
Malam harinya, setiap bulan Ramadhan kebanyakan orang-orang akan pergi melaksanakan ibadah tarawih di mesjid. Begitu pula keluarga Rani. Bulan suci yang selalu ditunggu-tunggu umat islam setiap tahunnya, untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya.
“Huaa...Dek tungguin. Gue takut dekkkk,” ujar Rani yang mempercepat jalannya untuk menyusul adik-adiknya yang sudah jauh meninggalkan dirinya sendirian. Mereka bertiga memang paling cepat pergi ke mesjid dibandingkan kedua orang tuanya. Yah alasannya simpel. Mereka hunter makanan dulu sebelum shalat isya.
“Nggak ada hantu kakk, hantu pada diiket kalau bulan Ramadhan,” ujar Ihsyan dengan bijaknya.
“Hehe, gue lupa,” Rani kembali berjalan normal tapi tetap merangkul tangan kedua adiknya itu.
Sesampainya mereka di pekarangan mesjid, banyak makanan yang dijual orang disana. Rani dan adik-adiknya langsung menuju penjual sate padang yang ada di pinggiran gerbang mesjid.
“Mak, kita beli satenya tiga ya pake daun aja,” ujar Rani kepada Mak Sama si penjual sate padang.
“Jadih, nak gadih,” jawab Mak Sama dengan logat Minangnya.
“Kalau buat Habil banyakin bawang gorengnya yah Mak,” ucap Habil dan diangguki oleh penjual sate.
“Si bungsu, ndak pakai katupek kan?” tanya bapak penjual sate kepada Ihsyan dan diangguki oleh Ihsyan
Mak Sama, bapak penjual sate ini memang sudah hapal pesanan ketiga anak ini. Karena mereka memang selalu membeli satenya saat lewat di depan rumah mereka. Kata mak yang merupakan singkatan dari kata “Mamak” adalah sebutan orang Minang terhadap om atau saudara ibu. Kemudian, “Nak Gadih” berarti anak gadis. Begitulah sekiranya sedikit bahasa daerah yang author masukkan. Hehe.
Saat sedang menikmati makanannya Rani melihat sahabat lelakinya lewat. Rani pun segera menarik Iwing layaknya anak kucing agar duduk di sebelahnya.
“Lo kira gue kucing Rani,” ujar Iwing membenarkan kain sarung yang ia lekatkan rapi di lehernya itu.
“Hehe, menurut gue iya,” ujar Rani tanpa perasaan.
“Sialan!” Iwing pun membesarkan bola matanya pada Rani, dan dengan tidak tau dirinya mengambil ceker ayam dari daun pisang sate Rani.
“Huaa...ceker gue, beliin yang baru,” ucap Rani yang menatap ceker kesukaannya masuk ke dalam mulut sahabatnya itu.
“Pelit amat sih, gue mintak satu jugak. Noh masih ada tiga lagi,” ucap Iwing memutar bola matanya.
“Dia mah memang pelit dari oroknya bang,” saut Habil kepada teman kakaknya ini. Ucapan adiknya ini diangguki oleh sahabat Rani tersebut dan adik bungsunya. Akan tetapi, tidak diindahkan oleh Rani karena ia asik memakan cekernya yang lain.
Setelah menghabiskan ceker ayam Rani pun menoleh kembali pada sahabatnya yang sibuk dengan hp. “Wing, nanti lo ikut jadi panitia nggak?” tanya Rani.
“Ikutlah, ya kali umur udah segini masih dianggap anak-anak,” sarkas Iwing dengan suara agak melengking.
“Sari ama Wulan ikut nggak Wing?” tanya ulan Rani.
“Kata mereka tadi pas di sekolah, mereka pada ikut kok,” jawab Iwing.
“Lo juga harus ikut Ran!!! Rumah lo tuh yang paling dekat ama mesjid masak lo nggak ikut,” tukas Iwing dengan sedikit memelototkan matanya pada sahabatnya itu.
“Tapi lo harus sama gue terus yah, gue nggak mau dikacangin. Kalian bertiga mah enak. Kan memang udah kenal sama abang-abang dan kakak-kakak di daerah ini,” jawab Rani dengan nada seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal.
“Oke sayang, apa sih yang nggak buat temen gue yang jelek ini,” ucap Iwing menaik turunkan alisnya menatap Rani.
“Sialan, gue lo bilang jelek. Trus yang cantik siapa dong?” tanya Rani jengah.
“Ya jelas gue dong, lihat ini bulu mata gue aja lebat kayak bulu mata anti badai Sahrini. Nggak kayak lo bulu mata atas turun ke bawah, bulu mata bawah naik ke atas. Ahahaha,” Iwing mentertawakan sahabatnya ini sambil memegangi perutnya.
“Ahahaha, bener banget lo bang. Kakak gue nggak ada pantes-pantesnya jadi cewek. Lelaki luar aja yang belum tau jelmaan asli nih anak, mereka sangka kakak gue bidadari turun dari langit,” Habil pun ikut mentertawakan kakaknya.
