
"Aduh bang, lo kira sedang narik kambing! Sakit ini tangan gue!!!" rajuk Rani karena merasa pergelangan perih akibat genggaman El yang terlalu kuat.
"Kalau kambing masih nurut. Ini malahan, anak gadis tapi kelakuannya melebihi kambing bangor ketika dihadepin air untuk mandi!" ujar El tanpa menatap Rani.
"Dih sembarangan aja tuh mulut!!! Memangnya apa yang salah sama gue?" ujar Rani menghempaskan tangan El. Ia sedikit kesal karena dikatakan lebih nakal dibandingkan kambing yang disuruh mandi.
"Ini, ini, ini, dan kelakuan lo tadi!" ujar El menunjuk celana, baju, dan mengibaskan rambut Rani yang terurai.
"Memangnya kenapa?" ujar Rani menatap El.
"Kenapa lo bilang?" ujar El mendekat pada Rani.
"Iy...Iya kenapa???" ujar Rani gugup dan melangkah mundur, akan tetapi El terus mendekatinya.
"Kesalahan lo terlalu banyak hari ini. Pertama, lo makai celana pendek lagi!" ujar El dengan nada rendah tapi penuh penekanan.
El melangkahkan kakinya lebih dekat pada Rani. Rani yang melihat itu pun melangkah mundur. Maju mundur maju mundur cantik, hehe ✌️
"Kedua, lo makai baju pendek!" ujar El kembali melangkah ia sudah berada di depan Rani.
"Ketiga, rambut indah lo ini tidak ditutup! Bahkan tadi banyaknya lelaki lain disana," ujar El memegang rambut Rani kemudian melepasnya.
Posisi mereka saat ini sangat dekat dan badan Rani sudah menyentuh dinding salah satu tiang gapura kompleksnya. Rani berada di antara kedua lengan kokoh yang dimiliki oleh El.
Glekk...Kenapa juga gue bisa kenal nih orang! batin Rani
"Mm...Terus masalahnya apa buat lo?" ujar Rani dengan suara berani. Ia tidak ingin El tahu bahwa dirinya ketakutan melihat tampang tegas lelaki itu.
"Gue udah bilang sebelumnya ke lo! Mulai dari saat belajar sama gue lo mesti makai hijab!!!" delik El kemudian menjauhkan badannya dari Rani.
"Tapi kan sekarang kita nggak belajar, kenapa juga gue mesti ikutin apa yang lo mau." cicit Rani tapi masih terdengar oleh El.
"Gue nggak suka kalau ada orang lain yang merhatiin lo!" ujar El menatap Rani sendu.
What??? Itu mata ngga salah? Kenapa kek orang kecewa amat! batin Rani.
"Aihh iya deh gue salah. Gue minta maaf," ujar Rani menunduk ia merasa bersalah setelah melihat kekecewaan di wajah El.
"Gue kecewa. Tapi gue bakal maafin lo dengan satu syarat!" ujar El.
"Ceh!!! Heh, guru es. Gue udah minta maaf dengan tulus meskipun kelakuan gue nggak ada kaitannya sama lo. Masih aja nyebut pake syarat!" omel Rani, gadis itupun berlalu ingin meninggalkan El.
Sebelum Rani benar-benar pergi. El menarik pergelangan tangan Rani, sehingga keduanya kembali saling menatap. El semakin mendekatkan wajahnya pada Rani.
"Mau...Mau apa lo bang?" ujar Rani gugup dan memejamkan matanya.
"Gue mau lo jadi pendamping hidup gue nanti. Mulai dari sekarang jangan lagi lihatin perhiasan yang lo miliki ke orang lain, termasuk ke gue sendiri..." ujar El pelan, ia dapat merasakan deru nafas Rani. Selain itu ia juga mendengar detakan jantungnya dan jantung gadis kecil di hadapannya berdetak kencang seirama. El pun menjauhkan badannya pada Rani.
Rani membuka matanya setelah El mengucapkan kata-kata itu. Dirinya membeku, mungkin karena hawa es yang dimiliki oleh El. Otaknya masih belum singkron karena masih merasakan deru nafas El. Rani pun mengerjapkan matanya berulang kali, bahkan mencubit kecil lengannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa apa yang didengarnya barusan bukanlah mimpi.
"Kenapa lo cubit badan sendiri? Ini nyata," ujar El duduk lesehan di pinggiran taman kecil gapura itu.
"Hah? Lo barusan bilang apa? Lo kehabisan obat yah bang? Atau lo sedang sakit?" ujar Rani memastikan dengan pertanyaan bertubi.
"Enak aja! Gue nggak mau sama cowok yang modelannya kek elo!" tukas Rani.
"Gue serius, dan ngga nerima penolakan!" tegas El.
