Before I Found You

Before I Found You
BIFY 97



"Pelan sikit jalannya napa sih bang!" rengek Rani mengikuti langkah lebar El.


El hanya menatap Rani sekilas dan kembali melangkahkan kakinya. Lelaki itu sudah mengubah langkah lebarnya menjadi langkah kecil agar gadis kecilnya tidak merengek lagi.


"Masuk!" ujar El membukakan pintu mobil.


"Ini mobil siapa?" tanya Rani heran melihat mobil Kia Stinger berada tepat di hadapannya.


"Mobil pinjaman. Masuk sana!" ujar El ketus.


Rani hanya pasrah dan duduk dengan tenang di bangku samping kemudi tersebut.


"Kemarin itu nggak sengaja ketemu. Bukan janjian kok," cicit Rani.


"Memangnya abang nanya itu?" tanya El yang fokus ke depan.


"Ya nggak nanya. Cuman mau cerita," ujar Rani pelan.


"Maharanisya...Abang bukan cemburu tanpa alasan! Tapi cuma mau kejujuran... Semuanya apapun, dimanapun, bagaimanapun, abang ingin tau semuanya. Kita bakal berjauhan. Makanya perlu itu semua," ujar El menghela nafas.


"Lagian ngapain serius amat sih bang? Kan aku masih kecil!" ujar Rani dan memukul pelan mulutnya yang mengeluarkan kata larangan saat mereka berdua.


"Kali ini di maafin. Nggak tau kalau besok!" ejek El.


"Huhh.. Tadi juga siapa yang mulai duluan!" delik Rani dan memutar bola matanya.


"Kemarin ngga ada yang luka kan?" tanya El menatap Rani.


"Nggak ada. Kan ada pak Jo," ujar Rani tersenyum.


"Enak yah kalau ada dibantuin cowok lain..." ujar El santai.


"Ya maksudnya bukan gitu juga. Arghh.. udahlah, sekarang kita kemana bang?" tanya Rani.


"Kencan pertama. Hahaha," ujar El tertawa lepas.


"Wihhh... abang bisa ketawa?" tanya Rani.


Mendengar pertanyaan Rani membuat tawa El berhenti seketika. Lelaki itu berdehem dan kembali ke gaya coolnya.


"Hahaha... Nggak apa-apa kok bang. Lebih baik ketawa daripada dingin," ujar Rani menepuk-nepuk lengan El.


Sepasang kekasih itu. Ralat sepasang manusia yang sedang dilingkupi awan cinta itu kini telah berada di salah satu pantai yang ada di pinggiran Kota Batus.


"Seneng kesini?" tanya El membukakan pintu mobilnya untuk Rani.


"Bukan seneng lagi tapi pakai banget!" ujar Rani dan bergegas menyusuri pantai.


Saat ini suasana pantai sedang sepi. Jadi Rani bisa bertindak sesuka hatinya. Rani berlari-lari dan sesekali ia mengejar ombak kemudian berlari lagi ke pantai agar tak terkena genangan air itu.


El yang melihat kebahagian di wajah Rani mengabadikan momen tersebut. Ia mungkin akan selalu merindukan senyuman manis dari gadis kecilnya itu. Ia hanya melihat Rani dari kejauhan tanpa mendekati gadis yang sudah basah karena terpaan air laut yabg ada di pantai tersebut.


"Bang El, ayo sini!" ujar Rani berteriak dan melambaikan tangannya.


"Kamu main aja. Abang di sini ngeliatin aja," teriak El.


Mendengar jawaban El membuat Rani mendekati lelaki itu. Dengan cekatan ia menarik tangan lelaki itu dan membawa El menyusuri pantai. El sudah berusaha melepaskan diri dari Rani akan tetapi ia tidak mungkin merusak kebahagiaan gadis kecilnya.


El hanya diam saat Rani kembali menuju arah ombak yang sudah berlalu ke laut. Akan tetapi, ia melihat ombak yang lebih besar selanjutnya. Ia pun bergegas menghampiri Rani.


"Rani! Jangan terlalu dekat kesana!" ujar El refleks dan menarik tangan Rani dengan kasar.


"Auhhh... Sakit nih tangan aku!" rengek Rani melepaskan genggaman El di pergelangan tangannya.