“Eits dah bang, kan memang bener kakak kita itu bidadari. Bidadari dari kali belakang sawah noh,” tambah Ihsyan yang juga mentertawakan kakanya.
“Eh...eh usah bagaluik!!! kakak kalian itu memang cantik, kalau bahasa kampung mamak itu muluik manih kucindan murah. Artinya lemah lembut dan murah senyum,” ucap Mak Sama membela Rani.
Rani yang sedari tadi mengerucutkan bibirnya, memasang mata puppy eyesnya “Huhu..makasih ya Mak, udah belain Rani,” ujar Rani pada bapak penjual sate.
“Sudahlah, sekarang udah adzan san pergi ke mesjid semuanya. Mamak juga mau nutup dagangan dulu,” tambah Mak Sama lagi.
Mereka pun melaksanakan ibadah tarawih pertama di bulan Ramadhan ini. Mendengarkan ceramah dari ustad yang diundang oleh pengurus mesjid, mendengarkan perkembangan mengenai mesjid, dan sebagainya.
Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 22.00 WIB. Setelah itu, seluruh jamaah pun akan pulang ke rumah masing-masing dan para anak kecil akan berlarian untuk antri meminta tanda tangan ustad yang tadinya memberikan ceramah. Bukan oppa Korea aja ya yang banyak fans, ustad di bulan Ramadhan juga banyak fans kok.
***
Keluarga Nugraha pun menuju ke rumah mereka, yang sangat dekat dengan mesjid. Terpaan angin sawah di malam hari, sinar bulan yang menerangi, menambah kesejukan hati di malam ini.
Sesampai di rumah pun, mereka berlanjut ke ruang keluarga. Seperti biasanya, papa Rani akan menghidupkan tv dan melihat acara yang ditayangkan, sedangkan mama Rani sedang membersihkan diri untuk bersiap tidur, begitupun dengan adik-adik Rani.
Dihimbaukan kepada pemuda-pemudi Mesjid Mustaqim bahwa malam ini kita akan mulai membentuk panitia Ramadhan, dan mengatur agenda kita ke depannya. Diharapkan kehadirannya di mesjid saat ini juga.
“Nah, Rani....Ran.. Gih pergi ke mesjid ikut ngumpul sama panitia Ramadhan,” Titah Nugraha pada anak gadisnya.
“Iyah pah, Rani nunggu Iwing jemput dulu,” jawab Rani.
“Hmm..kalau begitu hati-hati ya, nanti minta Firman ngantarin pulang lagi kalau rapatnya udah selesai.
“Siap Bos,” ujar Rani kepada sang papa.
Selang beberapa menit pun Iwing, Sari, dan Wulan berbarengan menjemput Rani kerumahnya.
“Let’s go,” ujar Sari.
Sesampainya di mesjid mereka bertiga pun ragu-ragu untuk masuk. Melihat di dalam sana telah banyak pemuda dan pemudi yang duduk melingkar beserta pengurus mesjid.
“Masuk lo Wing, kan lu cowok!” ujar Wulan sedikit mendorong tubuh Iwing.
“Hii, kalian aja sih duluan. Lo dah Sar! Kan kakak lo ada di sana,” ujar Iwing yang juga takut untuk masuk ke dalam.
“Hadeh, udahlah kita balek pulang aja deh,” ucap Rani dan berbalik ingin meninggalkan mesjid.
Saat Rani berbalik, ada seseorang di depannya.
“Rani, kalian mau gabung jadi panitia Ramadhan yah? Ayok masuk,” ujar orang tersebut dan merangkul Iwing untuk masuk ke dalam mesjid.
“Ehmm bang Randi, tunggu dulu,” ujar Rani, tetapi Randi sudah terlebih dahulu membawa Iwing masuk.
Ketiga gadis ini pun saling bertatapan dan akhirnya mengikuti Randi masuk. Mereka pun duduk didekat kakak-kakak lainnya. Semua mata yang ada di sana pun tertuju pada mereka.
“Baiklah bapak dan teman-teman, sepertinya kita memiliki tambahan anggota,” ujar Randi dan tersenyum.
Rani dan teman-temannya pun tersenyum. Memperhatikan orang-orang di sana. Sepertinya mereka di sambut baik. Rani sudah kenal dengan sebagian lelaki yang di sana, karena itu adalah geng abang-abangnya sedari kecil. Akan tetapi, kalau untuk kakak-kakak dia hanya mengenali kakak dari Sari saja.
Canggung itulah yang Rani rasakan, debaran jantungnya karena panik dan takut menyelimuti pikirannya. Ia kembali menundukkan pandangannya ke bawah, menyesali datang ke lingkungan baru ini, dan bimbang apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba...
“Nah karena ada anggota baru, ayok silahkan perkenalkan dirinya terlebih dahulu,” pinta seseorang.
Membuat Rani menatap ke arah orang yang berbicara tersebut. Rani tersenyum ke arah orang tersebut, sama seperti tadi saat ia menatap semua orang di sana.
Vote
Like
Commend
Terima kasih sudah membaca 😊😊😊😇😇😇