
"Hah...Otak gue bener-bener korslet karena ucapan bang El!" desah Rani menenggelamkan wajahnya ke bantal. Gadis itu uring-uringan agar menghilangkan ucapan yang disampaikan oleh El kemarin.
"Kak, kita jogging yuk!" ujar Ihsyan menggoyang bahu kakaknya.
"Ya Allah dek, lo nggak capek apa? Baru juga kemarin abis dari rumah nenek!" keluh Rani.
"Ayolah kak, kita barengan!!!" teriak Habil di daun pintu kamar.
"Aih... Iya deh iya...Nanti kalau nggak diturutin kalian pasti ngadu ke emak!" ujar Rani mengerucutkan bibirnya. Gadis itupun bersiap dengan baju trainingnya.
***
"Ya Allah, kakak hamba dapat hidayah..." teriak Ihsyan, sementara Rani mendelik tajam pada adiknya.
"Husst!!! Jangan begitu, bagus dong kalau kakak kamu menggunakan hijab." delik Rita pada si bungsu.
"Lo nggak sakit kan kak?" ujar Habil mengecek kening Rani dengan tangannya. Akan tetapi, Rani menepis tangan adiknya itu.
"Jadi berangkat atau ngintrogasi gue ini? Kalau nggak gue balik ke kamar!" delik Rani.
"Eitss... Jangan gampang ngambekan dong kakakku yang cantik! Ayok San kita cuss!! Kita berangkat ya mah," ujar Habil menyalami sang mama dan menggandeng tangan Rani keluar rumah.
"Kita pamit mak, assalamualaikum." ujar Rani.
"Ma...Bagi uang jajan boleh?" tanya Isan merayu Rita seperti suara upin dan ipin.
"Ini, jangan beli yang aneh-aneh dijalan!" titah Rita dan diangguki oleh ketiga anaknya.
Tiga bersaudara itupun pergi jogging di sekitar kompleks dan lanjut ke alun-alun kota. Sepanjang jalan tak heran apabila banyak yang menjadikan ketiganya perhatian, bagaimana tidak ketiga bersaudara memiliki wajah yang enak dipandang. Sang kakak yang cantik berada di tengah saudara lelakinya yang memiliki paras tampan meskipun masih remaja awal.
Rani tak peduli dengan tatapan orang-orang yang juga jogging dipagi hari itu. Ia memilih untuk fokus menatap ke depan. Rani tidak ingin ambil pusing atau merisihkan orang-orang yang menatapnya, toh dia masih berbusana dan kali ini ia berbusana tertutup dengan celana training panjang, hoodie yang besar, dan hijab yang sesuai dengan hoodienya.
Ketiganya pun sampai di alun-alun kota. Rani memilih duduk di taman jomblo yang disediakan disana. Kenapa nama tamannya taman jomblo? Karena tidak disediakan bangku pasangan alias semua bangku yang tersedia hanya untuk duduk satu orang. Jadi tidak akan ada pasangan yang duduk berdekatan atau merangkul seperti di taman-taman biasanya.
"Dek, gue mau siomay ya. Minumnya es teh aja!" titah Rani pada kedua adiknya.
Habil dan Ihsyan mengangguk. Mereka pun hunting beberapa jajanan ringan yang ada disana, tak lupa untuk melihat-lihat jenis mainan terbaru untuk menjadi hiburan saat di rumah.
Ternyata tak jauh dari posisi Rani, El juga berada disana. El sedang membelikan titipan sang kakak, tadinya El sangat malas untuk pergi. Namun, karena rengekan sang kakak membuat lelaki itu keluar rumah sepagi ini. Siapa sangka bahwa di awal harinya akan melihat sang pujaan hati dengan tampilan yang berbeda dari biasanya.
Ia menatap gadis kecilnya yang sedang memukul-mukul kecil pahanya. Mungkin Rani lelah karena jogging yang ia lakukan, El pun berniat menghampiri gadis itu. Akan tetapi ia heran, tak mungkin Rani sendirian kesana. El pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan,
Bravo! batin El.
El pun menghampiri kedua adik Rani. Ia berpura-pura berpapasan agar kedua adik Rani melihatnya.
"Eh bang El, lo disini juga?" tanya Habil.
"Kalian juga disini? Berdua aja?" ujar El.
"Enggak disana ada kak Ran," jawab Ihsyan menunjuk ke arah Rani.
"Kalau gitu gue ikut kalian yah. Tadi temen-temen gue udah pulang duluan," ujar El.
"Boleh kok bang, ayok!" ujar Ihsyan menggandeng tangan El.
