
Usai mencuci wajahnya dan berwudhu. Rani terlihat lebih fresh, ia pun mencari keberadaan teman-temannya. Ternyata semua panitia sedang bersenda gurau sambil membersihkan mesjid.
“Woi kemana aja lu neng?” tanya Iwing, karena tidak melihat sahabatnya ini setelah memberikan minuman kepada bapak-bapak tadi.
“Sleeping beuty lah!” ujar Rani dengan bangga.
“Enak banget yah Ran. Kita susah-susah ngitungin tamu yang datang, Elo malah mendengkur di belakang,” sewot Wulan dan diangguki oleh Rani.
“Sini dehh. Gue yang bakal bersih-bersih!!! Tuan dan nyonya boleh duduk dulu kalau capek,” ucap Rani mengedipkan matanya kepada ketiga sahabatnya yang sedang merajuk.
Rani pun merebut sapu yang ada di tangan Sari, dan melanjutkan menyapu. Sesekali ia melirik ke arah tiga sahabatnya yang masih saja menceritakan kekesalan mereka akan kedatangan peserta-peserta lelaki buaya.
Rani bisa mendengar keluhan teman-teman perempuannya ini, dikarenakan suara mereka memang keras karena sedang kesal.
“Yah sabar ae, namanya juga tamu!” Ujar Rani menyauti yang dikatakan oleh Wulan.
“Elo kan tadi juga digangguin Markonah!” omel Wulan dan mendapatkan cengiran dari Rani.
“Nanti malam kalau mereka datang lagi, gue bakal ngelempar nih kulit pisang ke mereka,” ucap Sari, sambil menunjukkan bekas kulit pisang yang tidak dibuang pada tempatnya oleh peserta.
“Hahaha. Gue tunggu tanggal mainnya,” ucap Alan mengacungi dua jempol kepada sahabat Rani itu.
Para panitia pun tertawa. Mereka masih asik membersihkan mesjid hingga ke pekarangannya, tak terasa sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
“Ehemmm, El kita sahur disini aja,” saran Dodo.
“Yeay, setuju gue kalau itu. Ayok ibuk bendahara, keluarkan uangmu!” ucap Fajri menaik turunkan alisnya kepada Noni.
“Ngga!!! Kalau mau sahur disini, BSS!!!” ucap Noni memutar bola matanya.
Mendengar itu, semua lelaki menjadi patah semangat. Karena bendahara sudah mengeluarkan jurus andalannya yaitu BSS alias bayar sendiri-sendiri.
“Pelit amat sih buk ben?” ucap Alan memasang tampang kecewa.
“Udah deh keluarin uang perorang Rp 10.000!” titah Zaza.
“Yang anak-anak biar gue yang bayarin,” ujar El.
“Lo bayar sendirilah. Emangnya gue bapak lo?” ucap El yang mengundang gelak tawa semua orang disana.
“Cehh, ketua sama bendahara sama aja pelitnya,” gerutu Tegar.
Walau banyak yang memprotes, tetapi mereka tetap mengeluarkan uangnya masing-masing. Dua orang pun ditugaskan untuk memberi nasi bungkus beserta minumannya. Para panitia pun makan sahur bersama di tengah mesjid dengan membentuk formasi lingkaran asal-asalan.
Mereka pun berdoa bersama dan mulai membuka nasi bungkusnya masing-masing. Begitupun dengan Rani, ia melihat lauk dinasi bungkusnya yaitu ikan laut.
“Yah ikan laut,” ucap Rani pelan tetapi terdengar oleh El.
Ranipun meminggirkan lauknya dan memakan nasinya dengan sayuran beserta cabe saja. Tiba-tiba sepotong ayam bakar mendarat di nasinya, dan ikan laut yang iya letakkan dipinggir bungkus nasinya sudah menghilang. Ia pun menatap tangan yang mengambil ikan lautnya tersebut, ternyata itu adalah El.
“Makan tuh! Gue nggak suka ayam,” ucap El dan melanjutkan makannya.
Rani pun tersenyum, ia tak menyangka lelaki es itu ternyata memperhatikannya dan berbuat baik pada dirinya. Rani pun memakan nasinya dengan lahap. Melihat hal itu El pun juga tersenyum sebentar, dan fokus kepada makanannya.
Setelah menyelesaikan sahur mereka, mereka membentuk formasi lingkaran untuk melakukan sedikit evaluasi.
“Oke makasih untuk hari ini, Semoga nanti malam acara kita tetap lancar. Aamiin, gue tutup wassalammualaikum wr,wb,” ujar El.
Beberapa panitia ada yang pulang ke rumah masing-masing, dan ada juga yang masih di mesjid menunggu waktu subuh masuk. Rani memilih untuk pulang karena ia tidak membawa mukenahnya ke mesjid. El memperhatikan Rani dari jendela mesjid, tadinya ia ingin mengantar. Akan tetapi, pengurus mesjid mengajaknya untuk berbicara.
Rani yang baru saja memasuki rumahnya, segera menuju kamarnya dan membaringkan badannya sambil mendengarkan murotal Al-Qur’an yang ada disana. Ia takut ketinggalan shalat subuhnya apabila tidur lagi. Ia akan melanjutkan tidurnya usai melaksanakan kewajibannya.
Rani hari ini tidak masuk sekolah karena sudah menyerahkan surat izinnya selama tiga hari, karena pemerintah di Kota Batus memang lebih mengutamakan kegiatan di mesjid selama bulan Ramadhan, jadi izin tersebut mudah didapatkan.
.
.
.
.
Terima kasih sudah mampir 🥰🥰🥰