
Sementara lelaki yang di tatap oleh Rani sedari tadi tersenyum bahagia karena bisa menjahili pujaan hatinya itu. Ia sengaja mengalihkan pandangannya dari Rani agar gadis kecilnya itu tau bahwa ia saat ini sedang merajuk. Kenapa juga Rani harus ikut kegiatan berpanas-panasan seperti sekarang ini. Mata El tambah membelalak saat ia juga mendapatkan rundown acara. Ia tidak menyangka bahwa *** di sekolah Rani ini sangat keras dan barangkali akan membuat sang pujaan hati tak sanggup.
"Maaf sebelumnya pak, apakah acaranya memang sudah di atur seperti ini?" tanya El kepada kepala sekolah.
"Oh iya nak El, itu kata para anggota Pramuka selalu dilakukan dari tahun ke tahun agar mereka semua kompak dan bisa berbaur sesama." ujar kepala sekolah itu dengan senyuman khas pejabatnya.
Mendekatkan apanya. Gimana nanti kalau kaki Maharaniku jadi patah karena harus jalan sejauh ini. Dan apalagi ini, kenapa mereka harus memakan satu makanan bersama sekelompok. Iuhh, jijik. Ya ampun cintaku, apakah ini karma karena kamu tidak mengikuti saranku? Dumel El dalam hatinya.
El menjadi gusar karena setelah membaca rundown acara tersebut. Ia yakin bahwa setelah ini akan terjadi keributan besar. Rani bukanlah tipekal gadis penurut dan menerima apa saja aturan yang berlaku, apabila aturan itu menyusahkan banyak orang maka ia akan melawan kepada sang pembuat aturan aneh itu.
"Pak saya izin menghampiri adik-adik yah. Terima kasih karena sudah mengizinkan kami memberikan pertunjukan untuk kegiatan seni dari kampus kami. Nanti saya akan bilang ke ayah kalau bapak banyak membantu kami," ujar El basa-basi.
"Ohoo...tentu nak El, ayahmu adalah donatur terbesar di sekolah ini. Justru yang kamu lakukan sudah menghibur siswa-siswi yang setelah ini akan melakukan bakti mereka pada masyarakat sekitar sini." ujar kepala sekolah kembali menepuk-nepuk punggung El.
El pun meringis dan beranjak dari sana. Ia mencari kelompok Rani, ternyata gadisnya itu sudah menjalani rundown pertama. Di rundown pertama tertulis bahwa para siswa dan siswi harus berjalan sepanjang arus sungai dan mengumpulkan sampah yang ada di sana. Mereka harus masuk ke dalam sungai dan mengumpulkan sampah-sampah yang tidak akan terurai tersebut.
"What!!! Kita mesti jalan sepanjang aliran sungai, bukan di luar doang tapi juga di dalam sungai?" ujar Abil setengah berteriak.
"Ya ngga papa lah. Itung-itung bakti ke alam. Badan mereka jadi tercemar karena ulah manusia yang bertangan jahil!" ujar Rani santai.
Gadis itu sudah memimpin kelompoknya dengan berjalan duluan ke dalam sungai. Air sungai memang tidak terlalu deras dan sungainya pun hanya sebatas lutut Rani. Rani mulai memunguti sampah dan memasukkan ke dalam tas keranjang sampah yang ia sandang di punggungnya.
"Ran...Di sungai ini kaga ada buaya kan ya?" tanya Kia was-was.
"Mana ada dek buaya di sungai sejernih ini. Adek manis ada-ada saja, Haaha," ujar salah satu mantan senior mereka yang saat ini menjadi panitia ***.
Rani memutar bola mata jengah, bibirnya bergetar dan spontan mengeluarkan suaranya untuk melawan lelaki perayu di depannya itu.
"Menurut gue ada Ki. Nih, buaya darat yang lagi mimpin jalan kita!" ujar Rani kepada dua sahabatnya.
Mereka bertiga pun tertawa lepas dan para siswa lain yang mendengar ucapan Rani pun juga ikut mentertawakan panitia tersebut.
"Bah, tega sekali aku dikatakannya buaya darat Cok!" ujar lelaki itu pada temannya.