***
Sementara Rani yang sedari tadi menangkap keberadaan El dan kedua adiknya menjadi gugup. Ia kesal kenapa harus bertemu dengan lelaki itu saat ini.
Keempat manusia itupun hanya diam, tak ada yang memulai pembicaraan. Awalnya El ingin menyapa Rani, akan tetapi gadis kecilnya itu berpura-pura fokus kepada handphonenya. Ia pun mencoba untuk diam memperhatikan gadis kecilnya itu sampai selesai.
Rani yang tak tahan karena terus diperhatikan oleh El, memilih untuk berbicara. Bagaimanapun kekesalannya kemarin, Rani sadar bahwa ucapan El adalah kebaikan untuk dirinya.
"Hah? Gue tadi... Tadi gue pergi bareng temen SMA tapi mereka udah pulang," ujar El mencari alasan.
"Ooh... Lo nggak jajan?" tanya Rani.
"Udah tadi, kalian kesini pakai apa?" tanya El.
"Kita kesini jalanlah bang... Namanya juga jogging!" ucap Habil.
"Eh iya ya... Gue boleh ngga ikut pulang bareng kalian?" tanya El.
"Kenapa mesti bareng kami? Memangnya lo ngga bawa kendaraan?" tanya Rani melihat style El yang tidak seperti jogging. Lelaki itu menggunakan celana jeans dan kemeja casual.
"Eng...Enggaklah, kan gue juga jogging! Jadi ngga bawa kendaraan," ucap El.
Rani memicingkan matanya pada El. Ia mencari kebohongan di mata lelaki itu. Akan tetapi, El bisa menutupi kegugupannya dengan mengalihkan pandangannya.
"Boleh aja deh kak. Tapi lo ngga apa kalau mesti naik angkot bareng kita bang?" tanya Habil.
El mengangguk, kemudian menggeleng. "Maksud gue, ngga masalah. Tapi tunggu bentar ya, gue mau beli makanan untuk dibawa pulang dulu," ujar El.
"Ohh... Oke," ujar Rani.
El pun bergegas melangkahkan kakinya menuju penjual jajanan yang dekat dengan tempat ia memarkir motor. El memesan makanan dan tak lupa mengatakan kepada penjual, bahwa El menitipkan sepeda motornya. Beruntung saat ini ia tidak menggunakan sepeda motornya, karena motornya sedang di service. El tadi berangkat menggunakan motor matic sang kakak.
"Bang nanti saya balik lagi yah? Saya mau berjuang dulu bang." ujar El kembali memastikan si penjual.
"Berjuang untuk apa mas? Memangnya bakal ada perang?" tanya penjual.
"Bukan bang, berjuang demi cinta!" ujar El.
"Haha, saya kira berjuang untuk apa. Mas ini ada-ada saja. Yowes kalau gitu mas, semangat jangan kasih celah!" ujar tukang bakso tusuk itu.
"Siappp bang... Terima kasih ya, nanti saya balik lagi! Ini uang untuk bayar makanan, lebihnya untuk abang saja," ujar El.
"Wah.. Makasih banyak yah mas. Semoga urusannya dilancarkan, aamiin..." ujar tukang bakso dan diangguki oleh El.
***
"Ayok kita pulang," ujar El.
Mereka pun meninggalkan lapangan. Sepanjang perjalanan mencari angkot, El dengan sengaja berjalan di samping Rani. Sementara kedua adik Rani berjalan di depan mereka.
"Lo cantik kalau kek gini," ujar El pelan.
"Jadi biasanya gue nggak cantik?" ujar Rani memelototkan matanya, padahal sebenarnya ia tersipu malu mendengar pujian El.
"Bukan gitu, biasanya cantik. Sekarang tambah cantik," ujar El mengangguk dan memasang senyum. Ia menahan tawanya melihat pipi Rani yang kembali memerah.
"Sejak kapan lo belajar ngegombalin anak orang?" delik Rani.
"Gue cuman gombal ke lo doang," ujar El membusungkan dadanya. Ia ingin Rani tahu bahwa dirinya adalah lelaki setia.
"Ceh!!!" decak Rani menatap El malas.
"Kak, gue baru nyadar kalau warna baju kalian samaan." ujar Ihsyan.
Rani dan El pun sontak menatap baju mereka masing-masing, ternyata keduanya menggunakan baju dengan warna dongker. El dan Rani pun mengalihkan pandangan mereka tidak ingin bersitatap.
Ini yang mungkin disebut jodoh, batin El.
Kenapa juga mesti samaan, nanti dikira jodoh! ujar Rani dalam hatinya.