"Dasar es batu pemaksa!!!" delik Rani.
"Gue ngga akan nyerah untuk dapetin lo Maharanisya!" ujar El.
Gadis itu hanya melongo mendengar ucapan El. Rani pun meninggalkan El sendirian disana. Ia sudah tidak bisa menahan gejolak dalam hatinya setelah kata-kata yang diucapkan oleh El. Meskipun El menyampaikan dengan nada mengancam, akan tetapi itu unik. Berdasarkan novel-novel romantis yang Rani baca sebelumnya, belum ada lelaki dingin yang memaksakan cintanya pada pihak wanita. Akan tetapi hari ini dia mendapatkan ancaman yang membuat gelitikan lucu dalam hatinya.
"Aihhh Rani...Rani...Palingan juga dia sedang main-main," ujar Rani memukul kepalanya sendiri.
Rani menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya. Ia ingin mengontrol perasaan berlebihannya, ia kembali mengingatkan dirinya bahwa atas nama cinta pasti nanti kelak pihak wanita yang menderita apabila tidak diberi kepastian.
"Nah...Gitu dong, lo udah normal kembali otak cerdas! Pokonya nggak boleh jatuh cinta sama laki sampai benar-benar terbukti bahwa dia yang terbaik dan dikirimkan Allah buat lo," puji Rani pada dirinya sendiri.
***
El yang ditinggalkan oleh Rani masih mengatur nafasnya. Kenapa harus saat ini ia mengungkapkan kepemilikannya atas diri Rani pada gadis kecil itu. Dan apa yang telah ia lakukan? Bukannya semua lelaki menyatakan cinta dengan cara yang romantis, hingga pihak wanita akan menerima secara sukarela. Barusan yang ia lakukan terhadap Rani bukanlah kata-kata atau perbuatan romantis melainkan sebuah ancaman.
"Ohh God!!! Lo memang nggak pernah tau bagaimana caranya menyatakan cinta El," ujar El memukul kepalanya sendiri.
"Memang nggak bisa!!! Lo itu kelewatan bodoh kalau soal perasaan! Pantesan cewek yang lo deketin dari SMP nolak lo mentah-mentah dan lebih milih cowok lain," tukas Dodo yang berada di atas motor El.
"Diam Lo! Bukannya bantu, lo malah ngehujat gue!" ujar El melempar sendalnya ke arah Dodo.
"Ceh!!! Terkadang gue heran sama lo El. Giliran bidang lain aja lo kelewatan pintar dibandingkan semua orang. Akan tetapi giliran bidang cinta lo itu bodohnya nggak ketulungan. Apakah dulu pas pembagian hati dan perasaan di akherat lo kehabisan Allah lupa ngasihnya ke lo yah?" ujar Dodo menahan tawanya.
"Bisa jadi juga tuh. Gue sendiri juga merasa kalau seorang Immanuel itu adalah lelaki payah dalam urusan cinta," ujarnya pelan.
"Hahaha...Baru nyadar lu bro? Mmpphh," ujar Dodo tertawa akan tetapi tawanya tersumbat.
"Makan tuh rumpunan bunga melati!" delik El menyumpal mulut Dodo dengan rumpunan bunga melati yang ia cabut karena kesal telah dikerjai oleh temannya itu.
"Fiuhhh... Asem banget lo! Kalau itu bunga ada pestisidanya gimana gobl*k!!!" ujar Dodo meludahkan sisa-sisa dedaunan yang ada di mulutnya.
"Anggap aja itu pembasmi cacing di perut lo!" ujar El yang sudah menumpang di belakang Dodo.
"Teman la*nat lo! Kenapa lo bonceng?" ujar Dodo menatap El.
"Udah lo aja yang bawa, gue sedang patah hati! Gue takut si Rani jadi minggat atau ngejauhin gue," ujar El menunduk dan menyenderkan kepalanya di punggung Dodo.
"Astagfirullah ternyata memang benar apa yang di kata orang. Cinta itu bisa merubah segalanya! Seorang El yang dinginnya mengalahkan kulkas saat ini sedang frustasi hanya karena gadis kecil ingusan!" ucap Dodo menggelengkan kepalanya.
"Udah jangan ngehina gue aja kerjaan lo! Ingat, karma itu berlaku!" delik El memukul keras bagian belakang kepala Dodo.
"Ceh, gue ngga akan jadi bucin kek lo!" delik Dodo mengelus kepalanya yang terkena pukulan balok es alias El.
"Ayo ke basecamp! Gue butuh hiburan," ujar El.
"Untung temen! Kalau bukan, udah gue buang lo ke kali Ciliwung!" ujar Dodo, akan tetapi tetap menghidupkan motor El. Ia menggelengkan kepala melihat tampang El yang lesu.