mengamuk apabila mengetahui dirinya hanya berduaan dengan El di ruang tamu.


"Gue kira mereka udah datang duluan sebelum ngabarin gue," ucap El beralasan. Ia terpesona saat melihat Rani membukakan pintu untuknya dengan menggunakan baju tidur dan rambut yang diikat awut-awutan.


"Ya udah kalau gitu lo tunggu mereka disini dulu! Gue mau beberes bentar, kalau lo mau minum ambil aja tuh di kulkas ada es," ujar Rani dan meninggalkan El disana.


Tanpa menunggu lama akhirnya kedua sahabat Rani datang dengan baju bebas mereka. Rani pun sudah terlihat cantik dengan baju kaos warna hitam dan celana jins warna hitam, rambutnya diikat satu kebelakang dihiasi dengan pita yang menjepit poninya. Masih ada rambut-rambut tipis dipelipisnya yang tidak terikat sempurna. Akhirnya mereka masuk ke ruang tamu Rani dan mulai belajar.


"Kita belajar cuman sampai siang yah!" titah Rani.


"Kenapa Ran?" tanya Keke.


"Nanti gue mau pergi ke tempat saudara," alasan Rani padahal dirinya akan tanding bola seperti yang dijanjikan kepada sahabatnya di rumah tempo hari.


Flashback off


"Lo bisa Ran?" tanya El melihat gadisnya itu membenturkan kepala kecilnya kemeja.


"Gue nggak paham! Lo sih ngasih soal susah amat," keluh Rani.


"Sini makanya gue ajarin!" ucap El.


Rani pun mendekat dan menunjukkan hasil pengerjaannya pada El. Ia juga menanyakan kelanjutan dari jawaban pemecahan soal tersebut.


"Hadeh, dunia rasa milik berdua Zi. Yang lain mah ngontrak!" ejek Keke.


"Wah...Kalau gitu gue juga mau ngajak Dion!" ujar Keke.


"Aishhh mau ngapain mereka kesini?" tanya Rani menghentikan menjawab soalnya.


"Ya siapa tau mereka mau ikut kita belajar bareng, boleh yah bang?" tanya Keke.


"Gue terserah bang El deh. Dia yang ngajar," ucap Rani menatap El.


"Yaudah suruh aja kesini teman-teman kalian yang lain," ucap El.


"Dih mana ada teman! Mereka berdua itu mau ngajak pacarnya!" dengus Rani.


"Terus apa masalahnya? Bagus dong mereka belajar disini dibandingkan kelayapan!" ucap El membuat Rani kalah telak.


Zia dan Keke pun merasa senang dengan jawaban yang diberikan oleh El. Keduanya pun menghubungi pacar mereka masing-masing.


Tanpa menunggu lama kedua lelaki pujaan sahabatnya telah sampau di rumah Rani. Kalau ditanya kenapa bisa mereka tau rumah Rani. Jawabannya, kedua lelaki menyebalkan yang membawa motor gede itu adalah teman Rani saat di taman kanak-kanak dan mama mereka adalah sahabat mama Rani sama seperti mama Dika di episode sebelumnya.


"Assalammualaikum," ujar mereka serempak dan duduk di dekat Rani.


"Ngapain kalian berdua duduk deket gue? Sono geser ke tempat pasangan kalian, nanti gue diamuk duo racun lagi!" ucap Rani menggeser duduknya. Posisinya membuat dirinya menjadi lebih dekat dengan El.


"Dasar temen nggak ada akhlak! Udah lama nggak ketemu malah nyuruh kita ke cewek kita. Kita kan juga kangen sama lo Ran," ujar Habib merecoki rambut Rani.


"Dihh najong! Sono lu geser. Gue sempit ini!" titah Rani.


"Sini deh yang, deket gue!" ucap Zia menatap pacarnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Keke.


El mendengus kesal melihat hal itu. Penyesalan memang datang di akhir! Kenapa gue setuju-setuju aja sahabat Rani membawa pacar mereka. Justru sekarang jadi gue yang makan hati!! batin El.


"Kenalin nih bang sama duo buaya!" tukas Rani.


Pacar Zia dan Keke pun memperkenalkan diri mereka pada El dan mengeluarkan peralatan tulis mereka. Mereka ikut menyimak apa yang disampaikan oleh El.


Kedua teman Rani ini tergolong cowok pintar di sekolah meskipun mereka tidak masuk ke kelas unggul seperti Rani dan kedua sahabatnya.


"Hadeh bang. Lo kok bisa pinter amat yak?" cengir Dion. Dion kagum dengan cara El menjelaskan, dirinya sendiri tidak bisa memecahkan persoalan tersebut meskipun sudah berulang kali mengikuti olimpiade matematika. Namun, El dengan mudahnya memberikan jalan mulus tanpa macet seperti jalan tol.


El hanya menanggapi ucapan Dion dengan senyuman. El menjadi senang keahliannya di puji di hadapan gadis kecilnya. Berharap Rani terpesona akan kemampuan yang ia miliki. Ketika ingin melihat respon gadis kecilnya itu, harapan El menguap begitu saja.Ternyata Rani tidak mendengarkan ucapan Dion, gadis kecilnya itu sedang menggunakan kalkulator di handphone nya untuk menghitung. El dengan cepat merebut handphone Rani.


"Siapa yang ngebolehin lo pakai kalkulator?" tanya El.


"Emangnya lo pernah ngelarang? Nggak pernah kan? Kembaliin handphone tinut-tinut gue!" ucap Rani merebutnya dari tangan El.


El terdiam dengan jawaban gadis kecilnya itu dengan tampang melongo. Sahabat Rani dan para pacar mereka tertawa mendengar keributan yang terjadi antara El dan Rani.


El pun menggaruk tengkuknya, "Mulai hari ini nggak boleh!" titah El.


"Oke siap boss!" ujar Rani tersenyum, ia pun melirik El yang kembali serius memberikan petunjuk pengerjaan soal.


Hehe, diamati dengan suasana gini dia jadi ganteng. Ujar Rani dalam hatinya, ia memalingkan wajahnya karena merasa panas di sekitar pipinya.


.


.


.


.


Terima kasih udah mampir ke cerita ini... 🤩🤩🤩