
Kejadian malam ini sungguh membuat Rani kesal. Setelah teman-temannya pulang ke rumahnya Rani langsung menggulung badannya dengan selimut di kamar. Ia merutuki lelaki yang sangat-sangat menjengkelkan baginya dan apa lagi kata-kata juteknya semalam.
***
Besoknya dikarenakan Rani libur, ia hanya bermalas-malasan dari pagi sampai sekarang saat matahari sudah membuat warna langit menjadi orange. Sang mama juga sedang bermalas-malasan alhasil tidak ada teriakan di keluarga Nugraha hari ini, sang mama juga tidak mau memasak dan menyuruh sang raja alias suaminya untuk membeli makanan siap saji saja di rumah makan.
“Maaa.... Rani mau cendil,” ucapnya dengan puppy eyes kepada santg mama.
“Yaudah sana, beli di depan,” jawab sang mama.
“Yah mama, Rani magerr,” ucapnya lagi mkerengek pada sang mama.
“Mama juga mager sayang, minta papa aja yang beliin sekalian makanan untuk nanti buka puasa,” ucap Rita.
“Ckk, papa lagi yang jadi korban,” dengus Nugraha.
“Hehe, maklum pa. Dua bidadari papa lagi mageran karena hari ini sangat-sangat panas,” cengir Rani.
Mereka semua sedang berkumpul di depan tv. Rani dan sang mama menyaksikan serial india yang dari tahun ke tahun tidak akan pernah bosan menontonya apalagi kalau bukan film 3 idiots. Begitupun dengan adik-adik Rani mereka juga menyukai film-film lama India tersebut.
“Yaudah deh, demi dua bidadari papa. Papa jalan dulu pergi beli takjil dan untuk sahur,” ucap Nugraha dan mengambil kunci motor digantungan.
Keluarga ini memang sederhana tetapi dilimpahi dengan kasih sayang. Saat film india tesebut belum habis. Suara pemberitahuan dari mesjid membuat Rani kesal. Kenapa di saat film kesukaannya diputar, para panitia di mesjid itu juga ikut berputar di area mesjid.
“Denger ituh. Sana gih siap-siap,” ucap Rita memukul pelan bahu anaknya.
“Nggak ah maa, Rani malas. Panas-panas gini yakali mintak sumbangan, mana jalan lagi,” keluh Rani dan merebahkan badannya di karpet.
“Udah nggak panas lagi itu, ingat ini adalah sebuah tanggung jawab. Mau nggak mau kamu harus pergi,” ucap Rita.
Mendengar peringatan mamanya Rani pun dengan lunglai berjalan ke kamarnya dan mencari baju di lemari.
“Maa, mamaa...Rani nggak tau makai baju apa,” manja Rani, padahal ia sengaja agar tidak jadi pergi.
“Udah pilih aja tuh baju kaus ungu sama jilbab krem. Ayo cepetan Rani, jangan nyari-nyari alasan” jawab Rita, ia tau anaknya itu hanya mencari alasan.
“Ckk, si mama tau aja gue mau buat alasan,” omel Rani di dalam kamarnya.
Rani pun memakai baju itu dan jilbab senada, kemudia ia bercermin. “Semangat Rani, demi pahala,” ucapnya menyemangati dirinya dan keluar dari kamar.
Rani pun berpamitan dengan sang mama, ia berjalan sendirian ke mesjid. Sampai di mesjid Rani cengo karena tidak melihat seorang pun di sana. “Wah....wah pada kemana tuh orang-orang yang berisik dari tadi,” ucap Rani dan membalikkan badannya dengan cepat berharap agar film yang ditontonnya tadi belum habis.
Saat ia berbalik, Rani menambrak sesuatu yang keras.
“Auhh!!! Sialan nih pintu, kenapa juga disini,” omel Rani pun memukul pintu tersebut dengan kesal dan mengusap keningnya yang sedikit sakit.
“Ckk, marah kok sama pintu neng?” tanya seseorang kepada Rani.
Rani pun menoleh ke suara tersebut, ternyata El lah yang menyautinya. Ngapain lagi nih es batu disini, gerutu Rani dalam hatinya. “Ya abisnya si pintu berada di tempat yang salah bang,” ucap Rani nyengir dan ingin pergi dari sana.
“Ehh, Ran mau kemana ?” tanya El cepat sebelum gadis kecilnya itu kabur.
“Kita tunggu aja dulu, bentar lagi juga datang,” jawab El kepada Rani dengan suara friendly.