"Ya memang benarlah yang dibilang sama adek itu. Kau kan memang buaya darat, playboy cap kaleng-kaleng." ujar Kaka senior wanita.
Tawa di dalam sungai itupun semakin membahana. Lelaki yang tadinya berucap hanya menekuk wajahnya karena bukannya mendapat bantuan dari temannya justru dia tambah di dorong ke dalam jurang.
"Sabar yah bang setidaknya karena ada Abang, buaya yang asli jadi menyingkir." imbuh Rani.
El yang sedari tadi berjalan di tepian sungai tersenyum mendengar ucapan sang pujaan hati. Inilah yang membuat dirinya jatuh hati pada Rani, gadis kecilnya itu memiliki keunikan sendiri dan bisa mengembalikan tawa semua orang di kondisi pelik sekalipun.
Gadis itu kembali fokus ke tugasnya, ia mengumpulkan sampah-sampah plastik sisa sabun cuci yang banyak tenggelam di dasar sungai. Sementara El yang tadinya berada di balik pohon kelapa menghela nafas. Ia hampir saja ketahuan oleh gadis kecilnya, bisa-bisa sang gadis kecil mengejek dirinya habis-habisan karena mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Dasar bucin akut!!! Umpat El pada dirinya sendiri.
Lelaki itu kembali melangkahkan kakinya mengikuti Rani. Sekitar 1 jam sudah Rani dan teman-temannya berada di dalam air sungai. Baju mereka basah kuyup. Rani saat ini menggunakan baju olahraga sekolah ya yang berbahan dasar kaus. Warna baju yang di dominasi krem itu tentu akan terawang setelah terkena air. Rani pun menunggu para lelaki berjalan duluan, hingga ia paling belakangan keluar dari air. Saat akan keluar dari sungai, Rani memeras bajunya agar tidak terlalu basah dan ngepas badan.
El awalnya juga kaget ketika melihat seluruh teman wanita Rani keluar biasa saja meskipun baju mereka mencetak badan mereka yang memang belum seberapa. Ia menjadi tersenyum melihat tingkah pujaan hatinya yang mengerti tindakan apa yang sebaiknya dilakukan.
Rani sudah berada di pinggiran batu sungai dan ingin memanjakan kakinya ke arah tanah. Namun apalah daya, batu yang ia pijak itu licin membuat Rani kehilangan keseimbangan.
"Ya...ya...ya..." ujar Rani.
Hup...
"Abang," ujar Rani mengerjapkan matanya.
"Hehe, sayangku cintaku calon makmum taun depan." cengir El.
Sementara orang-orang sekitar yang tadinya sudah berjalan duluan memusatkan matanya pada dua sejoli itu karena tadinya mendengar suara Rani yang cempreng.
"Ya ampun Bil...Gue merasa nonton Drakor," tukas Kia memukul lengan sahabatnya.
"So sweet..." ujar Abil menambahi.
Begitupun dengan yang lain yang tidak melewatkan adegan manis itu. Drakor versi Indonesia ya begitu, sweet-sweetan dengan baground sungai bukan gedung-gedung pencakar langit yang ada di drama Korea asli.
"Ehem...sampai kapan ini berlangsung," ujar Rani menegur El yang masih belum menegakkan badannya.
"Hehe, kamu bisa aja sih ngerusak momen sweet. Kapan lagi kan, sebelum sah." ujar El dengan somplaknya.
"Dasar cowok posesif!" rutuk Rani.
"Seharusnya kamu bersyukur. Untung ada abang kan, kalau enggak kamu udah nyebur lagi ke sungai," ujar El dengan wajah sok polos.
Rani memutar bola matanya jengah. Sebenarnya memang ia beruntung karena pujaannya berada di sana. Rani adalah gadis beruntung yang benar-benar mendapatkan cinta dari seorang Immanuel walaupun sedikit jengkel.
Mereka pun melanjutkan rundown kedua acara. Hampir setengah hari dihabiskan di sekitar rumah warga sekitar. Kalau ditanya apa yang dilakukan oleh El, lelaki itu hanya berjalan di samping Rani tanpa membantu apa yang dikerjakan oleh Rani. Alasan yang diberikan oleh El adalah karena dirinya capek habis melakukan perjalanan jauh.
"Huh dasar anak bunda!" tukas Rani.