Rani pun menatap wajah El yang seperti. ketakutan saat air ombak mendekat ke pantai.


"Abang takut sama air laut?" ujar Rani.


El hanya menggeleng dan kemudian mengajak Rani menyusuri pantai akan tetapi dengan jarak aman yang pasirnya tidak tersentuh air laut sedikit pun.


"Kalau takut kenapa bawa Rani kesini?" ujar Rani menatap El.


"Karena kamu suka laut kan?" ujar El.


"Darimana abang tau?" tanya Rani karena kaget hal yang ia sukai diketahui oleh El.


"Dari Iwing." ujar El singkat.


"Dasar sahabat yang mulutnya ember," ujar Rani pelan.


"Abang yang nanya. Nggak lucu kan, kita udah sama-sama suka tapi nggak tau apa saja yang disukai atau tidak disukai satu sama lain!" ujar El.


"Itumah nggak adil. Berarti kalau nanya apa yang abang like atau dislike Rani mesti nanya sama bang Randi,bang tegar, dan yang lain-lain dong?" ujar Rani polos.


"Nggak boleh!" ujar El menatap Rani tajam.


Rani hanya mengerjapkan matanya karena baru saja baikan. Dirinya sudah kembali menaruh minyak tanah di atas bara api.


"Terus Rani nanya kesiapa?" ujar Rani mengalihkan amarah lelaki es di hadapannya.


"Ke abang lah!" ujar El dan menarik Rani ke salah satu stan kelapa muda yang ada di sana.


"Mau beli apa kak? Ada pensi ada langkitang." ujar si penjual.


Rani pun menarik lengan baju El. Ia meminta El untuk menunduk agar Rani bisa berbisik di telinga lelaki itu.


"Bang langkitang itu apaan?" tanya Rani dengan polos.


"Ya Allah Ran...Keluarga besar ada keturunan Padangnya tapi langkitang aja nggak tau. Langkitang merupakan hewan air tawar dengan nama latin “Melanoides Tuberculata”. Hampir mirip dengan keong, namun cangkangnya sedikit lebih panjang dan ramping. Kuahnya sama seperti kuah pensi. Bedanya kita menikmati dengan cara menghisap," ujar El.


Lelaki itu pun memesan masing-masing menu itu seporsi. El pun kembali menarik tangan Rani untuk duduk di salah satu meja yang disediakan untuk pengunjung warung tersebut.


Saat pesanan mereka datang. Rani hanya memperhatikan El memakan kudapan jenis baru yang ia temui. Rani masih ragu dengan benda panjang yang lebih mirip dengan ulat bulu tersebut.


"Ayo makan," ujar El menyodorkan makanan itu pada Rani.


"Gimana cara makannya?" ujar Rani.


"Begini," ujar El mencontohkan cara menyantap menu itu pada Rani.


Berkali-kali mencoba tetap saja kegagalan menaungi Rani. Gadis itu oun menyerah dan menggerutu kesal. Bibirnya sudah kecut karena lelah menghisap cangkang keras itu, akan tetapi isi dalam cangkang itu bersembunyi entah di mana.


El kembali tertawa melihat wajah kesal Rani yang membuat kesan imut di wajah gadis kecilnya itu. Melihat usaha sia-sia yang dilakukan oleh Rani membuat El berinisiatif untuk meminta lidi kepada penjual dan membantu Rani agar gadis kecilnya itu bisa merasakan makanan yang kuat akan bumbu itu.


"Yummy.... Enak banget bang," ujar Rani menyantap daging-daging kecil yang telah disisihkan oleh El di piring.


"Awalnya waktu pertama kali mencoba juga begitu Ran. Susahnya minta ampun, akan tetapi kalau berusaha nya lebih keras bakal gampang." ujar El masih mengeluarkan daging dari cangkang siput tersebut.


"Abang kesini memangnya sama siapa? Nggak mungkin kan, hilang kaya doyan makan beginian?" tanya Rani.


"Diajakin sama si Alan." ujar El santai dan ikut menikmati hasil kerjanya.


"Hahaha, nama bang Alan lucu juga kalau di plesetin." ujar Rani tertawa keras.


"Lanjut gih makannya. Nanti kita coba tempat yang lain," ujar El