Huhh, sebentar-sebentar jadi es, bentar-bentar jadi hangat, kadang-kadang juga jadi devil. Ucap Rani merutuki lelaki yang ada di depannya ini, “Errrr, nggak deh bang. Nggak baik berduaan di sini. Bukan muhrim,” jawab Rani dan berlari pulang.
El hanya menggelangkan kepalanya melihat tingkah Rani. Kenapa bisa hatinya cenat-cenut saat dengan gadis kecil itu. Ia pun berlalu untuk masuk ke dalam mesjid dan kembali menghimbau panitia lainnya dengan mic mesjid.
Dibalik itu, Rani telah sampai ke rumahnya dengan nafas senggal karena berlari.
“Assalammualaikum,” ucap Rani segera menuju mamanya yang masih menonton tv.
“Waalaikumussalam. Loh Ran, kok balik lagi?” tanya Rita.
“Orangnya belum pada ngumpul ma,” jawab Rani santai dan kembali menonton tv.
“Ohh yaudah,” Rita pun kembali fokus kepada layar yang ada di depan mereka itu.
Belum sampai 10 menit Rani menonton tv, sebuah notif masuk kepada handphonenya. Anehnya ini pesan. Jarang loh orang sekarang lewat pesan, biasanya lewat chat. Rani pun membuka pesan itu.
“Assalammualaikum Rani, teman-teman yang lain udah ngumpul. Segerakan ke mesjid!”
Rani mengira bahwa kakak-kakak panitialah yang mengiriminya pesan. Dan ia membalas, “Oke kak, Rani kesana,” jawab Rani.
Saat ia beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada sang mama, sebuah notif pesan kembali masuk. “Jangan lari-lari nanti jatuh,” isi pesan tersebut.
Rani pun mengernyitkan dahinya, kenapa juga kakak-kakak itu mengirim pesan seperti itu, tetapi ia tetap membalas. “Heheh, siap kak,”.
Rani pun berjalan santai ke mesjid. Ternyata di sana sudah ada para sahabatnya dan beberapa orang abang-abang panitia dan sedang menunggu kakak yang lain.
Rani pun duduk di dekat sahabatnya dan tertawa karena tingkah Iwing yang tiada habisnya karena pembulian dari dua orang perempuan yaitu Wulan dan Sari. Mereka memang senang mentertawakan Iwing tetapi masih dalam kadar normal kok. Yah, walaupun kadang kelewatan. Tetapi aksi merajuk yang dilakukan oleh Iwing akan menjadi hiburan tersendiri bagi mereka, sehingga mereka berempat tertawa lepas.
“Hahaha, nggak nyangka gue. Udah 5 tahun kita bersama lo masih belum bisa jadi cowok tulen,” ujar Rani mentertawakan temannya sambil memukul-mukul temannya itu.
“Jangankan elo Ran, gue aja yang udah dari abis lahir sampai sekarang. Si Iwing tetap aja gini,” tambah Sari menarik sarung di leher Iwing yang duduk di depan mereka Jadi posisi mereka saat ini di jenjang arah depan mesjid. Iwing duduk di jenjang bawah yang berjarak dua ubin dari ketiga gadis ini.
“Udah jangan bully temen gue. Tenang Wing, nanti gue kasih coba make up Kak
Retno yang baru,” bujuk Wulan dan menahan tawanya.
“Cihh, sama aja!!! Seharusnya kalian beruntung yaa, diantara kita ada orang ganteng kayak gue,” ucap Iwing membanggakan dirinya.
“Ulu uluhh...iya kita beruntung banget sampai-sampai kalau ada anjing yang ngejer harus gue yang turun tangan,” ucap Sari memukul kepala belakang sahabatnya yang bertulak lunak ini.
“Gue mogok bicara nih!!!” ancam Iwing mengerucutkan bibirnya dan memberikan delikan tajam kepada tiga gadis tersebut. Bukannya membujuk Iwing, ketiga gadis ini malah asik tertawa.
Saat mereka sedang tertawa, sebuah notif pesan kembali masuk ke dalam hp Rani, “Ketawanya jangan kenceng-kenceng. Gangguin kucing molor,” ucap si pengirim pesan.
“Wing, lo tau nggak ini nomor siapa?” tanya nya kepada Iwing dan menunjukkan pesan yang ia terima. Iwing pun menggelengkan kepalanya.
Rani pun mengedarkan pandangan ke sekeliling mesjid, tetapi ia tidak menemukan orang yang sedang memainkan handphonenya.